Dua Belas Wasiat dari Ayah

Wasiat Ayah yang Pertama

"Apakah ada orang di dunia ini yang ndak sedih mendengar kematian?" suara ibu terdengar begitu pelan, dengan posisi yang masih menunduk. "Ibu rasa ndak ada."

 
Ibu menoleh ke arahku perlahan, memandangku dengan tatapan aneh. Ia seperti sedang memperhatikan setiap inci dari sudut wajahku. Kemudian, ia menggeleng sambil tersenyum kecut seperti memberikan makna yang berarti. Tetapi tidak dapat kuketahui tentang apakah makna itu.
 
Ibu bangkit dari duduknya. "Kamu semakin mirip dengan ayahmu," ucap ibu sambil mengarah masuk ke dalam kamarnya.
 
Aku sekarang tahu ... siapa seorang ayah yang ibu sebut, kasihan ibu ... masih terperangkap pada kenangan masa lalu yang sangat menyakitkan baginya. 
 
Langkah ibu kuperhatikan hingga tidak terlihat lagi, lalu di saat bayangan ibu menghilang. Kepalaku mulai berpikir ... Bagaimana caranya bisa menemukan ayah kandungku?
 
Sontak aku langsung teringat pada buku saku milik ayah. Dengan cepat aku mulai untuk membukanya pada halaman ke dua. 
 
"Assalamualaikum, putri kesayanganku. Sini ayah bisikin ... ini adalah buku pengganti ayah, Buka setiap halaman buku ini, saat kamu sudah menyelesaikan setiap wasiat dari ayah, janji! Berjanjilah ... kalau nggak kamu akan menjadi anak durhaka selamanya!"
 
Aku mengulum senyum manis membaca tulisan tangan dari ayah. "Walaikumsalam," jawabku pelan sekaligus membayangkan bagaimana perasaan ayah menulis kata-kata itu, samakah perasaan kami? Sama-sama bahagia, ada perasaan seperti disapa dan menyapa secara langsung.
 
Bibirku masih mengembang sangking bahagianya, kemudian seolah mencari aman aku langsung berlari masuk ke dalam kamar. Lalu mengunci pintu untuk memastikan ibu tidak tiba-tiba masuk dan memergokiku sedang membaca buku milik pria yang ia benci selama hidupnya.
 
Kini tubuhku terbaring menatap jam di atas nakas menunjukkan pukul 07:00 malam, pandanganku memudar di bawah pijar lampu dengan tatapan sendu, jendela yang sengaja masih kubuka agar angin malam bisa masuk mendinginkan suhu ruangan yang selalu terasa panas.
 
Hanya dengan malam aku merasakan tenang ....
 
Hanya dengan malam tubuhku merasa nyaman ....
 
Malam ... seandainya aku bisa bertanya apakah kamu bisa menjawab? Apakah ada seorang anak yang tidak seberuntung aku di hari ini? Bisakah kamu mengajarkanku rasa syukur yang begitu besar, agar aku bisa lebih bersyukur untuk melewatkan kesakitan di kemudian hari.
 
Aku berusaha memejamkan mata agar esok hari tidak ada kata terlambat untuk bangun, tetapi ... mengapa pikiranku seolah memutar kembali memori ingatan tentang hari ini?
 
Semua perilaku ibu yang begitu kejam, sorot matanya seakan tidak lagi ingat jika dia adalah sosok ibu yang perilakunya akan ditiru pada anaknya suatu hari nanti. Seperti pepatah di tengah masyarakat, 'Jika buah tidak jatuh jauh dari pohonnya.'
 
Ingin sekali rasanya merasakan kasih sayang dari sosok wanita dengan sebutan yang kupanggil ibu. Pelupuk mataku memejam, mencoba untuk menetralisir perasaan sakit di hati ini.
 
"Tuhan ... bisakah kau memberiku kesempatan untuk merasakan sosok ibu? Meski hanya di dalam mimpi pun tak apa ...," batinku bergumam, tak terasa air mataku menetes secara perlahan dengan reflek langsung kubuka kelopak mataku.
 
Kutarik napas dalam mencoba untuk memenangkan diri, memaafkan segala hal yang terjadi di hari ini. Memaafkan perilaku ibu yang terkesan menghajar bukan mengajar. 
 
Kemudian kepalaku menoleh dan mengambil buku saku milih ayah tadi dan lanjut membacanya dengan rasa penasaran.
 
[Apa kabar hari ini? Ayah harap Dira akan membaca buku ini tanpa bosan ya ... karena mulai hari ini ayah akan menulis dua belas wasiat lewat buku yang ayah beri.
 
Oke ... pertama ayah mau ngomong apa pun yang terjadi hari ini padamu, Dira harus tetap semangat ya ....
 
Nah pertama wasiat dari ayah ... sholat lah, Nak. Tumpahkan keluh kesahmu setiap hari hanya pada Allah.
 
Percayalah ... Nak, sholat adalah waktu terindah untuk berdoa dan memaafkan segala hal buruk yang terjadi di hari ini padamu.
 
Selamat tidur, Nak ... sekarang buku ini akan menemanimu di setiap saat. Ingatlah ... ayah akan selalu di sampingmu meski ayah telah tiada.
 
Dira ... kamu harus tahu ketika semua orang tidak mengharapkanmu, percayalah ayah adalah satu orang yang sangat beruntung memilikimu selama ini.
 
Oh ... iya, Nak. udah tahu niat wudhu, niat sholat, bacaan dan gerakannya belum? Kalau belum ... setelah halaman ini ada contoh sholat lengkap, kamu boleh deh buka halaman selanjutnya tapi inget! Jangan ngintip wasiat yang kedua ya! Janji!
 
Terima kasih, Nak ... jadilah anak yang hebat.]
 
Lagi-lagi air mataku menetes sambil memeluk buku itu, "Sama-sama, Yah. Akulah yang seharusnya berterima kasih pada ayah," ucapku dengan suara yang kecil. Hati ini seakan memupuk rindu yang begitu besar. 
 
Mungkin ayah juga menulis kata-kata itu saat dia sedang melawan sakitnya tak berdaya di atas ranjang. Hati ini seakan tidak kuat membayangkan betapa sesaknya perasaan ayah waktu itu.
 
Kemudian kubalik halaman selanjutnya, betapa harunya aku. Saat melihat ayah menulis niat wudhu beserta gambarnya, niat sholat, bacaan sholat dan gerakan sholat. Tidak lupa ayah menggambarkan dengan sangat detail. 
 
Aku semakin sesak melihat betapa ayah mencintaiku, hingga sedetail itu ia menggambarkan tentang cara wudhu dan gerakan sholat.
 
Kupejamkan bola mata dan menarik napas dalam mencoba untuk memberi kekuatan untuk tubuh ini berdiri setelah lemas beruraian air mata. 
 
Namun, kutegaskan diri. Aku tidak ingin mengecewakan ayah yang sudah bersusah payah menulis dan menggambarkan tata cara sholat karena ia ingin mengajariku setulus hatinya.
 
Aku beranjak bangkit dari tidur setelah mendengar adzan isya menuju dapur untuk mengambil wudhu, tak lupa buku saku milik ayah kubawa untuk menghapal bacaan saat wudhu.
 
Dengan buku yang kutaruh di atas ember bekas cet yang tertutup. "Na ... Na," ucapku terbata lupa niat wudhu padahal baru saja kubaca, lalu kubaca kembali dengan bola mata yang menyipit. "Nawaitul wudhuu-a liraf'll hadatsil ashghari fardhal lilaahi ta'aalaa." 
 
"Bismillahirrahmanirrraim."
 
Lalu kuikuti seluruh gerakan sama persis seperti yang ayah gambarkan. 
 
Kemudian aku berbegegas ke kamar, mencari mukenah di dalam lemari yang mungkin hanya terpakai saat di hari raya idul fitri saja, aku pun juga hampir lupa kutaruh dimana untung saja ketemu!
 
Kutunaikan sholat, tak lupa menaruh buku itu di atas sajadah untuk menghapal bacaan yang terakhir kupraktekkan saat menginjak sekolah dasar, itu pun banyak sebagian doa-doa, gerakan wudhu dan sholat yang aku lupakan.
 
Sebab ibu tidak pernah mengajariku tentang cara sholat, aku pun juga malu untuk bertanya langsung pada teman sebayaku. Secara udah besar begini, masak nggak bisa sholat?! 
 
Padahal emang iya ... tetapi aku tetap malu untuk mengakuinya, selama ini sholat idul fitri saja aku hanya meniru tanpa tahu apa yang mereka baca. 
 
Sekarang ... aku sudah bisa belajar sholat dan aku yakin akan hapal hanya dengan beberapa kali menunaikan ibadah sholat wajib! Aku yakin pasti ayah bangga padaku!
 
Di penghujung dua sujudku dengan tengan yang mengadah ke atas, aku menangis sambil menutup mata. Kutahan tangisanku agar tidak bersuara. "Ya Allah, jika bumi adalah lambang perpisahanku dengannya. Tolong ... satukan aku pada ayahku kembali, nanti ... di alam keabadianmu. Bahagiakanlah dia ... titip ayahku, hingga kami berkumpul kembali."
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!