Dua Belas Wasiat dari Ayah

Pendekatan pada Ibu

Aku berpamitan pulang, berjalan meninggalkan rumah memasang wajah kerinduanku mengarah pada semua keluarga besar ayah yang sedang berkumpul di ruang tamu. Ibu mencengkram lenganku kuat, jalannya cepat seperti menghindari sesuatu padahal tidak ada apa-apa. 

 
Kami menaiki angkutan kota berwarna biru ke arah jalur enam nama desa tempat tinggal kami. Sepanjang perjalanan pandanganku selalu tidak lekas dari ibu dia benar-benar terlihat cemas kali ini, kelihatan dari jari yang dia mainkan seperti mengetuk di atas paha lalu mengigit jarinya, kadang pula ia terlihat menggigit bibir bawahnya sambil bola matanya melirik ke atas.
 
Kemudian kepala ibu tiba-tiba menunduk secara konstan. Aku makin penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada ibu? Kugenggam jemarinya perlahan, mencoba menenangkan meski aku sendiri pun ragu. Takut jika tiba-tiba ibu mengamuk di dalam angkutan umum yang sedang dipenuhi oleh penumpang lainnya.
 
"Bu? Ibu kenapa?" Suaraku sangat pelan.
 
"Ibu tau yang kamu omongin di dalem kamar ayah tadi, ngomongin ibuk, Kan?" jawab ibu ucapannya pelan dan cepat.
 
Aku menelan ludah terdiam beberapa detik, jantungku berdegup lebih cepat sekarang. Aku bingung harus menjawab apa, di satu sisi jika aku jujur aku takut membuat ibu berpikir macam-macam tentangku dan di sisi lain ... aku takut jika aku berbohong, aku khawatir jika ibu sempat mendengar obrolan aku dan paman tadi di dalam kamar, sebab aku pun tidak tahu ... ibu sempat mengintip kami atau tidak.
 
"Kenapa kamu diem, Ra?" Kepala ibu menoleh mengarah padaku, wajahnya secara tiba-tiba berubah ekspresi menjadi tajam.
 
"Hanya nasihat saja, Bu!" bantahku reflek dan akhirnya yang keluar dari dalam mulutku hanyalah kebohongan.
 
"Lalu buku apa yang ada di tanganmu?" Akhirnya pertanyaan ini terucap juga oleh ibu, pertanyaan yang belum siap aku menjawabnya. Bahkan saat ini ibu sukses membuatku gelagapan tidak berkutik.
 
"Ra?" Ibu menautkan alisnya, seolah menunggu jawaban keluar dari dalam mulutku.
 
"Cuma buku harian ayah, Bu ...," jawabku cepat dan sebenarnya ragu atas jawaban ini. Tetapi ... terserahlah, aku pasrah. Sebab cepat atau lambat ibu pasti akan mengetahuinya juga.
 
Seketika kepala ibu menunduk lagi, benar-benar tidak bisa kubaca jalan pikiran ibu. Padahal wajahnya tadi sangat cepat berubah menjadi tajam, sekarang sudah berubah kembali menjadi sendu. Aku semakin bingung melihat perubahan ibu yang seperti sedang membalik telapak tangan ... sangat begitu cepat.
 
"Ra, jangan salah paham atas apa yang semua pamanmu omongin tadi ya ...," ucap ibu yang seolah tahu semua perkataan paman tadi dan sepertinya ibu pun tahu jika aku berbohong.
 
Namun, mengapa ibu tidak marah seperti biasanya? Sekarang malah memasang tampang wajah sendu sekaligus nanar.
 
 
"Bu ... aku nggak akan mungkin salah paham atas apa pun, ibu tetaplah ibuku ... ibu terbaikku dan apa ...," perkataanku tertahan, aku takut jika banyak berbicara pada ibu. Takut menyinggung perasaan ibu yang membuat dirinya bisa kapan saja mengamuk tidak mengenal situasi.
 
"Aku sangat menyayangimu, Bu!" ucapku lagi dan kurasa ini perkataan manis ke dua yang pernah kukatakan pada ibu.
 
Wanita dengan rambut tergerai sangat cantik itu, hanya terlihat ia melebarkan bibirnya setelah mendengar perkataan manis dariku.
 
"I-i-ibu juga sa-sangat ...," perkataan ibu terpotong saat sang supir mengetuk kacanya dengan uang koin. 
 
"Jalur enam ... jalur enam, udah nyampek ya." 
 
Aku dan ibu turun dari angkutan umum, ia melenggang sendirian tidak menggenggam jemariku lagi. Nampak wajahnya lebih tenang dibanding tadi. 
 
"Bu?" panggilku yang mendekati. "Ibu mau ngomong apa tadi?" tanyaku memancing, padahal sebenarnya aku yakin jika ibu pasti ingin mengatakan ia juga sangat menyayangiku.
 
Bibirku sumringah membayangkan perkataan itu keluar dari dalam mulut ibu.
 
"Nggak apa ... lupakan saja," Ibu berjalan lebih cepat dariku, aku tertinggal jauh dengan kehampaan padahal aku sangat berharap ia mengatakan hal sedemikan rupa.
 
Kupandangi tubuh ibu dari kejauhan, sambil bertanya pada diri sendiri. Sampai kapan hubunganku kami bisa membaik? Setidaknya sama seperti normalnya hubungan ibu pada anaknya.
 
Huh, aku menghela napas besar. Apa sebenarnya hanya ada sebuah dendam di hati kami masing-masing? Mengingat perkataan paman tadi, jika wajahku sangat mirip dengan ayah kandungku dan membuat ibu tatkala memandang wajahku selalu mengingat pria yang melukainya.
 
Sedangkan aku ... aku yang seharusnya tidak tahu menahu tentang apa pun. Tetapi ... tanpa kesadaran ibu aku juga menaruh dendam dan kekecewaan yang besar padanya. 
 
Entah, dendam seperti apa yang berada di hati kami? Lalu Entah bagaimana membalaskan dendam ini agar perasaan kami lega? Akan kah kami saling membunuh, memusnahkan satu dengan yang lainnya agar diri ini bisa sangat puas? 
 
Kurasa tidak akan pernah mungkin itu terjadi, aku tahu ... ibu menyayangiku sama sepertiku menyayanginya! Ya, darah kami satu ... aku mengalir dari darahnya, ia melahirkanku dengan taruhan malu dan juga nyawa. Pasti ibu sangat menyayangiku.
 
Pasti!
 
Setelah sekian lama berjalan akhirnya sampai juga di depan halaman rumahku, entah kenapa rasa trauma itu belum juga hilang. Aku masih terdiam di depan halaman rumah takut untuk masuk ke dalam, takut jika di dalam rumah itu ternyata teman-teman ibu datang sebelum kami sampai.
 
Ibu menoleh ke belakang, merasa dirinya tidak diikuti oleh langkahku. Dia berjalan kembali mengarah padaku. "Ayuk Ra ... masuk." Ibu menarik lenganku, tetapi dengan reflek aku melepaskannya.
 
"Nggak ada apa-apa di dalam, ibu jamin."
 
Akhirnya aku mengikuti langkah ibu untuk masuk ke dalam rumah dan betapa terkejutnya aku saat memasuki rumah. Aku tidak lagi melihat kulit kacang berantakan di atas meja, bau anyir dan alkohol yang membuatku pusing di rumah ini. Sekarang ... semuanya nampak rapih dan bersih, bahkan wangi menyegarkan begitu sopan masuk ke dalam rongga hidung.
 
Sejenak wajahku berbinar memandang ke arah ibu, yang sudah menghempaskan tubuhnya ke kursi. "Bu? Ibu yang ngeberesin?!" tanyaku menyeru.
 
"Sebagai permintaan maaf ibu untuk kejadian tadi," wanita itu mengucapkan sangat datar. Lalu melanjutkan perkataanya kembali. "Oh .. iya, mulai hari ini. Kita nggak bisa lagi lewat belakang. Pintu belakang ibu palang pake kayu, nggak ada lagi yang bisa masuk tiba-tiba dari sana. Jadi kamu lebih aman."
 
Bibirku mengulum salah tingkah, aku seperti sedang diperhatikan oleh ibu. Tetapi bahagianya hati ini cepat berhambur saat logikaku bermain. Mau bagaimana baiknya ibu, dia tetap saja tega ingin menjual anaknya sendiri!
 
Sontak wajahku muram kembali mengingat kejadian itu.
 
"Kamu nggak suka, Ra?" tanya ibu yang sekarang bangkit dari kursi.
 
Kepalaku menggeleng. "Aku masih kecewa, ibu hampir saja berhasil menjualku!" ucapku yang memanfaatkan situasi untuk berkeluh.
 
Namun, alih-alih menjawab serius ibu malah tertawa. "Ra ... ibu ini memang nggak bener, ibu ini nggak waras dan mungkin di matamu ibu bukanlah ibu yang baik. Tapi nggak pernah kepikiran untuk ngejual kamu, Ra!" jawab ibu yang sebenarnya aku juga ragu dengan ucapannya. Sebab aku tahu ibu pandai berkelit.
 
"Terus ... kenapa ibu kayak ngebelain dia? Malah nyuruh dia kabur kan?" tanyaku pelan.
 
Sambil menunduk ibu menjawab. "Ibu terlalu banyak hutang padanya, Ra! Mana mungkin ibu bisa berbuka suara yang sebenernya terjadi." Entah kenapa suara ibu kini semakin pelan.
 
Kemudian masih dengan memanfaatkan keadaan, aku bertanya pada ibu. "Bu ... apa ibu ndak sedih dengan kematian ayah?" 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!