Paman mengelus anak rambutku secara perlahan, bibirnya belum mengeluarkan sepatah kata pun. Ia menatapku dengan tatapan sendu lalu tersenyum. "Kamu anak kuat, Ra. Nggak semua anak bisa memikul beban keluarga di pundaknya."
Bola mataku masih memandang lurus ke arah paman, aku tidak tahu dirinya memujiku atau malah mengasihani diri ini.
Paman menjelaskan sangat pelan dan hati-hati. Jika ibu sebenarnya adalah wanita yang sangat ayah cintai, tetapi cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan. Ibu memilih pria lain untuk menjadi pacarnya dan selang beberapa bulan lelaki itu meninggalkan ibu dalam keadaan hamil.
Isu kehamilan itu tersebar hingga ke kampung ayah, dengan kebesaran hatinya ia datang ke rumah ibu untuk meminang ibu menjadi istrinya dalam keadaan hamil sembilan bulan. Semua keluarga merestui pinangan itu, tetapi ... tidak dengan ibu. Ibu malah menolak ayah mentah-mentah dan mencacinya setiap ayah datang merayu ibu.
Namun, segala usaha upaya ibu untuk menolak ayah dan mencari pacarnya itu hanyalah sia-sia. Akhirnya keluarga ibu dapat menikahkan ayah pada ibu dengan keterpaksaan untuk menutupi malu keluarga besar mempelai wanita.
Setelah menikah, ayah selalu berusaha menjadi sosok suami yang baik untuk ibu. Tetapi ... terus saja ibu meracau memanggil nama mantan pacarnya. Hampir di setiap hari ibu mencaci maki ayah dengan sebutan kotor, memukulinya dan menyalahkan ayah atas pernikahan mereka.
Hingga hari demi hari, akhirnya aku dilahirkan ke dunia. Ibu semakin histeris sebab wajahku sangat mirip oleh mantan pacarnya. Ibu tidak ingin sama sekali menyentuhku apa lagi menyusuiku selayaknya seorang ibu.
Sedangkan ayah menyambutku sangat bahagia, ia tidak peduli aku bukan darah dagingnya, ia tetap memanggilku putri kesayangannya. Ayah merawatku sepenuh hati sampai suatu hari, ibu sempat mencelakai wajahku dengan menampar wajahku berkali-kali.
Bayangkan ... bagaimana terkejutnya ayah mendapati perilaku ibu seperti itu? Melihat bayi mungil yang baru berumur tiga hari ditampar keras oleh ibunya sendiri, akhirnya dengan berat hati ayah memasukkan ibu ke rumah sakit jiwa dan benar saja ibu didiagnosa gangguan jiwa pascatrauma, perlu dilakukan perawat insentif untuk mengobati kejiwaannya.
Ayah ikhlas wanita yang ia cintai harus berada jauh dari pandangannya, demi aku ... demi putri kecilnya ... dan demi keamanan dan kenyamanan diriku. Padahal aku bukanlah anak biologis ayah yang bisa saja dia mengabaikanku dan lebih memilih ibu untuk hidup dengan tenang tanpa adanya aku, sebagai bayang-bayang dari mantan pacar ibu.
Ayah menghabiskan waktunya untuk merawatku, tidak ada sedetik pun pandangannya lalai dariku. Ayah benar-benar menjagaku untuk memastikan aku baik-baik saja.
Hingga tiba waktunya lima tahun berlalu, akhirnya ibu pulang sudah dinyatakan oleh pihak rumah sakit ibu sembuh, meski belum bisa pulih seperti orang normal pada umumnya.
Ayah menyambut ibu sumringah sambil menggendongku, berharap ibu akan balik mencintainya setelah kesembuhan itu. Tetapi ... semuanya tetap sama.
Ibu tetaplah ibu ... wanita yang mencintai mantan pacarnya, dia sama sekali tidak menganggap ayah sebagai seorang suami. Dirinya hanya lebih sayang terhadapku meski terkadang ibu sambil menangis memandang wajahku.
Setelah itu ayah kalah dalam perjuangan cintanya, ayah melepaskan ibu untuk lepas dari ikatan pernikahan itu. Ayah sadar ... ibu lebih bahagia jika tidak ada ikatan pernikahan itu sebelumnya.
Dengan hadiah perceraian berupa rumah sederhana yang dia hadiahkan untuk kedua wanita tercintanya. Berharap perceraian ini akan menjadi perpisahan yang damai tanpa kebencian.
Namun, ternyata ayah salah ... ego ibu tetaplah tinggi, dia tidak mengizinkan ayah untuk menemuiku walau sedetik saja.
Ayah sempat mengajukan hak asuh, tetapi dia tetaplah kalah sebab ayah bukanlah ayah kandungku.
Mendadak bola mataku membulat atas penjelasan paman barusan, mulutku ternganga tidak percaya. Hatiku sangat begitu sakit mendengarnya, kasihan ayahku ia menghabiskan waktunya hanya untuk mengurusku dan mencintai wanita yang salah.
Dan kemudian pergi dengan kerinduan yang begitu dalam untukku.
Paman menghapus air mataku, memelukku erat lalu melepaskan secara perlahan. "Kamu tau, Ra? Kata-kata terakhir yang ayahmu ucapkan untuk paman?" Paman menatapku sendu bibirnya mengatup ke dalam dan melanjutkan perkataannya kembali. "Ia menyuruhku untuk memelukmu ... sebab ia ingin memelukmu saat kamu telah tumbuh dewasa, dia sangat menyayangimu, Ra!" ujar paman sambil memegang bahuku.
Antara benci dan juga ingin tahu, akhirnya bibir ini mengajukan pertanyaan.
"Apa paman tau ... ibu masih sakit sampai sekarang?"
Wajah itu tersenyum lagi memandangku lalu diakhiri dengan anggukkan. "Seperti paman bilang tadi, kamu anak hebat, Ra! Nggak semua anak bisa memikul beban di pundaknya."
Aku menunduk sekarang. Ntah perilaku seperti apa yang nanti akan aku tunjukan pada ibu? Apakah dendam? Sedangkan dia adalah seorang wanita yang memilih mempertahankan aku, meski sebenarnya ia bisa menggugurkan aku saat masih di dalam kandungan.
Apakah kasih sayang dan patuh terhadapnya? Sedangkan dalang dari semua kesialan di hidupku, berawal darinya?
Belum lagi kepedihan yang selalu tersimpan di hati ini, rasanya sudah hancur lebur meski tidak terlihat darah yang mengalir. Ketika di setiap harinya hanya mendengar cacian, kata-kata kotor dan sumpah serapah dari seorang wanita yang aku sebut ... ibu.
Bagaikan tanah yang tak ingin seirama dengan air. Aku membutuhkan kekuatan hidup darinya. Tetapi tidak dengan ombaknya yang hanya akan menciptakan badai membuatku hancur dan berantakan.
Sekarang ... apakah aku harus menyuruh diriku sendiri, untuk mengingat semua kenangan indah bersama ibu ... agar aku tidak terlalu membencinya? Walau, kenangan indah juga tidak pernah ada dan tidak pernah tercipta.
Ya, bisa dibilang aku hidup bersamanya sampai detik ini hanya sekedar mengabdi sebagai seorang anak pada ibunya.
Selebihnya ... kurasa tidak ada selain itu.
Menyakitkan memang, di saat kamu harus kecewa, dendam dan marah pada ibu kandungmu sendiri. Sebab ... tiga hal itu akan kalah pada satu ucapan. Yaitu ... kata "Sayang!"
Meski, kata itu tidak pernah terucap oleh ibu.
Akhirnya ... paman mengenggam jemariku kembali, ia mengeratkan genggamannya dan menepuk buku yang tadi ia beri. "Ra, hidupmu akan baik-baik saja! Paman yakin! Secara ... ayahmu sudah menuliskan dua belas wasiat di buku ini dan kamu harus menunaikannya, agar hidupmu bahagia!" ucapannya menyeru dan begitu mantap.
Paman menepuk buku itu lagi. "Paman sudah baca wasiat itu dan luar biasa ... memang ayahmu selalu memikirkan hidupmu, dia tau apa yang terbaik untukmu ke depannya nanti. Dia mempersiapkan semuanya untukmu, Ra!" paman menatapku sambil melebarkan bibirnya, matanya menyipit penuh keharuan.
Seketika jemariku menyingkirkan tangan paman, bergegas membuka buku saku berwarna merah itu dan ingin cepat mengetahui dua belas wasiat yang disebutkan oleh paman.
Namun, paman seketika mencegahku untuk membuka buku itu. "Ra ... saranku bacalah halaman demi halaman, satu halaman berisi satu wasiat. Lalu kamu lakukan dan jika berhasil bukalah halaman berikutnya yang berisi lanjutan wasiat itu."