Angin mengarah padaku, meliuk-liuk bermain pada anak rambut yang begitu lincah menyambutnya. Ya, anak rambut itu senang menyapa angin yang ternyata hanya singgah lalu pergi. Menciptakan debu yang tidak sengaja membuat pelupuk mata berlinang.
Raut wajah ibu memandang ke arahku tajam, aku menyelip pada bahu paman sambil berjalan menghampirinya. Berharap ibu tidak melakukan yang membuat diriku malu disini ... di depan keluarga besar ayah yang baru saja kujumpai.
Belum sampai aku di dekat ibu, langsung dengan cepat ibu menarik lenganku. Wajahnya sangat ketus menatap paman, bibirnya mencebik sinis menyeramkan. Aku hanya diam yang kini berdiri tepat di samping ibu, sedangkan ibu masih menggenggam jemariku kuat.
Kupandangi wajahnya, ada banyak pertanyaan besar di dalam isi kepalaku. Ada keperluan apa ibu menyusulku? Apakah mulut yang biasa mencaci ayah, kini telah sadar untuk meminta maaf atau ibu malah ingin mengacaukan suasana yang sedang berduka di rumah ini?
Jantung berdegup tiada henti, wajah ibu kini semakin sinis menatap semuanya. Giginya menggretak sangat kuat, tetapi ... hebatnya paman hanya tersenyum membalas tatapan ibu yang buas.
"Anakku sudah selesai menghadiri pemakaman abangmu, sekarang selesai juga hubungan kalian. Jadi jangan harap bisa menghasut anakku untuk tinggal disini," suara ibu gemetar tatkala ia berbicara, jemarinya semakin kuat menggenggam jemariku, aku hampir teriak karena merasa agak sakit.
Paman masih tersenyum, "Aku tidak pernah menghasut siapa pun, Mbak. Dira ingin tinggal bersama Mbak juga nggak apa, tinggal disini juga nggak apa ... ini rumah bang Hadi dan abangku sangat menyayanginya. Jadi kapan pun Dira ingin pulang, pintu rumah akan selalu terbuka."
Wajah paman begitu landai menanggapi ibu, sedangkan ibu terlihat sangat panik sejak tadi. Setelah mendengar ucapan paman saja ibu sontak menggeleng. "Ndak ... ndak! Dira akan tetep sama ibu! Iya kan, Ra?" sahut ibu sekarang napasnya menggebu.
Aku mengeram, menatapnya haru. Bisa kudengar suara itu sangat takut untuk kehilangan. Segera aku memegang lengan ibu. "Bu ... Dira nggak akan kemana-mana, Dira akan selamanya bersama ibu."
Jujur, jawaban yang baru saja kuucapkan. Adalah ucapan paling manis yang pernah kuucapkan untuk ibu. Karena selama ini kami tidak pernah akur meski dalam satu atap, aku setiap hari selalu membencinya dan kupikir ibu juga membenciku.
Namun, kali ini ... ibu menyusulku ke rumah ayah hanya karena takut jika aku tinggal bersama mereka. Percayalah hati ini senang, serasa lagi dibujuk rayu oleh pasangannya sendiri!
"Mbak denger sendiri kan? Mbak nggak perlu khawatir, Dira udah dewasa, Mbak. Dia tau betul apa yang dia mau termasuk untuk hidup dengan siapa."
Ibu menghela napas, wajahnya seketika berubah dari kaku sekarang normal kembali.
"Sudah tenang kan, Mbak? Boleh aku meminjam Dira sebentar? Ada yang mau aku omongin empat mata," ujar paman dan dibalas dengan deheman.
Paman mengajakku masuk ke dalam kamar ayah, lalu mempersilahkan aku duduk di atas ranjang. Kemudian ia mengeluarkan buku ukurannya sebesar saku seragam sekolah berwarna merah.
"Ra, sebelum ayahmu meninggal. Dia menitipkan ini untukmu." Paman memberi buku itu padaku. Lalu ia menunduk menangis. "Dia sangat menyayangimu, Ra. Sungguh ... nggak ada semenit pun dia ndak menceritakan tentangmu, dia selalu menceritakan semua masa kecilmu terus mengulang cerita yang sama di setiap harinya."
Aku menangis mendengar ucapan paman, menyesal mengapa aku terus menunggu dan selalu meninggikan ego untuk menemui ayah. Padahal aku rindu untuk selalu ingin memeluknya. Tetapi ... aku selalu meninggikan egoku untuk ayahlah yang seharusnya mencariku bukan malah aku! Hingga sekarang ... malah kematian ayah yang kini mempertemukan aku dengannya.
Setelah mendengar ucapan paman jika ayah sangat mencintaiku, aku juga bertanya mengapa sejak perceraian ayah tidak pernah menemui kami?
Kemudian paman menatapku, kini jemariku digenggam kuat olehnya. Dia menjelaskan jika sejak perceraian itu, ayah selalu menemui ibu. Tetapi ... hanyalah pengusiran yang ia dapatkan, untuk sekedar ingin bertemu denganku saja ibu melarangnya. Nomor ponsel yang ibu gunakan pun langsung diganti agar ayah tidak bisa menghubungi kami.
Hingga suatu hari ayah jatuh sakit dan terkena serangan stroke karena ia terlalu menyimpan rindu yang begitu besar. Semua kerabat ayah selalu datang ke rumah ibu untuk sekedar memberi tahu ibu tentang ayah.
Namun, mereka hanya mendapatkan cacian banyak kata-kata kotor yang keluar dari mulut ibu itulah sebabnya mereka memutuskan untuk menyerah. Tidak lagi menemuiku atau ibu lagi dengan harapan setelah diriku besar, aku akan mencari sang ayah dengan sendirinya.
Dadaku bergerumuh seketika mendengar penjelasan paman, aku menangis terus menyalahi diri! Mengapa diri ini sangat bodoh! Mengapa aku terus berpaku pada ibu? Mengapa aku tidak lari dan menemui ayah? Aku semakin membenci ibu ... padahal baru saja hatiku luluh untuknya.
Paman langsung memelukku, menepuk pundakku berkali-kali. "Udah, Ra. Udah. Ini semua sudah jalannya nggak ada yang perlu disesali dan kamu berhak tau satu hal." Perkataan paman berhenti ia mendorong tubuhku lalu menyuruhku membuka buku yang tadi ia beri.
"Coba, Ra. Baca halaman depan, nanti paman akan jelaskan yang belum pernah kamu ketahui selama ini."
Aku segera mengambil buku tersebut. Membuka buku yang belum pernah kulihat sebelumnya. Nampak ada sebuah tulisan panjang di halaman pertama buku tersebut.
[Dira, anakku yang cantik. Pasti sekarang kamu udah dewasa ... tumbuh menjadi anak yang hebat dan kuat. Maaf ya, Nak. Mungkin saat kamu membaca ini ayah udah nggak ada di sampingmu lagi, Ayah harap kamu jangan membenci ayah yaa, Nak.
Maafkan, ayah ... jika ayah nggak ada di sampingmu saat kamu membutuhkan ayah, maafkan ayah nggak bisa memperjuangkan hak asuhmu agar kita bisa tetap bersama.
Kamu ... adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan kasih untuk ayah.
Maaf telah mengukir rindu yang begitu besar di hatimu.
Dan, Nak ... kamu berhak tau satu hal meski sangat berat mengatakan ini padamu. Tetapi ... dirimu harus tau, Ayah bukanlah ayah kandungmu. Ayah hanyalah bapak penggantimu.
Carilah ayahmu, Nak ... agar setidaknya kamu dan ibu bisa hidup lebih aman.
Sekali lagi ....
Selamat jalan putriku yang cantik dan manis, ketahuilah meski ayah bukanlah ayah kandungmu. Sayang dan cinta kasih ayah sepenuhnya milikmu.
Salam kecup ayah untukmu putri ayah satu-satunya]
Air mata menetes, tanganku gemetar kupeluk buku itu sangat erat. Membayangkan yang kupeluk saat ini adalah ayah. Aku tidak lagi peduli siapa ayah kandungku yang jelas dirinya adalah ayah yang terbaik untukku.
Paman masih menatapku sembari tersenyum dalam tangis, "Sabar ya, Ra. Sekarang sudah waktunya paman menceritakan tentang kesehatan mental ibumu yang sebenarnya."
Wajahku mengadah pada paman, tak membalas sepatah kata pun sangking terkejutnya mendengar ucapan itu.