Lampung, 06 Juni 2023.
Aku benci hari ini, tepatnya di tanggal ini begitu pedih keadaan sampai rasanya ingin mencaci. Seakan semuanya mengejekku dan saling bertautan menertawakanku dalam keterpurukkan.
Apa tidak puas ya Tuhan ... bertubi-tubi masalah yang kau beri, aku masih mencoba untuk kuat, ikhlas dan tersenyum.
Namun, sekarang? Dengan tega engkau masih membuat ibu sakit di dalam jiwanya yang begitu hancur. Apakah tidak bisa beristirahat sejenak untuk kami merasakan kebahagiaan secuil saja?
Tuhan, aku sudah lelah ... sungguh.
Dengan segala skenariomu, kurasa aku memerankannya sudah sangat baik. Tetapi ... apa kamu setega ini padaku dan ibu? Bagaimana bisa engkau mengambil semua kebahagiaan ibu, mengguncang jiwanya, lalu menghilangkan ayahku dan sekarang engkau membuat ibu merasakan sakit yang amat membuatnya menderita.
Setelah ini apa lagi, Tuhan? Kumohon sudah cukup ....
Aku menangis terduduk di lantai depan kamar perawatan, ibuku hebat ... ibuku malang ... entah kenapa tiba-tiba ibu berteriak sesaat setelah aku dan ibu menunaikan sholat isya. Dirinya menjerit kesakitan sambil memegang kepalanya, lalu tubuhnya mengejang setelah itu muntah. Sampai akhirnya pinsan dan tadi sempat tersadar lalu ibu merasakan sakit kepala lagi.
Akhirnya aku memutuskan untuk membawa ibu ke rumah sakit terdekat, sejak tadi ibu terus meraung akan sakitnya kepala dan Alhamdulillah sekarang dirinya bisa tidur dengan lelap setelah obat penenang yang diberikan oleh dokter.
"Dek, apa ada anggota keluarga lain?" tanya wanita berpakaian seragam putih-putih itu menghampiriku.
Aku mengadah menatapnya, kemudian menggeleng dengan cepat. "Hanya aku keluarganya, tidak ada yang lain," suaraku sengau dada ini terlalu sesak saat menyadari tidak ada yang bisa menjadi tumpuan hidupku selain ibu.
Suster tersenyum lebar menatapku, "Baik, Adek boleh ikut kakak sebentar ke ruangan dokter? Ada yang perlu dijelaskan oleh dokter spesialisnya tentang penyakit si ibu."
Aku mengangguk, berjalan tatih mengikuti suster ke ruangan dokter. Setibanya di ruangan lelaki dengan perawakan besar, rapih dan wangi itu menyambutku dengan sumringah.
"Siapanya ibu Sarni, nih?" tanyanya masih dengan senyum yang melebar.
"Aku anaknya, Dok."
"Cantik sekali, jadi gini adik cantik. Saya mau ngasih tau ...." Perkataannya terhenti beberapa detik lalu ia melanjutkannya kembali. "Seharusnya saya tidak memberi tahu ini dengan kamu, tapi berhubung tidak ada family lain. Jadi saya terpaksa harus mengatakan ini padamu."
Aku menelan salivaku dengan jantung yang mulai berdegup kencang, suasana menjadi serius seiring berubahnya raut wajah sang dokter yang tiba-tiba menjadi kaku, tidak ada lagi bibir merekah lebar seperti saat dokter menyambutku tadi.
Dokter itu diam menatapku, aku pun juga diam menunggu ucapannya. Tetapi ... entah mengapa firasatku seakan mengatakan jika ini adalah hal buruk? Terlihat ekspresi dokter saat ini yang enggan berbicara untuk sekedar mengatakan hal yang sebenarnya.
"Sayang ... ibu Sarni mengidap kanker otak stadium empat," ucapnya sangat pelan.
Bola mataku membulat mendadak menatap bengong sang dokter dengan tatapan bodoh. Mulutku ternganga tidak percaya lalu sedetik kemudian air mataku menetes.
"Kanker otak stadium empat?"
"Perlu diketahui, karena sudah masuk stadium akhir kita tidak dapat menyembuhkannya. Hanya pengobatan medis yang tepat dapat membantu mengecilkan ukuran tumor ganas dan memperlambat pertumbuhan kanker."
Aku terpejam lalu meminta izin untuk keluar, rasanya begitu pengap tidak sanggup harus berada lebih lama lagi di ruangan itu.
Kaki ini melemah, aku harus berusaha sekuat mungkin agar tidak ambruk. Duniaku hancur sekarang ... membayangkan betapa kuatnya ibu menahan sakit selama ini? Seandainya nyawa ini bisa kuberi untuk ibu .. maka akan kuberi seluruh hidupku untuk dirinya, sebab aku tahu hidup tanpa ibu bagaikan mengarungi lautan bebas yang tidak tahu arah tujuan.
Kenapa Tuhan ... kenapa? Setelah hubunganku dan ibu mulai membaik, sekarang malah dengan tega ingin mengambilnya secara perlahan dari hidupku?
Tidak cukupkah hanya ayah? Haruskah juga ibu? Atau jangan-jangan skenariomu hanyalah bentuk penyiksaan tidak ada kebahagiaan sama sekali disana?
Aku menghela napas panjang, tersadar jika saat ini aku sedang marah pada Tuhanku sendiri. Aku memejamkan mata secara perlahan, mencoba untuk ikhlas dan menerima segala keadaan. Tetapi ... tetap saja tidak bisa.
Lorong rumah sakit, seketika terasa begitu panjang. Pikiranku saat ini hanyalah wajah ibu, cerita ibu, kenangan ibu dan semuanya tentang ibu ....
Aku menyesal! Sangat ... sangat menyesal pernah terucap aku lebih baik mati jika terus hidup bersamanya. Aku menyesal telah begitu sangat membenci dirinya dan aku menyesal telah menyia-menyiakan waktuku untuk mencaci dirinya di dalam hatiku, hanya karena kelakuannya. Padahal ... perilakunya begitu pun juga karena keadaan! Keadaanlah yang tidak pernah memihak pada kami.
Keadaanlah yang selalu menghakimi kami, seolah kami manusia terkotor di dunia ini dan keadaanlah yang selalu membuat kami terbuang tidak ada tempat meski di ujung dunia sekali pun.
Cklek ....
Dengan sangat pelan aku memutar gagang pedal pintu agar ibu tidak terbangun, lalu masuk berjalan tatih memandang ibu yang sudah terbaring.
Aku mengambil kursi, kemudian duduk di samping ibu. Memandangnya dalam tangisan. "Setelah ini aku harus bagaimana, Bu?" lirihku sambil menggenggam jemarinya.
Namun, semakin aku memandang ibu ... semakin hatiku runtuh. Semakin aku ingin berteriak. Ya, Tuhan! Kumohon ... sekali ini saja, sekali ... ini saja! Tolong ... sembuhkanlah ibu.
Aku mencium jemari ibu, menangis sedalam-dalamnya. Sampai ibu terbangun dari tidurnya.
"Ra?"
Aku bangkit seketik mendekati wajahku pada ibu, menghusap mukenah yang masih melekat sangat cantik ibu memakainya.
Ibu menyipitkan pelupuk matanya lalu memegang pelipis. Sepertinya ibu sedang menahan sakit kepalanya lagi. "Ra ... kenapa nangis? Ada apa?" tanya ibu dengan memasang raut wajah bingung.
Aku menggeleng cepat, "Ndak ... aku cuma takut kehilangan ibu." Suaraku tercekat dan tersengal.
Ibu tersenyum lalu memandangku lama ada sekitar tiga puluh detik ia menatapku. "Ra ... bisa bawa ayahmu kesini?" suara ibu melemah.
"Bu ... kumohon, istirahatlah dulu ... pikirkan kesehatan ibu, nanti setelah sembuh Dira janji akan pertemukan ibu dengannya," jawabku berbohong untuk menenangkan ibu sebentar.
Namun, ibu malah menggeleng. "Ra ... ibu mohon, ibu tidak ingin kisah cinta ibu pada ayahmu berakhir kandas seperti Rahwana mencintai Shinta."
Lagi-lagi aku menarik napas panjang, "Bu ...," panggilku pelan.
"Ra ... ibu mencintai ayahmu seumur hidup ibu. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi itu, sekali saja ... beri ibu kesempatan untuk bertemu dengannya dan memeluk dirinya."
Aku menunduk, aku kagum pada cinta ibu ... definisi mencintai tanpa syarat. Tetapi sayangnya cinta mereka tidak akan pernah bisa bersatu, sebab cinta mereka adalah suatu kesalahan yang sampai sekarang ibu pun tidak tahu jika cinta mereka adalah suatu hal yang terlarang.