Dua Belas Wasiat dari Ayah

Kenapa Kamu Di sini? 17

Aku terdiam, tetapi sedetik kemudian aku mengangguk. Kali ini ... aku hanya bisa mempercayakan semuanya pada Tuhan, hanya bisa ikhlas dengan seluruh keadaanku sekarang dan berharap semoga Tuhan sedang merencanakan kebahagiaan dibalik kesedihanku.

Nyonya Lee tersenyum, sekarang ia menggenggam jemariku lalu mengajakku berjalan ke arah luar. Aku tidak menyangka dia akan seramah ini, padahal aku mengira sebelumnya akan ada pertikaian atau setidaknya perang mulut sebab tidak suka atas hadirnya aku. 

 

Namun, sepertinya aku salah! Nyonya Lee wanita baik, bijak dan sopan. Aku bisa menebak jika ia tidak membedakan status pada siapa pun, tidak salah jika pria sial itu lebih memilih wanita sepertinya dibanding ibuku.

Sudah cantik, sabar dan bijak dalam suatu masalah lalu ibu? 

Argh!!! Mengapa sekarang aku malah membandingkannya dengan ibu? Ibu juga baik, memang lelaki itu saja yang menghancurkan mental ibu tanpa mengobatinya kembali!

"Kenapa kamu disini?" tanya suara kaku lelaki sial itu yang baru saja datang bersama Ethan, dari arah samping. Membuat langkahku dan Nyonya Lee terhenti.

"Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?" tanyanya lagi kali ini ia menatapku dengan raut wajah sangat kaku. 

"Aku ingin membereskan masa lalumu yang belum selesai," ujar Nyonya Lee menyahuti dengan nada sangat lembut.

Lelaki dengan pakaian formal itu tersenyum lalu melempar tatapan kosong ke arah lain. "Cukup, aku menganggap semuanya sudah selesai. Suruh anak itu pulang sendiri, aku sibuk." Suaranya begitu tegas dan penuh penekanan. 

Aku ternganga lalu menatapnya tajam, setelah mendengar jawaban yang keluar dari dalam mulut lelaki itu. "Selesai" tanyaku singkat.

"Selesai! Aku membencinya, aku benci semua yang terkait pada dirinya ... sebab dia kesalahanku," jawab lelaki itu masih dengan menatap kosong ke arah lain.

"Cih! Bisa-bisanya kamu membenci ibuku, di saat ibu selalu menantimu di seumur hidupnya! Dia frustasi! Mentalnya hancur karena dirimu! Lalu sekarang ... kamu bilang semuanya udah selesai? Dengan cara meninggalkannya saat dia sedang hamil?" 

 

Aku menatapnya sangat tajam, ingin rasanya kucaci maki dia dengan segala kekuatanku. Jika bukan karena ibu, aku mengharamkan diriku sendiri untuk bertemunya lagi.

"Walau ibumu hamil, belum tentu itu anak papaku. Kan kamu tahu ibumu seorang wanita penghibur?! Lagi pula apa yang dia harapkan dari papaku? Merebutnya dari mama?" sahut Ethan yang sejak tadi berada di belakang lelaki yang ia sebut sebagai papa.

"Cukup, Ethan. Cukup!" teriak lelaki itu sambil menatap kami satu persatu. "Kenapa kalian menggali hal yang sudah papa kubur dengan dalam?" teriaknya lagi lalu mendudukkan dirinya ke lantai.

Nyonya Lee menunduk Ethan pun juga sama, mereka seketika terdiam saat lelaki itu mulai berteriak. Ethan mengambil posisi berpindah ke samping Nyonya Lee lalu memegang lengannya. Nampak ia seperti anak mami, padahal jika di sekolah ia ditakuti hampir oleh semua murid.

"Aku memang salah Lee ... tapi bisakah kita berbahagia tanpa bayang-bayangnya?" Tuan Feliks mulai beranjak dari duduknya lalu menatap Nyonya Lee. "Aku harus bagaimana lagi untuk menebus lukamu? Aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk menjadi papa dan suami yang hebat untuk dirimu selama ini, jadi tolong ... cukup!" ujar Tuan Feliks menatap istrinya penuh dengan rasa cinta. 

Nyonya Lee meneteskan air matanya sambil menggeleng, "Aku tidak bisa sepenuhnya bahagia, tetapi ada orang lain yang tersakiti dengan kebahagiaan kita. Kumohon ... selesaikan selagi dirimu bisa, jangan menghilang dan menganggap semuanya telah selesai." 

Lagi ... tentu saja aku mengagumi sikap bijak dari Nyonya Lee, Masya Allah dia benar-benar memikirkan kami. Entah dari kapan itu aku tidak tahu yang jelas mendengar ucapan mereka berdua sejak tadi. Sepertinya Nyonya Lee terus memikirkan nasip kami selama ini, entah perkataan apa yang harus aku lontarkan untuknya nanti pada ibu? Bisakah ibu menerima Nyonya Lee sebagai istri sah dari lelaki pujaannya di masa lalu? Bisakah ibu bisa menerima kenyataan jika selama ini ia menjadi orang ke tiga di rumah tangga seseorang?

"Maaf, Sayang ... aku nggak bisa. Karena bagiku semuanya sudah selesai," Tuan Feliks menatap Nyonya Lee sendu lalu menatapku. "Dan kamu ... silahkan pulang! Jangan harap aku bisa menerimamu sebagai anak!" ujarnya tegas lalu melangkah masuk meninggalkan kami bertiga. 

Entah kenapa aku mendengar perkataan itu bukannya mengamuk, tetapi malah terpegun. Aku tidak habis pikir ... mengapa dua wanita secantik ibu dan Nyonya Lee bisa sangat mencintai lelaki sekejam dia? Bahkan mungkin di hatinya tidak ada kebaikan sama sekali yang ia peroleh di hidupnya selama ini.

Sungguh ironis ia begitu tampan, kaya raya dan jabatannya pun kurasa bukan sembarangan! Akan tetapi, mengapa ada orang sekejam dirinya? 

Hargh!! 

 

Aku menghela napas panjang, merepotkan saja! Kenapa bisa dulu ibu bertemu dengannya? Andai bertemu dengan seorang Ustadz lalu mencintainya sudah pasti hidup ibu tentram dan damai tidak seperti sekarang. 

Huh, benar ... semuanya sudah ditakdirkan. Namun, tetap saja ya Tuhan mengapa takdir ibu begitu rumit. Aku sampai bingung harus memulai dan mengakhiri semuanya bagaimana? 

"Ra? Diem aja ... orang mah marah, ngamuk-ngamuk atuh. Kalau perlu dicakar!" ujar Nyonya Lee sambil tertawa kecil mencoba mencairkan suasana yang mulai hening dan kaku.

Dia menyengir setelah itu merangkul tubuhku. "Ra, maapkan suamiku ... kamu harus tahu dia adalah lelaki yang baik. Ya, dibalik cerita masa lalunya ... kamu harus tau jika dia adalah papa terbaik untuk Ethan. Hampir tidak ada cela sosok dirinya bagi Ethan termasuk untuk aku ... istrinya." 

"Dia tidak seburuk yang kamu kira ...," ujar Nyonya Lee sambil mengusap bahuku. "Akan kubantu kamu untuk menaklukan hatinya!" ia menyeru, mungkin dirinya berpikir jika aku mengharapkan untuk diakui sebagai anak oleh suaminya.

Aku meringis mendengar perkataan itu tanpa menyela, Diri ini seolah reflek untuk mengiyakan perkataannya ....

Kemudian Nyonya Lee mengambil jemariku lalu menggenggamnya. "Ra ... maaf. Aku tidak bisa mengantar dan bertemu ibumu, kamu denger sendiri kan? Suamiku melarangku."

 

Aku mengangguk sambil menatap wajahnya, mata sipit, hidung kecil, bibir kecil, alis yang tebal dan wajah yang mungil ... membuat wajah Nyonya Lee sangat anggun. Meski pakaiannya bagiku cukup nyentrik tidak sesuai dengan wajahnya yang begitu anggun.

"Ra, melamun?" Nyonya Lee mengejutkanku lagi.

"Dira itu memang suka ngelamun, Ma! Kapan pun, di mana pun. Emang hobinya, Ya ngelamun. Nyampek saking hobinya ngelamun nih, Ma! Dira itu paling bodoh di kelas, kasian kan?" ejek Ethan yang tiba-tiba menyahuti.

Aku hanya membalasnya dengan lemparan bola mata yang kubentuk membulat. 

"Apa gak terima?" ujar Ethan melengos sambil memutar bola matanya ke arah lain.

Sedangkan Nyonya Lee malah tiba-tiba tertawa kecil, "Andai saja jika kalian dua semuanya adalah anakku."

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!