"Iya," jawabku dengan melangkah tegap menemuinya, tidak ada perasaan ragu atau pun takut. Di kepala ini hanya berisi janjiku pada ibu untuk membawa lelaki sial itu menemuinya.
"Sudahku duga ... kamu akan ke rumahku untuk meminta hakmu, bukan?" tanya wanita berpakaian nyentrik itu nadanya sengaja dilembutkan, tetapi malah terdengar sedang mencela sambil menautkan senyum di wajahnya. "Dira ... anak dari selingkuhan suamiku lima belas tahun lalu."
Degh!
Selingkuhan?
Mengapa tidak ada cerita ini sebelumnya? Aku terdiam kaku sekarang, entah apa lagi yang harus aku lakukan? Sedangkan wanita di hadapanku ini lebih tahu segalanya dibanding aku! Bahkan sebenarnya bukan hanya ibu yang menderita, tetapi juga wanita ini ... istri sah dari lelaki pujaan ibu.
"Kenapa? Kok diem, bingung? Kurasa tadi wajahmu ingin marah-marah kan? Marahlah ... itu wajar, tapi sebelum marah ada baiknya kamu dengarkan cerita kelam ibumu bersama suamiku, Dira."
Wanita itu tersenyum melangkah ke arahku sambil menepuk pundakku, lalu menarik lenganku mengajak duduk di sofa.
"Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi pada ibumu dulu kan? Sudah kupastikan, kamu hanya mendengar sepotong ceritanya saja." Wanita yang kukenal namanya sebagai Nyonya Lee itu kini menatapku dengan serius.
"Dulu ... sudah enam tahun pernikahan kami, tapi ironisnya kami tidak kunjung juga dikaruniai seorang anak. Tadinya rumah tangga kami begitu harmonis, meski kutahu Feliks ingin sekali segera memiliki momongan." Perkataannya berhenti ia merapatkan jemari lentiknya lalu melanjutkan perkataannya lagi. "Sampai akhirnya aku mendapati Feliks berselingkuh dengan ibumu, aku hancur waktu itu ... tapi aku bisa apa? Aku terlalu menyayangi suamiku! Aku takut kehilangannya."
Tangannya sedikit gemetar ada tetesan air mata yang tidak sengaja lolos dari pelupuk mata, sungguh aku melihat dirinya pun merasa iba. Aku sama sekali tidak tahu jika fakta yang sebenarnya terjadi seperti ini. Wanita itu kini menatapku tajam dan masih tetap dengan wajahnya yang dipaksa senyum.
"Kamu tahu, Ra? Aku bahkan mengaku sebagai adik dari suamiku sendiri di depan ibumu tatkala ibumu bermain ke rumah kami. Aku sendiri yang membuatkan minuman untuk ibumu! Aku sendiri yang menyiapkan kamar untuk ibumu jika ia menginap! Dan aku lah yang menyaksikan suamiku bersetubuh dengan wanita lain di kamar kami! Tempat di mana setiap malam aku menghabiskan malam bersama suamiku! Tapi setelah malam itu ... aku merasa jijik untuk tidur di kamarku sendiri."
Aku ternganga mendengar pernyataan wanita bertubuh ideal ini, ia pun terlihat terus mencoba mengendalikan emosinya agar tidak meledak.
Tidak kusangka wanita itu kini mengusap lembut rambutku, lalu tangisannya pecah. Mungkin sejak tadi dadanya bergerumuh saat ia menceritakan kronologi kejadiannya seperti apa. Aku bisa memakluminya sebab itu pasti berat menggali lagi cerita yang telah lama ia kubur begitu dalam.
"Ra ... sungguh aku tidak tahu jika ibumu hamil waktu itu, jika saja aku tahu ... mana mungkin aku menyuruh suamiku meninggalkan ibumu. Karena tepat setahun lebih mereka memiliki hubungan gelap, ternyata aku sudah mengandung anak laki-laki lalu aku meminta untuk Feliks meninggalkan ibumu atau aku yang pergi!" ujar Nyonya Lee dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
Aku masih menunduk, apa yang dikatakan wanita itu sangatlah wajar ... istri mana yang tahan melihat perselingkuhan suaminya lebih dari setahun di depan matanya sendiri! Bahkan ada sedikit kekagumanku pada wanita cantik di hadapanku ini. Dia kan cantik ... kurasa dari tampilannya pun dia orang berada dan berpendidikan tinggi, tetapi ... hebatnya dia tidak berlari dan meninggalkan suaminya yang sudah dengan jelas menyelingkuhinya.
Perlahan kupejamkan mata sebentar, mencoba mencerna cerita yang tidak pernah terpikirkan di dalam kepalaku. Hingga akhirnya aku menatap wanita itu. "Apa ibuku tahu, jika dia hanya selingkuhan suamimu?"
Wanita itu menggeleng membuang napas kasar, lalu menggenggam jemariku. "Ibumu wanita baik, dia tidak tahu jika selama itu dia sedang dipermainkan oleh suamiku."
Aku menatapnya kosong. "Jadi ...."
Wanita itu mengangguk pelan, "Yah! Begitulah ceritanya, Ra! Hingga akhirnya aku tahu dengan melebarnya isu jika ibumu hamil setelah ditinggal oleh pacarnya yaitu suamiku sendiri. Aku bimbang dulu ... sungguh pernah terlintas untuk membuat ibumu sebagai istri ke dua saja, tetapi sepanjangnya aku berpikir ... ternyata ibumu telah dinikahi oleh pria yang tidak kukenal. Aku bernapas lega, setidaknya pernikahanku akhirnya bisa berbahagia kembali."
Aku menepis genggaman jemarinya dari jemariku, aku tahu ini bukan salahnya ... tetapi apakah dia tahu jika hidupku dan ibu selama ini sangatlah menderita. Siapa sangka akhirnya air mata yang sedari tadi kutahan, akhirnya lolos juga dari pelupuk mata.
Ia menghapus air mataku dengan lembut. "Ra ... aku juga selama ini berusaha mengorek informasi tentangmu dan akhirnya aku tahu kamu sekolah di Nusa Indah Harapan, maka dari itu kupindahkan Ethan untuk mendekatimu lebih jauh. Meski membujuk Ethan untuk pindah dari sekolah internasional ke sekolah biasa begitu sulit, tapi akhirnya dia mau juga ...."
Mendengar nama itu rasanya, perasaanku masih begitu sakit. Aku tidak menyangka jika Ethan adalah kakakku. Kami hanya berbeda bulan kelahiran. Argh! Rasanya sulit sekali untuk bisa menerima kenyataan jika kami adalah kakak beradik.
Kemudian wanita itu memegang wajahku, ia menatapku penuh dengan tanda tanya. "Lalu ... apa yang membuatmu datang kemari?" tanyanya masih dengan jemari yang memegang wajahku.
"Aku ingin om Feliks menemui ibuku, meminta maaf padanya! Ibuku mentalnya hancur lebur setelah kejadian itu."
"Hati ibu ... tidak pernah terbuka untuk siapa pun, dia hanya menunggu suamimu untuk pulang kepadanya. Dia pasrah jika harus suamimu meninggalkannya, hanya saja berikan dia satu kalimat ... agar ibu juga bisa menjawab selamat tinggal."
Nyonya lee masih menatapku, lalu menganggukkan kepalanya. Mengambil ponsel di dalam sakunya kemudian mengetik sesuatu entah apa yang ia lakukan aku pun tidak tahu yang jelas sekarang wajah kami tidak sengaja reflek bertatapan sangat dekat.
Hati dan pikiranku kini sedikit lega, telah meminta kemauanku padanya. Wanita di hadapanku ini semakin lama kami bercakap semakin baik di mataku. Apa lagi setelah mendengar penjelasan cerita yang sebenarnya, aku semakin iba melihatnya. Walau hidupnya bagiku terlihat bahagia, tetapi ... tetap saja dia wanita baik yang bisa bertahan menahan sakit hati demi keutuhan rumah tangganya.
"Ra, aku sampai lupa membuatkanmu minum!"
Aku menggeleng cepat lalu meminta izin pulang, sebab aku tidak ingin melihat wajah Ethan untuk sementara waktu. Aku takut jika semakin lama aku di rumah ini, Ethan bisa menemuiku di rumahnya saat ia pulang sekolah.
Namun, tiba-tiba Nyonya Lee menarik lenganku. "Aku ikut! Aku ingin bertemu ibumu ...."