Demi Allah rasanya begitu sakit melihat ibu benar-benar ingin bertemu pada lelaki yang sudah jelas mencampakkannya dua kali, andai lelaki itu bisa menerima kami dengan ikhlas. Meminta maaf atas kesalahannya di masa lalu.
Maka ada sepotong bagian hati yang masih menerima jika dia memang ayahku, tetapi ... dia tidak tahu apa itu kata maaf! Sebab dia merasa tinggi dan malu meski hanya berbisik rayu.
Bagiku, sudah tidak ada lagi tempatnya di hati ini. Hingga sampai waktu bisa mengubah segala keadaan kami. Aku bersumpah tidak akan pernah ada kata maaf untuknya meski ia menangis darah dan bersujud di kakiku memohon ampun.
Aku tersenyum mengangguk, "Ibu tenang saja, dia pasti kembali. Dira janji ... bagaimana pun caranya!" ujarku mencoba menenangkan sembari merapihkan pashmina di bagian depan wajah ibu.
Wajah ibu menatapku, tangannya terhulur dan memeluk sambil menangis. "Dia ayahmu, Ra! Tolong cari dia ...."
Aku mengangguk melepaskan depakapan pada sang ibu, lalu membangkitkan ibu dan menidurkannya di atas ranjang. "Dira pergi dulu, Bu. Assalamualaikum."
Langkahku cepat tanpa menunggu jawaban salam dari ibu, aku pergi kembali ke sekolah berlari sekencang mungkin takut jika gerbang sekolah sudah terkunci dan aku tidak bisa masuk untuk mencari data siswa bernama Ethan Jeff Ignatius di ruang kepala sekolah.
Sepanjang perjalanan aku terus mengumpat! Akan kucari keadilan sampai keujung dunia sekali pun, dia akan terus kukejar!
***
Aku menatap ruang bertuliskan 'Ruang kepala sekolah.' Masuk secara diam-diam, mencari berkas data-data siswa yang tersimpan di ruangan ini. Dengan cepat kucari tanpa mengenal takut jika nanti akan dipergoki security.
Hingga pada akhirnya ketemu juga tumpukan map berwarna biru dengan kertas tag di atasnya bertuliskan 'Data diri Murid.' Entah kekuatan super mana yang membuatku langsung bertemu map dengan nama 'Ethan Jeff Ignatius.'
Tidak ada waktu untuk membacanya, map itu langsung kumasukkan ke dalam tas. Kemudian dengan langkah seribu aku berlari meninggalkan sekolah takut tertangkap oleh security.
Tidak peduli akan panasnya terik matahari, tidak peduli akan lelahnya kaki yang sudah ingin berhenti untuk beristrahat.
Sesampainya di rumah, aku bergegas masuk ke dalam kamar lalu mengeluarkan map berwarna biru milik Ethan. Aku tersenyum puas setelah melihat isi di dalam map itu, ini benar-benar lengkap! Mulai alamat rumah sampai data orang tuanya pun tertera disini.
Hargh!
Akhirnya bisa bernapas lega setelah mengetahui alamat dan data-data manusia busuk itu, aku membenamkan kepalaku di bantal.
Air mata tiba-tiba menetes, entah mengapa hati ini sakit setiap kali mengingat nama Ethan. Dengan teganya ia mengatur rencana menggunakan pesonanya, dari kapan ia mengetahui aku adalah saudara tirinya? Apakah ia mengetahui itu sejak lama? Dan baru sekarang ia berani mengungkapkan yang sebenarnya ....
Cih! Licik sekali ... bisa-bisanya melibatkan perasaan demi sebuah rencana.
Aku meraup wajah, menghapus air mata. Mencoba menyadarkan diri jika Ethan adalah setan! Bukan malaikat.
Dengan hati yang sedang bimbang, aku melirik ke arah buku milik ayah lalu mengambilnya. Membuka halamannya kembali dan melihat wasiat ke tiga dari ayah yang ternyata benar kata ibu ... ayah menyuruh ibu untuk memakai hijab dan ada kata-kata dari ayah yang membuatku tersipu malu apa lagi ibu yang membacanya!
[Semasa gadis, ibumu pernah menggunakan hijab, Masya Allah dia sangat cantik. Ayah hampir kehilangan akal saat melihatnya.]
Akhhh! Aku hampir berteriak membaca kata-kata itu tetapi sedetik kemudian aku merenung. Mengapa bukan ayah yang ibu cintai? Padahal ayah sudah menghabiskan waktunya hanya untuk mencintai wanita yang salah seumur hidupnya.
Kesedihan muncul kembali tatkala aku mengingat tentang itu, lalu kubuka halaman selanjutnya yaitu wasiat ayah yang ke empat. Kubaca dengan detail ternyata ayah menyuruh untuk mencari keberadaan ayah kandungku dan seperti biasa ia menutup dengan kata-kata manisnya untukku.
Apakah ibu sudah membaca wasiat ini? Apa sekarang ibu sadar ... jika ayah lebih mencintainya dibanding lelaki yang selama ini ia puja?!
Argh ....
Rasanya aku ingin berteriak sekencang mungkin di depan wajah ibu! Dan mengatakan jika lelaki itu adalah pecundang tidak pantas untuk ia temui apa lagi dipuja!
Huh, tetapi rasanya tidak mungkin. Aku bisa mengatakan hal sekejam itu pada ibu.
***
Hari sudah mulai pagi, seperti biasa aku bergegas untuk bangun dan bersiap-siap ke sekolah. Kupandangi pintu kamar ibu, masih tertutup padahal baru kemarin ibu berubah. Kini dirinya mulai merasa rendah kembali setelah kejadian kemarin.
Dengan rasa yang menggebu untuk menemui alamat rumah yang ada di data murid milik Ethan kemarin, aku sampai lupa untuk berpamitan pada ibu seperti biasanya.
Namun, biarlah kuharap ibu bisa mengerti. Sepanjang perjalanan aku menyusun skenario untuk bertemu dengan istri sah lelaki itu akan kuceritakan seluruh kejadian yang menimpa ibu! Agar rumah tangga mereka pun goyah akan adanya kasus ini!
Lihat saja nanti ... akan kuungkap pada dunia, jika dia adalah ayah kandungku! Akan kupermalukan dia di mata umum sebagaimana dia memalukan ibu di hadapan anaknya!
Berjalan hampir dua jam lebih membuatku lemas, kutahan sekuat mungkin sambil mengatur ritme napas yang mulai tidak beraturan.
"Hargh ... hargh! Demi ibu ... demi ibu!" ujarku menguatkan diri sendiri, aku harus sampai sebelum jam pulang sekolah! Agar aku bisa lebih banyak waktu untuk menceritakan semuanya pada istri dari pria laknat itu!
Kupejamkan mata dan berjalan menyemangati diri kembali ....
Dengan napas yang terengah-engah, kini tibalah aku di depan rumah putih berlantai tiga dengan gaya eropa klasik. Senyum yang tadi sempat hilang kini kembali mengembang melihat ada secercah harapan untuk membawa pria itu datang di hadapan ibu.
Aku melangkah pada security yang sedang berjaga. "Pak, saya diminta untuk mengurut Nyonya Lee," ujarku berbohong, tetapi untung saja aku kemarin melihat nama ibu dari Ethan di map berwarna biru.
"Baik, Dek. Tunggu sebentar." Lelaki perawakan besar itu meski ia ragu atas perkataanku, tetapi ia tetap saja menghubungi majikannya lewat telepon.
"Pagi, Buk. Ada anak perempuan memakai seragam sekolah SMA Katanya diminta untuk mengurut ibu."
Sebelum wanita itu menjawab, aku langsung berteriak di dekat telepon berwarna putih yang lelaki itu genggam.
"Buk, kumohon! Izinkan aku masuk ke dalam, ada yang ingin aku sampaikan tentang perselingkuhan Tuan Feliks! Jika tidak akan kuteriakkan di luar rumah agar ...." Belum tuntas aku mengatakan semuanya.
Wanita itu menjawab tegas. "Antarkan dia padaku."
"Mari saya antar, kenapa kamu senekat ini?" Lelaki dengan perawakan besar itu bertanya sambil menuntunku masuk ke dalam rumah yang begitu besar luar biasa, luas dan indah. Kurasa tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam rumah ini.
Aku melirik lelaki itu tajam. "Ibuku gila karena tuanmu! Terus menurutmu ... aku harus diam saja?"
"Hati-hati bermain dengan orang besar seperti mereka, dirimu bisa dalam bahaya."
"Aku tidak takut!" jawabku tegas masih dalam genggaman lelaki besar itu sambil membuka pintu dengan sidik jarinya.
Tibalah aku di dalam bertemu dengan wanita berambut blow panjang berwarna kuning keemasan. Ia menatapku sambil tersenyum lembut. "Kamu Dira kan?"