Dua Belas Wasiat dari Ayah

Masa Lalu

Bola mataku mengedar memandang Ethan berteriak memecah keheningan, apa Ethan sudah tahu semuanya, apakah ia menjebakku? 

 
Air mata mulai menetes, menangis tanpa suara. Memaki diri sendiri atas apa yang sedang terjadi, padahal aku dan dirinya baru saja melewati hari penuh dengan canda tawa bersama.
 
Namun, sekarang ... mengapa semuanya berubah?
 
Seorang pria dengan tampilan elegan itu melempar pandangannya tajam ke arah Ethan. "Masuk Sekarang!" bentaknya sambil berteriak. Dirinya pun masuk ke dalam mobil meninggalkan ibu yang langsung terburu-buru melangkah ke arahnya.
 
"Feliks, Stop! Kumohon jangan pergi." Ibu menangis meraung sambil menggedor kuat kaca jendela mobil.
 
"Feliks, Stop! Kumohon ... aku sudah mencari dirimu ke mana pun selama ini. Tolong kasihani aku," ucapnya lagi di tengah tangisan ibu yang benar-benar diabaikan oleh pria itu. 
 
Sedangkan aku ... aku hanya diam. Bimbang harus bagaimana? Bola mataku memandang ibu dan juga Ethan yang telah tega mengatur semua rencana busuk ini. 
 
Aku tahu yang ibu sebut Feliks itu pasti adalah ayah kandungku! Seharusnya aku senang bisa bertemu dengannya, tetapi ... bukan pertemuan seperti ini yang aku harapkan. 
 
Apa lagi ditambah melihat sikap ayah kandungku yang ternyata tidak suka menjumpai aku dan ibu, padahal sudah sepuluh tahun lebih lamanya perpisahan itu ... mengapa tidak ada kerinduan di dalam dirinya? Atau hanya aku dan ibu yang mengharapkan kehadirannya? Tidak dengan dirinya! Mungkin malah pria itu sekarang sudah mengubur semua masa lalunya tentang ibu. 
 
Tetapi, Ibu? Baginya masa lalu itu belum selesai. 
 
"Kumohon, Felix jangan tinggalkan aku lagi. Aku nggak pernah bisa melupakanmu meski hanya sedetik. Aku membuang keluargaku ... aku membuang suamiku ... aku membuang seluruh kebahagiaanku demi mencarimu, demi untuk hidup bersamamu! Aku selalu sendiri ... meski aku bertemu dengan semua orang di dunia ini! Itu tidak akan pernah sama! Sebab mereka bukan dirimu." 
 
Ibu terus mengeluarkan ucapan yang mungkin ia pendam selama ini sendiri, dia terus memohon sambil memegang spion mobil dengan erat sebab takut mobil itu akan melaju. Ibuku malang ... ia memohon bagaikan pengemis, meski pengemis pun masih memiliki harga dirinya dibanding ibu yang sekarang. 
 
"Aku selalu menunggumu untuk berbicara empat mata, menunggu penjelasan yang keluar dari dalam mulutmu agar aku bisa ikhlas. Aku sudah menaruh posisiku sebagai orang asing di dunia ini hanya untuk menunggumu. Jadi kumohon ... keluarlah, jika dirimu tidak bisa menjelaskan sekarang. Nggak apa! Setidaknya keluar dari dalam mobil agar aku bisa memelukmu menyalurkan hasrat rindu walau sebentar."
 
Ibu memohon terus menerus, sesekali ia bersujud di bawah mobil lalu bangkit menggedor kembali kaca jendela. Tetapi, masih saja ibu terabaikan. Ibu sama sekali tidak digubris! Malah sekarang pria itu menghidupkan mobilnya, membuat ibu semakin histeris menggedor kaca jendela itu. 
 
Hingga akhirnya ibu kalah ... ia tersungkur sebab mobil itu mundur secara mendadak dan juga melaju kencang. Meninggalkan ibu yang meratapi sang pujaannya pergi tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari dalam mulutnya. 
 
Inikah pertemuan dengan ayah kandungku? Ia pergi meninggalkan ibu yang sedang mengandung dulu tanpa belas kasihan dan sekarang ia juga pergi meninggalkan kami tanpa bertanya apakah aku anaknya? Bagiku dia seorang penjahat! Aku bingung mengapa ibu sangat mencintai orang seperti itu?!
 
Dan aku juga jijik melihat ibu mengemis cintanya di depanku, aku melangkah menemui ibu. Kupeluk dirinya tanpa bertanya apa pun, aku tahu ini juga salahku ... salahku yang bisa dengan mudah mempercayai Ethan hadir sebagai teman baik, membuatku jatuh cinta dan terlena di dalam perhatiannya. 
 
"Bu ... sudah, Ya. Sudah cukup dengan semuanya, ibu selalu bilang kan ... ayah tidak menafkahiku selama dua belas tahun dan ibu sangat marah! Padahal ayah bukan ayah kandungku, sedangkan dia?" Perkataanku terhenti, aku takut ibu tersinggung lalu hubungan kami kembali renggang. Padahal hubunganku pada ibu baru saja membaik, aku tidak mau hanya karena lelaki pengecut itu hubunganku dan ibu kembali dingin.
 
Ibu menoleh ke arahku, pandangannya mulai kosong lalu tersenyum paksa begitu mengerikan. "Terima kasih, Ra. Terima kasih telah membawanya ke rumah ini. Setidaknya mengobati rasa rindu ibu walau hanya sebentar." Perkataan ibu membuat aku terkejut. 
 
Kemudian ia beranjak sambil menghapus seluruh air matanya, berjalan masuk ke dalam rumah. Tanpa menoleh kembali ke arahku.
 
Aku ternganga melihat keadaan ibu, apakah ibu baik-baik saja? Kurasa ibu begitu sangat menyedihkan. Apa yang harus aku lakukan setelah ini? 
 
Menyatukan cinta ibu kembali? Yang jelas-jelas ... lelakinya saja tidak ingin menemui ibu sedikit pun, apa lagi untuk kembali! Kurasa itu susah. 
 
Aku bangkit lalu masuk ke dalam rumah, mengedarkan bola mata ke seluruh penjuru sudut rumah. Masya Allah ibuku benar-benar telah berubah ia berbenah, rumah sangatlah rapih. Di atas meja makan pun tersedia sambal goreng hati dan sayur bening bayam. 
 
Seketika aku mengambil kursi, menyendokkan satu centong ke atas piring. Menikmati sayur pertama kali yang ibu buat sambil menangis. 
 
Mengapa, Tuhan? Mengapa ... di saat ibu sudah mulai untuk memperbaiki dirinya, malah ada saja yang membuat pikirannya stres? Tidak suka kah melihat ibu berbaik hati sedikit pada anak dan hidupnya? 
 
Aku menangis sambil menyantap sayur buatan ibu, menangis haru akhirnya ibu bisa berubah sedikit demi sedikit untuk aku ... anaknya.
 
Hati dan pikiranku kini gelisah, menatap pintu kamar ibu yang kembali tertutup. Aku takut dirinya berubah lagi seperti dulu ... takut ibu menyakiti dirinya sendiri lalu mencari kebahagiaan yang salah di luar rumah.
 
Sejujurnya aku tidak masalah akan perilaku ibu yang jarang mandi, tidak berbenah dan kesehatan mentalnya! Yang aku takutkan adalah pergaulan bebas ibu, membayangkannya saja aku sudah trauma.
 
Aku terdiam memikirkan apa yang harus aku lakukan sekarang? Dan seketika aku menggeleng cepat, lalu bangkit melangkah ke arah pintu kamar ibu. 
 
"Assalamualaikum, Bu ...," panggilku pelan di depan pintu kamar ibu.
 
Kuputar gagang pedal pintu itu dan ternyata terbuka tidak terkunci. Aku masuk mendapati kamar ibu yang super gelap dengan terburu-buru aku menghidupkan lampu. 
 
Kemudian melihat ibu sedang meringkuk di pojok kamar, sedang menenggelamkan kepala di antara dua kakinya. Aku berjalan ke arahnya ... lalu duduk mensejajarkan diri pada ibu. "Bu ... apa orang itu begitu spesial untuk ibu?" ujarku memberanikan diri untuk bertanya. Tetapi, ibu hanya diam saja tidak menjawab. 
 
"Bu ... Dira mohon jangan begini, sebab ibu tidak lagi sendiri. Dira udah gede, Bu! Jika memang dia spesial untuk ibu, Dira bisa membawanya kembali ke rumah ini! Membuat dia bersujud memohon maaf pada ibu!" ujarku lagi penuh dengan tekanan. 
 
Ternyata perkataan itu berhasil, ibu menaikkan kepalanya Mendongak ke arahku. "Benarkah?" tanya ibu dengan bola mata yang berlinang.
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!