Takdir itu ternyata lucu, seperti kisahku sekarang bersama Ethan. Dulu aku hanya bisa memandangnya dari jauh, selalu menepis perasaan jika aku mengaguminya.
Aku sadar waktu itu, ia tidak akan pernah menyadari bunglon saat dirinya tengah menjadi tawanan lebah. Dia akan terus terjerat bersama cipratan madu yang begitu manis menyetubuhinya, itulah keyakinanku saat itu.
Tanpa aku bisa mengira jika Ethan ternyata adalah tawanan yang cerdik, ia sengaja tergelebar demi keluar dari jeratan itu dan akhirnya bertemu bunglon yang selalu berdiam menatap buasnya lebah menggerubungi dirinya.
Argh!!! Sungguh tergemapnya aku, Ethan selalu di dekatku! Bahkan ia menanyakan aku mencintainya atau tidak sekarang.
Aku tergagap beberapa detik, hingga akhirnya Ethan tertawa meledek sambil mengeluarkan buku tulis dari dalam tasnya. "Ra! Udah, Ra! Aku cuma iseng, kamu lucu tau kalau wajahmu begitu! Tegang banget." Ethan terus tertawa sambil memberi buku tulis dengan sampul berwarna cokelat.
"Sebentar lagi bakal ada ulangan matematika, itu buku tulis harianku. Disitu tertulis lengkap seluruh materi yang kita pelajari setiap hari, tidak pernah terlewat satu pun! Ini untukmu."
Degh!
Jantungku berdebar kencang, padahal baru dekat dua hari sudah memberiku buku tulis hariannya. Bagiku pemberian itu lebih berharga dari apa pun, meski sebenarnya ada sedikit yang terbesit di dalam hati jika ia berarti menganggapku bodoh!
Huh, terserahlah ... apa saja pikiranku, aku sudah tidak peduli yang jelas aku melabeli Ethan sekarang sangat peduli dan perhatian terhadapku.
Bibirku melebar menerimanya padahal aku belum siap untuk tersenyum, mungkin bibir ini reflek mengikuti ritme jantung yang berdegup cepat.
Kemudian bolak-balik kubaca isi di dalam buku itu, benar-benar Ethan semakin sempurna di mataku, tulisannya begitu rapih! Ternyata Ethan bukan hanya cerdas, tetapi juga rajin.
Aku semakin merasa rendah diri di sampingnya, merasa kebodohanku meningkat pesat akhir-akhir ini setelah beberapa hari berada di dekat Ethan.
"Ra! Ngadep sini!" panggil Ethan dengan nada menyeru, sontak kepalaku menoleh ke arahnya.
Ceklek ....
Dia berhasil mencuri gambar diriku menggunakan android miliknya. "Mau kukirim ke mamah!" ujarnya seru.
Sedangkan aku lagi-lagi hanya terdiam menerima seluruh perilaku Ethan, padahal aku sama sekali tidak menyukai jika diri ini terpoto apa lagi terekspos.
Namun, mengapa bersama Ethan semuanya aku tidak bisa berkutik? Seperti menormalkan apa pun tindakannya, sedangkan hati ini memberontak. Apa lagi itu tentang foto, aku takut di foto itu aku lagi jelek-jeleknya, aku takut di foto itu pelupuk mataku terpejam seperti orang cacingan atau wajahku langsung berubah menjadi buruk rupa saat di foro itu.
Membayangkannya saja aku sudah takut, lagian ... apa Ethan tidak mengerti jika hal sensitif bagi perempuan itu adalah tentang foto?
Ethan hanya terus terkekeh menatap layar ponselnya, sesekali bola mata ini jahil untuk mencuri melirik Ethan. Entah mengapa melihat tawaan kecil yang terpampang di wajahnya membuatku senang melihatnya.
Aku tidak ingin menerka apa yang sedang Ethan pikirkan. Apa lagi bertekad untuk bertanya padanya mengapa ia tertawa, kurasa aku tidak akan pernah seberani itu meski kami akan lebih dekat nantinya.
***
Akhirnya jam sekolah pun telah usai, semua murid sama seperti biasa langsung berhamburan setelah mendengar bel sekolah berdenting.
Ethan mengenggam jemariku lebih dulu untuk keluar dari dalam kelas, "Kita harus cepet! Mau makan dulu, tadi aku nggak keluar saat jam istrahat! Kamu harus tanggung jawab, Ra!"
Aku langsung menunduk mendengar ucapan Ethan sambil mengeluarkan uang saku yang ibu beri tadi, tanpa sadar aku menatap uang kertas itu beberapa saat di hadapan Ethan.
Haruskah aku menraktir Ethan dengan memakai uang pemberian ibu? Sedangkan aku sudah berniat untuk melaminating uang itu.
"Aku yang traktir!" bisik Ethan pelan di telinga kananku lalu mengusap rambutku lembut. "Kamu polos banget!" Ethan terkekeh.
Padahal aku sudah bimbang dibuatnya, setelah mendengar ucapan Ethan kupikir bentuk tanggung jawab dariku adalah dengan memberi ia traktiran makanan.
Ternyata hanya meminta untuk ditemani! Aku mulai merasa geli di dalam hati.
Kami berdua duduk di bangku dengan posisi berhadapan, memilih menu yang ingin dipesan. Makananku pun Ethan yang memilih, sebab ini pertama kalinya aku mendudukkan diriku di bangku kantin ini. Jadi ... aku masih belum paham bagaimana caranya memesan makanan.
Setibanya mie ayam dan dimsum baru saja datang, kami berdua langsung menikmati makan siang saat ini. Ethan makan tanpa mengenal malu, dia begitu lahap menikmatinya.
Dan begitu pun juga aku, aku ikut menikmati walau sangat pelan. Ini sangat enak! Aku belum pernah tahu jika ada mie ayam seenak ini? Aku memakannya sangat pelan, menyeimbangi suapan dari Ethan. Aku memakannya setengah sendok sedikit demi sedikit.
Bukan tanpa alasan, tiba-tiba aku teringat pada ibu. Apa ibu pernah makan mie ayam seenak ini? Aku ingin ibu juga mencicipnya.
Tetapi, bagaimana caranya aku bilang pada Ethan untuk meminta mie ayamku dibungkus saja. Rasanya aku malu! Ya Tuhan! Masak iya ... baru saja diajak makan pertama kali, sudah meminta makanannya dibungkus karena tidak habis.
Mengapa aku membayangkannya saja jadi memalukan?
Ethan mengedarkan bola matanya ke arahku sambil menyerusup mie ayam, "Ra? Nggak suka?" tanyanya. "Coba sini aku cicip kurang apa," ujar Ethan sambil menyicip mie ayam milikku.
"Oh ini mah kurang saus. Nih coba nih punyaku, udah mantep ini, Ra!" kata Ethan sambil menyuapiku sesendok mie ayam dan tentunya sendok yang dipakai bekas dari mulut Ethan.
Astaghfirullah ... itu artinya aku dan Ethan secara tidak sengaja berciuman.
Kepalaku seketika keluar sejuta kupu-kupu kembali, bertebangan membawa pesona keindahan cinta untuk seseorang yang berada di hadapanku.
Aku hanya mengangguk malu menjawab Ethan, wajahku sepertinya saat ini memerah.
"Enak kan?? Masih mau nyicip?" tanya Ethan kembali, belum sempat kumenjawab Ethan sudah menyendokkan mie ayam ke dalam mulutku.
"Oh iya!! Kamu harus nyobain mie ayam campur dimsum."
Ethan menusuk dimsum menggunakan garpu lalu di atas dimsum itu diberi mie ayam lalu ditambah sambal di atasnya.
"Nahh ini! Akkk yang lebar!" Ethan menyuruhku membuka mulut secara lebar agar menyantap dimsum ini dengan satu suapan.
Eh buset pikirku, mana bisa? Satu dimsum ditambah topping mie langsung masuk ke dalam mulutku?
Aku langsung menggeleng, "kegedean, Than ...," jawabku sangat pelan.
Ethan terkekeh. "Padahal pas bulet begini langsung masuk enak banget." Akhirnya Ethan yang memakannya, ia benar-benar tidak kenal malu padaku. Ethan sangat terlihat santai dibanding aku.
"Sini, Ra! Mangkokmu itu kurang saus."
Aku dengan reflek menjauhi mangkok berisi mie ayam itu dari jangkauan Ethan.
Ethan menautkan alisnya bingung melihatku. "Ra?" panggilnya heran.
"Than ... boleh nggak mie ayamnya dibungkus aja?"