Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Prasangka

Aku terbangun saat langit masih gelap.

Bukan karena mimpi. Bukan karena suara hujan. Tapi karena ada perasaan aneh, seperti seseorang sudah pulang, lalu memilih tidak mengetuk pintuku.

Aku membuka mata pelan. Jam di ponsel menunjukkan pukul lima kurang seperempat. Aku bangkit setengah duduk, menajamkan pendengaran. Tidak ada suara apapun di luar kamar. Rumah sunyi.

Aku bangun, berjalan ke ruang tengah. Lampu mati. Dapur gelap. Tapi di meja ada satu cangkir kopi bekas. Tidak hangat lagi.

"Dia pulang? Jam berapa?"

Aku berdiri lama di sisi meja, menatap cangkir itu seperti benda asing. Ada rasa kecewa yang merayap pelan di dadaku.

“Kenapa sih begini,” gumamku.

Aku kembali ke kamar, duduk di tepi ranjang. Selimut masih terlipat rapi. Kuputuskan mandi dan salat subuh.

Sekitar satu jam kemudian, saat aku hampir selesai bersiap ke kantor, Arman keluar dari kamarnya.

Rambutnya sudah rapi. Kemeja disetrika. Wajahnya tenang seperti biasanya.

“Kamu sudah bangun,” katanya.

“Iya.”

Dia mengangguk. “Aku berangkat agak siang hari ini.”

“Hm.”

Itu saja.

Tidak ada pertanyaan, kamu baik saja? Atau maaf semalam aku pulang telat. Atau kamu mau sarapan apa?

Aku ingin bertanya. Aku ingin bilang aku menunggu. Aku ingin menegaskan apakah aku bicara terlalu banyak di mimpi. Tapi lidahku seperti terikat.

Aku hanya berdiri di dekat lemari sepatu, menatap punggungnya saat ia mengenakan jam tangan.

Arman tidak menatapku. Bahkan saat lewat di sampingku ke depan dan memakai jaketnya sebelum pintunya tertutup.

Bluk.

Aku baru sadar aku menahan napas sejak tadi. Tapi, mataku menangkap sesuatu di lantai.

Aku jongkok dan memungutnya. Struk makan. "2 orang? Semalam, dia sama siapa?" kugigit bibir bawah, otakku mulai menduga-duga.

"Eh, elu siapanya dia, Ayla. Soal ngulik ngingau mimpi nggak ada hubungannya sama kepo kali," kataku pada diri sendiri. 

Aku diam sejenak. Lalu melempar kertas itu ke lantai. "Dih, iya sih, ngapain," kekehku sambil keluar rumah dan mengunci pintunya.

*

Hari ini aku bekerja seperti robot. Tanganku bergerak otomatis. Mulutku menjawab seperlunya. Kepalaku… kosong dan penuh sekaligus.

Setiap kali ada jeda, pikiranku kembali ke satu hal. Apa yang dia dengar?

Apa dia mendengar aku menyebut nama Raka? Apa dia mendengar aku bilang masih mencintainya? Apa dia melihat aku sebodoh dan selemah itu?

Aku malu.

Bukan karena Arman tahu aku belum move on. Tapi karena mungkin dia ngerti aku masih ngotot mencintainya.

Siang hari, aku bertemu seorang ibu membawa anaknya yang kurus. Berat badannya turun. Ayahnya pergi sejak setahun lalu.

“Anaknya sering susah makan, Bu?” tanyaku lembut.

Ibu itu mengangguk. “Bukan cuma soal makan, Mbak. Dia suka nanya, bapaknya ke mana.”

Aku terdiam sebentar. “Terus Ibu jawab apa?”

“Jawab aja kerja,” katanya lirih. “Padahal saya tahu… dia mungkin nggak balik.”

Dadaku terasa ditekan pelan. Aku tersenyum profesional. Memberi saran gizi. Menyusun jadwal makan. Tapi ada bagian diriku yang tertinggal di kalimat itu.

"Mungkin nggak balik, seperti Arman yang lagi siap-siap pergi," gumamku saat mencatat datanya. 

Sepulang kerja, hujan turun lagi. Aku membuka pintu rumah dengan perasaan campur aduk—antara berharap dan takut.

Arman sudah ada di rumah. Sepatunya terletak rapi. Jaketnya digantung di balik pintu. Jaket itu basah. Aku memegang ujungnya pelan. Air masih menetes sedikit.

Dari dapur terdengar suara air. Arman sedang mencuci tangan. Dia menoleh saat melihatku.

"Baru pulang, Dek?”

“Iya.”

“Kamu kelihatan capek.” Dia melihatku agak lama tadi.

Aku hampir tertawa. Hampir ingin bilang, kamu juga. Tapi yang keluar hanya senyum tipis dan anggukan kecil.

Aku melihat meja makan. Ada dua piring. Dua gelas. Tapi hanya satu yang sudah dipakai.

“Sudah makan?” tanyaku.

“Sudah.”

“Oke.”

Aku berdiri canggung. Tidak tahu harus duduk atau masuk kamar. Bertanya atau diam.

Arman melanjutkan kegiatannya, seolah semuanya normal. Seolah jarak ini hanya ada di kepalaku.

Malam itu kami tidak bicara sama sekali. Padahal sama-sama duduk di ruang tengah. Arman nonton tv, dan aku duduk di lantai, menyender di sofa, berkutat dengan sisa pekerjaan.

Mataku panas. Kutatap langit-langit sebentar lalu menyandarkan kepala di sofa sambil memejamkan mata.

Aku kenapa sih? Kenapa rasanya seperti sedang ditinggalkan pelan-pelan? 

"Kalau capek tidur," katanya tanpa berpaling dari televisi.

Aku masih memejamkan mata. "Hem."

Tak lama, kurapikan semua berkas di lantai, menutup file lalu mematikan laptop. Aku membawa semua barang-barangku ke kamar. Berlama di sana juga ngapain, mending di kamar. Sama-sama terasa sendiri. 

Rasanya seperti suami istri sedang musuhan. Padahal status menikah pun baru kami lakoni dua pekan.

Suara televisi padam, terdengar langkah Arman masuk ke kamarnya. Aku melihat jam dinding di atas pintu.

"Eh, udah nyaris jam 11. Pantesan ngantuk," kataku, gegas beres-beres, bersiap tidur.

Kami tidak tidur satu kamar. Tapi malam ini, jaraknya terasa lebih jauh dari biasanya.

***

Pagi itu aku izin masuk kerja agak siang. Alasannya sederhana—urusan keluarga. Tapi yang sebenarnya, aku ingin ke pabrik ayah.

Aku berangkat lebih pagi dari biasanya. Kudengar deru motor Arman, rupanya dia juga berangkat lebih awal dariku.

Di jalan, pikiranku muter di satu hal yang sama. Struk makan itu.

Aku tahu aku berlebihan. Padahal itu cuma kertas kecil. Tapi sejak kapan aku jadi orang yang memungut struk orang lain dan membacanya berulang-ulang?

Pabrik ayah ramai seperti biasa. Suara mesin bercampur teriakan kecil mandor dan langkah kaki pekerja. Bau besi dan oli menyambutku, ini seperti rumah kedua sejak kecil.

Ayah sedang berdiri di dekat gudang, berbincang dengan dua orang staf. Begitu melihatku, ia tersenyum. 

“Lho, tumben. Jam segini sudah ke sini.”

Aku mendekat. “Aku izin masuk siang.”

“Kenapa?” tanyanya santai, sambil mengajakku masuk ke kantornya.

Aku menarik napas, lalu duduk menghempaskan tubuh di sofa.

“Yah,” kataku, berusaha terdengar biasa saja. “Arman… punya rahasia nggak sih?”

Ayah mengernyit sebentar. “Rahasia apa?”

Aku menumpuk kaki kiri ke kanan. “Aku kemarin nemu struk makan malam berdua. Terus dia pulang subuh kayaknya.”

Ayah mendengar lalu… tertawa. Tawa lepas yang membuat beberapa orang di luar ruangan menoleh.

Aku melotot. “Yah, aku serius.”

Ayah masih tertawa. “Kamu mulai suka Arman atau gimana, Ay?”

“Bukan gitu!” bantahku cepat. “Aku cuma… takut.”

“Takut apa?”

Aku menggigit bibir. Kalimat berikutnya keluar pelan, nyaris seperti bisikan. “Aku takut aku ngerusak masa depannya.”

Ayah berhenti tertawa. Menatapku lebih lama kali ini.

“Kemarin juga,” lanjutku, suaraku makin rendah, “dia ketauan nelpon lembut banget. Kayak… bukan sama perempuan.”

Ayah mengangkat alis. “Terus?”

Aku menelan ludah. “Mungkinkah Arman punya pacar, Yah? Dan mereka masih berhubungan? Terus mau menikah diam-diam?”

Ayah terdiam sepersekian detik. Lalu—tertawa lagi. Bahkan lebih keras dari sebelumnya.

Aku benar-benar kesal sekarang. “Yah!”

Ayah menunjuk ke arah pintu gudang. Aku mengikuti arah telunjuk ayah.

Seorang pria baru saja masuk area pabrik. Kemeja digulung sampai siku. Rambut rapi. Langkahnya tenang tapi tegas. Beberapa pekerja langsung berdiri saat ia lewat.

Arman.

Ia berhenti sebentar, berbicara singkat pada mandor, menunjuk papan jadwal, lalu berjalan lagi. Tidak tahu aku ada di sana.

“Tuh,” kata ayah. “Suamimu. Keren, kan?”

Dadaku mengencang. “Dia baru datang,” gumamku. “Berarti sebelumnya…”

“Berarti apa?” potong ayah.

Aku mengalihkan pandang. “Berarti mungkin ketemuan dulu sama pacarnya itu.”

Ayah terdiam, lalu tertawa kecil sambil menggeleng. “Ya Allah, Ayla.”

“Apa?” aku defensif.

Ayah menepuk bahuku pelan. “Kamu cemburu.”

Aku menggeleng cepat. “Enggak.”

“Cemburu itu bukan cuma takut kehilangan,” lanjut ayah santai. “Kadang itu tanda kamu mulai merasa punya.”

Aku diam.

Di kejauhan, Arman tertawa kecil bersama salah satu staf. Bukan tawa yang sering kulihat. Lebih lepas. Lebih hidup.

Aku menunduk, meremas tali tas di tanganku.

Kalau aku memang cuma istri di atas kertas, lalu aku ini siapa di hidupnya?

Tiba-tiba ponselku berdering. Nomer tak dikenal. Aku penasaran, dan kuangkat.

"Ya?"

"Aku tunggu di taman..." Aku tercekat. Bengong menatap layar, membuat ayah bertanya.

"Siapa, Ay?" 

"Hah?" ulangku sambil melihat ponsel dan ayah bergantian.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!