Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Dia
Aku menutup telepon tanpa sempat menjawab apa pun. Tanganku gemetar.
“Ay?” Ayah menatapku khawatir.
Aku menggeleng cepat. “Salah sambung.”
Bohong pertama hari itu keluar terlalu lancar.
Aku pamit sebentar pada ayah, alasannya ada pesan masuk yang mengharuskan aku berangkat sekarang.
Aku berjalan tergesa-gesa, nyaris bertabrakan dengan Arman yang muncul tiba-tiba dari arah luar.
"Astaghfirullah."
Aku mendongak sebentar. "Maaf." Lalu gegas ke parkiran depan.
"Dek?" Arman mengejarku, menarik lenganku. "Dek," sebutnya lagi.
Aku berhenti. "Apa?"
"Mau ke mana?"
"Kerja lah, udah siang," jawabku ketus.
Arman melepas cekalannya. Mengangguk pelan. "Hati-hati," ucapnya memandangku. "kamu keliatan gelisah," imbuhnya sebelum aku melangkah pergi.
Sepanjang jalan, pikiranku ribut sendiri.
Kenapa dia ganti nomer? Kenapa baru sekarang? Dan kenapa… aku tidak langsung menolak?
Di taman itu, aku celingukan mencarinya. Dan mataku tertuju pada seorang pria yang memakai jaket hitam dengan topi senada.
"Raka?" sebutku ragu.
Dia menoleh. Raka sudah duduk di bangku panjang. Rambutnya lebih pendek. Badannya lebih kurus. Tapi cara dia menatap—masih sama.
“Kamu kelihatan baik,” katanya membuka percakapan, seolah kami baru bertemu kemarin.
Aku tidak duduk. “Ngapain kamu hubungi aku?”
Raka tersenyum tipis. “Karena kamu pasti masih nunggu aku.”
Kalimat itu membuat dadaku sesak. “Aku sudah menikah,” kataku tegas.
“Aku tahu.”
Jawaban singkat itu justru lebih menakutkan. “Terus?” tanyaku.
Raka berdiri. “Aku cuma mau pastikan… kamu bahagia atau nggak.”
Aku tertawa kecil, getir. “Itu bukan urusan kamu lagi.”
“Tapi kamu masih manggil namaku waktu tidur.”
Dunia seakan berhenti berputar. Aku menelan ludah, tak menanggapinya. Meski di dalam hati ingin berteriak. 'Iya! Karena aku rindu.'
"Apa maumu?" Suaraku parau, aku ingin memeluknya, tapi aku istri Arman, meski cuma di atas kertas.
Raka menatapku teduh, pandangannya masih menyimpan cinta untukku. Aku terlena.
"Aku rindu kamu, Ay." Dia mendekat, menjulurkan tangannya ke pipi.
Aku mundur selangkah. Menunduk. Menyembunyikan air mata yang menumpuk. Aku rindu sentuhannya.
"Ay-Ay..." sebutnya lembut, nama kesayangan yang dia sematkan untukku.
Bahuku bergetar, membeku. Aku rindu suaranya, bermanja dengannya saat Raka memanggilku seperti ini.
Tangisku pecah tanpa bisa kutahan.
“Kenapa kamu ninggalin aku gitu aja, Raka?” suaraku bergetar, nyaris patah. “Apa kurangku? Aku salah di mana? Kenapa kamu pergi tanpa satu penjelasan pun?”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Dadaku sesak, napasku tersendat. “Aku nunggu kamu. Semua sudah kita bangun dan rencanakan. Bodohnya aku percaya kamu.”
Aku mendongak lagi, air mata sudah memburamkan pandangan. “Dan sekarang kamu muncul… setelah semuanya berubah. Setelah aku nikah.”
Raka tidak menjawab. Dia hanya berdiri di depanku, memandangiku dengan mata yang tenang. Seolah aku ini masa lalu yang tidak boleh disentuh lagi. Dan diamnya membuat tangisku makin keras.
“Kamu jahat, Raka,” isakku. “Jahat karena kamu tahu aku nggak sekuat itu.”
“Aku tahu,” katanya akhirnya, pelan. Suaranya rendah, hampir kalah oleh tangisku. “Maafkan aku, Ay. Aku nggak bisa bilang alasannya.”
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari penolakan.
Aku mengangkat wajah. “Jangan muncul lagi di depanku,” kataku terbata-bata, napasku setengah-setengah.
Raka tersenyum tipis. Senyum yang mengingkari sorot matanya yang seolah ingin memelukku. Dia menunduk sebentar, lalu berbalik.
“Setidaknya sekarang aku tahu,” katanya sambil melangkah pergi, “kamu sehat. Meski… nggak bahagia.”
"Maaf, Ay-Ay."
Aku terduduk di bangku taman begitu sosoknya menjauh. Kaki-kakiku lemas, tanganku gemetar. Kupeluk tubuhku sendiri, menahan dingin yang tiba-tiba menjalar entah dari mana.
Aku ingin memanggilnya. Ingin bilang aku rindu. Ingin berlari dan memeluknya sekali saja. Tapi kakiku tidak bergerak.
Aku sudah menikah.
Aku menunduk, menangis tanpa suara.
“Kenapa Engkau mengujiku di sisi terapuhku, Tuhan?” bisikku lirih.
Tangisku belum juga reda saat aku masuk ke mobil. Tanganku gemetar saat mengirim pesan ke atasanku—izin tidak masuk, badan tidak enak.
Sesampainya di rumah, panas menjalar ke seluruh tubuhku. Kepalaku berat, tenggorokanku kering. Air mata masih mengalir, kali ini tangisku lebih keras, nyaris meraung.
"Aaarrrrggghhhhhhh!" pekikku sambil meremas kerudungku.
Setelah puas sampai tersedu-sedu. Aku mencari termometer di kotak obat dekat kulkas di dapur.
Mengecek suhu tubuhku lalu memotret layar termometer, mengirimkannya sebagai bukti ke atasan.
Mataku bengkak, tapi air mata masih menetes deras. Aku duduk lalu tidak ingat apa-apa lagi. Aku tertidur di meja makan.
Ada rasa dingin di dahiku. Aku membuka mata, mengerjap pelan. Dan aku sudah di kamar. Kulirik jam di dinding, ternyata sudah sore.
Kuraba dahi, ada kompres.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat. Arman masuk, mengganti kompres di dahi, mengecek suhuku dengan singkat. Wajahnya datar, fokus. Setelah itu dia berbalik hendak keluar.
“Aku kenapa?” tanyaku lirih.
“Sakit, Dek,” jawabnya singkat. “Istirahat dulu. Aku nggak ke mana-mana.”
Pintu kamarku terbuka. Aku menangis lagi, kali ini tanpa suara. Bahuku bergetar, nafasku pendek-pendek.
Suara tangisku mungkin terdengar Arman. Dia duduk di sofa depan kamar. Diam. Tidak berkata apa-apa. Hanya mendengar tangisanku.
Aku masih terisak saat ponsel Arman bergetar pelan di meja. Dia menjawab telepon itu dengan suara pelan.
“Iya, Yah.”
Aku memejamkan mata, tapi telingaku tetap menangkap suaranya.
“Panasnya sudah mulai turun, kok. Tadi sempat tinggi, sekarang lebih stabil,” katanya tenang. “Iya, masih istirahat.”
Ada jeda sebentar.
“Iya, Yah… Nggak apa-apa. Aku di rumah.”
Aku menarik napas dalam-dalam. Dadaku masih sesak, tapi sedikit lega. Karena kalimat itu.
~Aku di rumah.
Arman masuk lagi ke kamar, bawa bubur. Duduk di tepi ranjang, menjaga jarak, seperti biasa.
“Ayahmu bilang,” katanya pelan, “kamu ditelepon tapi nggak diangkat-angkat. Jadi beliau kuatir, minta aku nyari," jelasnya. "Aku lupa bawa dompet, pas pulang, malah ada mobilmu."
Mataku panas lagi. Air mata turun tanpa permisi.
“Bobok ya,” lanjut Arman. Suaranya lembut, bukan suara memerintah. “Biar cepat sehat.”
Aku mengangguk kecil.
“Mau aku suapin, atau sendiri?”
Aku ragu menjawab. Tenggorokanku tercekat. “Se-sendiri aja,” kataku lirih.
Arman mengangguk.
Tapi aku malah menangis lagi. Lebih pelan, lebih dalam. Air mata ini seperti tak ada habisnya sejak tadi siang.
Arman menghela napas pelan. Lalu, tanpa banyak kata, ibu jarinya menyeka air mataku. Gerakannya hati-hati.
“Kalau masih sesak,” katanya ringan, setengah bercanda, “luapin aja.”
Aku kian terisak.
“Tapi janji,” lanjutnya, “tetap makan. Tetap mandi. Biar meski matanya sipit gitu—” dia berhenti sebentar, melirik wajahku, “—bengkak, tetap lucu, wangi, dan kuat buat nangis episode selanjutnya.”
Aku mendongak kaget. Lalu… tersenyum. Kaku. Merasa aneh.
Arman terkekeh lebar. Tawa yang baru kutahu. Aku terdiam, membatin, senyumnya yang ini… adem.
Tangisku mereda pelan-pelan. Bukan karena lukaku sembuh. Tapi karena aku merasa… boleh rapuh, tanpa harus dijelaskan.
"Qodo ya, setelah makan. Apa mau aku gendong wudhunya?"
Aku meliriknya, sadar belum salat duhur tadi. "Modus!"
Arman tertawa lagi. "Ya kan kesempatan," kilahnya sambil berdiri. Dia lalu menurunkan suhu AC.
"Raka?" tanyanya sebelum pergi.
Aku menatapnya, berkaca-kaca. Tapi dia malah tersenyum. Dan mengusap pucuk kepalaku lembut. Aku merasa seperti anak kecil, ditenangkan tanpa dihakimi.
.
.