Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Senewen
Arman terdiam sesaat setelah kecupan kecil itu.
Seperti sedang memastikan perasaannya sendiri.
Tangannya naik, menangkup pipiku pelan. Ibu jarinya mengusap tulang pipiku, lalu menurunkan dahinya ke dahiku lagi. Nafas kami menyatu, tipis, disela harum sakura.
Dadaku menghangat. Aku menggenggam jaketnya lebih erat, seperti takut angin akan mengambil momen ini.
Kami melanjutkan berjalan. Langkah kami selaras, seolah jalan setapak itu memang dibuat untuk dua pasang kaki saja.
"Semoga langsung jadi," katanya sambil menggamit pinggangku.
"Apa?"
"Bibit malam kemarin, kemarinnya lagi, pekan lalu, semalam," sebut Arman santai.
Aku memukul lengannya pelan. “Mas!”
Kami tertawa lagi, tapi buru-buru menutup mulut seperti dua anak yang kelepasan.
Saat kami kembali ke rumah, nenek sedang duduk di teras, melipat kain. Dia menoleh dan tersenyum begitu melihat kami.
Aku membungkuk kecil, kali ini tidak sekaku kemarin. Nenek mengangguk pelan—seolah berkata: iya, begitu.
Aku tidak sedang menyesuaikan diri dengan dunianya. Aku sedang menumbuhkan dunia kami sendiri.
*
Beberapa hari berikutnya kami seperti pasangan lainnya, menikmati Jepang bukan hanya dengan mengunjungi banyak daftar tujuan, tapi membawa perasaan bahagia.
Kami pergi ke danau yang airnya bening seperti kaca. Kabut pagi masih menggantung saat kami berjalan berdampingan. Arman bercerita soal keluarganya di sepanjang jalan—tentang marga Hatsu, leluhurnya, kebiasaan-kebiasaan kecil yang tanpa sadar menempel padanya.
“Aku baru sadar,” kataku sambil duduk di bangku kayu, memandangi air, “cara Mas diam itu… mirip mereka.”
Arman tersenyum. “Aku kira aku cuma pendiam.”
“Kamu tenang,” koreksiku.
Di perjalanan lain, kami menyusuri hutan pinus. Udara dingin menusuk, membuat tangan kami selalu saling menggenggam. Kami makan onigiri sederhana, duduk di batu besar, tertawa karena nasi nempel di jari.
Malam-malamnya kami kembali ke penginapan kecil. Tidak ada yang mewah. Hanya lampu temaram, futon yang bersih, dan kelelahan yang romantis. Kami berbincang pelan—tentang masa depan, rumah, dan hal-hal kecil yang ingin kami rawat bersama.
Keintiman itu masih datang bertubi-tubi seperti api kecil yang dijaga agar tidak padam.
Tiga hari berlalu lebih cepat dari yang kami kira. Hari kepulangan tiba.
Kakek dan nenek mengantar kami sampai bandara. Tanganku penuh dengan oleh-oleh, kain, dan satu kotak besar berisi perabot makan keramik tua yang katanya “lebih baik dipakai daripada disimpan.”
“Kami kirimkan ke Indonesia,” kata kakek mantap.
Aku menelan ludah. “Kami datang tangan kosong,” bisikku pada Arman. “Pulangnya kayak pindahan.”
Arman terkekeh kecil. “Itu tanda kita diterima.”
Kemarin, kami sempat berfoto bersama, mengenakan kimono. Aku canggung, tapi Arman terlihat sangat cocok. Kakek berdiri tegap, nenek tersenyum lembut. Kamera menangkap sesuatu yang tidak bisa disimpan di koper, rasa pulang ke kampung halaman.
Sebelum berpisah, nenek memanggilku. Dia menggenggam tanganku, lalu menyelipkan sebuah gelang giok ke pergelangan tanganku.
“Ini,” katanya pelan, “turun-temurun. Sekarang milikmu.”
Aku tercekat. “Nek, saya—”
Dia menggeleng lalu menepuk punggung tanganku. “Jaga Xander. Jaga keluargamu.”
Air mataku jatuh saat nenek memelukku dan mengecup keningku. Pelukannya membuat dadaku sesak, rasanya seperti dipeluk Mama. Aku menangis tanpa malu.
“Kami akan jaga kesehatan,” kata nenek sambil menepuk punggungku. “Supaya bisa datang ke Indonesia. Atau… melihat cicit kami.”
Aku mengangguk, tak sanggup menjawab.
Arman memeluk kakeknya. Kakek menepuk punggung Arman kuat-kuat. “Banyak-banyaklah berkembang biak,” katanya setengah berbisik, tapi cukup keras.
Aku langsung menunduk, wajahku panas. Apakah aku… terlalu berisik semalam?
Arman menahan tawa, merangkul bahuku, lalu berbisik, “Tenang. Mereka cuma kepengen kek kamu, energik.”
Kami tertawa kecil di tengah haru.
Saat pesawat lepas landas, Arman membuka map tipis berisi salinan silsilah keluarganya. Dia menyimpannya rapi di tas.
“Aku pulang membawa lebih dari yang aku cari,” katanya pelan.
Aku menyandarkan kepala di bahunya. “Kita.”
Dia mengangguk. Dan di balik jendela pesawat, Jepang mengecil—menjadi kenangan yang tidak pergi, hanya berpindah tempat, hidup bersama kami.
***
Pulang dari Jepang, Arman langsung sibuk menata semua yang kami bawa. Koper-koper dibuka satu per satu, oleh-oleh disusun rapi, foto-foto dimasukkan ke album kecil. Aku hanya duduk di lantai, memperhatikannya sambil sesekali tersenyum sendiri.
Beberapa hari kemudian, paket dari Jepang datang. Aku yang paling heboh.
Kardus besar itu kubuka dengan hati-hati. Di dalamnya, peralatan makan porselen warna biru—satu set lengkap. Motifnya halus, klasik. Cantik. Pas sekali dengan dapur kami yang sederhana.
“Mas, lucu banget,” kataku sambil mengangkat mangkuk kecil.
Arman tersenyum. “Nenek bilang, biar kepake buat makan bareng. Dan selalu ingat Jepang.”
Aku mendadak diam. Dadaku hangat. Benar, agar Arman selalu ingat darimana dia berasal.
Hari-hari setelah itu berjalan normal. Kami kembali ke ritme biasa. Pagi sibuk, sore capek, dan malam pulang ke rumah yang sama. Tidak selalu romantis, tapi bahagia.
Sampai beberapa pekan kemudian.
Sabtu itu, aku sudah berdandan ringan. Rambutku dikuncir dua oleh Arman sejak pagi.
“Gemes,” katanya waktu itu. “kamu gemukan dikit.”
Aku protes, menolak, tapi dia merayu. “Nanti makan es krim berdua.”
Aku percaya.
Siang menjelang, aku menghampirinya yang sedang siap-siap.
“Izin,” kataku. “Kan janji mau mam es krim, ya.”
Arman menghela napas. “Nggak bisa sekarang, Sayang. Kasian ayah. Aku harus ke sana.”
“Iziiinnn!” rengekku.
Arman diam. Dadaku langsung panas. Aku berjalan ke pintu depan, membukanya lebar-lebar. “Sana pergi.”
Dia menatapku. Lama.
“Sana pergi,” ulangku, lebih keras.
Arman mendekat, berdiri tepat di depanku. Matanya menelusur wajahku seolah ingin mengatakan banyak hal, tapi tak satu pun keluar.
“Maaf ya,” katanya akhirnya. “Aku pulang cepat kok.”
“Bodo amat.” Aku mendorongnya. Tidak keras, tapi cukup membuat jarak. Pintu kubanting.
Bluk.
“Nggak usah balik sekalian!” teriakku dari balik pintu.
Aku masuk ke kamar, menutup diri. Kupikir dia langsung pergi, tapi suara motor tak juga terdengar. Aku duduk di tepi ranjang, menangis dalam diam.
Setengah jam kemudian, barulah suara motor itu menghilang. Tangisku pecah.
“Apa sih susahnya nemenin aku makan es krim?” ocehku pada bayangan sendiri di cermin. “Kan dia udah kuncirin rambut aku…”
Aku menyentuh kunciran itu. Rapi.
“Masa aku disuruh sabar?” gumamku sambil terisak. “Kan aku kesel.”
Aku menelepon ayah. Mengeluh tanpa mau mendengar jawaban.
“Ayla, kok lebay gini?” kata ayah akhirnya.
Aku tersentak. “Apa? Ayah bilang aku lebay? Yaudah, nggak usah panggil ay lagi!”
“Terus manggil apa dong?” ayah masih sempat bercanda.
“Bay bay bay aja.”
Ayah tertawa. Aku langsung menutup telepon. Tangisku makin jadi.
“Kenapa sih semua orang nertawain aku?” bisikku sendiri
Waktu berjalan lambat. Aku mondar-mandir, sesekali mengintip jendela. Menunggu suara motor itu kembali. Tapi sepi.
Sampai jelang Maghrib. Aku ingin menelepon ayah lagi, tapi gengsi. Aku duduk di sofa, lalu berdiri lagi. Dadaku terasa aneh. Kepalaku ringan.
Saat aku berbalik, ingin duduk, semua berputar cepat.
Di saat yang sama, suara motor terdengar masuk ke halaman. Aku membuka mulut, ingin memanggil. Tapi tubuhku lebih dulu melayang ringan.
“Deeeeek!”
Suara Arman memecah ruang tepat saat pandanganku gelap.
.
.