Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Takdir Tuhan

Gelap itu seperti lampu yang diredupkan perlahan, sementara suara Arman terdengar mendekat.

“Deeeeek!”

Ada langkah tergesa. Pintu dibuka. Sesuatu jatuh—entah tas, entah kunci. Lalu lenganku terasa ditarik, tubuhku ditahan sebelum benar-benar kembali merasa melayang.

“Sayang… Ayla… lihat aku.”

Aku ingin menjawab. Ingin bilang aku cuma pusing. Tapi lidahku berat.

Aku sadar dengan bau minyak angin dan sesuatu yang dingin di keningku.

Pelan-pelan, suara sekitar terdengar kembali. Dan suara Arman tidak setenang biasanya.

“Alhamdulillah… bangun…”

Aku mengerjap. Cahaya ruang tamu terasa silau. Aku terbaring di kamar. Kepalaku di sanggah dua bantal. Satu tangannya mengusap rambutku pelan, yang satu lagi gemetar di punggung tanganku.

“Mas…” suaraku serak.

Arman langsung menunduk. Matanya merah. “Jangan ngomong dulu.”

Aku mencoba bangkit, tapi dia menahan bahuku. “Jangan. Kamu pingsan.”

Aku terdiam. Pingsan?

“Minum,” katanya cepat, lalu menyodorkan gelas ke bibirku. “Sedikit aja.”

Aku meneguk. Tenggorokanku kering. Dadaku masih sesak, tapi sudah tidak pusing.

“Kamu kenapa, Dek?” suaranya lebih pelan sekarang. “Seharian belum makan?”

Aku menggeleng kecil. “Tadi… cuma pengen es krim.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Kekanak-kanakan.

Arman menutup mata sebentar. Nafasnya berat. Lalu dia menempelkan kening ke keningku, persis seperti di bawah sakura waktu itu—bedanya, kali ini tangannya gemetar.

“Aku salah,” katanya lirih. “Harusnya aku nggak pergi.”

Aku ingin bilang bukan itu. Tapi tenggorokanku kembali panas.

“Aku cuma…” suaraku pecah. “Aku pengen Mas di rumah.”

Arman mengusap wajahku, ibu jarinya menyeka air mata yang bahkan aku tidak sadar sudah jatuh. “Aku di rumah,” katanya. “Aku di sini."

Kami diam lama dengan sisa emosi yang belum sepenuhnya reda.

Beberapa menit kemudian, Arman menghela napas panjang. “Aku udah izin sama ayah.”

Aku mendongak. “Hah?”

Arman menghela napas panjang. Tangannya masih menggenggam jemariku, kali ini lebih erat.

“Aku udah izin sama ayah cuti beberapa hari,” katanya lagi, lebih tegas. “Kita ke rumah sakit.”

Aku langsung menggeleng. “Mas, aku udah mendingan. Tadi cuma pusing aja.”

“Enggak,” jawabnya cepat. “Kamu pingsan, Dek.”

“Aku lapar,” aku mencoba berdalih. “Abis makan juga sembuh.”

Arman menatapku lama. Tatapan yang biasanya lembut, sekarang penuh kekhawatiran. “Habis makan, kita tetap ke dokter.”

Aku mendengus kecil. “Ke mana?”

“Ke klinik. Yang 24 jam. Deket sini.”

Aku menarik napas. “Es krim dulu.”

Dia terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk. “Deal.”

Arman menyetir sambil sesekali melirik ke arahku. Aku duduk menyamping, memeluk cup es krim cokelat—dinginnya membuat kepalaku terasa lebih ringan.

“Ternyata seriusan,” katanya, senyumnya tipis, masih ada sisa cemas.

“Mas yang janji,” balasku pelan.

Setelah es krim habis, kami langsung ke klinik. 

Aku duduk di kursi tunggu, sementara Arman mengisi formulir. Dia tampak lebih gugup dariku.

Setelah pemeriksaan awal dan beberapa pertanyaan dokter, suster datang lagi, menyodorkan sesuatu ke arahku. Sebuah wadah kecil. Tes.

Aku terdiam. Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

Aku menoleh ke Arman. Dia sudah berdiri di sampingku, tersenyum kecil—senyum yang membuat dadaku ikut bergetar. “Bismillah, Sayang,” katanya pelan.

Glek.

Tanganku sedikit gemetar saat menyerahkan benda itu ke suster. Aku duduk kembali, menatap lantai. Arman duduk di sampingku, tangannya tidak lepas dari tanganku.

Setengah jam terasa lama. Nama kami dipanggil.

Aku masuk lagi ke ruang periksa. Kali ini lebih lengkap. Lampu diredupkan. Alat USG dinyalakan. Aku menggigit bibir, menahan napas.

Lalu layar itu menyala. Dokter menunjuk sesuatu. “Ini.”

Aku belum sepenuhnya paham, tapi ketika kertas cetakan foto 3D itu keluar—Arman lebih dulu terisak. Tangannya menutup mulut. Bahunya bergetar.

Aku menoleh. Air mataku jatuh begitu saja. “Alhamdulillah,” bisikku lirih, hampir tak bersuara.

Arman mendekat, mencium pipiku, lalu bibirku, tanpa peduli kami masih di ruang dokter. Dokter sampai terkekeh kecil melihat tingkahnya.

“Sehat ya, Sayang,” Arman berbisik di telingaku, suaranya serak. “Maaf aku nggak peka.”

Dia membantuku bangun dari brankar, tangannya hati-hati seolah aku barang paling rapuh di dunia.

Aku menatapnya, masih belum percaya. “Beneran?”

Arman mengangguk. Matanya merah, tapi senyumnya lebar. “Iya. Kita… jadi orang tua.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Menangis, tertawa, semua bercampur jadi satu. Arman memelukku erat, lama, seperti takut momen ini akan menguap.

Di luar klinik, malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Di tanganku, ada foto kecil—miniatur kami. 

***

Arman mengabari ayah Al dan kakek neneknya subuh-subuh, conference call, masih dengan suara serak sisa tangis semalam.

Di ujung sana, suara ayahnya langsung meninggi. “Alhamdulillah! MasyaAllah!”

Lalu suara lain menyusul, lebih heboh, padahal hanya ada mereka berdua di sana.

“Ayla-chan honto?!”

“Bayi? Bayi?!”

“Waaaaa!”

Aku yang masih setengah tidur terkekeh mendengar sorak-sorai kakek nenek dari Jepang yang saling tumpang tindih, seperti festival kecil di balik layar ponsel. Arman sampai menjauhkan sedikit ponsel dari telinganya.

“Iya, Oji-san. Obaa-san,” katanya tertawa kecil. “Doain sehat.”

Malam turun dengan sisa kelelahan dan kebahagiaan yang belum benar-benar reda.

Aku mengeluh gerah saat hendak tidur. “Mas, panas.”

Arman refleks mematikan AC, menyalakan lagi, bingung sendiri. Aku sudah lebih dulu melepas baju, berganti tank top tipis dan celana pendek. Rambut pun aku diikat asal.

Dan Arman… malah menatapku tak berkedip. Ia berbaring kaku, melihat langit-langit, lalu diam-diam meraih ponsel. Jemarinya gesit mencari.

~posisi aman bagi ibu hamil trimester pertama mengganggu janin atau tidak. Bolehkah?

Aku sudah memejamkan mata. Tidak peduli pada apa yang Arman lakukan.

“Dek,” panggil Arman pelan.

Aku diam.

“Ayla…”

Ia bergerak mendekat, mencium pelipisku dengan hati-hati. Tapi entah kenapa aku menggumam, bergeser, lenganku refleks melingkar.

Dan kamar ini, menjadi berisik.

Pagi datang bersama rasa bersalah dan cemas.

Arman bangun lebih dulu. Menatapku yang masih terlelap. Ia menarik selimut lebih tinggi, menepuk-nepuk bantal, lalu duduk di tepi ranjang dengan wajah serius.

“Dek, bed rest ya hari ini,” katanya begitu aku membuka mata.

“Hah?” Aku mengucek mata. “Kenapa?”

Arman menelan ludah. “Karena… semalam.”

“Semalam kenapa?”

“Harusnya kan… belum nengok,” katanya ragu, lalu menggaruk tengkuk.

Aku tertawa lepas. “Mas lebay.” lalu menarik lengan Arman agar kembali rebahan. “Jangan mandi dulu.”

Arman mengernyit. “Kenapa?”

“Kalau nggak ada bau Mas, aku nggak bisa tidur.”

Arman terdiam. Tidak nyaman. Bingung. Khawatir jadi satu terlukis di wajahnya. “Kamu nggak mual? Nggak pusing?”

Aku menggeleng, sudah setengah tertidur lagi. “Ngantuk…”

Dan benar saja, aku mulai ngantuk berat saat Arman mengangkat, otomatis mengaktifkan loud speaker.

“Gimana Ayla pagi ini?”

“Masih tidur, Yah.”

“Yang kuat ya, Bang,” suara ayah sambil tertawa kecil. “Satu Ayla aja dulu berabe, apalagi ini bawa bonusan.”

Arman tersenyum. “Doain aja, Yah.”

Hening sebentar, lalu ayahku bicara lebih pelan.

“Doa itu nggak selalu dijawab dengan cara yang kita mau, Bang. Kadang dijawab lewat kehilangan… kadang lewat seseorang yang datang tanpa pernah kita minta.”

Aku terbangun lagi. Mata kupaksa terbuka, menoleh ke arah ponsel.

“Iya, Yah,” katanya lirih. “Aku ngerti sekarang.”

Air mata menetes pelan. Kugenggam tangan Arman—erat. Lelaki yang tidak sempurna, tapi membuatku pulih dan berani percaya lagi. Merasa cukup menjadi diriku sendiri.

Kami yakin, takdir Tuhan memang tidak selalu lembut saat datang, tapi selalu baik saat akhirnya dipahami.

.

.

.

TAMAT

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!