Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Aneh
Barang-barang pribadiku ternyata dikirim oleh ayah melalui Erti. Begitupun milik Arman. Ayah bilang, biar nggak usah bolak balik pulang.
Hari-hari di rumah itu rasanya berjalan lambat. Sampai aku sempat bertanya-tanya apakah aku benar-benar sudah menikah, atau hanya pindah alamat dengan status baru.
Kami hidup berdampingan, bukan bersama.
Pagi-pagi Arman selalu bangun lebih dulu. Aku sering mendengar suara air, langkahnya yang tenang, lalu aroma kopi memenuhi ruangan. Saat aku keluar kamar dengan rambut masih acak, ia sudah duduk di meja makan.
“Pagi,” ucapnya singkat.
“Pagi,” balasku, kikuk.
Ia selalu rapi, teratur, seperti tahu persis apa yang harus dilakukan tanpa perlu diberitahu. Tidak pernah ada piring kotor menumpuk. Apalagi keluhan.
Aku, sebaliknya, masih sering bengong di ambang kamar. Menatap punggungnya yang bergerak ke sana kemari, lalu merasa asing di rumah sendiri.
Ia tidak pernah menyuruhku apa pun. Tidak pula menuntut harus ini itu. Dan entah kenapa itu membuatku gelisah.
"Aku bikin nasi goreng, kalau mau." Dia menggeser piring ke arahku. “Sarapan dulu.”
Aku duduk, tapi sendokku tiba-tiba berhenti di udara. Nafsu makanku belum benar-benar ada. Arman memperhatikan sekilas, lalu berucap pelan.
“Kalau belum lapar, nanti saja nggak apa-apa.”
Aku mengangguk. Lagi-lagi begitu. Selalu ada pilihanku.
Siang itu, saat aku membuka laptop di ruang tamu, ia lewat membawa sapu. Berhenti sebentar.
“Masih mau lanjut kerja, Dek?” tanyanya.
Aku menoleh. “Maksudnya?”
“Kalau mau,” katanya tenang, “silakan. Kalau mau istirahat dulu juga nggak apa-apa. Rumah ini bisa diatur berdua. Aku bisa masak, bisa bersih-bersih, bisa belajar apa saja," jelasnya sambil melanjutkan nyapu.
Aku mengangguk, bingung harus merasa apa. “Aku… belum tahu.”
Ia tersenyum tipis. “Pelan-pelan aja, dipikirkannya.”
Kalimat sederhana. Tapi entah kenapa dadaku terasa aneh.
Bukankah seharusnya aku lega? Bukankah ini yang selalu ditakuti perempuan-perempuan di luar sana—pria yang mengatur, yang membatasi, yang merasa sok berkuasa karena titel suami?
Tapi kenapa justru aku merasa… diabaikan.
Arman tidak pernah memperlakukanku seperti beban. Tapi juga seperti suami yang tidak mengakui istrinya.
Sore hari, aku membereskan dapur. Arman tiba-tiba ikut mencuci piring. Aku refleks menghentikannya.
“Nanti saja. Aku bisa.”
Ia menggeleng. “Bareng saja. Biar cepat.”
Air mengalir. Piring berpindah tangan. Kami berdiri berdampingan, tapi tidak saling menyentuh.
Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil.
Ia selalu menaruh dompet dan ponsel di tempat yang sama. Selalu mencatat sesuatu di buku cokelat tipis yang ia simpan rapi di tas. Kadang ia duduk lama di meja makan, pulpen bergerak pelan, wajahnya mengeras seperti sedang menggali ingatan berat.
Saat aku lewat, ia menutup bukunya perlahan. Tidak menyembunyikan. Hanya belum mengizinkan aku melihatnya.
“Apa yang kamu tulis?” tanyaku suatu kali, pura-pura santai.
“Catatan biasa.”
“Oh.”
Ia tidak melanjutkan. Dan aku tidak berani bertanya lebih jauh.
Aku pura-pura tidak peduli. Padahal rasa ingin tahuku tumbuh diam-diam, seperti akar halus yang merambat di bawah tanah.
Malam-malam kami tetap sunyi. Kami salat di kamar masing-masing. Makan tidak selalu bersamaan. Kadang aku sengaja memperlama di dapur, berharap ia menunggu.
Tinggal seatap tapi seolah terpisah waktu. Saat aku keluar kamar, ia sudah selesai. Saat aku selesai, ia sudah di ruang lain.
Malam itu, aku berbaring sambil memeluk bantal. Kepalaku penuh. Bukan oleh pertengkaran. Bukan oleh luka akibat Raka. Tapi oleh kebingungan yang pelan-pelan menggerogoti.
Pernikahan ini tidak menyakitiku. Tapi juga tidak membuatku memiliki tempat bersandar.
Aku ingin diperhatikan. Tapi takut meminta.
Aku ingin dekat. Tapi tidak tahu caranya. Kebebasan yang Arman berikan, terasa sepi.
Sore itu, saat ia mandi dan tasnya tergeletak terbuka di kursi ruang tamu, aku melihat sudut buku cokelat itu menyembul. Aku tidak berniat membuka. Sungguh. Tapi kertas di dalamnya terbuka sendiri, seperti ingin dibaca.
Nama kota itu tertulis berulang-ulang.
Surabaya.
Ada alamat. Ada tanggal. Ada catatan kecil di sampingnya, rapi.
Dadaku menegang.
Aku menutup buku itu pelan, tanganku sedikit gemetar. Bukan karena marah. Tapi karena Arman sedang mempersiapkan sesuatu.
Dan kemungkinan besar, aku tidak ada di dalam rencananya.
Saat Arman keluar dari kamar mandi, aku buru-buru mundur. Duduk lagi di sofa, berpura-pura menatap ponsel.
Ia melirik sekilas. “Kamu kenapa?”
“Nggak,” jawabku cepat. Terlalu cepat.
Ia menatapku sebentar. Lalu mengangguk. “Oh.”
Dan lagi-lagi, ia tidak mendesak, Meksi kuyakin dia curiga aku sempat membuka catatan miliknya itu.
Arman membawa buku itu masuk kamar.
Tas, jaket, dan Ponselnya. Lengkap.
Malam itu aku berbaring memandang langit-langit. Aku merasa takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya kupunya.
Catatan kecil berwarna cokelat itu masih terbayang di kepalaku sampai nyaris tengah malam.
Jantungku berdetak nggak karuan.
"Jangan-jangan dia punya pacar. Masih komunikasi. Aku cuma dijadikan tameng. Pernikahan ini kan cuma formalitas," gumamku menggigit ujung selimut
Kepalaku penuh prasangka sendiri.
Kalau memang begitu, uangnya cukup nggak sih? Kalau punya dua istri?
Arman kan kerja sama ayah—ngawasin pabrik gula batu, ngurus kiriman, kadang nyetirin ayah kemana-mana. Aku ini istri sah, harusnya dinafkahi juga, kan?
Dadaku sesak. Aku memejamkan mata, tapi tidurku gelisah.
Keesokan paginya, aku bangun lebih dulu.
Rumah masih sepi, tapi dari arah dapur terdengar suara pelan. Aku melangkah mendekat.
“Iya… terima kasih ya,” suara Arman terdengar lembut. “Maaf baru ngasih kabar.”
Sebentar hening.
“Iya… aku sabar kok.”
Langkah kakiku terhenti. Itu pasti perempuan, batinku langsung menerka-nerka. Tanpa sadar aku melamun.
Aku masih berdiri di ambang dapur, ketikanArman membalik badan. Dia kaget.
Telepon itu buru-buru ia matikan. Kami saling diam. Udara di antara kami tiba-tiba terasa sesak mirip polusi hutan gambut kebakaran.
“Pacarmu, ya?” tanyaku akhirnya. Nada suaraku datar, tapi dadaku berdebar.
Arman tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapku sebentar, lalu menunduk.
Diamnya itu terasa seperti jawaban.
Aku mendengus kecil. “Ya sudah.”
Dia masih terpaku di sana. Aku kembali ke kamar, mengambil tasku.
“Aku mau kerja. Sumpek di rumah.”
Arman gegas menyusulku, mencoba menghentikan langkahku sejenak.
“Aku antar atau—”
“Gak usah,” potongku cepat. “Nanti pacarmu sewot," kataku sambil merogoh kunci motor di dalam tas.
Ada jeda singkat.
Lalu aku melihat sesuatu yang bikin aku makin penasaran. Arman tersenyum. Tipis. Seperti menyembunyikan sesuatu.
Ia menunduk lagi, mengangguk pelan. “Ya sudah.”
Aku melangkah pergi tanpa menoleh. Pintu tertutup agak keras. Aku mempercepat langkahku meski pikiran makin kacau.
Berarti beneran, kan? Kalau bukan pacar, kenapa dia senyum? Kenapa dia nggak jelasin?
Aku menarik napas panjang, tapi dada berdebar penasaran. Di kepalaku, satu kesimpulan terbentuk begitu saja—tanpa bukti, tanpa tanya ulang.
Saat memasukkan kunci ke kontak. Tiba-tiba terlintas. "Lah… berarti aku beneran cuma pengganti?"
"Sebenarnya aku atau dia sih, yang jadi tumbal pernikahan?"
.
.
Hai, aku pakai nama mobil untuk setiap karakter di judul kali ini, semoga masih terbaca estetik, ya.