Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Amplop wasiat

Amplop coklat tua itu berpindah tangan dengan pelan.

Arman menerimanya tanpa segera membuka. Jemarinya mengusap permukaan amplop yang sudah kusam, sudut-sudutnya melipat sendiri, seperti pernah sering dibuka lalu ditutup kembali. Nafasnya terdengar pendek, tertahan.

Zenix berdiri sedikit mundur. Memberi ruang. Aku ikut diam. Tidak bertanya. Hanya menatap tangan Arman yang masih gemetar halus.

Perlahan, amplop itu dibuka.

Bukan satu lembar.

Bukan pula dua.

Beberapa berkas terlipat rapi meluncur keluar. Arman mengambil yang paling atas. Matanya bergerak cepat, lalu berhenti. Keningnya mengernyit.

Silsilah keluarga.

Nama-nama tersusun rapi, asing tapi terasa penting. Ada garis yang menghubungkan, ada catatan kecil di sampingnya.

Xen Hatsu.

Nama itu berdiri sendiri. Tegas. Diikuti keterangan singkat—kewarganegaraan Jepang. Bekerja di konsulat Indonesia. Menikah dengan Calya Yundai.

Ibunya.

Aku melihat cara Arman menelan ludah. Dadanya naik turun sekali, lebih dalam dari sebelumnya.

Catatan berikutnya menyebut keterlibatan politik. Masuk partai. Masuk pemerintahan. Tidak panjang. Hanya fakta-fakta pendek yang terasa dingin.

Lembar selanjutnya menjelaskan penyitaan rumah.

Ada alasan. Tertulis rapi. Formal. Dengan bahasa yang terlalu bersih untuk sebuah kehancuran. Zenix tidak berkata apa-apa. Tidak menjelaskan satu kata pun. Seolah tahu—ini bukan bagiannya.

Arman melipat kembali kertas itu perlahan, lalu mengambil lembar berikutnya. Namanya tertulis di sana.

Bukan Xander Raize.

Tapi ... Armani Yaris.

Aku melihat matanya berhenti lebih lama. Tidak berkedip. Tapi rahangnya mengeras. Seperti seseorang yang baru sadar, hidupnya sudah disiapkan dengan nama lain.

Di bawahnya, tertera satu dokumen lagi. Sertifikat kebun. Atas nama yang sama. Bukan di kota besar. Bukan properti mewah. Lokasinya sederhana. Tapi sah. Asli.

Lalu—cling. Suara logam kecil jatuh ke lantai.

Aku tersentak pelan. Arman menumpahkan isi amplop tanpa sadar. Beberapa keping emas jatuh, berhenti di dekat kaki meja. Ada yang kecil, ada yang lebih besar. Lima gram. Sepuluh. Dua puluh. Jumlahnya belasan.

Zenix langsung menunduk.

“Itu… warisan dari Tuan Besar,” katanya pelan. “Hanya ini yang bisa beliau selamatkan.”

Ia terdiam sebentar, lalu menarik napas. “Saya pernah… memakai dua keping lima gram, dua keping yang sepuluh. Waktu itu kondisi saya terjepit. Saya minta maaf, Tuan Muda.”

Kata maaf itu jatuh tanpa drama. Tanpa pembelaan.

Arman menatap emas-emas itu lama. Lalu satu per satu, ia mengambilnya. Bukan untuk menghitung jumlahnya. Tapi seperti seseorang yang sedang mengumpulkan kepingan masa lalu.

“Tidak apa,” katanya akhirnya. Suaranya tenang. “Terima kasih sudah menjaganya.”

Zenix mengangguk dalam. Matanya berkaca-kaca.

Arman meraih semua berkas itu, emas, sertifikat, foto ayahnya—lalu mendekapnya ke dada. Erat. Seperti takut jika dilepas, semuanya akan menghilang.

Aku melihatnya dari samping.

Lelaki yang berdiri di hadapanku ini punya beban lain di pundaknya sekarang. Nama lain. Riwayat lain.

Aku tidak berkata apa-apa, hanya berdiri di sana, menjadi saksi—seorang anak yang memegang seluruh peninggalan ayahnya, bukan untuk dimiliki, tapi untuk diterima.

*

Arman mengangkat wajahnya. Matanya bertemu denganku.

“Dek…”

Aku menatap balik. Tidak berkata apa-apa. Hanya tersenyum tipis, lalu mengangguk kecil.

"Iya. Nggak apa-apa." Itu saja yang kuberi.

Arman meraih tanganku. Menggenggamnya erat, lalu mendekap tanganku bersama amplop coklat itu ke dadanya. Seolah aku dan peninggalan ayahnya kini berada di ruang yang sama.

Dadaku menghangat. Aku mengusap bahunya pelan, lalu menyandarkan kepalaku di sana sebentar.

Kami keluar dari ruangan itu bersama. Zenix berdiri di ambang pintu. Nafasnya terdengar lebih lega dari sebelumnya. “Saya… lega, Tuan Muda,” katanya jujur. “Akhirnya wasiat itu kembali ke pemiliknya.”

Ia sempat terdiam, lalu menambahkan, “Kalau Anda tidak kembali… saya berniat menyerahkannya pada Tuan Al. Saya sudah berniat mencari alamat beliau sendiri.”

Arman mengangguk. “Terima kasih.”

Zenix lalu menatap Arman lagi, ragu sejenak sebelum bertanya, “Tapi… bagaimana Tuan Muda bisa tahu tempat tinggal saya sekarang?”

Arman tersenyum samar. “Aku bertemu seseorang,” katanya. “Di rumah sakit. Setahun lalu. Tidak sengaja.”

Zenix mengernyit. “Siapa?”

Arman mengangkat bahu ringan. “Tebak.”

Zenix berpikir. Dahinya mengerut, lalu menggeleng pelan. 

Arman tertawa kecil. “Ya sudah. Biar jadi misteri dulu. Nanti juga tahu sendiri.”

Ia melirik ke arahku. Sekilas. Singkat. Aku ikut bingung. Apa hubungannya sama aku?

Sore mulai turun. Cahaya matahari berubah jingga, masuk dari sela-sela rumah. Arman bilang mobilnya diparkir jauh, di depan masjid. Zenix mengangguk mantap. Aman, katanya. Ada hansip berjaga dua puluh empat jam.

Istri Zenix lalu menyela, menyarankan kami menginap saja.

Kita saling berpandangan, sama-sama sadar—kami tidak bawa baju ganti.

“Anda bisa pakai kaos saya,” kata Zenix ringan.

Lalu semua mata beralih ke aku. Aku… menegang.

Istri Zenix tertawa kecil. “Baju saya kecil-kecil, Nona. Nggak mungkin muat.”

Aku tersenyum canggung. “Nggak apa-apa, Bu—”

“Tapi ada ini,” katanya cepat, lalu masuk ke kamar dan kembali membawa satu potong baju.

Aku menerimanya. Dan langsung merasa… canggung.

Das…ter. Longgar. Tipis. Motif bunga kecil.

“Maaf ya, Nona. Cuma itu,” katanya tulus.

Aku mengangguk cepat, menerima dengan kedua tangan. “Nggak apa-apa, Bu.”

Rumah itu ternyata hanya punya dua kamar. Satu kamar Zenix dan istrinya. Satu lagi kamar anaknya. Ruang tengah kosong, tanpa perabot.

Zenix menawarkan kamar anaknya untuk kami. Begitu pintu kamar dibuka—aku langsung menelan ludah.

Ranjangnya kecil.

Kecil banget.

Arman melirik sekilas, lalu berkata santai, “Aku di lantai aja.” Ia menunjuk sajadah yang dilipat rapi dan selimut tipis. “Nggak apa. Surabaya panas.”

Aku terlalu lelah untuk berdebat. Badanku lengket, capek, dan kepalaku berat. Mau tidak mau, aku langsung ke kamar mandi dan ganti baju.

Beberapa menit kemudian, aku keluar, gegas masuk kamar lagi.

Dan mendapati Arman… berdiri mematung. Ponselnya di tangan, kabel sudah terpasang—tapi colokannya belum masuk-masuk ke stop kontak.

Matanya? Ke aku.

Diam.

Menatap lama.

“Ngapain?” tanyaku datar. 

Dia tidak menjawab. Aku melambaikan tangan di depan wajahnya. “Mata tuh mataaaa.”

Dia tersadar. “Mata kenapa emang?" Arman tersenyum miring. “Asupan vitamin A nggak boleh ditolak.”

"Heh? Cuma daster ya Tuhaaaaan!" Aku mendengus kesal.

"Justru itu. Konsepnya rumahan, tapi dampaknya interlokal.” Arman melihatku dari atas sampai bawah. "Deeekk, Dekkk, ampun Ayla Armani ... ckckck."

Handuk di tanganku langsung melayang. Plak! tepat ke mukanya. “Omes!” rutukku.

Dia tertawa sambil menghindar setengah detik terlambat. “Biarin. Omes itu tanda otak dan mata sehat ... sinkron buat tanam saham.”

"Aarrgghhh. Armani Yaris!" Bluk, kulempar bantal tapi dia langsung pergi keluar kamar.

Di balik pintu, aku menunduk. Melihat daster yang kupakai. Longgar. Biasa. Tidak transparan. Tidak pendek.

“Kenapa dia lihatinnya gitu sih?” gumamku, naik ke ranjang. Dalam hati masih bingung sendiri.

Aku memejamkan mata, menghela napas. "Dasar aneh!" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!