Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Xander Raize
Arman tidak langsung menjawab. Tangannya masih menggenggam tanganku. Terlalu erat seperti sedang menahan sesuatu agar tidak runtuh di tempat.
Aku menoleh ke arahnya. Wajahnya kaku, rahangnya mengeras, tatapannya tertambat ke satu titik di ujung gang yang buntu itu.
“Kak?” panggilku lagi, lebih pelan.
Arman menghela napas pendek. Tatapannya akhirnya lepas dari arah suara itu.
“Tunggu di sini sebentar, Dek.”
Nada suaranya seperti seseorang yang sedang mengumpulkan keberanian.
Aku mengangguk kecil, meski kakiku terasa berat. Tangannya terlepas dari genggamanku. Arman melangkah mendekat ke arah suara tadi.
Seorang pria berdiri di sana. Usianya tak lagi muda. Rambutnya memutih di beberapa bagian, punggungnya sedikit membungkuk. Matanya merah, basah, seolah tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
“Xan—” suaranya bergetar. Tidak selesai memanggil nama itu.
Arman berhenti tepat di depannya. Berdiri kaku. Bahunya naik turun pelan, seperti dipaksa berhenti saat sedang berlari.
Pria itu menelan ludah. Suaranya parau saat akhirnya berkata, “Benarkah ini Anda, Tuan Muda… Xander?”
Deg.
Xander...
Arman tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil. Dan air matanya jatuh. Satu tetes. Lalu menyusul yang lain.
"Zenix!" sebut Arman serak.
Pria itu—Zenix—terisak. Lututnya gemetar, tubuhnya condong ke depan, seperti hendak berlutut di hadapan Arman.
“Jangan,” kata Arman cepat, suaranya masih serak. Ia meraih bahu Zenix, menahannya. “Jangan begini.”
Zenix tetap menunduk. Tangisnya pecah pelan, tertahan, seperti orang yang sudah terlalu lama menyimpan rasa bersalah. “Maaf, Tuan Muda,” katanya lirih. “Maaf…”
Gang sempit itu sunyi. Buntu. Dinding-dinding rumah berdiri rapat, seolah ikut menjadi saksi dua pria yang akhirnya bertemu kembali setelah waktu memisahkan mereka terlalu lama.
Aku masih berdiri di tempatku. Membeku. Dadaku ikut sesak. Mataku mengembun tanpa izin. Ponsel Arman masih ada di tanganku.
Arman akhirnya memeluk Zenix. Pelukan singkat, tapi erat. Seperti anak yang akhirnya menemukan orang yang dulu pernah menjaganya.
“Kenapa…,” suara Arman patah di tengah kalimat. “Kenapa nggak nyari aku?”
Zenix terdiam. Kepalanya tertunduk. Ia mengangguk tipis, berkali-kali.
“Tuan Al… menjamin keselamatan Anda,” jawabnya akhirnya. “Itu pesan Tuan Besar sebelum beliau meninggal. Saya diminta menjauh. Tidak mencari Anda.”
Arman menyeka wajahnya kasar, mengatur napas. Bahunya masih naik turun saat ia berbalik.
Tatapannya jatuh ke arahku.
Entah kenapa, aku tersenyum tipis lalu air mata ikut jatuh di pipiku.
Arman mengulurkan tangannya ke arahku. “Dek.”
Aku melangkah mendekat. Tanganku kembali masuk ke genggamannya. Kali ini, aku yang mengeratkan.
Zenix menoleh ke arahku. Ia segera menunduk sopan. “Nona muda,” sapanya pelan.
Aku mengangguk kecil, membalas dengan senyum yang masih bercampur air mata. Di gang sempit itu, aku akhirnya mengerti—
bahwa masa lalu Arman tidak sesederhana yang kupikirkan.
Kami kemudian diajak masuk ke salah satu rumah di ujung gang itu.
Aku sempat bingung. Gang sempit ini tampak benar-benar buntu. Tidak ada pintu. Tidak ada pagar. Hanya dinding kusam yang menyatu dengan rumah-rumah lain.
Zenix melangkah ke salah satu sisi dinding. Tangannya meraba sebentar, lalu menekan sebuah tombol kecil yang hampir tak terlihat.
Klik.
Dinding itu bergerak pelan. Terbuka ke samping.
Aku tersentak kecil. Refleks menatap Arman. Anehnya, dia tidak terlihat terkejut sama sekali.
“Masih sama?” katanya, bahkan sempat tersenyum kecil.
Zenix membalas dengan senyum tipis. “Ini cara saya bertahan hidup, Tuan Muda.”
Arman mengangguk. “Aku tahu.”
Di balik dinding itu, terbuka sebuah ruangan yang bersih dan lega. Terang. Rapi. Jauh dari bayanganku tentang gang sempit dan rumah-rumah berhimpitan di luar sana.
Seorang wanita paruh baya keluar menyambut kami. Rambutnya disanggul sederhana, bajunya bersih. Senyumnya hangat, tulus.
Zenix berdiri sedikit tegak. “Ini Tuan Muda Xander Raize,” katanya.
Wanita itu membeku. Matanya melebar. Tangannya refleks menutup mulut. “Tu—Tuan Muda… masih hidup?”
Arman mengangguk pelan. Wajahnya tampak bingung sesaat. Apa dia tidak mengenali wanita ini, pikirku.
Untungnya Zenix cepat menjelaskan, “Beliau dulu ART di rumah lama. Tidak pernah bertemu langsung dengan Tuan Muda.”
Wanita itu mengusap dadanya, menarik napas panjang, lalu menunduk hormat. Matanya berkaca-kaca.
Aku berdiri di samping Arman. Masih diam. Masih menyerap semua ini perlahan.
Zenix lalu mengajak kami ke sebuah ruangan lain. Pintu dibuka. Di dalamnya—deretan komputer, monitor, kabel, dan perangkat lain tersusun rapi.
“Pantas langsung mengenali aku,” gumam Arman pelan.
Zenix tersenyum kecil. “Biar begini juga, tenaga saya masih laku dijual, Tuan Muda.”
Ia lalu bercerita singkat. Setelah insiden itu, kakinya tidak pernah pulih sepenuhnya. Cacat. Tapi kemampuannya tidak hilang. Sekarang dia hidup sederhana. Jadi satpam. Punya anak. Punya kehidupan baru.
Nada suaranya datar, seolah semua itu sudah lama bisa diterimanya.
Kami kemudian diajak masuk ke sebuah kamar kecil di belakang. Zenix membuka lemari besi di sudut ruangan. Tangannya berhenti di depan sebuah brankas tua.
Aku ikut melangkah masuk karena Arman masih menggenggam tanganku.
Zenix ragu sebentar. “Tuan Muda—”
“Ayla,” potong Arman pelan. “Putrinya Om Al. Istriku.”
Aku menoleh cepat. Jantungku tersentak disebut istrinya di depan orang lain.
Zenix terkejut, lalu segera menunduk. “Oh—maaf, Nona.”
Brankas itu berwarna kusam. Catnya mengelupas di beberapa bagian. Zenix menekan angka-angka dengan hati-hati, lalu memutar kenopnya.
Klik.
Pintu besi terbuka.
Arman tertegun.
Di dalamnya—dokumen asli. Akta. Berkas-berkas lama. Surat penangkapan.
Dan… sebuah foto.
Foto terakhir ayahnya.
Tangan Arman gemetar saat meraih semuanya. Nafasnya tertahan. Aku refleks mendekat, mengusap lengannya.
“Aku di sini, Kak,” kataku pelan. “Nggak apa.”
Arman menoleh padaku. Matanya penuh ketakutan yang tak sempat ia sembunyikan. “Dek…”
Aku mengusap bahunya perlahan. Memberi tekanan kecil.
Arman menatap foto itu lama. Terlalu lama. Lalu isaknya terdengar halus, ditahannya.
“Ayah…” suaranya serak.
Aku melihatnya. Wajah ayahnya di sana tampak lebih kurus dari ingatannya—rambut memutih, kulit wajah mengendur, dan sorot mata yang lelah. Tidak ada lagi punggung tegap yang dulu mungkin selalu Arman lihat setiap kali pulang.
Mungkin, Ayah yang Arman ingat adalah lelaki dengan suara tenang tapi pasti, berdiri tak pernah goyah. Di foto ini, yang tersisa hanya seseorang yang terlihat menua sendirian, seolah waktu dan keadaan menggerusnya perlahan, tanpa sempat memberi kabar pada anaknya.
Tangan Arman gemetar saat menyentuh sudut foto itu. Ujung jarinya berhenti, ragu, seperti takut merusak sesuatu yang sudah terlalu rapuh.
“A-aku…” suaranya patah. “Aku… ketemu lagi… sama Ayah…”
Bahu yang selalu terlihat tegap itu kini bergetar halus di bawah telapak tanganku.
Dadaku sesak. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Tanganku masih di bahunya, mengusap lembut, berulang-ulang.
Zenix berdiri di samping kami. Lalu ia meraih sesuatu lagi dari dalam brankas.
“Dan ini, Tuan Muda…” katanya pelan. Ia menyodorkan sebuah amplop coklat tua. Usang. Sudut-sudutnya sudah melipat sendiri karena waktu.
Pandangan Arman beralih. Tangannya berhenti bergerak.
“Apa… ini?” tanyanya lirih.
Aku ikut menatap amplop itu. Jantungku berdegup lebih cepat. Takut akan isinya.
.
.