Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Canggung

Bajuku.

Gegara tergesa dan kesal, aku lupa bawa baju ganti. Aku mendengus pelan. Ya Tuhan.

Aku membuka pintu kamar mandi, melongok ke luar. Arman sudah bangun. Duduk di ujung ranjang, punggungnya menghadapku. Ponselnya tercolok ke charger, ransel kecil terbuka di lantai. Dia sedang memilah barang—dompet, kunci, buku coklat itu—satu per satu, rapi, seperti orang yang ingin memastikan tidak ada yang tertinggal.

Aku membungkus tubuh dengan towel hotel, diam-diam keluar dan mengambil baju dari tas di atas meja rias, lalu gegas menyelinap ke kamar mandi.

Pintu kututup cepat.

Aku bersandar di baliknya sebentar, menarik napas panjang. Astaga, Ayla. Baru bangun udah ribet.

Dari luar, suara Arman terdengar. “Masih di kamar mandi, Dek?”

“Iya,” jawabku cepat. Aku mengunci pintu.

Di dalam, aku mendengar langkahnya menjauh. Hening sesaat. Aku lekas ganti baju dan keluar dari toilet.

Aku berjalan melewati Arman yang duduk di ranjang dekat nakas, dia sedang bicara dengan seseorang. Aku meraih pouch kosmetik dari tas lalu ke Balkon.

“Iya…”

“Habis sarapan.”

“Hm. Gimana sikon di sana?”

Aku duduk di kursi, diam sesaat. Sekilas kulirik Arman, masih asik menelpon. Nada suaranya… lembut. Seperti sedang menenangkan seseorang.

Aku membuka resleting pouch.

“…Iya. Sabar ya,” lanjutnya pelan.

Dadaku mengencang tanpa alasan jelas.

Siapa?

Kenapa harus pakai nada begitu?

"Dia telponan sama perempuan itu? Pake nanya sikon segala," lirihku mengoceh sendiri. "Pacarnya kangen, kah? Sabar pula katanya," cibirku. 

Namun, setelahnya aku menggigit bibir, kesal pada pikiranku sendiri. Jangan lebay, Ayla. Bisa aja urusan kerja. Bisa aja hal lain.

Tapi tetap saja… ada sesuatu yang mengusik. Aku cepat-cepat memakai makeup. Arman sudah menutup telepon.

Dari dalam dia berseru, “Dek,” katanya, “bentar ya. Aku mandi cepet kok.” 

Kulihat dia meraih baju gantinya, tapi ekspresinya… gelisah.

Seolah takut aku pergi. Padahal aku cuma duduk di Balkon. Loh, kan aku yang ngekorin dia, batinku.

Arman masuk kamar mandi. Pintu tertutup.

Udara pagi masih lembap. Aku berdandan seperti biasanya, sengaja menghindari Arman. Aku masih sebel. Entah kenapa.

Tak lama, Arman keluar. Rambutnya basah. Kaos rapi. Aroma parfumnya menyebar pelan, bercampur udara pagi.

Aku sudah selesai dandan, parfum kusemprot ke seluruh badan. Menutup pouch kosmetik, lalu berdiri sambil merapikan pashmina dan berjalan masuk ke kamar.

Dia duduk di pangkal ranjang, menutup ransel kecil. Lalu—anehnya—ponselku sudah ada di sana, diletakkan rapi di atas tas Arman.

Dia menoleh. Menatapku. Lama. Tanpa berkedip. Lalu tersenyum.

“Cantik amayyyy, Ayla Armani.”

Suaranya ceria, Arman membubuhkan namanya di belakang namaku segala.

Aku mendengus. “Kayak baru lihat orang cantik aja.”

Dia terkekeh. “Yaaa… emang. Mataku lihat yang cantik itu cuma satu sejak dulu.”

Aku melengos sambil memasukkan pouch. “Gombal.” lalu menyambar sling bag-ku dan berjalan ke pintu. Kesal. Malu. Bingung.

Kesal, kok dia seperti merasa tidak terjadi apapun semalam. Malu, kenapa aku kek anak kecil yang merajuk. Bingung sendiri kenapa jadi heboh, padahal Arman biasa saja.

Begitu pintu kamar hampir kututup—Aku berhenti. “…Eh.”

Aku menepuk tas. Ponselku nggak ada. Aku berbalik cepat.

Arman masih duduk di ranjang, bersiap pergi dan di tangannya memegang ponselku. Senyumnya menggoda. 

“Ketinggalan,” katanya sambil mengacungkan ponselku.

Aku mendengus. “Balikin.”

Dia berdiri, melangkah mendekat, menyerahkan ponsel itu tepat di depanku. 

“Makanya,” katanya pelan, “kalau pergi tuh, suaminya juga dibawa, Buuu.” Pandangan Arman melembut saat mata kami bertemu.

Aku malah mendongak dan menatapnya tajam. "Omes!" gumamku, lalu merebut ponsel dan pergi duluan.

Di belakangku, kudengar tawanya pecah lagi. Sepertinya aku ini tontonan lucu untuk paginya.

*

Kami sarapan di restoran hotel.

Aku duduk di seberangnya. Meja kecil, piring kami berhadapan. Arman tampak santai, seolah pagi ini berjalan normal dan semalam tak ada apa-apa. 

Bau kopi dan roti panggang bercampur, membuat perut yang tadinya biasa saja mendadak terasa lapar.

Aku pura-pura sibuk dengan piringku.

Saat itu aku sadar, ada seorang wanita cantik duduk di meja seberang. Rambutnya tergerai rapi, gaunnya sederhana tapi pas. Tatapannya beberapa kali melirik ke arah kami. Tepatnya—ke arah Arman.

Aku menunduk. Mengambil sendok, pura-pura tidak lihat.

Arman menoleh sebentar. Pandangan mereka sempat bertemu. Singkat. Lalu Arman kembali ke piringnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun tepat saat aku hendak menyuap, Arman mengulurkan tangannya. Potongan ayam dari piringnya mendarat di sendokku.

“Cobain,” katanya santai. “Pasti lebih enak rasanya.”

Aku terlanjur menggantung sendok di udara. Mau nolak juga nanggung. Akhirnya kumakan dan mengunyah pelan. “Sama aja kok.”

Arman mengernyit tipis. “Harusnya beda.” Dia berdecak kecil.

Dia lalu menyendok potongan daging lain, kali ini lebih besar. Tanpa ragu, sendok itu dia sodorkan langsung ke depan mulutku.

“Coba yang ini.”

Aku melotot. “Kak—”

“Gimana?” desaknya, sabar tapi senyumnya terlihat aneh. Pasti ada maksud lain, rutukku.

Aku terpaksa membuka mulut. Mengunyah lagi. “Sama aja,” jawabku jujur.

Arman menghela napas pendek. “Harusnya lebih enak, Dek.”

“Kenapa?”

Dia mencondongkan badannya sedikit. Suaranya diturunkan. “Kan ada manisnya aku nempel di situ.”

Aku terdiam sekian detik. Lalu tertawa refleks. Cepat-cepat menutup mulut, malu karena sadar baru saja dibodohi terang-terangan oleh Arman.

Arman ikut tertawa. Bahunya berguncang kecil. “Satu nol,” katanya puas.

“Iihhh,” dengusku. Bener kan. Aku ini bahan gabut dia.

Saat aku melirik lagi ke meja seberang, wanita itu sudah tidak menatap Arman. Fokusnya beralih ke ponsel atau piringnya sendiri. Entah kenapa, dadaku sedikit mengendur.

Tak lama kemudian kami beranjak pergi. Mobil melaju meninggalkan pusat kota. Gedung-gedung tinggi berganti rumah-rumah yang lebih rendah. Jalanan makin padat, lalu perlahan menyempit.

Arman fokus menyetir, ia menyerahkan buku coklat itu padaku.

“Dek,” katanya sambil tetap menatap jalan. “Tolong bacain. Sesuaikan alamatnya di Maps.”

Aku membuka halaman yang sudah dilipat. Alamat ditulis tangan, sedikit miring, tintanya sudah agak pudar tapi masih bisa dibaca.

Aku membacanya pelan. Lalu membuka Maps di ponsel Arman, mencocokkan.

“Kak,” kataku sambil meletakkan ponsel di dashboard.

“Tolong pegang aja, Dek,” jawabnya singkat.

Jalan makin sempit. Rumah-rumah rapat. Motor berseliweran. Anak-anak bermain di pinggir jalan. Kami akhirnya dihentikan hansip di pos kecil dekat perempatan.

“Nggak bisa masuk mobil, Mas,” katanya ramah. “Ada hajatan juga. Parkir di halaman masjid aja. Aman.”

Arman mengangguk. Kami turun. Udara terasa berbeda saat kami berjalan kaki. Lebih hangat. Suara obrolan warga, bau masakan dari dapur rumah-rumah, dan langkah kami sendiri terdengar jelas.

Aku membuka Maps lagi. Menyesuaikan arah sambil berjalan.

Gang-gang kecil kami lewati. Sesekali Arman bertanya ke orang lewat. Aku mengangguk-ngangguk sambil menyesuaikan rute.

Aku berjalan di sampingnya. Tidak banyak bicara. Arman melirikku. Tangannya meraih tangan kananku. Menggenggam erat. Sesekali dia menarik tautan kami, lalu menepuk pelan punggung tanganku. Seperti memberi isyarat tanpa kata. Aku pun tidak bertanya.

Ponselnya masih di tangan kiriku. Maps berhenti di satu titik. Aku berhenti melangkah. “Buntu, Kak.”

Arman menoleh. Menatap sekitar. Dinding-dinding rumah berdempetan. Tidak ada jalan lagi.

Dan tepat saat itu—Suara seseorang memanggil dari balik salah satu rumah.

“Xan—”

Aku refleks menoleh ke arah suara itu. Jantungku berdetak lebih cepat. Arman membeku, menatapnya ragu. Tangannya yang menggenggam tanganku… mengencang.

"Kak?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!