Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Benarkah dia?
Aku duduk di kursi rias dengan wajah yang terasa bukan seperti milikku. Tangan perias bergerak cepat, orang-orang lalu lalang, suara berbisik terdengar.
Aku tau, mereka membicarakan aku. Mungkin kasihan atau juga bertanya-tanya apa alasan lelaki cadangan ini, yang mau-maunya menikahiku.
Kuhempas napas kasar, mengagetkan si perias. "Mau minum?" tanyanya kuatir.
Aku malas menjawab, hanya menggeleng pelan.
Hatiku kosong. Semalam menangis terlalu banyak hingga tak tahu harus merasa apa lagi.
Aku duduk di ruang tamu. Seharusnya ini momen haru dan mendebarkan, menunggu lafal ~Sah riuh diteriakkan. Tapi, aku malah seakan menyerahkan diri secara sukarela untuk disakiti.
Akad itu berlangsung singkat. Nama yang diucapkan bukan nama yang biasa kusebut dalam doa.
Dan saat dia menyebut namaku, rasanya seperti semua tulangku lepas dari tubuh. Aku lunglai.
Penampilannya saja aku tak tahu, seingatku, Arman itu sedikit bungkuk, bajunya selalu lusuh dan suka loading jika diajak bicara.
Masa aku hidup dengannya? Jomplang gak sih? Batinku.
Ijab kabul akhirnya dinyatakan sah, aku tidak pingsan, tidak menangis histeris—aku hanya diam.
Armani Yaris.
Suamiku.
Ia menyusulku ke ruang tamu. Duduk di hadapanku dengan punggung tegak, wajahnya tenang. Saat ia menoleh, tatapannya singkat, sopan, lalu kembali lurus ke depan. Langsung menandatangani dokumen bergantian denganku. Dan entah kenapa, justru itu yang membuatku takut.
Aku berjalan di sampingnya menuju pelaminan. Tangannya sesekali bergerak, seolah ingin membantu, entah angkat juntai kebaya atau saat naik tangga, tapi selalu berhenti sebelum benar-benar menyentuhku.
Ini resepsi sederhana. Permintaanku dan Raka sebab kami tidak suka keramaian, jadi hanya berlangsung sampai asar.
Ia berdiri canggung di ambang pintu kamarku. “Boleh…?” tanyanya pelan, menunjuk ke arah kursi dekat meja rias.
Aku mengangguk kecil.
Ia pun duduk, tapi hanya di ujung. Punggungnya tegak, kedua telapak tangannya bertumpu di lutut, seperti siap berdiri kapan saja. Diam dan kaku.
Keheningan itu membuat dadaku kembali sesak. “Aku mandi dulu,” kataku akhirnya, berdiri terlalu cepat.
Ia menoleh, lalu mengangguk. “Iya.”
Aku keluar kamar dengan langkah tergesa, menutup pintu perlahan di belakangku. Di kamar mandi, aku menatap pantulan wajahku sendiri di cermin—masih pucat, mata bengkak, tak ada senyum. Aku mengganti baju dengan gerakan terburu, tiba-tiba air terasa dingin.
Saat aku masuk lagi, Arman sudah berdiri menghadap sajadah yang terbentang rapi.
“Mau salat bareng atau sendiri, Dek?” tanyanya tanpa menoleh.
Nada suaranya tenang, berat.
Dan entah kenapa, panggilan ~Dek itu terasa asing di telingaku—meski itu kebiasaannya jika memanggilku.
“Sendiri saja,” jawabku pelan.
Arman mengangguk. Tidak ada kekecewaan. Tidak ada perubahan raut wajah. Ia hanya melangkah ke sajadah lain, memberi jarak aman buatku.
Kami salat dalam sunyi. Gerakannya tenang, tertib. Setelah salam, ia tidak segera beranjak. Tangannya terangkat sampai perut, bibirnya bergerak pelan. Dzikirnya panjang, seperti meminta sesuatu yang berat.
Aku menyelesaikan isyaku lebih cepat. Saat menoleh, ia masih di tempatnya. Wajahnya terlihat bersih dalam cahaya lampu kamar. Ada jambang tipis di rahangnya. Matanya terpejam. Dia, tampak kalem.
Aku merasa lelah tiba-tiba lalu naik ke ranjang tanpa melepas mukena. Tubuhku terasa berat, kepalaku masih pening, dan mataku mengantuk.
Di sela-sela doa yang belum sempat rampung, dadaku kembali bergetar kecil. Aku sesenggukan pelan, sisa tangis semalam.
Malam pertama pernikahanku berlalu tanpa sentuhan, tanpa kata-kata manis. Hanya dua orang asing yang berusaha sopan pada takdir yang mempertemukan kami.
Dan entah kenapa, di antara kantuk dan sisa tangis itu, aku tertidur.
***
Keesokan paginya, rumah masih ramai.
Kursi-kursi hajatan ditumpuk, sisa kain tenda dilipat, dan orang-orang berlalu-lalang seperti semalam tidak pernah terjadi apa-apa—seolah hidup memang harus terus berjalan.
Aku melihat Arman dari kejauhan. Ia ikut membantu, mengangkat kursi, menyusun meja, menyapa orang-orang dengan sopan. Tidak banyak bicara, tapi tangannya cekatan.
“Kerajinan amat dia,” celetuk ayah sambil melirikku. “Sarapan, Ayla. Panggil suamimu.”
Aku mendesah kecil, lalu menghampiri Arman. “Kak … makan,” ucapku canggung.
Ia menoleh, mengangguk. “Iya.”
Di meja makan, ayah duduk berhadapan dengan kami. Tatapannya tajam tapi mengandung sesuatu yang tidak bisa kuterjemahkan. Harap, mungkin.
“Ayla,” kata ayah, “layani suamimu.”
Aku melongo. Ingin menggeleng, ingin protes, tapi semua mata di rumah ini seolah tertuju padaku. Dengan gerakan kikuk, aku menyendokkan nasi ke piring Arman.
Ia tidak langsung makan. Ia menunggu. Aku tidak napsu makan, bingung melihat menu di meja.
“Ayla,” ayah terkekeh kecil, “kebiasaanmu yang suka malas makan jangan dibawa. Tuh, Arman nungguin kamu.”
Aku kaget. Menoleh ke arahnya. Hah? Dia… ingat?
Terpaksa aku duduk tegak dan mulai makan. Dan benar saja, begitu aku menyuap, Arman ikut makan. Pelan. Tenang.
Kesal, sih.
"Ngapain dia sok jaim di depan ayah." Aku menggerutu, sambil mengaduk makanan di atas piring.
Setelah itu, aku masuk ke kamar, menguncinya. "Bodo amat, sapa suruh mau aja disuruh ayah gantiin Raka," ujarku masih tak terima.
Sore hari setelah asar, ayah memanggil kami. Ia menyerahkan satu set kunci pada Arman.
“Rumah ini buat kalian,” kata ayah, saat kunci kediaman lama kami di komplek sebelah berpindah tangan. “biar nggak diganggu ERTI," tambah Ayah sambil terkekeh ketika ART kami, Erti lewat.
Aku menolak, ingin tinggal di sini, tapi ayah memaksa. Daripada mendengar tausiah panjang, kuputuskan ikut Arman meski hatiku dongkol.
Mobilku masih terhalang kantong sampah sisa hajatan. Arman mengajakku naik motornya. Aku duduk di belakang, bingung harus berpegangan ke mana. Pegang bahunya ya gak mungkin. Tidak pegang apa-apa, takut jatuh. Akhirnya aku memilih besi jok.
Sepanjang perjalanan kami diam. Hanya ada deru suara mesin dan angin sore.
Sesampainya di rumah itu, Arman membukakan pintu dan mempersilakanku masuk lebih dulu.
“Kamar depan atau yang kedua, Dek?”
Aku berhenti melangkah. "Hah?" Aku menatapnya. Dalam kepalaku berputar semua adegan film yang pernah kutonton—suami yang memaksa, yang kasar, yang merasa berhak mengatur, patriarki.
Tapi Arman berdiri di sana, santai. Tangannya masuk ke saku celana. Gerakannya biasa saja. Tapi mataku terpaku di situ.
Arman yang sama kah ini?
Dulu aku ingat dia sering terlihat lusuh. Bajunya rapi, tapi kesannya selalu lelah. Bahunya agak turun, jalannya pelan, kepalanya sering menunduk. Bahkan kemarin, saat akad, dia lebih banyak diam dan menatap lantai.
Sekarang dia berdiri di depanku. Tegap. Tenang. Terlihat percaya diri.
Aku jadi bingung sendiri. Sejak kapan Arman seperti ini?
Padahal kami satu rumah. Sering berpapasan. Tapi aku tak pernah benar-benar melihatnya. Selama ini, Arman cuma lewat di hidupku.
Dadaku terasa aneh. Bukan deg-degan. Bukan suka. Lebih seperti terusik. Seolah ada sesuatu yang selama ini terlewat,
dan baru sekarang terlihat.
Aku mengalihkan pandangan cepat, takut ketahuan menatap.
“Pasti kamu nggak mau satu kamar,” lanjutnya pelan. “Silakan pilih.”
Aku mengerjap. “Oh… depan.”
Ia mengangguk. “Baik.”
Saat aku melangkah, aku merasa ia menatapku. Sekilas. Lalu ia berbalik cepat, seperti menyembunyikan sesuatu.
“Eh,” kataku refleks. “Kenapa?”
Ia berhenti. Menoleh. “Kenapa apa?”
“Kok… senyum?” tanyaku ragu, takut ada yang aneh di wajahku.
Arman terdiam sepersekian detik, lalu menggeleng pelan. “Nggak apa-apa.”
Tapi senyum tipis itu masih tertinggal di sudut bibirnya. Dan sejak akad, aku bertanya dalam hati—benarkah ini Arman?
.
.