Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Mencari Ayla
Tubuhku belum sepenuhnya pulih. Demam memang sudah turun, tapi lemasnya masih menempel.
Kepala terasa ringan, tapi tubuhku seakan kehilangan tenaga. Tanganku gemetar saat menutup map terakhir di meja kerja. Aku benar-benar tidak kuat bertahan sampai sore.
Kakiku gemetar saat berdiri terlalu lama. Setelah diskusi singkat dengan atasan, aku diizinkan pulang setengah hari.
Aku mengangguk. Tersenyum sopan. Tapi dalam hati, aku hanya ingin rebahan. Diam. Tidak ingin diganggu siapa pun.
Tanganku merogoh tas. Mengambil ponsel. Menelepon Arman.
Satu kali. Tidak diangkat.
Kedua kali. Masih tidak dijawabnya.
Aku menatap layar beberapa detik. Lalu menutup panggilan. Tidak mencoba lagi.
Aku akhirnya memesan ojek online. Duduk di jok belakang dengan kepala bersandar, mata terpejam sepanjang jalan. Aku tidak pulang ke rumah kami.
Rumah itu sudah tidak kutinggali, tapi kuncinya masih ada di tasku. Selalu kubawa, entah kenapa. Mungkin karena ada bagian dari diriku yang belum pernah benar-benar pergi dari sana.
Rumah ayah sunyi saat aku tiba. Pagar tidak terkunci. Aku masuk tanpa menyalakan lampu, membuka pintu kamar lamaku, lalu menjatuhkan diri ke kasur masih dengan seragam kerja.
Aroma pengharum ruangan dan sprei yang terasa dingin menyambutku. Aku rindu kamarku.
Aku mematikan ponsel. Sengaja.
Aku tidak ingin ditanya. Tidak ingin menjelaskan. Aku hanya ingin tidur.
Dan aku tertidur, begitu saja.
***
POV ARMAN
Telepon Ayla masuk saat aku baru selesai mendengarkan permintaan orderan pelanggan lama.
Aku melihat namanya di layar. Itu dua puluh menit lalu.
Aku menelepon balik. Sekali. Dua kali. Tidak aktif.
Ada rasa tidak enak yang tiba-tiba naik ke dada. Aku memutuskan langsung menuju puskesmas. Menyetir lebih cepat dari biasanya.
“Mbal Ayla ada?” tanyaku pada petugas.
“Pulang, Mas. Sekitar sejam lalu.”
Sejam.
Aku mengangguk. Mengucapkan terima kasih. Lalu kembali ke mobil dengan kepala penuh pertanyaan.
"Apa pulang ke rumah ya?" gumamku di perjalanan pulang.
Namun, rumah kosong saat aku tiba. Sepatu Ayla tidak ada. Tasnya tidak ada. Kamarnya rapi—berarti dia tidak pulang ke rumah.
Aku berdiri lama di ruang tengah. Untuk pertama kalinya, aku sadar—aku tidak tahu harus mencari ke mana.
Aku tidak tahu siapa teman dekatnya. Tidak tahu ke mana dia biasa pergi saat ingin sendiri. Tidak tahu siapa yang akan dia hubungi kalau bukan aku.
Selama ini aku merasa tinggal bersamanya, padahal mungkin… aku hanya tinggal di pinggir hidupnya.
Aku memutuskan kembali ke pabrik. Mau tidak mau harus tanya ke ayah.
Kutundukkan kepala saat masuk ruangan Ayah. Bertanya pelan, "Yah, temen-temen Ayla siapa aja ya? Aku boleh minta nomernya?"
Ayah Ayla sedikit heran tapi dia tidak bertanya. Malah menyodorkan ponselnya padaku. "Evalia aja, temen sejak SMP," kata beliau.
"Satu?"
"Iya, setau ayah cuma Eva. Ayla gak punya banyak kawan. Jarang main, rutenya rumah sekolah ngaji, sampe kuliah juga gitu. Eva itu sekampus pula jadi ya satu aja dah," beber ayah terkekeh.
Aku mengangguk, ternyata istriku memang anak rumahan. Aku tidak begitu tahu kesehariannya, hanya sepintas-sepintas saja.
Aku kembalikan ponsel mertuaku setelah selesai mencatat nomer Evalia. Aku langsung pamit lagi, menelpon Eva sambil berjalan keluar pabrik.
Nada tersambung. Satu kali. Dua kali. Terdengar suara perempuan mengucapkan salam di seberang sana.
"Halo, Eva?"
"Iya, siapa ya?"
"Hm, Arman ... hmm, suaminya Ayla," kataku, masih canggung menyebut kata ~suami.
"Oh, iya. Ada apa, Bang?"
Aku langsung bertanya soal Ayla, apakah sedang bersamanya. Tapi, jawaban Eva malah membuatku kian bingung. Ayla tidak bersamanya, Eva sedang Diklat ke luar kota.
Aku meraup wajah. Bingung mencari kemana. "Ay, bagi clue dikit aja," lirihku sambil mengingat apakah ada kejanggalan dari Ayla pagi tadi.
Kuputuskan menyusuri taman kota, siapa tahu dia penat meskipun ayah bilang Ayla jarang keluar rumah. Tiba-tiba ketika lewat rumah sakit, aku berhenti.
"Apa ke IGD ya?" gumamku. "tapi nggak ah, kan bilangnya pulang," lanjutku melajukan kembali mobil Ayla.
Aku menelpon Agya, adik Ayla, apakah istriku ada di sana. Tapi, Agya bilang dia tak melihat sosok sang kakak sejak pulang sekolah.
"Mbak Erti juga bilang gak ada, Bang," kata Agya saat aku menelponnya.
"Ok, makasih ya, Dek," pungkasku akhirnya.
Tak sadar, sudah dua jam aku mencari Ayla ke sana sini. Bentar lagi jam bubaran pabrik. Kuputuskan kembali ke sana sambil tanya ke ayah lagi.
Ayah menatapku lama saat aku datang. Tidak bertanya dulu. Seolah tahu ada sesuatu yang salah.
Aku menunduk. Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa… malu.
“Yah,” kataku pelan, “Ayla gak ada dimana-mana. Dia kemana ya kira-kira?”
Ayahnya menghela napas pelan. Melihatku, bukan dengan marah, tapi dengan pandangan kasihan.
“Kamu nyari Ayla daritadi?”
Aku mengangguk.
“Kenapa?”
Aku tidak menjawab. Karena aku sendiri tidak tahu cara menjelaskannya. Panik terdengar berlebihan. Khawatir terdengar lemah. Jadi aku diam.
Ayahnya menepuk pundakku pelan. “Dia akan pulang sendiri.”
Aku mengangguk lagi. Lebih pelan. "Tapi, Yah," cicitku malu jika tak mencarinya.
"Kamu punya salah apa sama dia?"
Deg.
Aku diam. Berpikir. Tapi ayah malah tertawa.
"Hadeuh, kalian ini. Satu cemburuan satu lagi nggak pernah jelasin. Salah paham dah. Sana selesaikan baik-baik," ujar Ayah, bangkit pulang.
Hah, apa tadi, Ayla cemburuan? Ah, mana mungkin, batinku.
Ayah memintaku mampir ke rumah, bawakan sisa buku Ayla, barangkali penting biar nggak repot ambil dulu ke rumah. Aku pun mengikutinya pulang.
Sesampainya di sana, ayah menyuruhku mengambil kardus di bawah dekat lemari. Begitu kubuka pintu.
Pandanganku meneduh, melihat punggung istriku tertidur di sana. Aku gegas menutup pintu, ingin menikmati momen ini sendirian.
"Ya Allah, Ayla. Kamu bikin aku gelisah, nyariin ke sana sini. Maaf ya, telat jawab telepon, maaf pergi gitu aja tadi pagi. Maaf nggak tahu apapun soal kamu dan maaf, bikin kamu nunggu."
Kuhampiri pelan, kupastikan dia masih lelap lalu kububuhkan kecupan kecil di pelipisnya. "Pules ya, Dek. Aku di sini."
Kuambil kardus bukunya, lalu keluar kamar lagi.
Ayah menegurku ketika aku akan ke mobil. "Ketemu?"
Aku menoleh, tersenyum, "Ketemu, Yah. Sekalian orangnya."
Dahi mertuaku mengerut. "Eh, Ayla pulang ke sini?"
Aku mengangguk. Lalu suara Agya terdengar, dia gegas buka pintu kamar kakaknya.
"Bang, Agya beneran gak boong loh, waktu Abang nelpon nyari Kakak," ucapnya dengan wajah tegang, takut aku tegur.
"Aih, bisa-bisanya serumah gak pada tahu," kekeh ayahnya.
***
Aku terbangun menjelang magrib. Rumah masih sunyi. Lampu kamar belum dinyalakan.
Badanku sudah terasa lebih ringan.
Aku duduk. Menarik napas panjang. Lalu bangkit, berjalan ke kamar mandi, membasuh wajah. Air dingin menyentuh kulitku, menyadarkanku perlahan.
Aku menyalakan ponsel. Belasan panggilan tak terjawab. Nama Arman memenuhi layar.
Aku menatapnya lama. Lalu menaruh ponsel kembali ke kasur.
Selepas salat, perutku keroncongan, aku keluar kamar. Sepi. Ayah masih di masjid biasanya jam segini.
"Makan roti aja dulu, takut mual lagi." Aku mengambil roti di meja, susu kotak dari kulkas lalu kembali ke kamar.
Pening masih menggelayut, kantuk datang lagi, mungkin efek obat yang baru kuminum. Aku ketiduran masih memakai mukena.
Tiba-tiba, aku merasa tubuhku melayang. "Aku sudah di surga kah?"
.
.