Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Apa pilihanmu, Ayla?
Tiba-tiba, tubuhku terasa ringan. Seperti diangkat pelan dari kasur.
Aku mengerjap cepat tapi kembali memejam, kelopak mataku berat. Setengah sadar. Aroma yang familiar menyentuh hidungku—sabun mandi Arman.
“Aku sudah di surga kah?” gumamku lirih, hampir tak bersuara.
Ada dengus kecil di dekat telingaku.
“Belum,” suara itu rendah, tertahan tawa. “Surga masih antre, Dek.”
Aku membuka mata sedikit meski malas. Wajah Arman kabur di penglihatanku, tapi senyumnya jelas. Terlalu dekat. Terlalu nyata untuk mimpi.
“Kamu berat,” katanya lagi, tapi tangannya menguat di punggungku. “Tapi tenang aja. Aku kuat.”
Aku ingin protes. Ingin bilang aku bisa jalan sendiri. Tapi kelopak mataku terlalu berat. Kepalaku kembali bersandar di dadanya, mendengar detak jantungnya—teratur, nyata.
“Kamu kenapa nggak bilang pulang ke sini?” suaranya lebih pelan sekarang.
Aku menghela napas. “Capek.”
“Sama aku?”
Aku diam terlalu lama.
Arman tidak memaksa. Dia hanya menggeser posisi lalu membaringkanku kembali ke kasur tanpa melepas mukena. Selimut ditariknya sampai dadaku.
“Nyari aku?” tanyaku lirih, mirip bergumam, dengan mata masih terpejam.
“Iya.” Suara Arman lembut sekali di telingaku.
“Kamu bikin aku takut,” jawabnya singkat. Tapi cara dia mengucapkannya membuat dadaku menghangat.
“Maaf,” katanya akhirnya. “Aku telat jawab."
"Hmm." Aku memiringkan kepala. Mataku makin rapat memejam. Rasanya nyaman, tenang, mudah banget tertidur tanpa gelisah.
“Bobok nyenyak ya, aku temenin.” Dia duduk di sisi ranjang lain, menyandarkan punggung.
Aku benar-benar tertidur. Tidur pulas tanpa pikiran yang berisik. Tubuhku hangat. Ada rasa aman yang lama tak kurasakan.
Aku terbangun saat langit kian menggelap. Lampu kamar menyala temaram. Suara adzan isya samar terdengar dari kejauhan. Aku bergerak pelan. Mukena masih menempel di tubuhku, rapi. Selimut menutupi kaki sampai dada.
Dan Arman masih di situ. Duduk bersandar di sisi ranjang. Kepalanya miring, matanya terpejam. Tangannya terlipat di dada. Seperti orang yang kelelahan tapi menolak pergi.
"Sejak kapan dia di sini?" gumamku setengah ingat. "Suara-suara tadi tuh beneran dia?" sambungku disela kantuk.
Aku memperhatikan wajahnya lama. Garis lelah di keningnya. Rahang yang menegang bahkan saat tidur. Entah kenapa, aku merasa bersalah.
Aku bergerak hendak bangun. Arman langsung terjaga.
“Kok bangun, Dek?” tanyanya refleks, suaranya serak.
“Belum isya,” jawabku pelan.
“Pusing?”
“Enggak.”
Dia berdiri cepat, menyalakan lampu lebih terang. Tangannya menyentuh dahiku.
“Udah mendingan,” gumamnya.
Aku mengangguk. “Aku laper.”
Arman tersenyum kecil. Lega, tapi ditahannya. “Aku buatin makan.”
Aku turun dari kasur. Kakiku sempat goyah. Arman sigap menahan lenganku.
“Pelan,” katanya.
Aku mengangguk. Tidak menolak kali ini. Kami keluar kamar. Rumah ayah sudah lebih ramai. Bau masakan samar tercium dari dapur.
Ayah menoleh saat melihat kami. Tatapannya berhenti sebentar di wajah Arman. Lalu beralih padaku. “Masih demam?” tanyanya.
“Nggak, Yah.”
“Alhamdulillah.”
Arman membantu menarik kursi untukku. Aku duduk. Dia menuangkan air hangat ke gelas. Semua gerakannya tenang. Terlalu terlatih. Seperti sudah sering merawat orang sakit.
Aku memperhatikannya tanpa sadar.
Arman menyadari tatapanku. “Kenapa?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Nggak apa-apa.” Tapi ada sesuatu yang menggelitik di kepalaku. Kenapa dia begitu sigap? Kenapa seolah sudah terbiasa?
Ponsel Arman tiba-tiba bergetar di saku celananya. Sekali. Lalu berhenti.
Dia meliriknya sekilas. Wajahnya berubah sepersekian detik. Arman segera mengalihkan pandangan. Menyodorkan gelas ke arahku. “Minum dulu.”
Aku menerima. Meneguk pelan. Ponsel itu bergetar lagi. Kali ini Arman menghela napas kecil. “Aku angkat sebentar,” katanya, berdiri menjauh.
Aku menatap punggungnya saat dia melangkah ke teras. Dan entah kenapa, nama itu kembali terlintas di kepalaku.
Xander.
Aku menurunkan gelas perlahan. Rasa hangat di tenggorokanku mendadak pahit.
Rupanya ayah memperhatikanku. Lalu bertanya, "Mikirin apa sih, Ay? Dia punya pacar? Atau ada hal lain?"
Aku diam, menunduk.
Ayah masih memandangiku. "Ayah tau kamu. Apa ini ada hubungannya dengan Raka?"
Deg.
Aku mendongak. Lalu menunduk lagi.
"Benar," ujar Ayah. "Ayah tahu ini sulit buatmu. Tapi, komunikasikan kondisimu dengan Arman. Jangan saling menyakiti, meski ayah ikut andil dalam hal ini. Rasanya lucu juga, ayah yang narik kalian berdua, berkubang di luka..." Wajah ayah sendu, tertunduk.
"Kalau ayah tahu ini menyakiti aku dan dia, kenapa kami harus menikah?" Air mataku menetes.
"Doaku memang ingin menikah di usiaku yang ke 25, tapi dengan pilihanku. Bukan pilihan ayah," lanjutku terisak, bahuku bergetar pelan.
"Tapi Ay ... cuma dia yang ayah percaya."
"Percaya pada manusia?"
"Pada Allah, Ayla. Entah, tapi firasat ayah yakin Arman tepat buatmu," elak Ayah, dengan pandangan memelas.
Aku terkekeh pelan, meski air mata masih mengalir di pipi. "Firasat? Nama baik, habis ini apalagi? Tak bisakah aku memilih sendiri?"
Ayah mengangguk. "Maaf."
"Sejak dulu aku selalu tidak punya pilihan." Selain RAKAAA!" Aku gegas bangkit, "tapi pada akhirnya, tetap harus pilihan ayah!" seruku, lalu masuk ke kamar. Dadaku sesak.
Brak! Pintu kubanting kali ini. Aku menangis tengkurap di kasur.
Dan tak lama. Pintu kamarku terbuka. Sisi kasurku melesak turun.
"Dek, pulang yuk," ucapnya pelan. Kali ini mengajakku, bukan menawarkan seperti biasanya.
Aku menoleh padanya, dengan muka basah. "Sana pulang sendiri!"
Arman diam, memandangiku lekat. Lalu menggeleng samar.
"Pergiiiiiiii!" sentakku.
Dia diam. Tak beranjak. Aku kesal, kupukuli bahunya sekuat tenaga. Dia tak melawan, hanya diam lalu meraup kedua tanganku.
"Sudah, tanganmu sakit."
Aku masih mengamuk. Entah kenapa, seakan aku menemukan samsak atas segala kelelahan hatiku.
"Dek! Tanganmu sakit nanti." Arman berusaha menahan tanganku, nyeri mulai menjalar tapi aku teruskan.
"Ayla Al Phardia Livin." Arman mendekapku. Menarik kepalaku dan menahannya di dadanya. "Istighfar. Istighfar. Aku tau aku banyak salah sama kamu. Maaf. Maaf. Maaf."
Aku berontak, tapi tenagaku kalah. Akhirnya aku melemas di pelukannya. Arman tak berkata apapun, hanya memelukku, menenangkanku.
"Maaf. Maaf."
Kalimat itu diucapkannya berulang-ulang. Entah maaf untuk yang mana, aku tak paham.
Aku lalu mendorong tubuh Arman. Menyambar tasku, dan keluar kamar. Arman langsung mengejarku.
Dia menghalangi jalanku, memaksaku masuk ke mobil. Aku kesal, tapi jalan kaki ke depan sana jauh juga.
Aku masuk ke mobil dan Arman melajukan pelan. Kami tak bicara selama di perjalanan. Aku baru sadar ketika melihat jalanan bukan ke arah komplek. Aku menoleh padanya.
"Temenin aku ngopi jahe." Kata Arman tanpa menoleh padaku.
Tak lama, kami tiba di sebuah angkringan. Dia membukakan pintu mobil untukku. "Ini?"
"Tempat jajan aku. Mau turun gak? Banyak cemilan di sana," ujarnya menunjuk ke arah kanan.
Mataku berbinar, aku mengangguk antusias. "Mau!"
Arman memanduku berkeliling. Aku memesan banyak makanan, salah satunya tom yum pedas.
"Nggak suka pedas, makan pedas," kekehnya seperti tahu pelampiasanku jika kesal ya ke makanan pedas.
Aku diam, menikmati kacang rebus dan ubi bakar, ditemani segelas wedang ronde.
"Kadang memang manusia tidak bisa memilih." Arman rupanya mendengar pembicaraan aku dan ayah.
"Tapi, selanjutnya Tuhan suka ngasih kita pilihan, Dek."
"Maksudnya?"
Arman menunduk. Tersenyum, mengeluarkan bungkus rokoknya. "Mau menjalaninya atau enggak." Dia memasukkan lagi rokok tadi. "Dan apa pilihanmu?"
Aku diam. Mencerna. "Kok rokoknya dimasukkan lagi. Santai aja lagi, aku gak masalah."
"Masalah buatku kalau kamu sakit." Arman menatapku. "Apa pilihanmu?" ulangnya.
"Pilihanku?"
Deg.
.
.