Ditipu Menantu Benalu
Maaf, Pak Saya Lupa
Dering telepon itu semakin lama semakin nyaring. Nama yang terpampang di layar itu membuatku mengurut pelipis. Padahal niatku hari ini akan bolos kerja. Karena saat ini sudah sangat terlambat untuk berangkat ke kantor. Apa kata para karyawan lain jika tahu Dewi yang disiplin, kini terlambat datang ke kantor setelah lebih dekat dengan big bos.
Dengan perasaan tak menentu, aku yang masih menggunakan pakain formal ini mengangkat teleponnya yang terus berbunyi.
[Dewi! Dimana kamu? Apa kamu lupa saat ini ada acara besar yang harus kamu hadiri? Sudah jam berapa sekarang?]
Sesaat aku terdiam. Mencerna kata-kata pak Vino yang tanpa jeda. Sejurus kemudian aku menepuk jidat.
"Astaghfirullah, saya lupa, Pak. Maaf," ucap Dewi penuh penyesalan. Dengan handphone masih ditempelkan pada telinga, ia bangkit dan pamit pada orang tuanya melalui kode.
[Apa?! Acara sepenting ini kamu bisa lupa?] Suara Pak Vino menggelegar membuatku menjauhkan HP dari telinga ini agar tak berdenging.
"Maaf, Pak. Mendadak ada urusan keluarga. Ini saya akan berangkat. Sudah dulu ya, Pak. Assalamu'alaikum."
Kututup panggilannya secara sepihak. Kalau terus menerus bicara, kapan aku bisa berangkat, itu akan membuang lebih banyak waktu, kan? Namun sepertinya Pak Bos belum puas memarahiku. Baru beberapa meter motorku melaju, ia kembali menghubungku. Terpaksa kupinggirkan motor dan mematikan mesin.
"Ya, Pak. Ad--"
[Tidak sopan kami, ya. Saya belum selesai bicara, kenapa kamu tutup?] ucapnya memotong kalimatku.
Kenapa hari ini Pak Vino marah-marah seperti perempuan lagi PMS? Padahal selama ini dia selalu terlihat cool dan cuek. Ada apa sebenarnya?
[Dewi, kamu masih mendengarkan saya?]
"I--iya, Pak."
[Cepat datang ke tempat acara, semua sudah menunggumu]
Aku menghembuskan napas lelah. Ini tadi aku juga mau berangkat, Pak. Tapi kenapa telepon terus. Kapan berangkatnya kalau gitu? Ingin sekali kukatakan demikian. Namun hanya terelan di tenggorokan.
Setelah kukatakan jika aku sudah di jalan, dia memutuskan sambungan. Tanpa pikir panjang, aku langsung melakukan kembali motor matic kesayanganku.
Sampai di tempat acara, semua karyawan sudah duduk di barisan yang telah ditentukan. Aku cingak-celinguk mencari tempat kosong. Dan satu-satunya tempat yang kosong hanya di sebelah pak bos. Mati aku!
***
Selesai acara seluruh karyawan diajak makan- makan di rumah makan padang terkenal di kota ini. Acara berjalan sukses dan itu membuat pak bos bahagia.
"Wi, kamu beneran nggak ikut?" tanya Yola meyakinkan.
Sore ini aku sudah berjanji dengan Emi untuk membicarakan perkembangan kesehatan kakakku. Jadi aku memilih untuk tidak ikut bersama mereka. Kurasakan tatapan pak Vino menghunus ke arahku. Sepertinya dia masih sangat marah atas keterlambatannku tadi.
Dengan perlahan aku berjalan menjauhi mereka setelah sedikit membungkukkan badan kepada Pak Bos sebagai tanda hormat. Siapa sangka pria itu mengekor hingga ke parkiran.
"Kamu kenapa hari ini datang terlambat? Dan sekarang buru-buru mau pulang?"
Aku berjingkat mendengar pertanyaan itu. Lalu berbalik menghadap Pak Vino yang tiba-tiba seperti bos killer di mataku.
"Maaf, Pak, tadi sudah saya jelaskan, mendadak saya ada urusan keluarga yang sangat penting. Dan sekarang saya sudah ada janji temu dengan dokter," ucapku dengan nada rendah dan sopan.
"Sepenting apa sampai melupakan acara sebesar ini, hah?"
Duh, masih PMS kayaknya nih orang. Apa iya aku harus menjelaskan secara detil masalah keluargaku. Aku jadi serba salah ditatap sedemikian intens. Ingin rasanya aku berlari meninggalkan pria ini andai tak memikirkan aku bisa dipecatnya kapan saja.
"Ya, penting banget pokoknya, Pak. Dan nggak bisa diwakilkan. Maaf ya, Pak, saya buru-buru. Permisi."
Aku benar-benar meninggalkan pria ini karena sudah tak tahan dengan jiwa wartawannya. Kulirik dari spion, pria itu masih terpaku di sana dengan tatapan yang ... entah. Aku tak bisa mendeskripsikan.
Aku melajukan matic-ku dengan kecepatan sedang menuju klinik sahabatku. Lima belas menit akhirnya aku sampai. Di ruang tungu terlihat ada beberapa pasien yang sedang menunggu antrian. Sambil menunggu giliran, kumanfaatkan untuk shalat dhuhur dulu di mushalla yang ada di area klinik.
Saat aku kembali, tinggal dua pasien saja yang belum masuk. Biarlah aku masuk belakangan saja biar leluasa ngobrolnya.
"Eh, wi, kamu sudah datang, ayo masuk!" ajak Emi saat membuka pintu. Mungkin dia berpikir aku nggak datang sehingga ia hendak pulang.
Aku langsung berdiri dan masuk ke ruangannya. Kuedarkan mata ke sekeliling ruangan. Terlihat sangat nyaman. Tidak seperti ruang dokter praktek lainnya. Ini lebih terkesan seperti ruang konseling dibandingkan ruang dokter. Mungkin supaya pasiennya leluasa mengungkapkan masalahnya pada Emi.
"Gimana perkembangan kakakku, Em?" tanyaku tak sabaran. Aku bahkan tidak berbasa-basi dulu.
Emi menegakkan punggungnya dan menumpukan kedua lengan di meja.
"Perkembangannya sangat pesat. Dia sudah bisa mengutarakan semua masalahnya padaku." Perempuan dengan kerudung pashmina ini menghembuskan napas perlahan. "Dia sangat tertekan dengan hidupnya. Apa yang dia alami membuat jiwanya goncang. Tapi, sepertinya dia sudah mulai mengikhlaskan."
Aku mendengar penjelasannya tanpa menjeda.
"Kupikir dia perlu dibimbing ke jalan yang benar."
"Maksudmua?"
"Carikan ustdzah yang bisa memberikan penguatan terhadap keimanannya. Dekatkan dia dengan orang yang bisa memberi petunjuk jalan hidup yang benar agar dia bisa iklhas menjalani takdirnya. Sekaligus bisa menguatkan jiwanya dengan iman."
Aku mengangguk setuju. Memang kakakku ini sangat sulit dipahamkan soal agama. Sudah sering kuajak dia menghadiri majelis-majelis ilmu yang membahas agama. Namun dia selalu menolak. Bahkan untuk shalat lima waktu saja dia sering nggak lengkap.
Padahal sebagai muslim, Allah sudah memberikan begitu banyak petunjuk. Jika dijalankan dengan benar niat ikhlas, pasti tidak akan tersesat di dunia ini. Termasuk Masalah pernikahan seperti yang dialami kakakku, sudah diatur sebenarnya dalam Islam.
Karena akibat dari pernikahan akan menghasilkan turunan hukum yang lainnya. Seperti hukum pengasuhan anak, hukum perwalian, dan hukum mawaris. Jika pernikahan itu dilaksankan dengan benar sesuai aturan Islam, masalahnya nggak akan serumit yang dialami Mbak Citra saat ini. Karena jelas nasab anaknya.
Cukup lama aku ngobrol dengan Emi, hingga tak terasa sudah jam 14.30. aku segera pulang setelah menyelesaikan konsultasi ini.
"Hati-hati ya. Jangan lupa pesanku tadi, coba dekatkan dia dengan Allah. Agar hatinya tenang."
Kulempar senyum terbaik untuk sahabat terbaikku ini. Lalu berpelukan sejenak dan pulang.
Jalanan cukup lengang, sehingga aku bisa melajukan kecepatan kendaraan sedikit di atas rata-rata. Tak butuh waktu lama, sepuluh menit aku sudah nyampai rumah. Karena kebetulan jarak klinik dengan rumahku cukup dekat.
Kuparkir kendaraan di tempat biasa aku memarkirkannya. Rupanya ada kendaraan lain yang tidak ku kenal parkir di halaman rumahku. Siapa tamu yang berkunjung saat ini? Aku belum pernah melihat kendaraan itu.
Saat langkahku mencapai teras, terdengar riuh percakapan beberapa orang.
"Assalamu'alaikum."
Kompak semua menjawab salamku dan semua mata tertuju padaku.
"Nah, ini dia istriku," ucap Mas Agus memperkenaljan diriku. Aku mengangguk dan duduk di sebelah Mas Agus. Di meja sudah tersaji minuman dan makanan ringan. Jadi aku tak perlu membuatkan lagi.
Mas Agus mengenalkan mereka sebagai teman satu pengajiannya. Kebetulan yang menguntungkan. Akhirnya kuceritakan niatku untuk meminta bantuan pada perempuan yang ada di hadapanku. Kebetulan mereka datang berpasangan.
Dengan senang hati dia mau membantu. Kami bercakap-cakap dengan seru hingga akhirnya sepakat untuk janji temu di lain hari.