Ditipu Menantu Benalu
Pengeroyokan
"Mas, itu kan--?"
"Iya, tapi nggak mungkin. Nggak mungkin dia," ucap Mas Agus seraya menggeleng tak percaya.
"Bapak dan Ibu kenal pemilik benda ini?" Polisi yang membawanya bertanya penuh selidik. Dia menatap kami bergantian.
"Ya," jawab kami kompak.
Benda itu ditemukan di tempat kejadian. Tapi mungkin saja sebelumnya pemilik benda itu satu mobil dengan suamiku dan terjatuh di dalam mobil. Sehingga kami nggak berani menuduhnya sebelum terbukti. Lagipula dia orang yang baik dan amanah selama ini. Todak mungkin dia tega melakukannya.
"Benda itu milik salah satu karyawan kepercayaan saya, Pak."
"Bapak yakin?"
"Ya. Benda itu selalu dipakai setiap hari."
"Apa Bapak melihatnya saat pengeroyokan itu? Maksudnya ... apa dia ada diantara para perampok itu?"
Mas Agus menjelaskan bahwa pelakunya memakai penutup wajah. Hanya kedua matanya saja yang terlihat. Sehingga dia tak mengenalinya. Namun dari penjelasannya bahwa pemilik benda itu sudah dua hari izin pulang kampung, maka polisi mencurigainya.
Setelah mengorek beberapa informasi dari Mas Agus, petugas kepolisian itu pamit untuk melanjutkan penyelidikan. Dan dia berjanji akan segera mengabari jika ada perkembangan terbaru.
***
Setelah tiga hari menjalani perawatan di rumah sakit, dokter sudah mengizinkan pulang. Selanjutnya rawat jalan saja.
Hingga hari ini belum ada kabar terbaru dari kepolisian. Mas Agus juga belum bisa masuk kerja seperti biasa. Semua urusan pengiriman ikan diserahkan pada tangan kanannya. Ia hanya memantau perkembangannya lewat HP.
Setelah menyiapkan semua keperluan Mas Agus selama kutinggal kerja, aku bersiap untuk berangkat. Sudah tiga hari aku izin karena menunggui suami di rumah sakit. Dan hari ini aku harus berangkat. Izin cutiku sudah habis dan Mas Agus juga meridloinya.
"Dewi berangkat dulu ya, Mas," ucapku setelah mencium punggung tangannya. Pria itu mengangguk dan membiarkanku berangkat sendiri.
Namun sebelum kaki ini sampai ke garasi, sebuah panggilan telepon menghentikanku. Kulihat nama yang tertera di sana, ternyata Emak. Sudah tiga hari semenjak Mas Agus dirawat, aku memang tidak mengunjunginya.
Setelah menjawab salam darinya, aku mendengarkan saja apa yang dikatakan Emak sambil terus berjalan menuju garasi. Waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 saat ini, dan aku harus bergegas supaya tidak terlambat.
"Apa, Mak?"
[Tisna datang ke rumah]
"Sepagi ini? Mau apa lagi dia, Mak?"
Aku mulai geram. Rupanya laki-laki itu masih belum menyerah. Masih saja mengganggu keluargaku. Apa lagi yang dia lakukan sekarang.
[Dia menuntut hak asuh anak. Dia datang sama KPAI]
"Apa?!"
Aku segera mengeluarkan motor matic-ku dan pergi ke rumah Emak. Niatku untuk ke kantor akhirnya kubatalkan. Biarkan saja kalau pak bos marah. Paling nanti dapat SP. Urusan ini lebih penting dari apapun. Kalau aku nggak datang, bisa gawat. Karena Emak dan Bapak tidak akan bisa menghadapi mereka.
Sementara Mbak Citra kondisinya masih labil. Kupacu kendaraan ini lebih cepat lagi. Untung jalanan tidak terlalu ramai. Sehingga aku bisa melajukan motor ini dengan kecepatan di atas rata-rata.
Tak butuh waktu lama, jarak 3 km hanya kutempuh dalam waktu 5 menit. Aku nggak mau terlambat sampai rumah Emak. Dengan tergesa, kuparkir motor dan segera masuk.
Semua yang ada di sana menoleh ke arahku. Kulihat seringai tipis di bibir Mas Tisna. Mungkin kali ini ia merasa akan menang. Dengan membawa orang-orang itu, ia merasa di atas angin sekarang. Baik, mari kita lihat, siapa yang akan memenangkan pertarungan ini.
Kedua orang yang mengaku dari KPAI itu menatapku lurus. Ia mengatakan maksud kedatangannya ke sini. Menjelaskan beberapa hal terkait hak pengasuhan anak dan perlindungan terhadap anak. Ternyata Mas Tisna memberikan informasi yang salah pada kedua orang ini.
Mereka bilang, Mbak Citra dan kedua anaknya berada dalam tekanan keluarga, dan merasa berhak untuk membebaskannya.
Aku juga tak buru-buru menyanggah. Kudengarkan dulu ucapan mereka hingga selesai. Aku perlu menelaah dulu sebelum mengambil keputusan. Salah-salah aku justru yang masuk penjara karena dianggap melanggar HAM.
"Begini, bapak-bapak. Kalau menurut hukum di Indonesia, pernikahan yang dilakukan pada saat perempuan masih berstatus istri orang sah tidak?" Sengaja kulontarkan pertanyaan itu supaya kedua orang ini mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya.
"Tentu saja tidak sah, Bu. Karena di negeri ini tidak membolehkan poliandri disamping secara agama juga dilarang."
Laki-laki berkemeja putih itu menjawab dengan ekspresi bingung. Mungkin berpikir apa yang kutanyakan tidak nyambung dengan pembahasan ini.
"Berarti kalau kasus itu terjadi, dan akhirnya perempuan itu meninggalkan suaminya dalam keadaan belum ditalak dan masih berstatus istri, kemudian dia menikah lagi dengan pria lain sampai lahir dua anak, statusnya gimana, pak?"
"Wah, ini sih sudah menyalahi hukum, bu. Secara pernikahannya sudah nggak sah, jadi anaknya berstatus anak di luar nikah. Berarti dia menjadi anak ibu. Baik secara hukum negara atau hukum agama."
Aku tersenyum menang sambil melirik Mas Tisna yang salah tingkah. Sepertinya ia tidak menyangka jika akhirnya justru berbalik ke dirinya sendiri.
"Berarti untuk hak asuh dan lainnya tetap di pihak ibu ya, Pak?"
"Ya, tentu saja. Karena dia anak ibu."
Pria itu menjawab dengan mantap. Lalu menjelaskan beberapa hal terkait hak anak atas orang tuanya. Namun lebih banyak membahas hak anak diluar nikah.
Kudengarkan penjelasan bapak-bapak ini dengan saksama. Sementar Mas Tisna tidak menyela sedikit pun. Mungkin ia sudah menyadari kesalahannya atau sedang mengumpulkan alibi lain untuk memaksa menyerahkan kedua anaknya.
"Satu lagi pertanyaan saya, Pak." Pria itu mengangguk seraya menyilahkan aku untuk bertanya lagi. "Apakah ayah biologisnya bisa menuntut hak asuh, Pak?"
Mas Tisna memperbaiki posisi duduknya. Wajahnya terlihat gelisah. Ia sepertinya sedang dilema. Sekali lagi aku tersenyum puas memandang pria itu.
"Tidak bisa. Kecuali jika anak dalam pernikahan sah dan sudah tidak dalam pengasuhan ibu atau diketahui ibunya tidak sanggup untuk mengasuh dengan berbagai alasan. Seperti hilang akal atau melakukan kekerasan pada anaknya."
Aku bernapas lega. Berarti sudah nggak ada alasan lagi bagi pria itu untuk mengambil anak-anak Mbak Citra. Dia tidak memiliki bukti apa pun untuk mengambilnya.
"Terimakasih atas penjelasannya, Pak. Berarti sudah tidak ada lagi yang perlu dipermasalahkan. Apa yang saya tanyakan tadi semua adalah fakta yang terjadi antara Mas Tisna, clien Bapak dan Mbak Citra kakak saya."
Kedua pria itu saling berpandangan. Lalu menanyakan apa yang kutanyakan tadi kepada Mas Tisna. Ia sudah tak bisa lagi mengelak. Semua sudah terbukti benar. Kecuali Mas Tisna memiliki hasil tes DNA yang menunjukkan hasilnya dia benar-benar ayah biologis anak-anak Mbak Citra. Namun itu hanya sebatas pengakuan dan tidak memiliki hak asuh atasnya.
Jika dia bersedia, maka boleh untuk memberikan hak lain seperti pemberian nafkah dan waris. Tapi tetap tidak bisa menjadi wali nikah. Karena secara agama statusnya anak di luar nikah. Dan anak di luar nikah bernasab ke ibu.
Mas Tisna tampak memendam kekesalan padaku. Usahanya ternyata tak membuahkan hasil. Justru dia yang malu terhadap dua petugas ini. Sekali lagi aku mengucapkan banyak terima kasih pada mereka sebelum keduanya pergi.
Mas Tisna kembali mengancamku sebelum pergi. "Awas aja kamu, ya. Aku belum menyerah! Ingat itu, Dewi!" ucapnya, lalu pergi.
Emak langsung menghambur ke pelukanku. Air matanya berlinang karena haru. Sementara Mbak Citra tidak menampakkan diri sama sekali. Entah dia nggak tahu kedatangan Mas Tisna atau dilarang keluar oleh Emak.
Kujatuhkan bobot tubuhku ke sofa, lalu memejamkan mata. Sejenak ingin kulupakan semua masalah Mbak Citra yang sudah menguras pikiran selama ini. Namun tiba-tiba HP-ku berdering nyaring.