Ditipu Menantu Benalu
Tidak Tahu Diri
Aku dan mas Agus terpaksa ke rumah emak malam-malam. Kami mengendari motor karena jarak rumah kami hanya sekitar 3 km. Sesampainya di rumah emak, mas Tisna dan mbak Citra terlihat duduk-duduk di teras sambil makan martabak.
Dadaku bergemuruh melihat wajah ceria mereka yang menikmati makanan tanpa beban. Saking asiknya, mereka sampai tak menyadari kedatangan kami.
Mas Agus duduk di hadapan mereka tanpa diminta. Tentu saja kehadiran kami yang tiba-tiba membuat sepasang suami-istri ini memucat. Mungkin dia tahu maksud kedatangan kami.
"De--Dewi? Sejak kapan kamu di sini?" ucap mbak Citra gelagapan. Tampak sekali ia gugup menghadapi kami.
"Enak, Mbak?" tanyaku tanpa menggubris pertanyaannya. Dia menghentikan kunyahannya dan menelan bulat-bulat makanan itu. Sementara mas Tisna mematung di tempat dengan mulut penuh oleh makanan.
"Selesaikan dulu makannya, Mas. Habis ini kita bicara," ucap mas Agus membuat mereka saling pandang. Aku tahu mereka ketakutan sekarang.
Sengaja kami tak masuk rumah, supaya orang tuaku tak tahu masalah ini. Aku duduk di samping mas Agus sambil memandang kedua pasangan ini yang sudah tak lahap lagi makannya. Mungkin rasanya berubah sehingga sulit bagi mereka menelannya.
"Mas Tisna pinjam uang dengan menjaminkan BPKB motor?" tanya suamiku to the point. Mas Tisna menyemburkan makanannya yang tinggal suapan terakhir. Idih, menjijikkan.
"Ng--nggak, kata siapa?" Huh, masih bisa mengelak rupanya. Kulirik mbak Citra dengan ekor mataku, duduknya tak tenang. Begitulah sikap orang yang bersalah. Tak mampu menyembunyikan kebohongan yang sudah diciptakan.
"Tolong ya, Mas besok dilunasi. Kami nggak mau diteror rentenir padahal kami nggak punya urusan sama mereka." Mas Agus begitu tenang mengatakan hal itu. Inilah salah satu hal yang membuatku kagum padanya. Meski dalam hati terbakar amarah, iya tak pernah meledak-ledak sepertiku. Namun justru pembawaannya itulah yang membuat lawan bicara segan.
"Tapi dari mana kami dapat uang sebanyak itu dalam waktu semalam?"
"Ya itu urusan, Mas lah. Pokoknya besok utang Itu harus lunas!" sambungku dengan ketus.
"Tolonglah, Dek. Kasih kamu dulu ya, nanti kalau sudah punya uang aku ganti," ucapnya enteng. Dia pikir kami gudang uang apa? Kalau saja nggak takut emak dengar, sudah pasti kukatakan dengan lantang kalau dia sudah membuat kesalahan besar. Dia menjaminkan mamaku. Dan itu membuatku semakin muak.
"Enak aja, siapa yang pinjam? Lagian buat sih, pinjam uang sebanyak itu? Mending kalau nggak melibatkan orang lain." Aku semakin tak bisa menyembunyikan emosiku. Tak ada lagi rasa hormat untuk iparku ini. Kelakuannya yang membuatku meradang, tak mampu menyembunyikan rasa kesal kepadanya. Biarkan saja dia tahu kesalahannya. Sudah dikasih makan sama bapak, masih mau merecoki hidupku.
"Wi, tolonglah ... masa kamu nggak kasihan sama saudara sendiri," ucap mbak Citra mengiba.
"Lah, kalian aja nggak kasihan sama aku. Kenapa aku harus kasihan sama kalian? Harusnya mikir dong, sebelum bertindak. Kalau nggak punya uang kerja, jangan mau enaknya aja. Emang dipikir utang nggak bayar?" Entah setan apa yang merasukiku hingga bisa bersuara selantang ini. Selama ini aku masih bisa bersikap lunak padanya. Karena bagaimanapun, mereka lebih tua. Namun hari ini ... rasa simpatiku pada mereka telah menguap tak bersisa.
Mas Agus mengelus punggungku untuk menenangkan. Untung saja rumah emak berada di pinggir, agak jauh dari tetangga. Sehingga suaraku yang menggelar tak bisa di dengar.
"Ada apa ini, kok teriak-teriak, Dewi, Agus, sejak kapan kalian kemari?" Suara emak membuat kami membeku.
"Cit, adekmu kok nggak disuruh masuk?"
"Alah, biasanya juga masuk sendiri, Mak. Kayak tamu agung aja!" ucap mbak Citra ketus. Kali ini dia dan suaminya selamat. Tapi aku nggak jamin, besok masih bisa berbaik hati lagi dengan suaminya yang tak tahu malu itu.
Mas Agus langsung bangkit dan mencium takzim tangan emak. Aku pun langsung mengikutinya.
"Emak belum tidur?" tanya mas Agus lembut. Kami berjalan menuju ruang tamu. Meninggalkan dua pasangan nggak jelas itu di luar.
"Belum, Le. Emak masih membuat lontong untuk jual gado-gado besok."
Aku menatap emak iba. Harusnya ia sudah pensiun berjualan. Menikmati masa tua bersama cucu-cucunya.
"Dewi kan sudah bilang, nggak usah jualan, Mak. Kok masih nekat?" ucapku lembut.
"Gimana to, Nduk? Kebutuhan di rumah ini banyak. Anak-anaknya Citra butuh jajan. Kasihan mereka nggak bisa beli jajan seperti teman-temannya."
"Itu kan urusan bapaknya, Mak. Emak tak perlu ikut repot ngurus mereka!"
"Opo Emak tega, Nduk. Tiap hari mereka merengek minta jajan. Ibu-bapaknya nggak punya uang. Biar saja, Nduk, Emak masih sanggup."
Aku menghela napas lelah. Sikap emak yang tak tegaan inilah yang dimanfaatkan menantunya itu. Benar kata pepatah, kasih sayang ibu sepanjang masa. Dan sekarang aku bisa melihat buktinya.
Seberapa pun banyaknya mbak Citra dan suami menyakiti hatinya, emak selalu memiliki samudra maaf yang luas. Bahkan tak pernah sekali pun kulihat emak marah atau berkata kasar pada mereka.
"Tapi mereka punya bapak, Mak. Harusnya bapaknya yang bertanggung jawab atas kebutuhan anak-anak. Bukan Emak!"
"Nduk, iparmu sedang diuji. Dia di-PHK dari kantornya. Dan sekarang ia tak punya pekerjaan, apa salahnya jika emak membantu?"
"Dia kan bisa cari kerja lagi, Mak?"
"Iya, tapi belum dapat."
Masyaa Allah, begitu lembutnya hati emak. Andai emak tahu apa yang dilakukan menantunya ini, apa masih bisa bersikap seperti ini? Tapi aku juga nggak sampai hati mengatakan yang sesungguhnya padanya. Penyakit jantung yang diderita perempuan yang memiliki kasih tak terbatas ini, membuatku takut untuk mengatakan yang sesungguhnya.
***
Pagi ini aku bersiap berangkat kerja. Mas Agus sudah berangkat ba'da subuh tadi. Katanya hari ini akan kirim ikan ke luar kota. Ya, suamiku memiliki usaha tambak ikan yang sudah cukup besar. Seminggu dua kali kirim ke luar kota. Sedangkan aku, bekerja di salah satu penerbitan sebagai editor.
Motor Scoopy merahku sudah melaju membelah jalanan beraspal. Aku harus datang tepat waktu karena ada janji dengan salah satu penulis yang bukunya akan diterbitkan di penerbitan kami.
Di lampu merah, aku melihat mbak Citra dan suaminya berada di sebuah angkot. Hei, apa itu? Apa mereka mau pergi? Kenapa anak-anaknya dibawa? Dan sepertinya mereka membawa dua koper. Oh, jadi mereka mau lari dari tanggung jawab?
Seketika pikiranku bimbang. Haruskah aku mengikuti mereka? Tapi bagaimana dengan janji temuku?