Ditipu Menantu Benalu
Penagih Utang
Kuhembuskan napas perlahan lalu kembali mendekat. Menatap mbak Citra yang emosi dengan tenang. Kuberikan senyum termanis, lalu berkata, "Mbak nggak malu bilang begitu?"
"Maksudmu?"
Aku kembali menarik napas. Emang susah ngomong sama orang yang otaknya penuh dengan uang. Nggak pernah bisa membedakan mana benar mana salah. Sebenarnya aku sudah jengah menghadapi kelakuan kakak satu-satunya ini.
"Mbak, suamimu itu kan sehat, kuat, punya ijazah, kenapa nggak mencari kerja saja daripada menyusahkan Emak sama Bapak terus. Kasihan kan, mereka sudah tua?"
"Sudahlah, Wi, kalau nggak mau minjemin ya udah. Nggak usah sok nasehatin. Mentang-mentang kaya, sok-sokan nasehatin segala. Takut amat nggak dikembaliin!"
Gigi-gigi perempuan yang usianya 4 tahun di atasku ini tampak gemelutuk. Tangannya mengepal dan matanya nyalang. Aku tahu ini tanda-tanda nggak beres. Sebelum emosinya menyembur laksana lahar Merapi, aku mundur selangkah berjaga-jaga kalau tangannya mengayun ke pipiku.
Semenjak bersuamikan mas Tisna, kakak semata wayangku ini berubah parangai. Dulu dia yang lembut dan penurut, berubah jadi sensi dan pemarah. Emak dan Bapak yang dulu selalu dihormati, kini tak lagi dihargai.
"Mau marah, Mbak? Marah aja kalau nggak malu sama mereka," ucapku sambil mengarahkan dagu ke kanan. Di sana sudah ada beberapa tetangga yang kumpul melihat kami. Tatapan mbak Citra mengikuti arah pandangku. Perlahan, otot-ototnya mengendur. Tangannya tak lagi melemas. Bibirnya berubah melengkung menjadi senyum.
Hebat. Hebat banget dia memainkan ekspresi. Begitu cepat berubah seperti artis yang sedang berlakon. Melihatnya mulai relax, aku menunduk kepada para penonton itu lalu melangkah pergi.
***
Sampai di rumah, dadaku rasanya mau pecah. Memikirkan nasib orang yang kusayangi tiap hari diperlakukan tidak baik membuat kepala berdenyut nyeri. Andai emak dan bapak mau diajak kerumah ini, aku nggak akan repot ikut memikirkan rumah tangga kakakku yang nggak sehat itu.
Kusandarkan kepala ke sofa dan memejamkan mata. Berharap semua hal tentang kakak perempuanku hilang dari ingatan. Terkadang aku berandai-andai, kalau saja mbak Citra mau menuruti omongan orang tua, pasti hidupnya nggak akan serumit ini. Dan aku bisa hidup tenang dengan keluarga kecilku.
Entah dari mana ia mendapat lelaki tak berguna seperti itu. Kerjaannya cuma nyusahin keluarga saja. Mirisnya, kakak yang dulu sangat kuhormati, bucin habis sama suaminya itu. Hingga tak lagi mampu melihat kenyataan bahwa dia telah diperbudak oleh lelaki itu.
"Kenapa, Dek? Kok kelihatan nggak semangat gitu?" ucap Mas Agus membuyarkan lamunanku. Ia duduk disamping kananku dan ikut meyandar di sofa. Tangan kirinya meraih kepala ini lalu menyandarkan di pundaknya yang lebar. Nyaman.
Kutarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
"Kasihan emak sama bapak, Mas."
"Soal mas Tisna lagi?"
Aku mengangguk. Tangan kanan mas Agus membelai kepalaku yang tertutup kerudung. Dia tak menjawab. Hanya memberikan sentuhan lembut untuk menenangkan.
Beberapa saat kami saling diam. Hanya suara napas kami yang terdengar berat. Aku tahu mas Agus juga sedang ikut berpikir. Selama ini dialah yang paling banyak menopang kehidupan orang tuaku. Dan kini, ia seakan enggan membantu lagi setelah tahu ada iparku yang tak tahu diri itu. Menurutnya, kami nggak wajib membantu mereka. Kubenarkan pemikirannya. Namun aku tetap tak sampai hati membiarkan ponakanku yang masih kecil-kecil merengek minta jajan.
Suara ketukan pintu membuat kami saling pandang. Seakan saling bertanya, siapa yang bertamu jam segini. Mas Agus bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki dengan sepatu mengkilat, celana hitam dan jaket hitam menyembul dari balik pintu.
Aku tetap memperhatikan interaksi dua orang laki-laki itu dari sini. Namun beberapa saat kemudian mas Agus menoleh dan memberi kode padaku untuk mendekat.
"Ada apa, Mas?"
"Benar kamu punya utang sama orang ini?" Aku membelalak. Utang? Kenal saja nggak, masa utang.
"Maaf, Mas, utang apa ya? Perasaan saya belum pernah ketemu sama Mas?" tanyaku dengan raut bingung. Aku memandang mas Agus yang juga menatapku penuh tanya.
"Ini benar dengan mbak Dewi, kan? Alamatnya benar ini?" tanya lelaki itu sambil menyodorkan catatan berisi nama dan alamat lengkapku. Sekali lahi mata ini membola. Melihat nama dan alamat yang tertera di sana. Kutelusuri huruf demi huruf yang berderet di buku catatan itu. Dada ini bergemuruh kala sebuah nama di depan namaku tercantum di sana. Mas Tisna. Jadi ini perbuatan dia?
"Maaf, Pak, apa mas Tisna yang utang?" Seketika mas Agus menatap wajahku bingung. Lalu beralih pada lelaki itu yang mengangguk mantap. Seketika darahku mendidih. Apalagi setelah melihat deretan angka itu. Nggak main-main, utang yang mengatasnamakan diriku cukup lumayan untuk ukuran bank keliling.
"Yang utang mas Tisna, kenapa saya yang dicari?" Aku sudah tak sanggup lagi untuk beramah tamah dengan tamu tak diundang ini. Emosiku meluap, karena namaku dibawa-bawa.
"Kata pak Tisna, kalau mau nagih, saya suruh ke sini. Katanya Bu dewi pasti ngasih. Di sini dia juga menggunakan jaminan BPKB motor atas nama Bu Dewi. Jadi ya, saya percaya saja. Apalagi, istrinya bilang kalau Bu Dewi adiknya." Lelaki itu mencoba untuk mengintip bagian dalam rumahku. "Bisa dipanggilkan mereka, Bu?"
"Mereka nggak tinggal di sini. Bapak salah alamat," ucapku lalu pergi meninggalkannya.