Ditipu Menantu Benalu
Hadiah Istimewa dari Big Bos
"Aduh bagaimana ini?"
Dalam kebimbangan, aku menatap Mas Agus. Berharap ia memberi kode apa yang harus kulakukan. Namun ternyata ia tak menghiraukanku. Ia lebih memilih menyibukkan diri dengan gawainya. Sementara HP-ku terus berdering. Ingin kuabaikan saja panggilan itu, tapi takut ada info penting.
Kutunggu dering ponselku berhenti. Beberapa detik akhinya senyap. Aku bernapas lega karena akhinya pak bos tak menelpon lagi. Kuletakkan benda pipih itu di atas nakas.
Kurebahkan diri ini di samping pria yang tiba-tiba cuek itu. Memejamkan mata agar hilang letih dan gelisah yang mendera. Otak ini rasanya sudah penuh memikirkan nasib kakakku. Dan kini ditambah lagi dengan hadiah dari pak bos yang membuat Mas Agus terlihat cemburu.
Wajar juga sebenarnya jika Mas Agus bersikap begitu. Sebagai suami, tentu dia merasa harga dirinya diinjak-injak ketika istri tercintanya mendapat hadiah mahal dari laki-laki lain. Meskipun itu dari atasan si istri.
Mata ini benar-benar sulit untuk dipejamkan. Otakku terus menerka-nerka ada apa di balik hadiah itu. Kemarin, saat acara perayaan keberhasilanku, ada beberapa karyawan juga yang naik jabatan. Seperti Pak Pramu misalnya. Namun sepertinya dia tidak mendapatkan hadiah istimewa dari pak bos kecuali piagam, tropi, dan medali.
Ingatanku melayang pada kejadian beberapa hari lalu. Mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan peristiwa yang pernah kulalui dengan pak bos. Nihil. Kami nggak punya kenangan apapun sebagai laki-laki dan perempuan. Karena memang aku selalu menjaga jarak dengan laki-laki, sekalipun itu rekan kerja. Fix. Ini murni hadiah.
Sebuah notifikasi chating membuatku terpaksa membuka mata. Kulirik pria di sebelahku masih asik dengan gawainya. Kuraih smart phone hadiah dari suami dan membukanya. Dadaku berdegup kencang melihat nama yang terpampang di sana.
From: Big Bos
[Bagaiman hadiahnya, suka?]
Rasanya aku ingin menenggelamkan diri ke laut. Pria itu, kenapa tiba-tiba jadi begitu perhatian padaku? Padahal jelas dia tahu aku sudah bersuami. Dan dia juga tahu aku sangat menjaga interaksi. Ah, mungkin aku saja yang ke-GR-an. Bisa jadi hadiah itu memang murni untuk ucapan terimakasih atas usahaku selama ini. Ya, pasti seperti itu.
Sekali lagi kulihat Mas Agus melalui ekor mataku. Dia tetap bergeming. Entah apa yang dilakukan dengan HP itu. Ingin sekali aku menggantikan benda itu agar bisa di pandangi terus. Ah, lama-lama otakku jadi konslet karena memikirkan hal-hal yang tak masuk akal.
Kuputuskan untuk tak menjawab chat itu. Besok saja pas ketemu, kukembalikan jam tangan mahal itu. Biar nggak ada salah paham diantara kami. Tanpa berpikir panjang, kutekan tanda kotak sampah pada layar. Namun belum sempat kupilih kata "hapus untuk saya", Mas Agus sudah merebutnya.
Pria itu bergeming. Matanya menatap nanar pesan singkat di aplikasi hijau itu. Lalu berdiri meninggalkan aku yang dilanda takut sendirian. Pria itu membuka pintu menuju balkon, dan melangkah keluar. Seketika udara dingin menyergap tubuh.
Dengan ragu-ragu, aku melangkah mendekati pria yang jarang marah itu. Kulingkarkan kedua tangan ini keperutnya yang rata. Kepala bersandar di punggungnya yang lebar. Hangat dan nyaman.
Kurasakan tubuhnya sedikit menegang. Kedua tangannya terkepal di samping tubuh. Beberapa saat aku terdiam dengan posisi seperti ini hingga kurasakan otot-otot tubuhnya mengendur. Setelahnya aku bergeser ke depan dan menenggelamkan kepala di dada bidangnya. Kurasakan kedua tangan kekar itu bergerak membalas pelukanku.
Senyumku mengembang dalam dekapannya.
"Maaf. Adek berniat akan mengembalikan hadiah itu besok. Rasanya nggak pantas menerimanya,” ucapku tanpa melepas pelukan.
"Mas tahu, Adek pasti bisa menentukan sikap. Jangan sampai salah langkah. Belajar dari kasus Mbak Citra. Jangan pernah jatuh pada lubang yang sama."
Ucapan itu terdengar sederhana. Namun rasanya seperti menampar jantungku. Ya, apa yang dikatakannya memang benar. Belum selesai masalah Mbak Citra, aku tak boleh mengulang kesalahan yang sama. Meski belum tentu itu benar. Setidaknya aku harus bisa mengantisipasi.
Perasaan suka terhadap lawan jenis, memang akan muncul seiring dengan interaksi yang terjadi. Kalau kata orang jawa bilang, witing tresno jalaran soko kulino. Ungkapan itu 90 persen benar.
Secara fitrah, manusia dibekali naluri dan akal oleh Allah disamping kebutuhan jasmani. Naluri ini akan muncul jika ada rangsangan dari luar. Misalnya naluri memepertahankan diri yang sering terlihat dalam keadaan marah, ingin eksis, dan semacamnya. Muncul karena ada pemicunya. Tidak mungkin seseorang tiba-tiba marah jika tidak ada sebabnya.
Begitupun dengan naluri jinsiyah atau sering disebut naluri berkasih sayang, muncul ketika ada pemicunya. Seorang laki-laki menyukai perempuan jika sering berinteraksi. Pasti ada faktor yang menyebabkan seseorang itu jadi suka. Entah karena kagum dengan kecantikannya, kecerdasannya, kelemah-lembutannya atau apapun. Dan semakin sering berinteraksi, maka perasaan itu semakin menjadi.
Itulah sebabnya Allah memberikan akal kepada manusia. Agar ketika perasaan suka terhadap lawan jenisnya bisa terkendali olehnya. Akalnya akan berpikir, apa dia harus menyalurkan perasaannya atau mengalihkannya. Tentu saja hal ini sudah diatur dalam Islam.
Supaya interaksi yang terjadi antara aku dan pak bos hanya sekadar hubungan kerja, maka aku harus bisa menjaga jarak. Tidak berinteraksi kecuali urusan pekerjaan saja. Dan hadiah itu, jika memang bentuk apresiasi perusahaan terhadap karyawannya, tidak masalah kuterima. Namun jika sudah melibatkan masalah pribadi, tentu aku akan menolaknya.
Bersyukur aku memiliki suami yang sabar dan selalu mengingatkan jika aku tergelincir. Dialah sosok yang selama ini membuatku tetap teguh dengan prinsipku.
***
Pukul delapan aku sudah siap di hotel tempat meeting. Rupanya aku datang lebih cepat dari yang lain. Lagi, aku sendirian di ruangan yang tidak terlalu luas ini. Untuk membunuh bosan, aku membuka email. Mengecek inbox dan membacanya.
"Kenapa chat saya tidak dibalas?" Suara seorang pria yang semalam membuatku tak bisa tidur, mengalihkan pandanganku dari gawai yang kupegang.
Sedikit berjingkat aku menatap pria itu lalu memindai seluruh penjuru ruangan. Nihil. Tak ada siapapun di sini kecuali dia.
Kujelaskan alasan aku tak membalas atau mengangkat teleponnya. Lelaki ini hanya diam sambil menunggu reaksiku selanjutnya. Karena tidak ada tanggapan, kusodorkan kotak kecil yang menjadi sumber masalah dalam rumah tanggaku.
Kedua netra lelaki yang memiliki jabatan lebih tinggi dariku itu memicing. Tatapannya menghunus tajam ke arah benda itu. Namun enggan menerima kotak kecil berisi jam tangan mewah yang dihadiahkan padaku kemarin.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa menerima hadiah ini. Terlalu berlebihan buat saya," ucapku lirih. Aku benar-benar dilanda ketakutan saat ini. Tubuhku sedikit gemetar saking takutnya aku padanya.
"Kamu tidak menghargai hadiah dari saya? Apa kamu tidak suka dengan modelnya? Ok, nanti kutukarkan kalau gitu." Lelaki yang biasanya irit bicara ini, tiba-tiba menjadi sedikit cerewet.
"Bu--bukan gitu, Pak. Tapi atas dasar apa Bapak memberi saya hadiah semahal ini?" ucapku terbata.
"Kamu yakin ingin tahu alasannya?"
Aku mengangguk cepat.