Ditipu Menantu Benalu

Puas Kamu, Wi?

"Rasakan ini!"

Mataku terus terpejam menunggu apa yang terjadi. Namun beberapa detik setelahnya tak kurasakan sakit. Bahkan suara benturan benda pecah pun tak terdengar. Apa aku sudah nggak bisa merasakan sakit lagi? 

Perlahan kubuka mata, pemandangan yang tertangkap oleh mata adalah Mas Agus yang sedang memiting Mas Tisna. Alhamdulillah. Ternyata Mas Agus bergerak cepat, sehingga benda itu nggak sampai membentur kepalaku. 

Setelah bicara sesuatu yang entah apa, laki-laki itu pergi sambil mengumpat. Kuhela napas panjang mengeluarkan semua emosi yang terpendam. Kulirik Mbak Citra masih sesenggukan dengan tatapan nanar ke arah menghilangnya Mas Tisna. 

Bapak dan Emak yang tak tahu apa-apa tentang video itu meminta penjelasan padaku. Kuceritakan semua yang kutahu pada mereka tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Ternasuk kenapa Mas Tisna memiliki banyak utang. 

Untuk sementara, kami bisa bernapas lega karena pria itu sudah kalah telak. Dalam artian, semua sikap buruknya selama ini, juga jati dirinya sudah terkuak. Meski kami tetap harus hati-hati mendengar ancamannya tadi. 

Bukan tak mungkin ia akan nekat mengambil Echa dan Eki, mengingat ia sangat menginginkan keturunan. Disaat kami sedang berunding tentang masalah ini, terdengar suara benda pecah dari arah kamar Mbak Citra. Astaghfirullah, sejak kapan perempuan itu menghilang dari sini? Bukankah tadi dia masih duduk di samping Emak? 

Sekali lagi suara benda pecah terdengar nyaring dari tempat kami berada. Tanpa aba-aba, aku langsung melesat menuju sumber suara. Diikuti ketiga orang yang ada di ruangan ini. Begitu sampai di depan pintu, sebuah benda melayang tepat di kepalaku. 

"Aduh!" Untung cuma botol plastik wadah bedak si Eki, jadi kepala ini nggak sampai bocor. Mataku membola melihat kekacauan di kamar ini. Mbak Citra seperti orang kerasukan. Semua benda-benda yang bisa di raihnya dilempar sembarangan. Menyisakan pecahan-pecahan berserak di lantai. Emak segera berlari menyongsong kedua cucunya saat tiba-tiba dua balita itu menangis tak jauh dari kami. Mungkin kaget mendengar suara gaduh dari dalam kamarnya. 

"Puas kamu, Wi? Puas sekarang? Kamu seneng kan, melihatku menderita begini? Kamu senang kan, Mas Tisna meninggalkanku sekarang?" 

Mbak Citra berteriak sambil berjalan mendekatiku. Dengan sigap Mas Agus berdiri menjadi tameng di depanku. Tinggi tubuhnya yang menjulang menutupi pandanganku, sehingga tak tahu apa yang tengah dilakukan oleh perempuan berstatus kakak itu. 

Mas Agus mencoba menghalau Mbak Citra yang mulai bringas. Tangannya mencoba menggapaiku, namun selalu gagal. Mas Agus membalikkan badan dan mendekapku erat suapay tak bisa di cakar olehnya. Entah apa yang membuat Mbak Citra begitu liar. Padahal sebelumnya tak pernah begini. 

"Ayo kita keluar saja, Dek. Sepertinya Mbakmu sedang depresi." Mas Agus membawaku keluar dan menutup pintu dari luar. Kami berdiri saling berpelukan di depan pintu kamar Mbak Citra. 

Beberapa menit kemudian kamar itu sunyi. Tak ada suara apa pun. Sepertinya dia sudah lelah melampiaskan emosinya. Saat kami hendak meninggalkan tempat itu, Mbak Citra tersengar meraung-raung di dalam sana. Ia menangis sejadi-jadinya. Mungkin saat ini batinnya sangat tertekan. Laki-laki yang begitu dicintainya ternyata seorang penipu. 

Barangkali dia masih bisa menerima perlakuan kasarnya kemarin. Namun setelah tahu fakta bahwa orang yang menjadi bapak biolois anak-anaknya sudah memiliki istri sebelumnya yang masih sah hingga saat ini, batinnya hancur. Bagaimana tidak, dia rela mengorbankan pernikahan pertamanya dan menjadi istri siri, nyatanya suaminya sudah memiliki istri. Ditambah lagi fakta bahwa pernikahan siri itu pun tidak sah. 

Mungkin jika itu terjadi padaku, aku pun tak akan sanggup menjalaninya. Dan perasaan kecewa dan sakit hati yang menumpuk itulah pemicu kemarahannya sekarang. 

Beginilah jadinya jika seseorang menjalani kehidupan hanya berdasarkan hawa nafsu. Tak berpikir realita dan efek yang akan ditimbulkannya. Ibarat jatuh tertimpa tangga, dan masih tertimpa gedung pula. Sakitnya bertubi-tubi. 

Setelah ini, sepertinya aku perlu membawanya ke psikiater. Dia butuh seorang psikolog untuk mengobati hatinya. Setidaknya ada teman curhat yang bisa memberinya solusi sesuai syariat agama. 

Dengan tangan masih sedikit gemetar karena takut dengan reaksi brutal Mbak Citra, aku mencari group alumni. Lalu memencet salah satu nama temanku yang berprofesi sebagai psikolog. Aku mempercayakan terapi kakakku padanya karena aku tahu solusi yang ditawarkan atas semua masalah selalu berdasarkan pemahaman Islam. 

Setelah ketemu nomor kontaknya, kukirim chat untuk melakukan janji temu dengannya. Maklum, pasiennya sangat banyak. Kalau tidak membuat janji dulu, khawatir tak bisa bertemu dengannya. 

 

***

Udara dingin menusuk kulit hingga ke tulang. Sisa-sisa hujan semalam masih meninggalkan aroma khas di luar sana. Titik-titik air di kaca jendela belum mengering, berpendar indah diterpa cahaya matahari yang mulai memancar ke bumi. 

Mas Agus sudah bersiap dengan kopernya. Sedangkan di sebalahnya terdapat koperku juga. Ya, hari ini adalah hari senin. Hari dimana aku dan suami akan ke Malang dengan tujuan dan agenda yang berbeda. Namun Mas Agus sudah berjanji, akan menjemputku begitu acaraku selesai. 

Pukul 07.00 kami berangkat. Mas Agus mengantarku ke kantor terlebih dahulu sebelum berangkat. Awalnya aku akan berangkat bareng teman-teman sekantor. Namun karena Pak Bos mengizinkan aku berangkat bersama suami, akhinya aku nggak jadi bareng.

Sengaja suamiku membawa mobil sendiri supaya mudah mengantar jemputku selama di Malang. Semalam Pak Bos bilang acaranya diperpanjang menjadi seminggu di Malang. Mau nggak mau Mas Agus harus mencari hotel yang dekat dengan hotel tempat acaraku. Dan dia juga terpakasa ikut menginap selama seminggu. 

Begitulah suamiku. Ia tak akan membiarkan istrinya menginap di hotel tanpanya. Meski ada karyawan lain yang juga menginap di sana, tetap saja dia tak akan mengizinkan. Menurutnya, menginap di hotel bagi perempuan itu kurang baik. Karena di sana adalah tempat umum. Semua orang bebas keluar masuk. 

Sementara bagi muslimah, harus menjaga diri dan menghindari hal-hal yang bersifat subhat. Mungkin ini akan menjadi perdebatan di kalangan muim sendiri. Namun suamiku memegang prinsip seperti itu. 

Bukan tanpa alasan. Karena perempuan dalam Islam dilarang bepergian (safar) selama dua puluh empat jam tanpa di dampingi mahramnya. Dan acara yang kami lakukan di Malang itu memakan waktu lebih dari 24 jam. Bahkan akan menginap selama seminggu. 

Apabila perempuan tersebut masih berstatus “sedang bersafar” meskipun dia sedang tinggal di hotel, penginapan, rumah orang lain dan semisalnya, maka dia harus ditemani oleh mahram atau suaminya. Jika tidak maka dia telah melakukan hal yang terlarang sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah. 

“Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bersafar sejauh perjalanan sehari semalam tanpa bersama mahramnya.”

Berbeda halnya jika perempuan tersebut diantar atau dijemput oleh mahramnya di suatu tempat yang wanita tersebut akan bermukim (tinggal) di sana, maka hal tersebut tidak mengapa, selama bisa terjaga keamanannya. Sedangkan dalam hal ini, aku tidak akan bermukim di Malang. Melainkan hanya beberapa hari saja dan menginap di hotel. 

Sesampainya di Malang, kami beristirahat terlebih dahulu melepas lelah. Besok pagi baru mulai agenda. 

Badan ini rasanya lelah sekali. Menempuh perjalanan yang cukup jauh melalui perjalanan darat memang cukup melelahkan. Mas Agus sudah tenggelam dalam lautan mimpi. Sementara aku masih berkutat dengan berkas-berkas yang akan digunakan untuk acara meeting besok. 

Sebuah notifikasi dari gawaiku mengalihkan fokus ini. Tertera di sana nama Pak Bos. Segera kubuka chat itu karena khawatir ada hal yang penting. 

From: Big Bos

[Siapkan diri untuk menerima kejutan besok] 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!