Ditipu Menantu Benalu

Izinkan Kami Menikah

"Bapak, izinkan kami menikah," ucap pria itu tiba-tiba membuat kami semua menganga tak percaya. Gampang sekali pria itu bilang izin menikab setelah apa yang dia lakukan selama ini. 

"Sebenarnya, saya nggak setuju hubungan kalian berlanjut. Dari awal kalian sudah nggak menganggap Bapak ada. Lalu untuk apa sekarang minta izin setelah apa yang kalaian perbuat?" Bapak menatap kedua pasangan itu bergantian dengan tatapan terluka. Aku yakin Bapak nggak setuju dengan hubungan mereka. 

Pasti sebagai orang tua, Bapak merasa tak ada artinya di mata Mbak Citra. Kugenggam lagi tangan kasar yang selalu digunakan untuk mencari nafkah itu. Untuk menguatkanya. Mengatakan bahwa ada aku, anaknya juga yang selalu menghormatinya dan menganggapnya. 

"Citra, bagaimana, apa kamu bersedia kita mulai dari awal lagi? Kasihan anak-anak kita kalau kita berpisah. Demi mereka, Cit," bujuk Pria itu pada Mbak Citra. 

Dalam hati aku terus berdoa agar Allah memberikan petunjuk pada kakak semata wayangku ini. Supaya dia tidak terjatuh pada lubang yang sama sekali lagi. 

Mbak Citra mendongak. Tatapannya bergantian menatap kami satu persatu. Kukirim sinyal lewat pancaran mataku agar dia menolak, tapi sepertinya dia nggak bisa membaca sinyal dariku. Karena setelahnya dia mengangguk. 

Dadaku semakin bergemuruh tatkala orang yang kuperjuangkan justru memilih terjerembab pada lembah derita. Menerima Mas Tisna lagi, sama saja merelakan hati dan raganya untuk terus disiksa. Cinta model apa yang rela menjadi budak seperti ini. Astaghfirullah. 

"Mbak Citra yakin mau kembali padanya setelah apa yang dia lakukan selama ini?" tanyaku untuk menggoyahkan keputusannya. 

"Ya, aku yakin. Anak-anak butuh sosok orang tua yang lengkap. Dan aku yakin Mas Tisna pasti akan berubah. Ya kan, Mas?" 

"Ya. Pasti. Tentu saja aku akan berubah. Kita akan membangun rumah tangga bersama. Memulai dari nol lagi. Aku yakin, kedepan hidup kita akan lebih tenteram." Pria itu tersenyum puas mendengar jawaban Mbak Citra. Seolah ia telah memenangkan pertarungan yang maha dahsyat. 

"Apa Mas Tisna nggak ada niat untuk menyampaikan sesuatu sebelum memutuskan?" cecarku lagi.

Aku tak ingin kali ini Mbak Citra salah langkah lagi. Dia perlu disadarkan dari khayalan panjangnya. Butuh orang-orang kuat untuk membuatnya tetap berpikir logis di saat seluruh ruang di hatinya dipenuhi oleh cinta buta. 

"Nggak ada. Aku cuma butuh restu keluarga ini, lalu kami menikah secara resmi. Itu saja sudah cukup," ucapnya percaya diri. Dia pikir semudah itu menyelesaikan urusan ini? 

"Apa Mas Tisna nggak ingin menyampaikan pada kami tentang istri Mas yang obsesif itu?" tanyaku membuat wajah pria itu berubah pucat. Semua orang menatapku bingung kecuali Mas Agus tentunya. Seolah bertanya apa maksud ucapanku barusan. Aku hanya tersenyum menanggapi itu semua. 

"A--apa maksudmu? Jangan mengada-ada!" ucapnya gelagapan. Mas Agus tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Dalam hati aku tertawa melihat wajah ketakutan pria itu. 

"Maksudku, apa Mas Tisna nggak mau bilang kalau Mas Tisna punya istri sah bernama Lisa anak juragan Narko yang pernah meneror kami karena utang-utang yang tidak pernah kami lakukan?" ucapku gamblang. Sengaja aku menyebutkan identitas istrinya agar Emak dan Bapak tahu siapa pria ini sebenarnya. 

Lagi. Pria itu tampak gugup. Bola matanya berputar-putar mencari alasan. Mulutnya membuka dan menutup seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi nggak ada sepatah kata pun yang keluar. 

Mbak Citra yang dari tadi hanya menunggu perdebatan kami, kini memicing sempurna. Dadanya naik turun menahan semosi. Entah dia marah pada pria yang dicintainya karena merasa dibohongi, atau marah padaku karena merasa aku yang membohonginya. 

"Ka--kamu jangan fitnah, ya. Aku nggak punya istri lain. Istriku ya cuma Citra!" 

Kubiarkan dia bicara sesukanya untuk membela diri. Semakin dia nembantah ucapanku, semakin terlihat dia sangat tersudutkan sekarang. Dia sudah tak punya jurus lagi untuk mendebatku, sebenarnya. Namun dia tak menyerah. 

"Oh, jadi perempuan yang kutemui di acara pernikahan Kinara kemarin itu cuma boneka? Pengakuan perempuan itu juga fitnah? Padahal sejak datang, Mas Tisna begitu mesra menggandengnya."

"Cukup! Kamu jangan mempengaruhi Citra lagi. Semua yang kamu ucapkan itu fitnah!" Nada bicaranya sudah mulai meninggi. Dia kalang kabut menutupi fakta yang sudah kuketahui. "Citra, kamu jangan percaya ucapannya. Dia itu fitnah. Kamu tahu sendiri kan, adikmu itu nggak suka sama hubungan kita sejak awal. Ini pasti hanya akal-akalannya saja supaya kamu nggak kembali padaku. Percayalah!" Pria itu menjatuhkan dirinya di bawah Citra. Bertumpu pada kedua lutut dan menggenggam tangan Mbak Citra. 

Tatapan mereka beradu. Kami seolah sedang menyaksikan live drama di sini. Menanti jawaban si wanita dengan harap-harap cemas. Kurapalkan doa tiada henti dalam hati. 

"Buktikan kalau ucapan Dewi salah," lirih Mbak Citra. Pria itu mengangguk mantap. Lalu menggaruk kepalanya yang kuyakin nggak gatal. 

"Gimana aku membuktikannya?" tanya pria itu akhirnya. 

"Bawa wanita itu kemari, aku ingin dengar sendiri dari mulutnya. Apa benar kalian nggak ada hubungan."

"Wanita yang mana?" 

"Yang dikatakan Dewi." 

Pria itu menjambak rambutnya frustasi. Mungkin pikirannya buntu sekarang. Karena kuyakin dia nggak akan berani membawa perempuan itu. Sedang perempuan yang berstatus istri sah itu sangat percaya suaminya ini setia. Bisa pecah perang kalau sampai mereka dipertemukan. 

Untuk sesaat aku diam. Menunggu reaksi pria itu selanjutnya. Terlihat sekali ia sedang berpikir keras. Sementara perempuan yang sedang diperjuangkan ini masih setia menunggu jawabannya. 

"Gimana, Mas bisa membuktikan?" ucapku memprovokasi. Pria itu melotot padaku seolah ingin mengintimidasi. Sayangnya aku tidak takut sama sekali. Alih-alih terancam, aku justru sibuk menahan tawa agar tidak pecah sekarang. 

"Cit, percayalah. Mas nggak punya istri lain. Semua yang dikatakan adikmu itu tidak benar, ayolah. Percaya padaku, ya?" mohon pria itu. Namun sepertinya akal sehat Mbak Citra kali ini cukup bisa diandalkan. Dia nggak mudah luluh dengan rayuan maut pria di hadapannya. God job, Dewi! Gumamku memuji diri sendiri.

"Dewi!" Mbak Citra beralih menatapku. "Apa kamu bisa membuktikan ucapanmu itu?" 

Aku tersenyum. Inilah saat-saat yang paling kutunggu. Dengan santai, aku berdiri menuju TV yang baru saja kubelikan beberapa hari lalu. Ya, karena TV yang sebelumnya raib entah kemana. Kutekan tombol power, lalu menghubungkan dengan bloototh gawaiku. TV ini sudah dilengkapi dengan android yang bisa digunakan untuk membuka HP di sana. Tinggal menghubungkan dengan bloototh dan wifi, maka bisa terhubung. 

Setelah mengutak-atik sebentar, maka muncullah video rekaman Mas Tisna di acara pernikahan kemarin. Semua mata tertuju pada layar berukuran 42 inchi itu. 

Beberapa menit kemudian, gambar berganti ke rekaman video di mall, saat Mas Tisna bertemu dengan juragan Narko. Kuperhatikan pria itu membelalak melihatnya. Mungkin tak percaya aku bisa mendapatkan rekaman momen itu. 

Kulihat Mbak Citra sudah tak mampu menahan tangisnya. Tangannya mencakar-cakar wajah pria itu yang masih terpaku di lantai tepat di bawah tempat di mana Mbak Citra duduk. Rambut ikalnya tak luput dari sasaran jambak mbak Citra. Dalam hati aku bersorak menang. 

"Masih bilang aku fitnah, Mas?" 

"Ka--kamu, benar-benar keterlaluan, wi! Kamu tak tahu sedang berhadapan sama siapa, hah? Kamu pikir kamu menang sudah bisa meyakinkan kakakmu? Tunggu saja, aku pasti akan kembali mengambil anak-anakku!" 

Pria itu bangkit dan hendak memukulku. Sebuah vas bunga yang terletak di atas meja sudah diserobotnya dan mengayun ke arahku. Kupejamkan mata dan menghalangi kepala dengan kedua tangan ini. 

 

"Rasakan ini!"

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!