Ditipu Menantu Benalu

Harus dengan Cara Apa

Astaghfirullahal'adziim. Harus dengan cara apa lagi aku mengingatnya? Kenapa ada orang yang berhati batu seperti ini? Tolong beri hidayah pada kakakku ini, Yaa Allah. 

"Mbak, kalau faktanya mbak menikah sebelum ditalak Mas Adi, berarti pernikahanmu dengan Mas Tisna itu bathil, Mbak. Nggak sah!" Aku mencoba menekan emosi agar tak meledak di sini. Apalagi sekarang sudah malam, nggak enak kalau sampai anak-anak bangun mendengar keributan ini. 

"Tau apa kamu soal sah atau tidak sah, hah? Baru belajar agama dikit aja sudah sok-sokan nasehatin. Bilang aja kalau kamu itu emang nggak suka sama suamiku, kan?" Kupikir setelah diperlakukan buruk oleh pria bernama Tisna itu, Mbak Citra akan berubah lunak dan menerima nasehat kebenaran. Nyatanya, tidak. Mata hatinya telah tertutup oleh hawa nafsu. 

"Astaghfirullahal'adziim. Istighfar, Mbak. Jangan sombong jadi orang. Mbak nggak takut azab Allah?" Malam ini, niatku untuk bicara baik-baik dengan Mbak Citra gagal total. Perempuan ini selalu ngegas kalau ngomong. Ia juga sudah menutup diri dari kebenaran. Seberapa pun kerasnya aku berusaha mengingatkan, selalu mental. Ibarat gelas, sudah penuh dengan arak. Maka ketika dituang air, nggak akan bisa masuk lagi. 

Aku memilih diam. Setidaknya untuk saat ini sampai mata hatinya terbuka kembali. Sepertinya sangat sulit jika argumentasinya dibenturkan dengan agama. Karena pondasi imannya masih lemah, mungkin. Yang perlu kulakukan adalah dengan mengungkap fakta-fakta kebobrokan Mas Tisna. Agar dia tahu bahwa keputusannya mempertahankan orang itu salah besar. 

 

***

"Dek, kalau menurut Mas, Mbak Citra itu dalam puncak dilema," ucap Mas Tisna saat kami sedang bersantai di ruang TV. Hari ini adalah akhir pekan. Kami manfaatkan quality time ini untuk di rumah saja. 

"Maksudnya, Mas?" Aku masih belum bisa mencerna kata-kata suamiku. Kupasang telinga baik-baik untuk mendengarkan pendapatnya. 

"Mas yakin, sebenarnya dia tahu kalau dia sudah salah langkah dengan menikah lagi disaat Mas Adi masih berstatus suaminya. Dia hanya kesepian, sehingga mencoba mencari pelarian. Di saat yang sama ada seorang pria yang bisa memberikan kenyamanan dan menunaikan dahaganya akan kasih sayang suami," Mas Agus menjeda kalimatnya. Menatapku dengan intens. "Dan mungkin, sebenarnya Mbak Citra nggak ada niat untuk menikah lagi. Namun karena sudah terlanjur kepleset, yang menyebabkan hamil, mau tak mau ia harus menikah." 

Kudengarkan argumentasi Mas Agus dengan saksama. Tak mau menyela, agar apa yang dikatakannya bisa kucerna dengan baik. 

"Itulah sebabnya dia menikah tanpa restu dan wali sah. Karena kalau minta restu Bapak sudah pasti ditolak. Dan dia tahu itu." Kepalaku manggut-manggut setuju. Benar yang dikatakan Mas Agus . Kini akalku mampu mencerna. 

Ya, apa yang dikatakan suamiku memiliki kemungkinan kebenaran yang lebih besar. Seorang perempuan yang belum ditalak, maka statusnya masih istri sah. Meski mereka terpisah jarak beberapa tahun, tapi nafkah setiap bulan dikasih. Jadi nggak ada alasan untuk mengklaim dirinya janda lantaran suami nggak ngasih nafkah batin dalam waktu yang cukup lama. 

Karena kalaupun si istri memintai cerai karena alasan itu--yang dalam agama dibolehkan--dia tetap harus mengirimkan gugatan ke pengadilan agama. Nanti kalau sudah disetujui dan diputuskan bercerai, baru statusnya berubah janda. Dan dia tetap perlu menunggu masa iddah untuk bisa menikah lagi. 

Jelas sekali apa yang dilakukan Mbak Citra selama ini adalah kesalahan fatal. Dan ini tak boleh ditolelir. Aku menghembuskan napas lelah. Memejamkan mata sambil memejit kepala yang berdenyut. 

"Apa yang harus kita lakukan, Mas? Sementara Mbak Citra nggak bisa diajak bicara baik-baik."

"Kita doakan sambil menunggu emosinya stabil dulu, Dek. Nanti pelan-pelan kita sampaikan. Sekarang mungkin dia sedang setres menghadapi hidupnya. Punya dua anak kecil-kecil, sekonomi sulit, utang di mana-mana, sedangkan suaminya seperti itu. Kurasa ini pukulan berat buatnya. Jangan terlalu memaksakan untuk dia berubah. Pelan-pelan saja." 

Aku mencoba mencerna ucapan mas Agus, menganalisa semua informasi dan fakta yang menimpa kakakku. Agar saku tak salah dalam bertindak ke depannya. Bagaimana pun, dia harus dikeluarkan dari lingkaran kemaksiatan yang membelenggunya selama ini. 

Kurasakan sebuah tangan melingkar di pinggangku. Lalu hembusan napas menggelitik pipi ini. "Jangan terlalu keras berpikir. Nanti asam lambungmu naik lagi, Dek," bisik suamiku. Dagunya menumpu pada bahuku. Sesaat kami menikmati momen ini dalam diam. Rasanya sudah lama sekali kami tidak berduaan seperti ini. 

Semenjak kehadiran Mas Tisna dalam hidup kakakku, seolah masalah selalu menghampiriku. Ketenangan seakan-akan tak betah berlama-lama singgah di hati ini. Seketika aku teringat undangan pernikahan yang diberikan Yola, teman kerjaku kemarin. 

Mungkin ada baiknya aku mengajak Mas Agus untuk menghadiri pesta itu. 

"Dek, sudah siap belum?"

"Bentar, Mas, tinggal pakai sepatu," ucapku sembari memilih sepatu yang cocok untuk kugunakan sesuai pakaian yang melekat di tubuh ini. "Ah, perfecto!" 

"Yuk!" Mas Agus tak berkedip menatapku. Kulambaikan tangan di depan mukanya untuk menyadarkan dari keterpakuan. "Mas!"

"Eh, i--iya," jawabnya gelagapan. "Kamu cantik sekali, Dek. Rasanya Mas ingin mengurungmu saja seharian di rumah. Nggak usah datang aja, ya?" 

Kucubit perutnya yang keras hingga dia mengaduh. Gombalan recehnya membuatku salah tingkah. Dada ini berdesir ditatap seintens itu. Ya, meski kami menikah sudah cukup lama, namun perlakuan imamku ini sering membuat jantungku berjoget ria karena senang. 

Sebuah gedung mewah denagn bunga-bunga berjejer rapi di semua sudut, dekorasi yang cukup elegan menjadi pemandangan indah yang membuat semua tamu berdecak kagum. Jangan lupakan pelaminan yang terlihat sangat mentereng itu. Suatu perpaduan yang sempurna antara gedung, dekorasi, pelaminan, dan hidangan. 

Kirana, sepupu Yola yang menikah ini katanya mendapat suami dari kalangan anggota dewan. Nggak heran jika pesta ini terkesan mewah dan serba wah. Mami melangkah menuju pelaminan untuk mengucapkan selamat pada kedua raja dan ratu sehari ini. Setelah berbasa-basi, kami turun dari pelaminan. Namun saat hendak turun, datang tamu yang cukup menyedot perhatian semua orang.

Mataku membulat melihat pasangan yang baru masuk itu. Mas Agus yang berdiri di sampingku ikut mengarahkan pandangannya ke objek yang sama. Reaksinya sama denganku. 

Di ujung sana, sepasang kekasih datang dengan begitu percaya diri. Tangan sang pria bertengger di pinggang perempuan cantik denan pakaian kurang bahannya. Bagian bawah pakaian itu menjuntai hingga menyapu lantai. Namun bagian atasnya menampakkan julit mulusnya. 

Wah, sepertinya. Merekalah tokoh utama saat ini. Semua mata terfokus pada mereka. Apa mereka tak malu menampakkan kemesraan di depan umum padahal mereka belum menjadi pasangan halal? Atau jangan-jangan mereka sudah menikah juga? 

Tiba-tiba Mas Agus menarik tanganku untuk mendekati pasangan ini. Entah apa reaksinya nanti saat melihat kami di depan mereka. Aku jadi penasaran, sejauh mana pria itu akan memainkan perannya. Tunggu aaja tanggal mainnya. Aku pasti akan membongkar semua kedoknya. 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!