Ditipu Menantu Benalu
Suamimu Sudah Melibatkanku, Mbak
Ada apa lagi sih dengan perempuan itu. Kenapa hobinya sekarang berubah? Bukan lagi hobi memasak atau membaca, biar bermanfaat. Melainkan hobi marah.
Kucoba menenangkan diri agar tak ikut terpancing emosi. Setelah beberapa saat menutup mata sambil mengatur napas, kubuka perlahan hingga nampak bayangan Emak di depan mata. Mbak Citra yang semula di kamarnya kini sudah ikut nimbrung.
Raut wajahnya digelayuti mendung. Tak ada binar kebahagiaan di matanya. Kulirik Mas Agus yang sedang ngobrol dengan Bapak ditemani kopi dan pisang goreng. Mereka tampak asik membicarakan sesuatu yang entah apa. Emak sendiri sibuk menidurkan Chaca di pangkuannya.
"Mbak, Mas Tisna ada ngubungi?" tanyaku hati-hati, takut langsung ngegas.
"Nggak! Mana ingat dia sama anak istri kalau sudah sama perempuan lain!" jawabnya ketus. Pandangannya fokus pada jemarinya yang bergerak membentuk pola-pola abstrak di pahanya.
"Mbak tahu siapa perempuan yang bersamanya?" Dia menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh padaku. Matanya memicing seolah tak suka dengan pertanyaanku.
Terdengar hembusan napas kasar darinya. Tangan Mbak Citra memijit pelipisnya. Barangkali dia sedang pusing memikirkan kelakuan suaminya.
"Kenapa sih, Wi, kamu selalu ikut campur urusan rumah tanggaku? Bisa nggak, nggak usah ikut mengurusinya!" Dia membanting tubuhnya ke sandaran kursi yang diduduki.
Dadaku terasa nyeri mendengar jawabannya. Apa tadi dia bilang? Nggak usah ikut ngurusi? Aku tertawa miris dalam hati. Jadi selama ini dia menganggap bantuanku sebagai bentuk ikut campur terhadap urusannya?
"Nggak bisa! Karena suamimu itu sudah banyak melibatkanku dalam urusan kalian, kalau Mbak nggak tahu!" intonasiku naik satu oktaf, membuat beberapa orang yang ada di sini menoleh kompak ke arahku. "Gara-gara utang-utangnya, aku yang harus menanggung. Hidupku nggak tenang selalu diteror oleh para penagih utang itu. Dan Mbak bilang jangan ikut mengurusinya?"
Perempuan ini menegang. Wajahnya pias mendengar jawabanku yang tepat sasaran. Andai saja aku tak takut dia jantungan, sudah kuperlihatkan rekaman video di mall tadi siang. Sayangnya aku masih punya hati untuk tak membuatnya pingsan akibat mengetahui fakta ini.
"Oh, jadi kamu nggak ikhlas menolong kami? Tenang saja, utang-utang kami padamu sudah saya catat, kok. Nanti kalau sudah ada uang pasti kubayar. Nggak usah khawatir. Baru diberi kekayaan gitu aja sudah sombong!"
Ucapan Mbak Citra benar-benar sudah kelewatan. Darahku mendidih melihat sikapnya yang tak juga berubah. Terbuat dari apa sebenarnya hatinya? Apa nasib buruk yang menimpanya tak mampu membuatnya tersadar?
Kupijat kepala yang tiba-tiba berdenyut. Dan seperti biasa, Emak hanya bisa membisu menyaksikan pertengkaran kami. Terkadang aku berpikir, apa sebaiknya aku pura-pura tak tahu saja dengan masalah rumah tangga kakakku yang tak sehat itu. Biarkan saja semua urusannya diselesaikan sendiri.
Namun saat mengingat lagi kalau dia satu-satunya saudara kandungku, rasa tak tega menggerayangi hati ini. Seberapa pun banyaknya ia menyakitiku, hati nurani tak bisa membohongi. Darah lebih kental dari pada air. Peribahasa itu benar-benar terbukti padaku.
"Mbak," lirihku mencoba bicara dari hati ke hati. "Coba dipikir lagi, kenapa hidupmu jadi seperti ini, apa yang salah dari pernikahan Mbak Citra dan Mas Tisna. Pasti ada sebabnya." Kuturunkan nada suaraku lebih rendah agar bisa merasuk dalam lubuk hatinya.
"Ya mungkin sudah jalanku harus begini. Bukankah roda itu berputar? Hidupku sekarang lagi di bawah, suatu saat pasti akan naik!" Dengan percaya diri dia bicara seolah jalan hidup yang ditempuhnya sudah benar, dan apa yang dialami sekarang hanyalah ujian.
Aku tertawa miris mendapati jalan pikiran perempuan yang telah melahirkan tiga anak itu. Dia sama sekali tak terpikir jalan yang ditempuh menuju jalinan rumah tangganya sudah salah sejak awal. Ibarat manusia, sudah cacat sejak lahir.
Pernikahan itu mengikat dua buah keluarga besar. Disatukan oleh dua pasangan yang menjadikan keluarga besarnya menjadi keluarga. Namun jalan yang ditempuh pasangan ini sudah salah. Mbak Citra menikah tanpa restu orang tua. Meninggalkan anak semata wayang yang masih butuh kasih sayang darinya. Parahnya lagi, Emak dan Bapak tidak dilibatkan sama sekali dalam pernikahannya.
Ya, aku baru tahu dari cerita Bapak beberapa waktu lalu. Karena saat Mbak Citra ini menikah lagi, aku masih bekerja di luar kota waktu itu. Sehingga tak tahu menahu soal Mbak Citra yang sudah ganti suami.
Mirisnya lagi, Bapak sebagai orang tua kandung tidak dijadikan sebagai wali nikahnya. Tahu-tahu mereka pulang dengan menyandang status baru sebagai suami istri. Tentu saja Bapak meradang karena sebagai wali yang sah tidak dimintai restu dan tidak pula dijadikan wali. Lalu siapa yang menikahkannya? Entahlah, hingga sekarang hal itu masih menjadi misteri. Karena setiap kali ditanya soal itu, Mbak Citra selalu mengelak dan marah-marah.
Barangkali hal itulah yang memicu rumah tangganya tidak berkah. Hidupnya sulit dan rezekinya seret. Karena seorang perempuan, butuh wali untuk menikah. Nggak asanya restu dari orang tua juga menjadi pemicu rumah tangganya amburadul seperti sekarang ini.
Namun sepertinya Mbak Citra tak berpikir sampai kesana. Mata hatinya telah buta oleh silaunya dunia, yang pada faktanya tak ada apapun yang dijanjikan lelaki itu. Dia sudah rela diperbudak oleh nafsu yang menjelma jadi cinta. Cinta semu karena tidak didasari oleh iman.
Benar jika Islam begitu mengatur urusan rumah tangga. Pernikahan adalah ibadah terpanjang karena dilakukan seumur hidup. Untuk itu harus dilakukan dengan jalan yang benar sesuai tuntunan agama. Syarat-syarat sahnya pernikahan sudah dijelaskan dengan gamblang. Namun sayangnya kakakku ini telah menabrak rambu-rambu itu.
Kalau boleh aku bicara jujur, status pernikahan mereka tidak sah. Karena tidak memenuhi salah satu syarat dalam rukun nikah, status perkawinan Mbak Citra dengan Mas Adi belum bercerai. Ternyata Mas Adi belum menjatuhkan talak waktu itu. Artinya, Mbak Citra masih berstatus istri.
Mungkin inilah yang menjadikan pernikahannya tidak berkah. Karena jika pernikahannya tidak sah, itu berarti hubungan mereka selama ini adalah zina. Na'udzubillah.
Dan satu lagi fakta yang baru kuketahui, bahwa Bapak tidak dijadikan wali nikahnya. Padahal Bapak masib hidup hingga kini. Ya Allah, setan apa yang merasuki kakakku hingga berani melangkah ke pernikahan kedua padahal jelas statusnya belum ditalak.
Aku semakin pusing memikirkan hidup kakakku ini. Pernikahan macam apa yang coba dijalananinya saat ini? Mungkinkah ini yang menjadi pemicu sulitnya rezeki mereka? Karena aku pernah mendengar sebuah hadist yang mengatakan bahwa: “Hindarkan diri kita dari zina, karena di dalam zina itu ada enam hal yang tidak baik, yang tiga dialami ketika di dunia dan yang tiga lagi akan dialami kelak di akhirat.” (HR Imam Al-Baihaqi)
Bisa jadi terhalangnya pintu rezeki Mbak Citra selama ini akibat dari pernikahannya yang tidak sah itu bukan? Tiba-tiba perutku mual membayangkan status mereka.
"Kalau kamu masih mengakui aku sebagai saudaramu, harusnya kamu membantu kesulitanku, Wi, bukan selalu menghujatku!"