Ditipu Menantu Benalu

Tak Bisa Dihubungi

Berulangkali aku mencoba menghubungi nomor Mbak Citra kembali. Namun hingga pukul 9 malam masih belum aktif. Pikiran ku sudah kemana-mana. Menduga-duga, jangan-jangan Mas Tisna melakukan hal-hal yang buruk padanya. 

Tubuh Emak sudah lemas. Tangisnya masih belum reda. Sementara Bapak sedang berunding dengan Mas Agus di ruang tamu. Kupijat kaki Emak yang menghitam akibat terbakar matahari. Sesekali kulirik gawai yang tergeletak di meja. 

Perlahan mata Emak tertutup. Mungkin kelelahan akibat banyak berpikir dan menangis. Seharusnya hidup Emak sudah nyaman di usia tuanya. Namun terpaksa harus berjuang lagi untuk menghidupi Dian. 

HP-ku berkedip-kedip saat hendak mengambil selimut untuk Emak. Tertera nomor Mbak Citra di sana. Dengan cepat langsung kuangkat dan segera menyingkir dari tempat itu. 

"Mbak, kenapa susah banget dihubungi?" cecarku sebelum Mbak Citra bicara. 

[Tadi aku telepon di toilet. Mas Tisna mulai menggedor-gedor karena aku kelamaan di dalam toilet. Dia takut aku menghubungi seseorang]

"Ya dah, ceritanya nanti saja. Sekarang Mas Tisna dimana? Kenapa bisa telepon lagi?"

[Ini aku sedang di jalan, naik travel menuju pulang. Tadi aku sama anak-anak pura-pura tidur. Mas Tisna sepertinya buru-buru pergi setelah ditelepon perempuan. Mungkin kekasih gelapnya. Kesempatan ini tak kusia-siakan, aku langsung ke agen travel. Alhamdulillah sekarang sudah jalan] 

Aku menghembuskan napas lega. Akhirnya dia bisa kabur juga dari bajing*n itu. Semoga selamat sampai rumah. Mendengar apa yang terjadi pada kakakku, kesalahan yang pernah ia perbuat padaku seolah menguap entah kemana. Tak ada lagi dendam yang tersimpan. Yang ada hanya rasa iba. Kuharap setelah ini ia bisa bertaubat. 

Aku meminta Mbak Citra untuk terus mengabariku, meski hanya lewat sms atau chat. Setidaknya kami bisa tahu keberadaannya. 

***

Adzan subuh sayup-sayup terdengar dari masjid terdekat. Kubuka mata yang masih terasa berat. Aku hanya tidur sekitar tiga jam. Pikiranku terus tersedot pada Mbak Citra dan anak-anaknya. 

Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan ini. Mas Agus sepertinya sudah ke masjid. Ah, kenapa dia selalu bangun lebih dulu, sih. Padahal, semalam dia tidur belakangan. 

Setelah shalat, aku segera berkutat di dapur untuk membuat sarapan. Kali ini, porsi yang kubuat lebih banyak karena Mbak Citra akan langsung ke sini katanya. Ah iya, harusnya dia sudah sampai, kan? 

"Wi, itu di depan ada travel berhenti, ayo kita lihat, mungkin mbakyumu yang datang," ucap Emak membuatku terperanjat. Kuikuti Emak yang tergopoh-gopoh menuju halaman. Benar saja, seorang perempuan muda dengan menggendong bayi dan menuntun balita berjalan menuju rumah ini. 

Chaca langsung berlari menghambur ke arah neneknya. Aku terpaku melihat keadaan Mbak Citra yang jauh dari kata baik-baik saja. Tubuhnya lebih kurus dibanding saat kepergiannya. Matanya terlihat cekung dengan lingkar hitam di sekitar kelopaknya. Jalannya sesikit pincang, dan ... apa itu? Wajahnya penuh memar?

Apa dia mengalami penyiksaan fisik? Pandanganku mulai memburam saat jarak kami semakin dekat. Kaki ini seperti terhujam di bumi. Tak bisa bergerak untuk menyambutnya. Ketika jarak kami tinggal satu langkah, dadaku semakin berdenyut. Jelas sekali Mbak Citra habis disiksa. Entah dengan apa hingga begitu banyak luka di wajah dan tangannya. Entah di bagian lain. 

Dengan tangan gemetar, kuambil alih Eki, bayi mungil yang baru berusia 7 bulan itu. Kupejamkan mata sambil menengadah agar buliran bening ini tak tumpah. Namun usahaku sia-sia, dalam satu kedipan saja, bendungan ini akhirnya menjebol pertahananku. 

Kami masuk dengan diiringi derai tangis. Mas Agus menyodorkan teh hangat yang kubuat tadi ke arah Mbak Citra. Tangan itu tampak gemetar menerimanya. Netraku tak pernah luput dari gerak-geriknya yang berbeda. 

Cukup lama kami larut dalam tangisan ini tanpa kata. Setelah puas menumpahkan semua kesedihannya, Mbak Citra pamit untuk mandi dulu. Kuletakkan Eki di atas matras di depan TV. Dian yang sejak pagi di depan TV, tak merespon kedatangan mama dan adik-adiknya. Ia tetap asik dengan film kartun kotak warna kuning itu tanpa terusik oleh kedatangan adiknya. Seolah-olah tak ada orang lain di sini. 

Sarapan pagi ini terasa berbeda. Semua berkumpul mengelilingi meja. Gurat kesakitan tampak jelas dari wajah Mbak Citra. Gerakannya terlihat canggung. Mungkin ia malu dengan perbuatannya dulu. Sesekali ekor matanya melirikku dan Mas Agus bergantian. 

"Makan yang banyak, Mbak. Biar kuat menghadapi semuanya," ucapku memecah keheningan. Ia hanya mengangguk lalu melahap kembali makannya yang tinggal separuh. 

Selesai sarapan, kami semua menuju ruang keluarga. Aku sudah izin pak bos untuk tidak berangkat hari ini. Mas Agus juga sudah menyerahkan pekerjaannya kepada anak buahnya. Hari ini kami ingin dengar cerita dari Mbak Citra langsung agar bisa mengambil tindakan. 

"Sejak kapan dia memperlakukanmu seperti itu, Cit" tanya Emak mewakili kami. 

Mbak Citra menghela napas panjang baru menjawab. Sudah lama. "Dia kalau marah memang sering memukul. Tapi kali ini sudah sangat keterlaluan."

Perempuan beranak tiga ini menceritakan semua kejahatan suaminya. Mulai dari kebiasaannya yang suka menyuruh Mbak Citra untuk utang, dan akan memukulnya jika nggak dapat hasil. Kemudian pria itu juga sering membawa perempuan ke rumah secara terang-terangan. 

Perbuatan terakhir inilah yang memicu keberanian Mbak Citra untuk melawan karena merasa harga dirinya sebagai istri diinjak-injak. Mba Citra menceritakan sambil menangis. Lalu ia menunjukkan luka-luka ditubuhnya yang ternyata lebih banyak dari yang kuduga. 

Dadaku seperti ditusuk sembilu melihat kenyataan bahwa hidup Mbak Citra tak lebih baik dari yang kukira. Tawa dan keangkuhannya selama ini hanya kamuflase untuk menutupi penderitaannya saja. 

"Kalau sudah tahu tabiatnya seperti itu, kenapa masih mau sama dia, apa yang diharapkan dari suami tak beradab macam dia?" Emosiku tersulut. Mengingat berbagai masalah yang ditinggalkannya, juga fakta di depan mata ini, membuat kebencianku pada lelaki tak bertanggung jawab itu makin dalam. 

"A--aku mencintainya," ucap Mbak Citra terbata. Darahku serasa mendidih mendengar pengakuannya. Cinta macam apa yang mengorbankan dirinya untuk disiksa dan diperbudak sepert ini? Apa tidak ada lelaki lain yang lebih baik dari pria lucnut itu? 

Seketika pikiranku berkelana, membandingkan pria itu dengan Mas Adi yang begitu baik dan penyayang. Jauh, sangat jauh seperti langit dan bumi. Namun kenapa Mbak Citra tak bisa memilih dengan jernih? Apakah ini yang dinamakan cinta buta?

"Lalu apa rencanamu ke depan, Nduk?" Kali ini Bapak yang bertanya. Sejak tadi, pria yang menjadi pahlawanku ini hanya bergeming melihat anak sulungnya. Hanya sorot matanya yang menggambarkan betapa bencinya ia pada menantu kurang ajar itu. Bapak memang sangat benci pada Mas Tisna. Apalagi ketika awal pria itu datang ke sini dan melihat sikapnya yang tidak ada hormat-hormatnya pada orang tua, Bapak tak pernah bertegur sapa dengannya. Dan kini, rasa tak suka Bapak sangat beralasan. 

"Citra mau pisah aja sama dia, Pak, Citra sudah nggak kuat." Perempuan dengan luka-luka di wajahnya ini tersenyum getir. Tatapannya menerawang jauh. Entah apa yang sedang dipikirkannya. 

"Citra, Citra. Sudah sangat terlambat kamu minta pisah darinya, Nduk. Harusnya kamu berpikir sebelum bertindak. Kalau sudah tahu perangai suamimu seperti itu, kanapa kamu sampai punya anak dua begini?" 

"Maafin Citra, Pak. Citra nggak bisa menolak. Terkadang Mas Tisna sangat baik. Ia berjanji akan membahagiakan kami." Mbak Citra terus menunduk. Tak berani menatap kami. Heran juga sama dia ini, terkena pelet apa, sih sampai mau saja dikibulin sama tukang tipu yang jelas-jelas sudah membuatnya menderita. 

"Apa kamu tahu, suami tercintamu itu sudah meninggalkan banyak masalah di sini? Utangnya menggunung di sana-sini. Dan kamu tahu, siapa yang harus nanggung?" Suara Bapak mulai meninggi. Tangannya terkepal menampilkan buku-buku jarinya yang menonjol. 

Mbak Citra melotot mendengar penuturan Bapak. Wajahnya pias. Ia menatap bingung kami bergantian. Seolah mencari pembenaran ucapan Bapak. Apa itu artinya dia nggak tahu kalau suaminya banyak berutang? Jadi, manusia satu itu ternyata lebih licik dari yang kukira selama ini. Apa dia mafia utang? 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!