Ditipu Menantu Benalu
Kenapa Baru Sekarang
"Mbakyumu, Nduk," ucap Emak dengan mata berkaca-kaca. Aku tak berusaha untuk menyela. "Sekarang katanya sedang kabur dari suaminya."
Aku memejamkan mata sejenak. Mengirup udara sebanyak-banyaknya untuk menyejukkan dada yang tiba-tiba memanas. Jemari ini memijat pelipis yang ikut berdenyut. Entah ada masalah apa sampai Mbak Citra yang bucin akut sampai main kabur-kaburan.
Kalau memang sudah tahu kelakuan suaminya seperti itu, kenapa baru sekarang mencoba kabur setelah ada dua bocah yang butuh dinafkahi.
"Emak tahu dari mana?" tanyaku hati-hati. Khawatir tersinggung karena aku terlihat kurang simpatik terhadap kakak kandungku.
"Tadi pagi dia nelpon, dia minta kiriman uang untuk ongkos. Sekarang mbakyumu lagi sembunyi di rumah temannya." Emak tergugu menceritakan kisah kakakku. Entah apa benar yang dikatakan Emak seperti itu atau cuma akal-akalan Mbak Citra saja untuk meminta uang.
Aku tidak langsung percaya dengan cerita Emak. Karena pengalaman berkali-kali ditipu, membuat rasa percayaku semakin pudar. Bukannya nggak sayang sama saudara, tapi masalahnya dia sudah berjalan di jalur yang salah. Dan aku harus memastikan dulu apa yang dikatakan Emak itu benar atau penipuan lagi.
Dibohongi berkali-kali membuatku semakin waspada dan tak mudah iba. Karena yang kuhadapi ini bukan kakakku yang dulu begitu penurut dan hormat pada orang tua. Melainkan sudah terinveksi virus tega yang rela diperbudak Mas Tisna atas nama cinta.
Bahkan aku tak yakin apakah ia masih punya rasa empati terhadap sudara dan darah dagingnya, Dian. Melihat sikapnya yang begitu tergila-gila pada suaminya, membuat kepercayaanku padanya luntur tak berbekas.
"Coba Mak, mana nomor yang dipakai buat nelpon tadi, biar coba Dewi hubungi," ucapku sambil menadahkan tangan meminta HP Emak.
Kucoba menghubungi nomor yang tadi dipakai buat nelepon, tapi hanya suara merdu operator yang menjawab. Kuulang sekali lagi, nihil. Aku menatap Emak iba. Matanya sudah berkaca-kaca. Menatapku dengan penuh harap. Kugelengkan kepala tanda tak bisa dihubungi.
”Coba hubungi nomor teman dekatnya, Dek. Kali aja tahu," usul Mas Agus yang tiba-tiba ikut nimbrung di sebelahku.
Kucari nama kontak teman-teman Mbak Citra yang dulu pernah dekat dengannya. Kebetulan masih tersimpan di kontak ini. Kuhubungi satu nama, menanyakan keberadaan Mbak Citra padanya. Namun dia bilang nggak tahu. Katanya setelah keluar dari pabrik tempatnya bekerja, semua teman-temannya sudah putus Kontak dengannya.
Kucoba nomor yang lain, sama. Hingga lima nomor yang kuhubungi semua jawabannya sama, tak tahu. Terakhir mencoba peruntungan siapa tahu ada keajaiban. Alhamdulillah, ada sedikit titik terang. Ia bilang kalau selama ini memang masih sering berhubungan dengan kakakku.
Yang membuat napasku tercekat adalah perlakuan si raja utang itu pada Mbak Citra selama ini. Ternyata pria itu memang memiliki perangai yang buruk sebagai suami. Selain hobi utang, dia juga hobi main tangan dan main perempuan.
Dua hari lalu katanya Mbak Citra memang sembunyi di kosnya. Membawa dua anaknya yang masih kecil. Sayangnya pria tempramen itu tahu dan datang menyeret kembali Mbak Citra untuk ikut dengannya. Dan sekarang tak ada lagi kabar darinya.
Dadaku bergemuruh mendengar penjelasan teman kakakku itu. Kalau selama ini Mbak Citra diperlakukan tidak baik, kenapa masih saja mengikutinya? Bahkan ia selalu menutupi kesalahan suaminya di depan kami. Sebegitu besarnya kah perasaan Mbak Citra hingga rela diperbudak laki-laki tak beradab itu?
Mendengar penjelasan dari Diva, teman kakaku itu, tubuh Emak melorot. Tangisnya makin tergugu. Hatiku rasanya tersayat melihat orang yang paling kusayangi sesedih ini. Aku tahu, rasa sayang Emak padaku sangat besar. Namun melihatnya seperti ini saat mendengar kabar anak sulungnya yang sudah sering membuatnya kecewa, sudut hatiku berdenyut nyeri.
"Sudahlahlah, apa yang terjadi sama Mbak Citra sekarang itu sudah mrnajdi pilihannya, kan? Biarkan dia semakin dewasa dengan menyelesaikan masalahnya sendiri, Mak." Aku berusaha menenangkan perempuan berhati baja ini.
"Kamu tahu, Wi, mbakyumu punya anak bayi. Satunya belum lancar berjalan. Bagimana bisa kabur dari lelaki bej*t itu dengan keadaannya yang sekarang?" Tangis Emak makin pecah. Tangannya memukul-mukul dadanya. Napasnya terlihat tersengal-sengal. Mas Agus dengan cekatan menyidorkan air putih untuknya.
"Minumlah dulu, Mak. Kita pikirkan cara agar Mbak Citra bisa pulang. Kita doakan semoga baik-baik saja," ucap Mas Agus. Bapak hanya bergeming melihat Emak. Mungkin pikirannya juga berkelana ke anak sulungnya yang susah diatur itu.
"Coba hubungi nomornya sekali lagi. Kalau bisa, suruh dia naik travel saja. Nanti bayarnya kalau sudah sampai rumah," usul Bapak. Beyul juga apa yang dikatakan Bapak. Kenapa repot mikirin nggak punya uang.
Dengan gerakan cepat, aku mencoba menghubunhi nomor Mbak Citra lagi. Nyambung. Aku mengubah posisi duduk agar lebih nyaman. Menunggu panggilan terjawab. Sayang hingga dering selesai, tak ada jawaban sama sekali. Pikiranku muali berkecamuk. Kucoba sekali lagi. Nyambung lagi.
[Halo] jawab suara di seberang setengah berbisik. Ah, sepertinya situasi di sana tidak memungkinkan.
"Mbak," tanyaku.
[Ya, aku gimana, Wi? Bantu aku bisa pulang] jawabnya sambil menangis. Hatiku mencelos mendengarnya.
"Gimana, gimana maksudnya, Mbak. Ngomong yang jelas. Jangan membuat kita semua khawatir."
[Tolong bantu aku kabur dari sini, aku takut Mas Tisna menemukanku dan menyiksaku lagu] tangisnya pecah. Suaranya bergetar. Dia menceritakan perjuangannya untuk bisa kabur. Setiap kali dia naik bis, pria itu selaku menemukannya dan menyeretnya kembali. Setiap malam pria itu tidur bersandingkan golok yang diasah tajam. Dan dengan senjata itu, dia mengancam istrinya yang ketakuatan.
Darahku mendidih mendengar pengakuan Mbak Citra. Siapa sangka mereka yang begitu kompak menyakiti hati Emak, ternyata saling ancam. Rumah tangga yang tampaknya begitu kuat, ternyata rapuh di dalamnya. Inikah karma karena mereka menikah tanpa restu orang tua? Atau jawaban dari orang-orang yang terdzolimi yang selama ini diutangi uangnya tapi nggak dikembikan.
Kebencianku semakin memuncak mendengar pengakuan Mbak Citra atas perbuatan suaminya. Mbak Citra masih terdengar menangis sesenggukan dari seberang sana. Anak-anaknya juga menangis. Dadaku makin sesak mendengar rengekan bayi-bayi itu. Sisi nuraniku terpanggil. Sebesar apa pun kesalahan kakakku, tapi ikatan saudara tetap tak bisa mengubah segalanya.
Saat aku menginstruksikan beberapa hal yang harus dilakukannya, tiba-tiba HPnya mati. Kucoba menghubungi kembali. Namun tidak aktif. Sekali lagi kucoba. Sama. Nomornya sudah tak aktif.
Pikiran ini sudah melanglangbuana ke mana-mana. Hanya doa yang kupanjatkan semoga Allah melindungi kakakku dan anak-anaknya.