Ditipu Menantu Benalu

Kedatangan Emak

Dian tahu Om Tisna itu orang yang sama yang pernah membohongi Dian,” ucap Keponakanku ini polos. Ia menunjukkan sebuah foto yang sedikit buram. Aku masih belum mengerti maksud anak ini. 

Kuamati seseorang yang ada di foto itu dengan teliti. Meski sedikit buram, tapi gambar itu jelas menunjukkan siapa. 

"Ini Om Tisna?" Lelaki cilik berambut sedikit gondrong ini mengangguk. Namun aku masih belum mampu mencerna maksud Dian menunjukkan hal ini padaku. Nggak ada yang aneh menurutku. 

"Tante nggak tahu kan kalau mama dulu sering teleponan sama Om Tisna?" Kedua mata bulat anak ini mengerjap-ngerjap lucu. Aku bercongkok untuk menyejajarkan tinggi kami. 

"Emang kapan mama sering telepon? Mama kan sekarang sudah jadi istrinya Om Tisna, wajar dong kalau teleponan," ucapku mencoba memahamkan anak ini. 

Namun anak berusia 8 tahun ini justru cemberut mendengar ucapanku. Badannya yang kecil terguncang-guncang saat kepalanya menggeleng. Kuhela napas panjang sambil menunggunya melanjutkan cerita. Barangkali ada sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk untuk mengetahui keberadaannya. 

"Mama dulu sering teleponan pas papa masih di luar negeri. Om Tisna juga sering ngomong sama Dian. Katanya kalau ketemu mau beliin Dian mobil-mobilan yang gede yang bisa dinaiki itu." Tangan mungil Dian memeragakan mobil yang berjalan. Ia merentangkan tangannya saat bilang "gede". Emak dan Bapak yang tadinya sibuk membongkar lemari Mbak Citra ikut bergabung mendengarkan cerita Dian. 

Anak ini cenderung pendiam. Jarang sekali mau bercerita seperti ini jika tidak diminta. Perubahan itu mulai terlihat saat mamanya pulang membawa Caca, adik pertamanya. Apalagi setelah melihat perlakuan papa tirinya yang nggak bersahabat dengannya. Ia seperti asik dengan dunianya sendiri. 

"Berarti mama sudah lama kenal sama Om Tisna?" Anak ini mengangguk mantap. Ini fakta baru yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Bahkan Emak dan Bapak. 

"Nenek ingat nggak pas Mama pulang terus ngajak Dian jalan-jalan ke pantai?" Kulirik Emak sedang menerawang, lalu mengangguk. "Nah, waktu itu Mama ketemuan sama Om Tisna. Tapi waktu itu Om Tisna orangnya baik banget, nggak seperti sekarang." 

Lagi-lagi aku mencelos, mendapati fakta ini. Berarti kalau Mbak Citra sudah lama kenal sama raja utang itu, hubungan rumah tangganya dengan Mas Adi sudah mulai nggak sehat sejak saat itu. Astaghfirullah, kenapa aku seperti tak mengenali kakakku lagi. 

Lelaki seperti apa sebenarnya yang diinginkannya. Apa dia tak berpikir soal Dian, anak buah cintanya dengan Mas Adi? 

"Mama juga sering kirim uang buat Om Tisna. Katanya Om Tisna butuh bantuan," mataku membelalak. Fakta yang terakhir ini benar-benar menghantam jantungku. Bahkan sebelum menikah pria itu sudah menunjukkan jati dirinya. Sayang kakakku satu-satunya itu sepertinya telah dibutakan oleh cinta. Ia diperbudak oleh pria itu. 

Aku memijat pelipis sambil memejamkan mata. Marasakan nyeri kepala yang tiba-tiba. Ingatanku melayang pada masa empat tahun silam. Saat Mbak Citra meminjam uang sambil mengiba.

"Wi, tolong. Mbak butuh uang untuk bayar kontrakan. Besok sudah jatuh tempo, mbak sudah minta Mas Adi tapi katanya belum gajian," ucapnya memohon. 

Dari seberang telepon terdengar isak tangisnya yang begitu sendu. Dia memang memilih untuk bekerja sebagai buruh pabrik. Padahal Mas Adi sudah memintanya untuk di rumah saja dan akan dikirim jatah bulanan untuk kebutuhan sehari-hari. 

Namun sifat keras kepalanya tak mampu dikendalikan siapa pun. Padahal Dian masih membutuhkan pengasuhannya. 

"Berapa, Mbak?" 

"Dua juta aja, sekalian buat kebutuhan selama dua Minggu sebelum gajian." 

Kuhela napas panjang untuk menekan rasa sesak di dada. Keuanganku sendiri masih belum stabil. Ibarat bayi, rumah tanggaku masih merangkak. Usaha belum ada. Semua memulai dari nol. Uang dua juta bukan jumlah yang kecil untuk kami yang baru merintis usaha tambak. Sedangkan pekerjaanku sebagai penulis freelance masih tak tentu. 

"Maaf, Mbak. Uang sebanyak itu aku nggak punya," ucapku lirih. Takut ia kecewa dan berprasangka aku nggak peduli sama dia. 

"Masa suamimu nggak punya? Cuma dua minggu kok. Nanti kalau sudah dapat kiriman pasti kukembalikan."

Mbak Citra tetap memaksa, meski sudah kujelaskan tak punya. Ia marah, dan menutup telepon sepihak. Beberapa hari setelahnya, Emak bilang kalau Mbak Citra habis kena hipnotis. HP dan sejumlah uangnya hilang diminta seseorang yang katanya menghipnotis. 

"Wi," panggilan Emak menyadarkanku dari lamunan. 

Emak menunjukkan sebuah alamat, apa mungkin itu alamat si raja utang itu? Oke, beberapa petunjuk sudah kami dapatkan. Dan berkat cerita Dian, kini aku tahu dengan siapa berhadapan. 

 

***

Langit senja menampakkan hamparan warna emas. Tanda sang raja siang akan tenggelam berganti bulan. Seharian berkutat dengan tulisan yang akan segera dicetak, membuat kepala sedikit berdenyut. Harusnya aku sudah pulang tiga jam yang lalu. Namun karena pak bos meminta untuk menyelesaikan editing naskah hari ini, terpaksa lembur. 

Mas Agus sudah menunggu di lobi. Hari ini Mas Agus yang antar jemput, karena motor matic kesayanganku masuk bengkel. Melihatku keluar dari lift, senyum lelaki halalku ini langsung mengembang. 

Beberapa karyawan sudah pulang. Hanya beberapa divisi yang masih terlihat mondar-mandir. 

"Ada Emak di rumah," ucap Mas Agus menarik perhatianku. Tumben Emak ke rumah, biasanya aku yang selalu ke rumahnya. 

Pikiranku sudah mengelana. Menebak-nebak, ada apa Emak ke rumah. Tapi karena sudah sangat lelah, aku menyerah. Tak mau memikirkan sesuatu yang membebani otakku. Bisa saja Emak datang karena ingin menginap. 

Mas Agus menghentikan mobilnya di rumah makan padang yang sering kami datangi. Tahu aku sudah sangat lelah, ia tak memintaku turun. Melainkan ia sendiri yang turun dan memesan beberapa makanan. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan menenteng paper bag bertuliskan nama rumah makan padang. Lalu melajukan mobilnya. 

Sampai di rumah, orang tuaku sedang nonton TV dengan Dian yang rebahan di sofa. Aku mendekatinya dan mencium tangan mereka bergantian. Setelahnya pamit untuk mandi. Saat masih di kantor tadi, aku sudah berencana untuk berendam air hangat supaya otot-otot yang tegang akibat seharian di depan laptop bisa mengendur. Namun kedatangan kedua orang tuaku, membuatku harus membatalkannya dan bersegera menyelesaikan ritual mandi ini. 

Mas Agus sudah menata makanan yang dibelinya di meja makan. Dia memang imam yang sempurna. Selain taat beribadah, ia selalu membantu pekerjaan rumah jika aku sudah lelah. Padahal dirinya sendiri juga lelah bekerja seharian. 

Kami makan sambil sesekali diselingi canda tawa. Apalagi dengan celotehan polos Dian menjadikan suasana makan malam ini semakin hidup. Nafsu makan Dian memang sangat menyenangkan. Tak pernah pilih-pilih makanan. Apapun yang disajikan pasti ia makan dengan lahap. 

Selesai makan aku dibantu Mas Agus membereskan bekasnya. Sementara Emak, Bapak,dan Dian sudah kembali ke ruang TV. 

"Nginep sini kan, Mak?" tanyaku sembari duduk di dekatnya. Emak mengalihkan pandangan dari TV dan menatapku intens. Seperti ada sesuatu yang hendak dibicarakannya. Mulutnya terlihat membuka lalu menutup kembali. Ada keraguan yang tercetak jelas dari sorot mata sayunya. 

"Ada apa, Mak? Sepertinya ada yang mau diomongin?" Perempuan yang telah membesarkanku dengan berlumur kasih sayang ini mengangguk. Tangannya yang sudah sedikit keriput menggenggam erat tanganku. Kedua netranya berkilat diterpa cahaya lampu. Ada genangan air mata yang berusaha ditahannya. 

 

"Mbakyumu, Nduk." 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!