Ditipu Menantu Benalu
Mengejutkan
Sebelum baca, follow dan subscribe dulu ya, Dear. Biar author semangat melanjutkan ceritanya Jangan lupa kasih bintang lima dan love juga. Eh, ditunggu krisannya juga di komen, ya.
____________
"Apa, Mak, mas Tisna menyuruh bapak jualan lagi?" ucapku lantang. Sengaja kukeraskan suara biar mas Tisna, suami kakakku dengar.
"Nduk, jangan keras-keras ngomongnya, nanti mbakyumu marah," ucap emak berbisik. Kulihat tubuh rentanya bersandar di kursi. Sambil sesekali melirik arah pintu kamar mbak Citra.
"Mak, mau sampai kapan begini? Dia itu laki-laki yang paling kuat di rumah ini. Tenaganya juga lebih besar dibanding bapak yang sakit-sakitan." Aku menjeda kalimat. Mengatur napas yang mulai megap-megap karena menahan emosi.
"Harusnya dia yang kerja, Mak. Dia punya tiga anak yang masih kecil-kecil. Masa nggak malu minta terus sama bapak?"
Dari arah pintu kamar mbak citra, terdengar suara pintu dibanting. Rupanya mas Tisna baru pulang dari warung kopi langganannya. Mungkin ia mendengar omonganku barusan, makanya ia sengaja membanting pintu.
Tak lama kemudian, mbak Citra keluar dengan muka merah padam. Tatapannya nyalang seperti hendak memakanku.
"Heh, Dewi! Kamu kenapa sih selalu ikut campur urusan keluargaku? Kalau nggak suka aku disini bilang, biar aku pergi dari sini!"
Mbak citra berdiri sambil bertolak pinggang. Matanya nyalang, mukanya merah, dan bibirnya cemberut. Aku tahu dia baru saja mendapat laporan dari suaminya. "Kamu kalau kesini cuma mau menghasut emak, mending nggak usah datang, deh! Nanti pasti ujung-ujungnya aku yang kena ceramah emak sama bapak." Dia melengos dan kembali ke kamar.
"Nduk, sudah. Emak malu didengar tetangga. Biar emak aja yang jualan gorengan lagi. Kasihan bapak masih belum sehat betul," ucap emak dengan mata berkaca-kaca. Dada ini bergemuruh melihat emak yang begitu tegar. Diusianya yang sudah senja, harusnya sudah bisa menikmati hari tua dengan banyak beribadah. Tapi karena mbak Citra dan suaminya pulang, emak terpaksa memutar otak supaya dapur tetap ngepul. Padahal seandainya kakak ipar ku mau bekerja untuk menghidupi keluarga kecilnya sendiri, jatah bulanan dariku untuk emak, sudah lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari.
Kuhela napas panjang untuk menggali stok sabar yang kukumpulkan. Sementara emak sudah bersimbah air mata. Tubuh rentanya bergetar mendengar pertengkaran kami. Aku tahu, emak ingin kami akur. Tapi sepertinya sulit, selama lelaki yang sayangnya berstatus ipar itu masih menjadi benalu di sini.
"Makan, Nduk. Tadi emak masak tumis kangkung kesukaanmu." Emak mengamit lenganku menuju ruang makan. Membuka tudung saji dan menyuruhku duduk. Batinku bertanya-tanya, kenapa makanannya masih utuh. Padahal sekarang sudah lewat jam makan siang.
"Belum pada makan, Mak?" tanyaku pelan.
Wajah emak berubah keruh. Terdengar embusan napas kasar dari mulut emak. Kucoba meraih tangannya. Tangan yang dulu melimpahiku kasih sayang tulus. Bahkan hingga kini. Kugenggam erat tangan keriput itu, lalu kucium takzim.
"Kenapa, Mak?" Kutatap mata teduh yang sudah dipenuhi kaca-kaca itu.
"Mereka nggak mau makan. Katanya bosen tiap hari makan daun-daunan," keluh emak. Jelas sekali wanita pemilik surga ini memikul beban yang berat.
"Sabar ya, Mak. Nanti Dewi cari jalan keluar masalah ini." Kuhela nafas panjang untuk melonggarkan paru-paru yang terasa sesak.
Setelahnya makan, aku membantu emak membereskan dapur. Menyelipkan beberapa lembar uang merah ke tangan keriput itu lalu menciumnya takzim lagi.
"Dewi pulang dulu ya, Mak."
"Iya, Nduk. Hati-hati." Emak mengelus puncak kepalaku dengan sayang.
Aku mengangguk dan mengulas senyum terbaik. Berharap bisa sedikit mengobati rasa sakit di hati wanita yang paling kucintai ini.
Emak mengantar kepergianku sampai ke depan pintu. Sebelum melangkah keluar, kutatap netra teduh emak sekali lagi. Dengan cepat ia menyusut air mata yang sudah jatuh membasahi pipi. Ah, emak. Aku jadi tak tega meninggalkannya dengan orang-orang tak tahu diri itu. Ingin rasanya aku membawa kedua orang tuaku ke rumah. Namun mereka tidak mungkin mau karena sudah berulang kali kuminta tidak bersedia.
"Dewi!" panggil mbak Citra menghentikan langkahku.
"Mau pulang?" Aku hanya mengangguk tanpa menjawab. "Pinjem 200 ribu dong, buat beli pempers sama susu!"
Kutatap kakakku satu-satunya. "Emang nggak dikasih mas Tisna?"
"Dia lagi nggak ada uang!" ucapnya ketus.
"Cepetan, keburu Caca bangun!" lanjutannya dengan intonasi lebih tinggi.
"Nggak ada, Mbak. Maaf," ucapku sambil berbalik.
Setelah itu aku berjalan tanpa menoleh lagi. Ku langkahkan kaki lebih cepat agar tidak mendengar kalimat repetan yang selalu menjadi penghias hari-hari di rumah ini.
"Pelit amat sih sama saudara sendiri. Cuma 200 ribu doang!"
Aku tak menanggapi dan memilih pergi meninggalkan kakakku yang terus mengumpat.
"Dewi! Awas saja kamu, ya! Jangan salahkan aku kalau barang-barang di rumah ini habis terjual!"
Aku menghentikan langkah, berbalik dan menatap mbak citra yang masih melotot.