Dinikahi Calon Ipar

Praduga

"Sorry, Bro, mendadak ada urusan penting tadi," ucap Desta sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan Daniel. 

 

Setelah meyakinkan Meta, pria bertinggi 182 cm itu langsung meluncur ke kafe Laut Biru untuk bertemu dengan sahabatnya yang baru pulang dari luar negeri. Akibat panggilan mendadak calon mertua, ia membatalkan janji temunya padahal Daniel sudah di jalan menuju rumah sakit tempatnya bekerja. 

 

Dan di sinilah mereka sekarang. Saling mengobrol mengusir jenuh. 

 

"Gimana hubungan Lo sama Meta? Sudah ada tanda-tanda mau ke jenjang yang lebih serius?" 

 

Daniel memang belum mendengar kabar tentang dirinya. Karena selama laki-laki itu di Sidney, jarang sekali mereka bertukar kabar. Selain kesibukan masing-masing, gaya hidup pria yang lama tinggal di luar negeri itu sangat bebas. Desta tak nyaman untuk sekadar menceritakan hubungan percintaannya pada Daniel. Bukan mendapatkan solusi, yang ada malah dibully. 

 

Desta menarik napas panjang sebelum memutuskan untuk bercerita. Lalu meneguk es soda milik sahabatnya tanpa izin. Pria itu melotot melihat miliknya diambil begitu saja. Namun tampaknya Desta tak begitu peduli. Bahkan ia meneguknya hingga tandas. 

 

"Lo! Kebiasaan ya. Sudah kere sampai nggak kuat pesan minuman sendiri?" ucap Daniel mencemooh. 

 

Desta hanya nyegir tanpa dosa. Setelahnya menjentikkan jari untuk memanggil pelayan. Ia memesan minuman untuk dirinya dan juga lelaki di depannya. 

 

"Tampang Lo kusut banget, lagi ada masalah?" Daniel menatap sahabatnya penuh selidik. 

 

"Yah. Gue mau nikah dua hari lagi."

 

"What?! Seriosly?"

 

"Ya."

 

"Hebat," ucap Daniel sambil menepuk bahu Desta. "Harusnya bahagia dong, bukankah ini yang selama ini Lo tunggu-tunggu?"

 

"Masalahnya gue nikahnya bukan dengan Meta, tapi dengan kakaknya."

 

"What?!"

 

Kali ini Daniel benar-benar terkejut. Kedua matanya membola dengan mulut menganga. Ia tak menyangka jika Desta akan menikah dengan gadis lain. Lebih mengejutkan lagi, gadis itu kakaknya Meta. Apa sebenarnya yang telah ia lewatkan?

 

Desta menceritakan awal musibah itu terjadi. Tak ada yang terlewat sedikitpun. Sesekali ia menghirup udara dengan rakus seolah stok oksigen dalam rongga dadanya telah habis. Terlihat sekali sorot kesedihan yang membuat sinar di kedua matanya meredup. 

 

"Lo yakin mau melakukannya?"

 

"Ya, nggak ada pilihan lain. Sebenarnya gue muak melihat wajahnya. Gue juga nggak yakin bisa sanggup bertahan selama setahun atau nggak."

 

"Kalau memang Kakaknya seperti yang Lo ceritakan, gue yakin Lo bakal secepatnya menceraikannya. Apa mungkin dia sengaja menjebakmu supaya Lo mau menikahinya?"

 

Desta menerawang. Otaknya berpikir keras. Mencoba kembali pada moment-moment pertemuan mereka. Saat ia datang untuk mengantar jemput kekasihnya, atau saat ia bertamu untuk ngobrol dengan orang tuanya. 

 

Ia mengingat-ingat sikap gadis itu. Tampak acuh dan nggak genit. Nggak juga untuk sekadar cari perhatian. Ah, rasanya nggak mungkin kalau dia sengaja menjebaknya. Lagipula itu salahnya yang datang dalam kondisi basah kuyup di saat ada pria dewasa sedang mabuk dan dalam pengaruh obat perangsang. Jelas bentuk tubuhnya yang tercetak meski memakai kerudung mampu membangkitkan sesuatu dalam dirinya yang sedang dalam pengaruh obat.

 

"Sepertinya nggak mungkin, deh. Dia itu perempuan berhijab. Pasti menjaga dirinya."

 

"Lo yakin? Bahkan sekarang banyak penjaja s*x yang berhijab. Ketika di luaran ia menutup auratnya, ketika masuk ke rumah bordil ia mengumbarnya."

 

Pemikiran yang sangat naif. Padahal jika seorang muslimah paham hukum syara', dia tak akan mungkin melakukan hal itu. Menutup aurat adalah kewajiban bagi setiap muslim. Sayangnya tak sedikit perempuan yang terasuki paham kapitalis-liberal, menjadikan hijab sebagai tameng untuk menutupi aibnya. 

 

Bahkan tak sedikit yang menjadikan hijab sebagai bahan candaan. Andai mereka tahu, betapa Islam sangat memuliakan perempuan dan menjadikan hijan sebagai kewajiban baginya, pasti tak akan berani memainkannya. Bahkan wanita-wanita yang berpakaian tapi seperti telanjang, dikabarkan dalam sebuah hadits tak akan bisa mencium baunya surga. 

 

Pemikiran liberal lah yang membawa pengaruh buruk dan opini negatif tentang hijab. Sehingga banyak dari kaum wanita merasa hijab tak lain hanya aksesoris semata. Sehingga bebas untuk dipakai dan dilepas kapan saja. Apalagi tanpa dibarengi dengan iman dan pemikiran yang benar. Ya seperti Daniel ini. 

 

Desta tampak terprovokasi. Ia manggut-manggut membenarkan ucapan sahabatnya. Cara berpikir pria itu memang bebas. Karena terbiasa hidup dalam lingkungan liberal. Dimana kebebasan berekspresi dijunjung tinggi. 

 

"Apalagi dia sudah dewasa. Seharusnya dia sudah mendapat jodoh duluan, kan? Mungkin ia tak rela kalau adiknya yang menikah duluan. Apalagi calon suami aduknya adalah pria tampan yang kaya raya. Siapa coba yang nggak tergiur?"

 

Sekali lagi Desta menelan mentah-mentah omongan sahabatnya. Sehingga otaknya yang sudah hampir "waras" kembali teracuni. 

 

Awalnya ia berpikir jika gadis itu perempuan baik-baik yang kebetulan lagi apes menjadi korban pelecehan yang dilakukannya. Namun mendengar pendapat sahabatnya membuat pikirannya kembali keruh. Ia tak lagi mampu membedakan kebenaran dan bukan. Percaya begitu saja dengan asumsi yang dibuat oleh Daniel. Tanpa sadar, kebencian pada calon istrinya semakin menghunjam kuat dalam sanubarinya. 

 

"Ya, Lo benar. Mungkin dia sengaja supaya tidak jadi perawan tua." Desta mengepalkan jemarinya, "tunggu saja, akan kubuat rumah tangga kami nanti seperti neraka."

 

Daniel tersenyum puas melihat sahabatnya mulai terpancing. 

 

Keduanya lalu menghentikan obrolan sejenak kala pelayan datang membawa hidangan yang dipesan Desta. Mereka menikmati makanan dalam diam. Hanya sesekali terdengar siulan Daniel saat melihat perempuan seksi melintas di dekatnya.

 

"By the way, Lo di Indo lama atau cuma main doang?"

 

Daniel menghentikan kunyahannya. Lalu meneguk air putih untuk mengosongkan mulutnya. 

 

"Gue mau menetap di sini, Bro. Papi meminta gue untuk mengelola perusahaan yang ada di sini. Dan ... kalau gue pikir, memang sudah saatnya gue serius dalam hidup. Sudah cukup waktu gue terbuang sia-sia selama ini."

 

"Wuidih, dah tobat Lo?"

 

"Yah, begitulah. Sekalian gue mau mencari adek gue yang hilang."

 

Desta terlihat shock. Pasalnya ia mengira kalau Daniel anak tunggal. Selama ini dia juga nggak pernah cerita kalau punya adik. 

 

"Lo punya adik?" tanya Desta tak mampu menyembunyikan rasa ingin tahunya. 

 

Kali ini Daniel tak lagi berselera untuk menghabiskan makannya. Setiap kali membicarakan soal adiknya, ia selalu sedih. Rasa bersalah tiba-tiba menyeruak dalam dadanya. 

 

Dulu saat usianya baru berumur lima tahun, ia memiliki adik perempuan yang manis. Awalnya ia sangat menyayangi adiknya. Setiap kali ibunya melakukan pekerjaan rumah, ia akan menjaganya tanpa beranjak dari sisi adiknya. 

 

Namun ketika melihat perhatian mamanya yang lebih besar pada sang adik, ia merasa cemburu. Puncaknya, saat tanpa sengaja adiknya jatuh dan pundaknya mengenai mainannya hingga berdarah, mamanya sangat marah padanya. Dan itu membuatnya benci pada sang adik. 

 

"Terus adik Lo kemana emangnya?"

 

Seketika wajah Daniel berubah mendung. Ada setitik kristal yang jatuh dari sudut matanya. Hal itu tak luput dari pandangan Desta. 

 

"Dia ..."

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!