Dinikahi Calon Ipar
Bukan Hadiah Terindah
"Apa ... kamu masih mencintainya?" lirih Desta dengan nada cemburu. Melihat perubahan mimik wajah sang istri hatinya terasa nyeri.
"Aku ... Aku ... nggak pernah menjalin hubungan dengannya. Dia hanya kakak tingkatku waktu kuliah dulu."
Desta masih tak percaya. Iya terus saja mendesak agar sang istri berterus terang mengenai pria yang baru saja membuat darahnya mendidih.
"Tapi dia tampak seperti merindukanmu. Sesama pria aku tahu arti tatapan mata itu."
"Sudahlah, Mas lebih baik kita pulang saja aku capek dan pengen istirahat."
Wanita itu bangkit diikuti oleh suaminya yang masih dipenuhi tanda tanya di kepala. Sebenarnya pria itu masih belum puas dengan jawaban sang istri, tapi Ia juga tak mau mendesaknya. Hubungan mereka baru saja terjalin indah, tidak mungkin Desta melakukan kesalahan dengan tak memercayai istrinya sendiri.
***
Tak terasa Diana telah melewati 3 bulan masa pernikahannya. Pagi ini ketika hendak membuat sarapan untuk mereka berdua, tiba-tiba ia merasa pusing dan mual. Ditambah aroma nasi membuat wanita itu semakin mual. Perutnya seperti diaduk-aduk, ada sesuatu yang mendesak ingin keluar.
Tanpa aba-aba wanita itu langsung berlari menuju wastafel dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Sebuah tangan terasa memijit tengkuknya lembut.
"Kamu kenapa, Non? Apa perlu bibi belikan obat?"
"Nggak tahu mungkin maagku kambuh. Bibik tolong lanjutin masaknya, ya aku pengen istirahat."
"Ya Non. Kenapa nggak minta tolong sama Aden aja untuk memeriksa?"
Wanita setengah baya itu menatap punggung sang majikan dengan raut khawatir. Namun nalurinya sebagai seorang perempuan mengatakan sesuatu yang membahagiakan di balik sakitnya wanita yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu.
Diana memilih untuk kembali merebahkan diri di kamarnya. Kepalanya terasa berputar dengan mata yang sudah memanas. Ditambah lagi perut yang terus bergolak ingin dimuntahkan.
Sementara Desta yang sudah siap untuk ke rumah sakit berjalan menuju sang istri dan menanyakan keadaannya.
"Kamu kenapa, sayang. Apa kamu sakit?" tanyanya sambil mengulurkan tangan ke dahi wanita itu.
"Suhu badanmu hangat. Apa perlu ikut aku ke rumah sakit?"
"Nggak papa, Mas, aku hanya sedikit pusing dan perlu istirahat."
Namun bukan Desta Chika langsung percaya begitu saja. Pria itu duduk di samping sang istri, mengamati wajahnya dan sekali lagi mengecek suhu tubuhnya. Tanpa diminta ia memeriksa kondisi sang istri.
"Aku nggak papa, Mas, nanti juga sembuh kalau sudah istirahat."
"Baiklah kamu istirahat dulu. Biar ku minta bibik untuk membuatkan bubur untukmu. Apa kamu merasakan sesuatu?"
"Aku hanya pusing dan mual." Diana berusaha memejamkan mata sambil menahan gejolak di perutnya yang semakin menjadi. Terlebih ketika hidungnya mencium aroma parfum sang suami. Rasanya ia ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. Entah mengapa akhir-akhir ini hidungnya terasa lebih sensitif terhadap aroma tertentu.
"Apa semalam kamu nggak makan?"
"Iya, akhir-akhir Ini aku memang yang agak telat makan, Mas," jawab Diana sambil memejamkan mata.
"Baiklah setelah makan bubur nanti langsung minum obat maag ini. Atau mau diminum sebelum makan juga nggak papa. Sepertinya sakit maagmu kambuh." Pria itu menyodorkan obat maag kepada sang istri.
"Sudah Mas aku nggak papa lebih baik Mas segera turun sarapan dan berangkat ke rumah sakit. Aku nggak apa-apa, kok."
Sengaja wanita itu menyuruh suaminya untuk segera keluar dari kamar karena perutnya sudah nggak tahan untuk minta dikeluarkan isinya. Sepeninggal sang suami ia segera berlari menuju kamar mandi dan kembali mengeluarkan seluruh isi perutnya hingga tak ada lagi yang mau keluar.
Dia menatap cermin yang ada di atas wastafel. Mata cekung dengan wajah yang pucat tampak seperti bukan dirinya. Wanita itu tampak berpikir. Mengingat-ingat kapan terakhir kali ia mendapatkan tamu bulanan. seketika matanya terbelalak kalah mengingat bahwa ia sudah dua bulan tidak mendapati kamu bulanannya.
"Apakah aku sedang hamil sekarang?" Humam wanita itu sambil mengelus perutnya yang masih rapat.
Seketika senyumnya terbit membayangkan di dalam rahimnya tumbuh calon buah hati mereka. Meski belum bisa dipastikan bahwa ia hamil namun ia merasa bahwa kini dirinya telah berbadan dua.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Lalu ia melangkah keluar dari kamar mandi menuju pintu kamar.
"Ada apa, Bik?" tanya Diana sambil memberikan akses untuk sang ART agar bisa masuk ke dalam kamarnya.
"Ini non sudah saya buatkan bubur di makan dulu ya, terus kalau sudah nanti cobain ini ya Non, ya."
Wanita paruh baya itu menyodorkan sebuah benda bertuliskan merk kesehatan yang isinya berupa alat tes kehamilan. Tanpa pikir panjang Diana langsung mengambil alih benda itu dan kembali masuk ke kamar mandi.
Wanita yang masih tampak pucat itu mengikuti petunjuk yang ada dalam kemasan dengan mencelupkan ujung tespek pada urine yang telah Ia tampung. Lalu ia memejamkan mata sambil berdoa dalam hati berharap apa yang iya bayangkan barusan betul-betul terjadi.
Beberapa detik kemudian ia berusaha membuka matanya dengan cara mengintip sedikit lalu seketika terbelalak kalau mendapati dua garis merah terpampang jelas pada stik itu.
"Titik hasilnya positif," ujarnya sambil sedikit berlari menuju wanita paruh baya itu. Tanpa aba-aba Diana merengkuh tubuh sedikit gempal milik Bi Ijah.
"Aku sebentar lagi mau jadi ibu, Bik. Ini tidak mimpi kan? ini nyatakan Bik?"
Diana menangis haru dalam pelukan sang asisten rumah tangga. Ada rasa asing yang tiba-tiba menyeruak dalam dadanya. Iya betul-betul bahagia dengan apa yang ia dapatkan saat ini. Kebahagiaan yang sempurna.
Bi Ijah merenggangkan pelukan mereka lalu menatap sang majikan dengan senyum merekah. Kedua matanya berbinar dengan 1 tangan yang mengelus perut rata sang majikan.
"Selamat ya, Non bibik ikut bahagia mendengarnya," ucapnya tulus.
Lalu keduanya sepakat untuk tidak memberitahukan kepada siapa pun akan berita gembira ini. Diana sengaja melarang Bi Ijah untuk mengabarkan pada suaminya karena ia sendiri yang akan memberikan kejutan itu nanti saat hari ulang tahun suaminya 1 minggu lagi. Iya berharap ini akan menjadi kado terindah buat sang suami tercinta.
Seharian ini Diana sengaja tidak melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya. Ya meskipun Ia hanya membantu saja karena hampir semua pekerjaan rumah sudah di-handle oleh Bi Ijah dan mang Ujang.
Hari ini ia disibukkan dengan membaca. Ya setelah mengetahui bahwa dirinya hamil ia segera mencari artikel berkaitan dengan kehamilan. Bahkan ia sudah mencari tahu tentang susu hamil terbaik dan makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh untuk dikonsumsi.
Malam ini Diana sengaja menunggu sang suami pulang sambil menonton televisi. Tidak, lebih tepatnya ia sibuk dengan gawainya dan dan mencari tahu banyak hal terkait kehamilan. Bahkan seharian ini yang ia lakukan hanya seperti itu.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tak biasanya sang suami pulang selarut ini kecuali jika ada jadwal operasi. Namun sepertinya tadi sang suami tidak mengatakan kalau ada jadwal operasi malam ini. Lalu kemana laki-laki itu? Apakah ada masalah dengan perusahaannya? Batin Diana bertanya-tanya.
Suara deru mesin mobil membuat wanita itu semangat untuk menyambut kedatangan sang suami. Namun langkahnya untuk membuka pintu terhenti kala mendengar suara percakapan dari luar. Tanpa berpikir panjang Diana mengintip dari balik gorden dengan siapa suaminya pulang.
Tiba-tiba kedua matanya memanas ketika melihat Siapa yang sedang bersama suaminya saat ini. Tubuhnya membeku dadanya panas dan sesak sekolah udara disekitarnya habis seketika. Belum sempat Ia membuka pintu namun pintu itu sudah terbuka dari luar. Sudah dipastikan bahwa suaminya tidak menyadari bahwa dirinya menunggu kedatangannya.
"Di--Diana, kenapa kamu belum tidur?" Pria itu tampak salah tingkah dan berusaha untuk melepaskan belitan tangan seseorang yang sedang bersamanya saat ini.
"Kenapa kamu bisa bersamanya, Mas, dan kenapa kamu membawanya ke sini?" tanya Diana dengan suara parau.
"Maaf, nanti aku jelaskan tapi bisakah kamu memberiku jalan?"
Mendengar reaksi sang suami Diana seperti tidak mengenal lagi suaminya. Pria itu seperti kembali pada saat awal-awal pernikahan mereka. Dingin dan tak tersentuh. Seketika hatinya merasa tercubit dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Kenapa kamu tega melakukan ini, Mas?" lirih Diana yang tidak mungkin bisa didengar oleh suaminya, karena pria itu sudah masuk ke dalam kamar tamu bersama orang yang dibawanya.