Dinikahi Calon Ipar
Siapa Dia
"Itu tidak benar kan, Bu? Saya yakin kabar bu Diana sudah menikah itu hanya gosip."
Seorang pria berseragam kaos dan training tiba-tiba masuk dengan senyum khasnya. Sudah menjadi rahasia umum kalau guru olahraga ini naksir berat sama Diana sejak pertama kali ia masuk ke sekolah ini.
Sudah beberapa kali ia mengutarakan isi hatinya pada Diana baik secara tersirat maupun terang-terangan. Sayangnya Diana selalu menolak secara halus karena ia memang tak mau tak mau menjalin hubungan dengan laki-laki dalam satu naungan kerja.
"Maaf, Pak Dody, sayangnya gosip itu benar. Saya sudah menikah sebulan yang lalu."
"Kok nggak ada yang ngasih tahu saya, Bu? Kenapa bu Diana tega melakukan ini pada saya? Bukankah bu Diana tahu kalau saya selalu menunggu kesiapan bu Diana untuk menikah dengan saya?" ucap pria itu sendu.
Kini kantor guru menjadi sedikit ramai akibat ulah guru olah raga itu. Sementara Diana yang merasa menjadi tertuduh hanya bisa menarik bibirnya membentuk senyum terpaksa. Tak tahu harus bereaksi seperti apa menghadapi pria yang sedikit lebay sepertinya.
"Maaf, Pak. Pernikahannya memang dadakan," ucap Diana lirih. Ia sungguh benci menjadi bahan pembahasan. Sesekali ekor matanya menatap jam dinding berharap waktu bergerak lebih cepat hingga ia bisa segera masuk kelas.
"Apa? Kenapa bisa begitu? Bu Diana nggak hamil duluan, kan?"
"Astaghfirullah, Pak. Saya nggak seburuk itu. Meski saya jelek, bukan berarti saya berani berbuat dosa demi mendapatkan pasangan hidup."
Untuk pertama kalinya Diana berkata ketus pada rekan kerjanya. Selama ini ia selalu bersikap lembut dan sopan. Namun tetap tegas terhadap segala kesalahan.
"Bu--bukan gitu, Bu. Maksud saya ... kenapa buru-buru, apa terjadi sesuatu?" ralat pria itu yang dibalas hembusan napas kasar dari semua guru.
"Makanya jangan keseringan nonton sinetron, Pak. Biar nggak mudab baper. Apalagi berani menuduh wanita sebaik bu Diana dengan tuduhan kejam seperti itu. Dosa besar loh.鈥
Bunyi bel tanda masuk menyelamatkan Pak Dodi dari bulan-bulanan para guru.
"Yang sabar ya, Di," ucap Alma menguatkan sahabatnya. "Itulah resiko menikah dadakan karena di di lingkungan kita menikah dadakan biasanya karena hamil duluan seperti yang dikatakan Pak Dodi tadi. Tapi aku percaya kamu nggak seperti itu, kok."
Diana hanya membalas dengan senyuman, lalu melenggang pergi menuju kelas yang akan ia isi pagi ini.
Sesuai janji Desta menjemput sang istri setelah dihubungi. Kali ini ia sengaja turun untuk menemui sang istri sekaligus menyapa rekan kerja sang istri. Tentu saja hal itu membuat para guru heboh.
Diana yang paham bahwa suaminya banyak yang mengidolakan hanya bisa menahan gejolak di dalam dadanya sambil tersenyum melihat rekan-rekannya yang histeris.
"Kita pulang duluan ya, Bu, Pak," ucap Diana yang diikuti tatapan iri para guru wanita.
"Mau mampir makan dulu, nggak?" tanya Desta setelah mobil yang mereka tumpangi membelah jalanan.
"Boleh. Emangnya Mas nggak kembali ke rumah sakit?"
"Nggak. Jadwal praktikku sidah selesai. Mau makan apa?"
"Terserah Mas aja."
Desta membelokkan mobilnya ke sebuah restoran bertuliskan "Masakan Nusantara". Keduanya berjalan beriringan dengan Desta yang menggenggam tangan istrinya.
Diperlakukan demikian membuat hati Diana berbunga-bunga. Seperti mimpi ia merasakan kebahagiaan ini. Bahkan sepanjang jalan mereka menuju tempat duduk, semua mata memandang mereka takjub. Lebih tepatnya memandang suaminya.
"Mau pesan apa?" tanya pria yang terlihat tampan meski kemejanya sudah digulung setengah lengan itu saat buku menu disodorkan oleh pelayan.
Mata bening wanita itu berbinar kala melihat menu kesukaannya juga tersedia di sana. Ia menunjuk makanan kesukaannya tanpa bersuara.
Sang pelayan mencatat pesanan pasangan yang sedang hangat-hangatnya ini. Lalu memastikan sekali lagi dan diangguki oleh keduanya.
"Tunggu sebentar ya, Pak, Bu," ucap pelayan pria dengan kaos bertuliskan nama restoran ini.
Tak berselang berapa lama, dua orang pelayan datang membawa pesanan mereka. Diana yang sibuk menetralkan degup jantungnya yang berdentam-dentam karena tatapan sang suami yang tak pernah lepas itu mendongak kala sebuah suara menyebut namanya.
Di depannya menjulang tubuh tinggi seorang pria berjenggot rapi. Tatapan mereka bertemu. Ada kilat rindu yang membuat suami Diana merasa terabaikan di sana.
"Diana, gimana kabarnya?" ucap pria itu lirih.
"Mas Iqbal, ... ka--kapan balik ke Indonesia? Ke--kenapa nggak pernah berkabar?"
"Aku kehilangan kontakmu, Di. Hp-ku hilang saat baru sampai Kairo. Siapa pria ini?"
Merasa disebut, Desta langsung mengulurkan tangannya. "Kenalkan, saya Desta. Suami Diana!"
"Kamu sudah menikah?" Terlihat ada bias cemburu tersirat dari sorot mata cokelat pria itu.
Diana yang masih berusaha mencerna situasi ini menegang melihat aura permusuhan yang dipancarkan suaminya. Rahang pria itu mengeras.
"Maaf, kami makan dulu, apa Anda mau ikut makan sekalian?" tanya Desta basa-basi. Sebenarnya ia ingin mengusir pria yang entah datang dari mana ini.
Kehadiran pria asing ini membuat nafsu makannya tiba-tiba anjlok. Belum lagi hatinya yang tiba-tiba panas terbakar api cemburu. Ia yakin, pria ini memiliki hubungan masa lalu dengan istrinya. Nanti di rumah ia akan menanyakannya.
"Kamu mau pesan apa lagi, Sayang? Mumpung kita masih di sini. Atau mau bungkus buat makan di rumah nanti? Kamu butuh stamina ekstra untuk malam panjang kita nanti," ucap Desta membuat Diana tersedak.
Ia tak habis pikir pria yang sudah menyandang status suami ini berbicara masalah pribadi pada pria di depannya. Wajah Diana tampak merah. Bukan karena tersedak tadi, melainkan karena malu dengan ucapan suaminya.
"Aku sudah kenyang?" ucap wanita itu sedikit ketus. Namun sikap jutek wanita itu justru membuat pria berprofesi dokter dan pengusaha itu gemas dan semakin ingin menjailinya.
"Kamu yakin? Jangan salahkan aku kalau tenagamu terkuras habis nanti malam, Baby," goda Desta sambil mengerlingkan matanya.
Sementara Iqbal yang masih berdiri di tempatnya merasa panas mendengar obrolan wanita yang selalu ia rindukan dengan pria yang mengenalkan diri sebagai suami itu.
Dadanya terasa sesak mendapati fakta baru ini. Wanita yang selalu ia sebut namanya dalam doa, dan diharapkan akan menjadi makmumnya ini ternyata sudah menjadi milik pria lain.
"Maaf, memang tak seharusnya aku di sini. Diana, aku permisi. Semoga kamu bahagia," ucapnya lalu pergi meninggalkan pasangan pengantin baru itu tanpa menoleh lagi.
Iqbal adalah sosok pria yang diidamkan Diana. Keduanya memang tak pernah pacaran karena keduanya memegang prinsip pacaraan setelah menikah. Namun keduanya sudah memiliki komitmen untuk bersatu jika masing-masing sudah siap. Terutama Iqbal yang harus mencari bekal ilmu dan materi di negeri orang.
Namun siapa sangka takdir mempertemukan mereka dalam kondisi yang tidak diinginkan. Diana telah menikah dengan pria lain.
"Apa dia mantan pacarmu?" tanya Desta menghancurkan lamunan Diana.
Ya, wanita itu terus menatap kepergian Iqbal hingga punggungnya tak terlihat lagi. Ada perasaan aneh yang menyeruak dalam hatinya.
"Bukan."
"Yakin? Sepertinya pria itu sangat merindukanmu."
Dengan mata berkaca-kaca, wanita yang masih memakai seragam kerja itu memalingkan wajah. Menyembunyikan perasaannya yang gundah yang mungkin saja bisa dilihat dari wajah.
"Apa ... kamu masih mencintainya?" lirih Desta dengan nada cemburu. Melihat perubahan mimik wajah sang istri hatinya terasa nyeri.
"Aku ... Aku ... "