Dinikahi Calon Ipar

Pindah Rumah

Setelah melalui drama pagi hari, akhirnya Desta membawa istrinya ke rumah yang ditinggalinya selama ini. Sebagai istri, Diana tak mampu menolak. Ia hanya mengikuti saja kemauan sang imam. 

 

Di sinilah mereka sekarang. Di depan rumah besar berlantai dua dengan pilar-pilar besar yang membuat kesan mewah dan megah. Halamannya cukup luas dan sejuk. Di tengah-tengah halaman itu terdapat air mancur yang dikelilingi taman bunga. Sementara di sisi kanan dan kiri taman itu terdapat jalan berliku dengan paving block menuju garasi. Semua halaman yang tidak di paving, sengaja ditanami rumput jepang yang menutupi seluruh tanah. Tampak menghijau dan segar dipandang mata. 

 

Untuk sesaat Diana menikmati pemandangan indah ini dengan decak kagum. "Sepertinya aku akan betah di sini," ucap Diana dalam hati. 

 

"Selamat datang, Nona Diana. Mari saya antar ke kamar," ucap seorang pria berseragam satpam mengagetkan Diana. Ia menatap sekeliling, sudah tak ada Desta di sana. 

 

"Makasih, Pak."

 

Diana berjalan mengekori satpam itu yang menyeret dua koper milik Diana. Lagi-lagi gadis itu dibuat takjub dengan interior rumah ini. Sebuah suara menyeret kembali kesadaran gadis itu yang sempat terpana dengan rumah mengah itu.

 

"Siapa bilang kamu boleh membawa koper itu ke kamarku?" teriak lantang Desta dari lantai atas membuat satpam itu kebingungan. 

 

Mendengar hal itu, Diana segera berlarienuju sumber suara. Memastikan apakah yang dimaksud adalah koper miliknya. 

 

"Lalu saya taruh di mana, Tuan? Bukankah Non Diana istri Tuan?"

 

"Taruh saja di kamar sebelah," ucapnya ketus tanpa memandang Diana yang mematung di tempat. 

 

Pria berseragam putih-navy itu menatap Diana iba. Namun gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk. Emang apa yang bisa ia perbuat? Pernikahan ini tidak dikehendaki eh Desta. Mana mungkin pria itu mau sekamar dengannya sementara di hatinya masih ada Meta. Bahkan perdebatan tafi pagi cukup menjelaskan posisi dirinya di hati seorang Desta. 

 

"Sabar, Di. Ini hanya sementara. Waktumu satu tahun untuk meluluhkan hatinya yang keras. Yakinlah Allah akan menghadirkan cinta dari ikatan suci yang menghalalkan kalian," batin Diana menguatkan diri sendiri. 

 

Dia bergegas masuk ke dalam kamar yang ditunjuk suaminya. Dua koper telah mendarat cantik di pojok ruangan. Setelah mengucapkan terimakasih pada pria yang membantunya, segera ia menata pakaiannya ke dalam lemari. Tidak banyak yang ia bawa. Hanya satu koper pakaian sehari-hari dan seragam mengajar. Sementara koper satunya berisi buku-buku dan perlengkapan kerjanya. 

 

***

 

Suara petir menyambar di luar. Diana memeluk tubuhnya dengan lutut menekuk di atas ranjang. Tubuhnya gemetar hebat setiap kali kilat cahaya berpendar diikuti suara gemuruh dari langit. Tetes-tetes hujan menimpa jendela kaca di hadapannya. Mengumpul menjadi aliran air yang menetes ke bawah. 

 

Gadis ini selalu takut setiap kali petir menyambar. Entah apa yang membuatnya phobia terhadap hal itu. Andai ibunya tak mendiamkannya, mungkin saat ini ia sudah berada dalam pelukan hangat wanita itu. Sekarang, ia harus menggigil ketakutan dalam sepi. 

 

Bahkan suaminya tak sekalipun menengok atau sekadar bertanya apakah ia sudah makan atau belum, sudah tidur atau belum. Ah, sepertinya gadis itu terlalu banyak berharap. Ekspektasinya terlalu tinggi terhadap pernikahan ini.

 

Perempuan yang baru menyandang status istri dua hari lalu tampak gelisah dalam tidurnya. Kedua matanya sudah sangat pedih, tapi tak sedikit pun mampu terpejam. 

 

Kumandang azan membuatnya mau tak mau bangkit dari peraduannya. Semalaman ia memicing tak bisa tidur, dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima subuh.

 

Dua rakaat sunah fajar dilanjut salat wajib subub telah tertunaikan. Hari ini adalah hari pertamanya hidup mandiri bersama sang suami. Gegas menuju dapur untuk membuat sarapan. Langkahnya terhenti kala melihat seorang perempuan setengah baya telah berkutat dengan alat-alat dapur. 

 

"Eh, Non Diana sudah bangun? Mau sarapan apa, Non?"

 

Diana yang ditodong pertanyaan langsung menatap wanita itu penuh tanya. 

 

Wanita itu menghentikan aktivitasnya memanggang roti tawar isi selai kesukaan majikannya. Menatap Diana dengan senyum terkembang. 

 

"Saya bik Ijah, Non. Pembantu di sini. Saya sudah dua puluh tahun kerja dengan den Desta. Selamat datang di rumah ini, Non. Semoga betah."

 

"Ah, i--iya, Bik. Saya Diana."

 

"Iya, saya sudah tahu, Non. Den Desta bilang kalau kemarin sudah menikah dan akan membawa istrinya kemari. Selamat ya, Non atas pernikahannya. Semoga langgeng," ucap bik Ijah membuat hati Diana mencelos. Namun dalam hati tetap mengaminkan doa itu. 

 

"Non Diana mau sarapan apa, biar sekalian bik Ijah buatin?"

 

"Nggak usah, Bik. Biar Diana buat sendiri aja, sekalian buatin sarapan untuk Mas Desta."

 

Wanita setengah baya itu menunjukkan beberapa lembar roti panggang isi selai strawberry dan selai kacang kesukaan Desta. Diana memilih untuk membuat jus sirsak yang ada di dalam kulkas sebagai pendamping roti. 

 

"Sarapan dulu, Den," ucap bik Ijah mengalihkan fokus Diana pada sosok pria berbalut kemeja biru navy yang terlihat sangat tampan pagi ini.

 

Keduanya sudah duduk berhadapan di meja makan. Lalu makan dalam diam. Sesekali Diana melirik Desta seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi urung. 

 

 "Ada apa?" tanya Desta membuat hadis itu gelagapan. 

 

"Ti--tidak apa-apa, Mas. Hanya ... mau minta izin untuk keluar."

 

"Terserah kamu. Nggak usah bertindak seolah-olah kamu Istriku sungguhan."

 

Seperti ada palu godam menghantam kepalanya. Mendengar jawaban ketus suaminya, Diana hanya meringis dalam hati. 

 

"Kamu harus ingat kalau pernikahan kita tidak seperti pernikahan pada umumnya. Masing-masing dari kita tak perlu saling mengurusi satu sama lain. Hiduplah sesukamu asal tidak membuat namaku buruk." Pria itu bangkit meninggalkan Diana yang bergeming. 

 

Menggigit bibir dalamnya menahan gejolak yang membuat jiwanya gerimis. "Sabar, Diana. Semua akan indah pada waktunya." Kalimat penguat itu terus diulang-ulang dalam hati. 

 

Perempuan berhijab memandang punggung tegap suaminya dengan gejolak di dada. Hingga lelaki itu menghilang dari pandangannya, Diana masih setia menjatuhkan tatapannya di sana. 

 

Sepeninggal Desta, Diana memilih untuk bersiap keluar. Baru dua hari nggak masuk kerja membuatnya bosan. Apalagi di rumah sudah ada ART yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dan setiap kali ia mencoba membantu, perempuan setengah baya itu selalu melarang dengan alasan dia adalah majikan di rumah ini. Daripada ribut dan membuat Desta semakin membencinya, ia memilih mengalah. 

 

Sebuah taman yang berada di dekat alun-alun adalah tujuan gadis itu. Melihat anak-anak bermain dengan riang mampu mengalihkan pikirannya yang semakin ruwet akhir-akhir ini. 

 

Sebuah bola menggelinding mengenai kakinya yang sedang berayun-ayun. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok yang pemilik bola itu. 

 

"Tante, itu bola Dion." Seorang anak kecil dengan pipi tembem mendekat dengan tatapan memohon. Karena gas dengan tingkah cowok kecil itu, Diana berjongkok menyejajarkan tinggi dengannya. 

 

"Ini bola kamu?" Diana mengangkat bola dan menunjukkan pada anak itu. 

 

"Em," ucapnya sambil mengangguk. 

 

"Tante boleh ikutan main?"

 

"Holee, Dion punya teman sekarang. Yuk, Tente, kita lawan Om Dan beldua," ajak Dion seraya menarik tangan Diana dengan logat cadelnya. Keduanya berjalan menuju lapangan. 

 

"Om, sekalang Dion pasti menang! Dion punya teman untuk melawan Om!"

 

"O ya? Siapa yang mau jadi teman anak kecil seperti, hah?" 

 

"Tante cantik!"

 

"Diana?!"

 

Kedua mata gadis itu melotot tak percaya. Diantara sekian banyak pengunjung taman, kenapa harus ketemu dia? Seketika bayangan buruk yang menimpanya beberapa hati lalu berkelebat di pelupuk mata. Mengantarkan sengatan tak kasat mata hingga membuat gadis itu menggigil ketakutan. Tanpa menghiraukan ocehan balita itu, Diana langsung berbalik meninggalkan tempat itu. 

 

"Diana! Tunggu, Di, kita harus bicara! Diana!"

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!