Dinikahi Calon Ipar

Perdebatan di Meja Makan

 

"Kenapa kamu menatapku seperti menatap hantu? Apa saya sejelek itu di matamu?"

 

"Bu--bukan gitu, tapi kenapa tidur di sampingku?"

 

"Emangnya saya harus tidur di mana? Kita sudah menikah, dan di sini hanya ada satu ranjang."

 

Diana menyadari apa yang dikatakan Desta memang benar adanya. Menghembuskan napas perlahan lalu melirik jam dinding yang terus berdetak. Netranya membelalak kala melihat jarum jam menunjuk angka 2.30 dini hari. Apakah suaminya baru masuk kamar jam segini? 

 

"Baiklah. Silahkan tidur. Maaf, sudah mengganggu," lirihnya lalu menuju kamar mandi. 

 

Desta menatap heran pada istrinya yang lebih memilih meninggalkannya ke kamar mandi. Tak mau ambil pusing, pria itu memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya yang letih. Dia sendiri tak paham dengan jalan pikirannya. Kenapa ia harus repot-repot tidur di kamar Diana, padahal ia sangat membencinya. Sisi lain hatinya khawatir jika istri barunya akan mengira bahwa dirinya menerima pernikahan ini. 

 

Cukup lama ia berpikir untuk masuk ke kamar ini atau tidak. Itulah sebabnya tadi ia meminta sahabatnya untuk tetap tinggal hingga larut malam menemaninya bermain catur. Sebenarnya itu hanya alibinya saja untuk menghindari malam pertama mereka. Dengan harapan, ketika ia masuk diam-diam ke kamar pengantinnya, sang istri sudah terlelap. Lalu ia akan bangun lebih awal seolah-olah ia tak pernah masuk ke kamar ini. 

 

Siapa sangka, pergerakan kecil saja membuat gadis itu langsung terjaga. 

 

Suara pintu terbuka membuat Desta kembali membuka matanya. Wajah perempuan itu terlihat segar dengan sisa-sisa air yang masih menempel di wajah putihnya. Sesaat ia terpaku dengan wajah polos itu. 

 

Ia mengira istrinya akan kembali merebahkan diri di sampingnya. Namun ia salah. Nyatanya perempuan itu tampak acuh dan memilih menggelar sajadah untuk bermunajat kepada Allah. Bagi priayang tak kurang memperhatikan agama sepertinya, hal itu merupakan pemandangan langka. 

 

Niat Desta untuk menutup mata urung karena otak dan hatinya nggak sinkron. Ia sudah sangat lelah dan ngantuk. Tapi hatinya terpesona dengan pemandangan indah di depannya. 

 

Selesai menunaikan qiyamullail, gadis itu melanjutkan dengan membaca ayat suci Alquran. Suaranya yang merdua dan bacaan yang fasih, meski lirih, mampu menggetarkan hati Desta yang kosong. Ada perasaan damai yang sangat asing tiba-tiba menyeruak dalam kalbu pria itu. 

 

Ia begitu menikmati bacaan itu hingga azan subuh berkumandang. Tak ada lagi kantuk yang mendera. Lagi-lagi ia terpana melihat istrinya kembali menunaikan salat subuh. "Kenapa dia banyak sekali melakukan salat? Kalau ini sudah pasti salat subuh, lalu yang tadi salat apa? Bukankah salat yang wajib itu hanya 5 waktu?" batin Desta bersenandika. 

 

Selesai salam perempuan yang masih mengenakan mukena itu menengadahkan tangan. Memohon pada-Nya agara Allah meridloi pernikahannya. "Ya Allah, bolehkah hamba berharap bahagia dari pernikahan ini? Tolong hadirkan cinta di dalamnya, berikanlah keberkahan meski awalnya salah."

 

Setelah selesai menunaikan kewajibannya, Diana menoleh pada ranjang dimana suaminya berbaring. Senyum manisnya terukir sempurna hingga membuat Desta terkesiap. 

 

"Salat subuh dulu, Mas, keburu waktunya habis," ujar Diana sambil berdiri membereskan alat salatnya. 

 

Ditodong seperti itu membuat pria yang baru menyandang status suami itu gelagapan. Ia binggung harus menjawab apa. Seingatnya, terakhir kali ia salat saat usianya masih 8 tahun. Itupun ia melakukannya di sekolah setiap pelajaran agama. Karena di keluarganya tak ada satupun yang melakukan ibadah wajib itu. 

 

Orang tuanya sibuk bekerja, dan dia hanya hidup bersama pengasuh yang juga tidak pernah melakukannya. 

 

"Ya."

Hanya jawaban itu yang keluar dari mulutnya. Jawaban teraman saat ini karena dia nggak siap untuk mendapat pertanyaan lanjutan jika ia menolak. Jantungnya berdetak kencang saat wanita itu tersenyum lagi. Lalu keluar kamar mninggalkannya sendirian setelah menyiapkan sajadah. 

 

Pria itu termenung sendiri. Merasa asing dengan kebiasaan istrinya. Selama pacaran dengan Meta, ia tak melihat kekasihnya itu salat. Bahkan mereka sering menghabiskan waktu seharian jika akhir pekan. Dan mereka melewatkan waktu salat begitu saja. Dia berusaha untuk membebaskan hatinya kembali. Tak mau terpengaruh oleh gadis itu, meski sebagian hatinya tertarik untuk mengetahui lebih banyak. 

 

"Aku hanya sementara menjadi suaminya. Tak seharusnya lemah mengahadapi wanita itu."

 

***

 

Pagi ini, sarapan pertama Desta dengan keluarga barunya. Semua sudah duduk melingkar di depan meja makan. Bapak dan Ibu makan dalam diam. Seolah enggan mengeluarkan suara saat ada Diana di antara mereka. Sementara Meta tampak sibuk mencari perhatian Desta. Ia mengambilkan nasi dan lauk untuk Desta. Bahkan sesekali ia berceloteh mengatakan makanan kesukaan pria itu seolah ingin menunjukkan pada Diana bahwa ialah yang paling tahu soal Desta. 

 

Diana yang merasa diabaikan mempercepat makannya agar bisa segera pergi dari sini. Sesekali Desta melirik istrinya saat mantan kekasihnya dengan sengaja menampilkan kemesraan di hadapannya. 

 

"Mau tambah lagi, sayang? Cumi asam manis kesukaanmu masih belum tersentuh lo," ucap Meta dengan suara yang sengaja dibuat manja. 

 

Desta merasa tak nyaman dengan perlakuan berlebihan Meta. Meski di hatinya masih ada nama gadis itu, tapi ia masih memiliki perasaan untuk tidak melukai istrinya di depan keluarga. 

 

"Tidak. Aku sudah kenyang."

 

"Tapi ini makanan favoritmu, loh."

 

"Tidak, Meta. Perutku sudah nggak muat lagi." Desta menyudahi makannya dan mengambil selembar tisu untuk membersihkan bibirnya. Menyeruput air putih, lalu berkata, "Pak, Bu, setelah ini saya akan membawa Diana pulang ke rumah saya."

 

Diana yang hendak bangkit mengurungkan niatnya ketika mendengar kalimat Desta. 

 

"Kenapa tidak tinggal di sini saja?" Bukan kedua orangtuanya tuanya yang menjawab. Melainkan Meta yang entah sejak kapan sudah bergelayut manja di tangan pria itu tanpa rasa sungkan. 

 

"Tidak. Aku sudah menikah dan harus tinggal di rumah sendiri. Aku nggak mau merepotkan keluarga ini," ucapnya. "Di, kamu bereskan semua barangmu dan kita berangkat sebentar lagi."

 

Diana tak membantah. Kini ia sudah menjadi istri. Dan apapun yang diminta suaminya adalah perintah yang harus dipatuhi selama bukan untuk maksiat. Karena setelah menikah, seorang perempuan menjadi tanggung jawab suaminya. Kepemimpinan telah berpindah pada sang suami dan ia wajib untuk taat. 

 

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Diana langsung bangkit dan berjalan menuju kamarnya. 

 

"Kalau gitu aku ikut, ya?" 

 

Langkah Diana terhenti. Entah mengapa sudut hatinya serasa teriris mendengar permintaan adiknya. Jelas permintaan itu sangat tak masuk akal. Namun ia tak berani melawan atau melarang. Hanya diam menunggu jawaban sang suami alih-alih pergi ke kamar. Rasa penasaran yang tinggi membuatnya tetap bergeming menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut pria itu. 

 

"Tidak! Untuk apa kamu ikut? Aku sudah menikah, Met. Mana mungkin kamu ikut tinggal di rumahku."

 

"Kenapa? Apa kamu takut aku akan mengganggu rumah tangga palsumu? Kamu lupa kalau ini hanya sementara? Satu tahun ke depan kamu harus kembali padaku. Jadi nggak salah dong kalau aku ikut. Siapa tahu kamu nanti akan berbuat macam-macam kalau aku nggak mengawasi kalian," cibir Meta dengan tatapan sinis. 

 

"Kamu gila? Jangan aneh-aneh, deh. Bagaimana pun sekarang aku sudah jadi suami kakakmu. Aku harus menjaga perasaannya, Meta. Tolong ... mengertilah," lirih Desta dengan tatapan yang entah. 

 

"Oh, jadi sekarang kamu sudah menerima pernikahan gila ini? Atau kamu sangat senang akhirnya bisa menikmati tubuh kakakku untuk melanjutkan aksimu yang gagal waktu itu?" Suara Meta meninggi. Bapak dan Ibu hanya bisa saling pandang dan menatap putri kesayangannya dengan menghela napas panjang. 

 

Sementara di atas tangga, Diana sudah tak mampu lagi membendung air matanya yang terkumpul. Pertahanannya jebol mendengar kalimat pedas adiknya. Ia merasa seperti orang jahat yang telah mencuri barang kesayangan adiknya. 

 

"Meta! Jaga ucapanmu!" Pria yang baru saja menikah kemarin mengerang frustasi. Tangannya menyugar rambut legamnya dengan kasar. 

 

"Kenapa, aku benar kan?" 

 

"Kamu keterlaluan, Meta!" Pria itu bangkit meninggalkan meja makan tanpa permisi. Bahkan kepada kedua mertuanya yang hanya menatapnya tajam.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!