Dilamar Mokondo yang SALEH

Di sini juga

Koridor yang tadi riuh perlahan berubah arah.

Bukan karena suara mereka keras, tapi sebab dua orang yang berdiri saling berhadapan itu tiba-tiba menarik perhatian.

Beberapa mahasiswa yang tadinya duduk santai mulai memperhatikan. Zizi merasakan tatapan-tatapan itu bahkan sebelum benar-benar melihatnya.

Ia menoleh sekilas. Mahasiswi yang tadi mengobrol kini saling melirik dengan ekspresi penasaran. Salah satu dari mereka bahkan mencondongkan tubuh sedikit, seperti ingin memastikan apa yang sedang terjadi.

'Kenapa mereka lihat ke sini semua?' Zizi menelan ludah.

Baru sekarang ia sadar sesuatu yang lebih aneh daripada pertemuan mendadak ini.

Di depan ruang dosen, map skripsi di tangannya. Potongan-potongan cerita yang tadi ia dengar seperti mulai menyatu di kepalanya.

Zizi mengangkat wajah lagi. “Kak Fikri… kuliah di sini?”

Fikri terlihat sedikit terkejut, dan menjawab pelan, “Iya. Ekonomi syariah.”

Zizi hanya bisa mengangguk kecil. Di belakangnya, bisikan mulai muncul lagi. Mereka tampaknya baru menyadari sesuatu.

Bahwa lelaki yang sering mereka lihat lewat di fakultas itu ternyata sedang berbicara dengan seseorang yang juga tidak asing.

Zizi. Mahasiswi yang beberapa kali sukses mengurus acara kampus. Yang pernah membuat konsep kreatif untuk festival fakultas tahun lalu. Dikenal banyak orang… tapi justru jarang terlihat benar-benar membaur.

Dan sekarang—Dia berdiri di koridor. Mengobrol dengan Fikri.

Beberapa orang mulai bertukar pandang. Kok bisa? Kapan kenalnya?

Zizi tidak tahu semua dugaan itu sedang beredar di sekitar mereka seperti riak air yang bergerak cepat. Yang ia rasakan hanya satu hal. Situasi ini terasa… canggung.

Fikri menutup map di tangannya. “Kamu mau bimbingan?” tanyanya.

Zizi mengangkat map skripsinya sedikit. “Mau. Tapi jadwalnya penuh.”

Fikri melirik papan jadwal di samping pintu dosen. Beberapa nama sudah memenuhi kolom hari itu. Ia mengangguk pelan. “Biasanya memang begitu di akhir semester.” Nada suaranya tetap tenang seperti biasa.

Seolah percakapan mereka hanyalah obrolan ringan di antara dua mahasiswa yang kebetulan bertemu.

Namun bagi Zizi, rasanya tidak sesederhana itu. Ia masih memproses fakta baru yang barusan ia temukan.

Dan entah sejak kapan, semua orang di sekitar tampaknya sudah tahu itu. Kok aku baru tahu sekarang… pikirnya.

Dari ujung koridor tiba-tiba terdengar seseorang memanggil. “Fikri!”

Seorang mahasiswa pria berjalan mendekat sambil membawa beberapa lembar kertas. “Revisimu sudah selesai, kan? Pak Rahman tadi bilang kamu bisa langsung daftar sidang minggu depan.”

Mahasiswa itu menepuk bahu Fikri dan tertawa ringan. “Cepat juga kamu. Tinggal wisuda saja ini.”

Fikri hanya tersenyum tipis. “Iya, doakan saja.”

Mahasiswa itu kemudian pergi lagi. Zizi berdiri beberapa detik tanpa bicara. Pikirannya masih sibuk menyusun potongan-potongan informasi yang baru ia dengar.

Akhirnya ia menghela napas, “Kak Fikri…” Ia menatap lelaki itu lagi. “Ternyata sekampus.”

Fikri hanya menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil. “Iya.”

Namun di belakang mereka, bisikan-bisikan kecil mulai menyebar di sepanjang koridor. Kali ini bukan hanya tentang Fikri tapi juga Zizi.

Tentang bagaimana dua orang yang sama-sama jarang terlihat dekat dengan siapa pun itu… ternyata saling mengenal.

***

Beberapa hari setelah pertemuan di koridor itu, Zizi mulai sering melihat Fikri di kampus.

Awalnya terasa seperti kebetulan. Suatu pagi di depan ruang administrasi. Sore lain di perpustakaan. Sekali waktu di tangga samping fakultas ketika Zizi baru turun dari lantai dua.

Setiap kali bertemu, percakapan mereka hanya sapaan singkat.

“Bimbingan lagi?”

“Atau sudah revisi?”

Namun entah kenapa, setiap pertemuan kecil itu terasa lebih bermakna bagi Zizi.

Hari itu Zizi keluar dari ruang dosen dengan map skripsi yang semakin tebal. Ia berjalan menyusuri koridor sambil membaca catatan revisi di halaman terakhir.

“Tambahkan referensi jurnal.” Zizi menghela napas pelan. “Lagi…”

Ia menutup mapnya setengah kesal. Baru dua langkah berjalan, seseorang muncul dari arah tangga.

Ia baru saja melepas jaket. Rambutnya sedikit berantakan, tapi wajahnya tetap tenang seperti biasa.

Zizi berhenti tanpa sadar. “Kak Fikri?”

Fikri menoleh. Matanya langsung menemukan Zizi di tengah koridor. “Oh.” Ia mengangguk kecil. “Sudah bimbingan?”

“Sudah. Tapi revisinya tambah banyak.” Zizi membuka mapnya sedikit, menunjukkan halaman yang penuh coretan tinta merah.

Fikri mendekat satu langkah. “Bagian mana?”

Zizi menunjuk salah satu paragraf. Fikri membaca cepat, matanya bergerak pelan mengikuti kalimat di halaman itu.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Zizi baru sadar sesuatu. Dari ujung koridor, dua mahasiswi berjalan pelan sambil berbicara. Awalnya mereka hanya lewat seperti biasa. Namun langkah mereka sedikit melambat ketika melihat Zizi dan Fikri berdiri berdekatan. Zizi pura-pura tidak melihat.

Fikri selesai membaca lalu menunjuk satu kalimat dengan ujung jarinya. “Kalau referensinya ditambah di sini, biasanya dosen tidak minta revisi lagi.”

“Oh…” Zizi mendekat sedikit untuk melihat bagian yang ia maksud. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa-apa, suara kecil terdengar dari belakang.

“Eh…” Salah satu mahasiswi itu berbisik pada temannya. “Itu Zizi, kan?”

“Iya.”

Lalu bisikan berikutnya lebih pelan, tapi tetap cukup terdengar. “Sama Fikri?”

Zizi merasakan telinganya tiba-tiba panas. Ia menutup mapnya lebih cepat dari yang ia rencanakan.

Fikri tampaknya juga mendengar sesuatu. Matanya bergerak sekilas ke arah belakang Zizi.

Beberapa orang lain di koridor mulai melirik. Fikri mundur setengah langkah. Gerakan kecil itu hampir tidak terlihat, tapi Zizi langsung menyadarinya.

“Sudah jelas?” tanya Fikri.

Zizi mengangguk. “Iya.”

Percakapan yang tadi terasa santai sekarang berubah menjadi sedikit kaku.

Fikri memasukkan tangannya ke saku celana. “Kalau begitu aku jalan dulu.”

Zizi mengerutkan dahi. “Cepat amat?”

Fikri tersenyum tipis. “Ada kerjaan.”

Ia baru berjalan dua langkah ketika Zizi tiba-tiba berkata, “Kak Fikri.”

Fikri berhenti. Zizi menatapnya sebentar.

“Kalau nanya lagi … tidak apa-apa, kan?”

Fikri menoleh. Ekspresinya tidak berubah, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya.

Ia menjawab pelan, “Bukan soal boleh atau tidak.”

Zizi mengernyit. “Lalu?”

Fikri terdiam sebentar sebelum berkata, “Orang-orang di sini suka gosip.”

Zizi mengikuti arah pandang Fikri. Di ujung koridor, dua mahasiswi tadi masih berdiri. Salah satu dari mereka langsung memalingkan wajah ketika sadar dilihat.

Zizi kembali menatap Fikri. “Jadi?”

Fikri mengangkat bahu ringan. “Kamu tidak suka jadi bahan gosip, kan?”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun entah kenapa Zizi merasa seperti ada sesuatu yang menusuk sedikit di dadanya.

Ia memeluk map skripsinya lebih erat. “Kalau cuma karena itu…” Zizi berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada lebih pelan, “Aku tidak terlalu peduli.”

Fikri menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Bagus kalau begitu, semoga skripsinya cepat selesai.”

Zizi masih berdiri di koridor sampai sosok itu menghilang. Di belakangnya, bisikan kecil kembali muncul. Namanya dan Fikri… sudah mulai sering disebut penghuni kampus.

Dia melangkah ke depan kampus, menunggu jemputan. Map skripsinya ia jepit di dada. Sesekali ia melirik layar ponsel, angin kecil lewat, membuat beberapa helai rambutnya bergerak.

Dari arah belakang parkiran, suara motor pelan mendekat. Zizi tidak terlalu memperhatikan. Ia tetap menunduk melihat ponselnya.

Motor itu melambat beberapa meter di belakangnya.

“Ciye… seleramu tinggi juga ya, nyasarin Zizi.”

Fikri menghela napas pendek. “Dia cuma nanya skripsian.”

“Masa?” Bima terkekeh.

“Beda kasta, Bre. Meski—” Kalimat itu terpotong.

Di depan mereka, Zizi menoleh. Fikri langsung mengerem sedikit. Mata mereka bertemu.

Deg.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!