Dilamar Mokondo yang SALEH
Dituduh
Zizi berdiri di tempatnya, jemarinya saling mengait tanpa sadar. Ia bahkan tidak ingat sejak kapan napasnya terasa pendek seperti ini.
Dan sekarang… semua mata tertuju ke satu orang.
Fikri duduk tegak, tatapannya lurus ke depan, meski dalam pikirannya menolak membuka aibnya di tempat ini.
Pak Joko melirik anaknya sekilas, sorot matanya cukup untuk menyiratkan maksud semoga anaknya menjelaskan dengan benar.
Di sisi lain, Tuan Arsyad menyandarkan punggungnya. Tangannya ikut terlipat di dada. Menunggu, seperti semua orang di ruangan ini.
Zizi mulai merasa dingin di ujung jari-jarinya.
Bu Amira menunjuk ponselnya yang tergeletak di atas meja.
“Katanya,” lanjutnya pelan, “kamu pernah hampir dikeluarkan dari kampus.”
Zizi langsung menoleh ke Fikri. Glek. Dia baru tahu soal ini, matanya sontak menyipit.
“Karena masalah keuangan… dan laporan yang dianggap "tidak beres".”
Alina mengangkat alis, duduknya menegak. “Oh, menarik?” gumamnya pelan, seperti menemukan potongan puzzle yang dia tunggu.
Tuan Arsyad tidak menyela. Tapi justru membuat dada Zizi berdegup lebih cepat. Dia takut, karena tidak pernah mendengar ini. Kenapa aku nggak tahu yaaaa?
Pak Joko akhirnya bersuara pelan, “Fitnah…" sanggahnya, tapi dia melirik Fikri, "atau memang ada kejadian yang perlu dijelaskan, Dek?”
Beberapa detik berlalu, Fikri menarik napas.
“Iya,” ucapnya, "pernah ada masalah itu.”
Dhuar.
Zizi menatap Fikri tanpa berkedip. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan… tapi tenggorokannya seperti terkunci.
Fikri menoleh ke arah Zizi sebentar, “Kalau memang harus dibuka… saya jelaskan sekarang.”
Bu Amira menyandarkan tubuhnya. “Silakan,” ucapnya singkat.
Suasana ruang tengah itu masih sama. Semua seperti menunggu sesuatu yang belum diucapkan.
Tangan Fikri masih saling menggenggam. “Waktu itu…” ucapnya dengan suara rendah, “…saya pegang keuangan kegiatan kampus.”
Dan tanpa diminta, ingatan itu seperti terbuka sendiri.
~
Jelang isya, lampu sekretariat masih menyala waktu itu. Ruangan kecil itu berantakan oleh map, nota, dan gelas kopi yang berjejer di meja.
Fikri duduk di lantai, dikelilingi kertas. Keningnya berkerut. Kalkulator di tangannya berhenti ditekan. Tidak balance. Ia ulang lagi. Tetap selisih.
“Fik…”
Suara itu tiba-tiba datang dari pintu. Seorang gadis berdiri di sana. Wajahnya tidak setenang biasanya. Tangannya memegang tasnya lebih erat.
Fikri menoleh. “Masih di sini kamu?”
Dia terpaku di ambang pintu. “Ada yang mau aku bilang,” bisiknya membuat Fikri langsung berdiri.
“Apa?”
Gadis itu melangkah pelan. Matanya menunduk. “Uang kas…” ucapnya, lalu berhenti. “Yang kemarin,” lanjutnya lebih pelan, “aku pakai.”
“Pakai?” ulang Fikri, datar.
Dia mengangguk kecil. “Aku pikir bisa balikin cepat. Tapi…” napasnya tertahan, “…belum ada.”
Fikri langsung menatap meja, menghitung kemungkinan selisih yang bolong sebab laporan harus masuk besok.
“Berapa?”
Dia menyebut jumlah. Seketika jantung Fikri seperti akan runtuh. Itu bukan jumlah yang bisa ditutup sekejap.
Kalau ini naik ke atas—bukan cuma Dia tapi semua yang terlibat di kepanitiaan akan kena.
Dan yang pegang laporan akhir… Fikri.
Gadis itu menggigit bibir. “Aku nggak bermaksud—”
“Aku tahu,” potong Fikri pelan.
Ia berjalan satu langkah, lalu berhenti. Kepalanya penuh karena pilihan yang harus diambil… cuma dua.
Biarkan ini terbuka → semua kena.
Atau tutup sekarang → dia yang ambil alih risikonya.
Fikri menutup mata sebentar, lalu terbuka lagi. “Besok laporan tetap masuk,” ucapnya.
“Fik—”
“Aku yang urus,” lanjutnya.
“Jangan!” suara gadis itu langsung naik. “Ini salah aku—”
“Iya,” jawab Fikri singkat. “Tapi kalau ini naik ke pimpinan, bukan cuma kamu yang kena.”
Sunyi.
Dia menatapnya. “Terus kamu mau gimana?”
Fikri tidak jawab, hanya mengambil tasnya. “Malam ini aku cari.”
“Cari apa?”
Fikri menoleh. “Cara nutupnya.”
Glek. Gadis itu membeku, menggigit bibirnya melihat Fikri pergi.
Fikri pulang tidak langsung ke rumah. Ia berhenti di ATM, mengecek saldo tabungannya tapi kurang.
Ia duduk lama di motor, di pinggir jalan yang mulai sepi. Angin malam lewat begitu saja. Pikirannya masih berputar.
Pinjam?
Ke siapa?
Ia menarik napas panjang lalu menyalakan motor lagi.
Beberapa hari setelah itu, laporan kerja diumumkan telah diperiksa.
Tidak ada selisih atau masalah yang muncul ke permukaan soal malam itu. Semuanya… terlihat aman. Namun, di belakang itu, Fikri dipanggil sebelumnya.
Ditanya ulang di bawah tatapan atasan yang curiga padanya. Ia tidak membantah atau menjelaskan panjang. Cukup menjawab seperlunya.
Beberapa bulan kemudian, sebelum kelulusan seniornya.
“Uangnya aku balikin, Fik.”
Gadis itu berdiri lagi di hadapannya, saat GR wisuda. Kali ini dengan amplop di tangan.
Fikri menerimanya, tanpa ucapan terima kasih atau pembahasan ulang.
Namun, sebelum pergi, dia sempat berhenti. “Kenapa kamu lakuin itu?” tanyanya.
“Karena kalau dibiarkan,” ucapnya pelan, “bakal ngerusak banyak hal.”
Dia mengernyit. “Termasuk aku?”
Fikri menggeleng pelan. "Semuanya ... dan aku nggak mau jalan yang lagi aku susun, rusak karena itu, Rania.”
Rania menatapnya lama. “Jalan ke siapa?” tanyanya.
Fikri tidak menjawab. Tapi sejak saat itu… Rania tahu, ada sesuatu yang sedang Fikri kejar dan dia bukan bagian dari itu.
Kembali ke ruang tengah keluarga Zizi.
Tidak ada yang bergerak beberapa detik. Zizi terdiam. Dadanya terasa penuh. Potongan-potongan cerita itu masuk dan membentuk opini baru tentang Fikri.
Bu Amira menyandarkan tubuhnya. “Jadi,” ucapnya, “kamu ambil tanggung jawab atas sesuatu yang bukan salah kamu.”
Fikri mengangguk pelan. “Iya.”
Alina terkekeh pendek. “Atau… kamu cuma bodoh.”
Zizi langsung menoleh, tapi Fikri tidak terpancing. Ia tetap duduk tegak. “Kalau itu dianggap bodoh,” jawabnya tenang, “nggak apa-apa.”
Tuan Arsyad menatapnya lebih lama dari sebelumnya. “Dan sekarang kamu mau memimpin rumah tangga?” tanyanya.
Fikri mengangkat wajah. “Iya.”
“Dengan cara yang sama?” tekan Tuan Arsyad.
Fikri diam sebentar, lalu menjawab tegas, “Dengan tanggung jawab yang sama. Tapi pilihan yang lebih hati-hati.”
Zizi menunduk. Ada sesuatu di dadanya yang berubah. Memang dirinya tidak tahu semua tentang Fikri. Tapi satu hal, bahwa Fikri bukan sedang belajar jadi kuat. Dia… memang sudah seperti itu dari awal.
“Kan dia?” potong Alina tiba-tiba. “Siapa tadi… Rania? Pacarmu?”.
Fikri menoleh ke arahnya, sorot matanya serius, "Bukan."
Alina mengangkat alis, tubuhnya condong ke depan. “Nggak mungkin orang bela sampai segitunya kalau bukan siapa-siapa.”
Hening sekejap.
Fikri diam sejenak, rahangnya sedikit mengeras, tapi suaranya tetap ditahan. “Saya menutup itu bukan untuk dia.”
Alina terkekeh pendek. “Terus buat siapa? Sok banget pakai alasan ‘harga diri’.”
Zizi menatapnya, hampir tanpa sadar setengah melangkah maju. “Untuk siapa…?” suaranya keluar pelan.
“Untuk semuanya,” jawab Fikri percaya diri. “Nama baik kegiatan. Orang-orang yang terlibat. Dan…” napasnya tertahan tipis, “…jalan yang waktu itu sedang saya jaga.”
Alina menyipitkan mata. “Jalan?”
Fikri menutup matanya sepersekian detik, lalu menatap lurus ke depan. “Bukan soal Rania,” lanjut Fikri, kali ini lebih pelan. “Jadi… tidak ada hubungannya dengan perasaan.”
.
.