Dilamar Mokondo yang SALEH
Deal
Fikri mengangkat wajah. Mama berbalik. Langkahnya cepat menuju pintu ruangan tengah.
Zizi berdiri refleks. “Ma—”
"Besok,” ucapnya tanpa menoleh, “bawa orang tua kamu ke sini.” Langkahnya berhenti sebentar. “Pernikahan,” lanjutnya, “kita gelar setelah Zizi wisuda.”
Zizi menelan pelan.
“Tiga bulan lagi. Dan kamu," sambungnya, kali ini sedikit menoleh ke belakang, “nggak usah ikut campur persiapan.” Tatapannya kembali ke Fikri. “Tahu beres saja.”
Brak. Pintu tertutup.
Hening langsung menyeruak. Zizi masih berdiri, dadanya naik turun. Perkataan Mama masih berputar di kepalanya.
~Bukan karena ikhlas ridho memberi restu … tapi karena takut dia kenapa-kenapa.
Perlahan, ia menoleh ke Fikri yang masih duduk. Tangannya masih di lutut, menggepal erat.
Zizi melangkah mendekat. “Kak…”
Fikri mengangkat wajah. Ada sesuatu di sorot matanya, merasa diremehkan. “Aku nggak apa-apa,” ucapnya pelan.
Zizi duduk di sampingnya lebih dekat. “Maaf,” gumamnya.
Fikri menggeleng. “Jangan, bukan salahmu,” ucap Fikri pelan, “besok aku datang sama Ayah.”
Zizi menoleh.
“Dan kali ini…” lanjutnya, suaranya rendah tapi pasti, “aku akan buktikan.”
Zizi diam, meski dadanya bergemuruh.
***
Udara ruang tengah itu terasa sesak, tertahan di antara empat orang dewasa yang duduk saling berhadapan.
Zizi berdiri di dekat tangga, jemarinya saling mengunci di depan perut, mencoba menahan diri di tengah suasana yang tidak memberinya ruang untuk sekadar berpendapat. Sang Kakak duduk di kursi single, memangku sebuah catatan di atas kakinya.
Fikri duduk di samping ayahnya, punggungnya tegak, tapi rahangnya sesekali mengeras. Di sebelahnya, Pak Joko tampak tenang, seperti sudah menyiapkan dirinya untuk membela keluarganya tanpa harus meninggikan suara.
Tuan Arsyad duduk bersandar, satu kaki disilangkan, jemarinya mengetuk pelan sandaran kursi. Bu Amira di sampingnya tidak kalah tegang. Tatapannya tajam, berpindah dari Fikri ke Pak Joko, lalu kembali lagi, menunggu mereka bicara.
Pembicaraan dimulai tanpa basa-basi panjang. Arah dan nadanya sudah jelas sejak awal.
Bu Amira menyampaikan keputusannya dengan suara datar, tapi setiap kata punya ujung yang runcing. Pernikahan akan tetap dilaksanakan tiga bulan lagi, setelah Zizi wisuda. Akad dibuat sederhana, cukup keluarga inti. Tapi resepsi… itu wilayah mereka. Jumlah tamu, konsep, semua sudah ada di kepala Bu Amira. Tidak untuk didiskusikan.
Fikri diam. Tangannya yang tadi di atas lutut perlahan mengepal lagi. Pak Joko mendengarkan tanpa memotong. Sesekali ia mengangguk, bukan tanda setuju… tapi menghargai setiap kalimat yang disampaikan, meski tidak semuanya ia terima begitu saja.
“Dan satu lagi,” suara Bu Amira sedikit berubah, lebih dingin, “kami tidak mau ada kekurangan di hari itu. Jangan sampai… terlihat tidak pantas.”
Walau kalimatnya tidak menyebut langsung, tapi cukup jelas ditujukan bagi keluarga mereka.
Fikri menunduk sebentar. Dadanya terasa seperti ditekan pelan terus-menerus. Pak Joko lantas merapikan duduknya, lalu menatap ke arah Tuan Arsyad dan Bu Amira dengan sorot yang tetap tenang.
“Saya paham,” ucapnya pelan, "Sebagai orang tua, wajar kalau ingin yang terbaik untuk anaknya.” Ia berhenti sejenak, memilih kata yang tidak hanya tepat, dan juga menjaga harga dirinya. “Tapi saya ingin luruskan satu hal,” lanjutnya, matanya kini tidak lepas dari Tuan Arsyad. “Anak saya tidak datang untuk ‘dibawa masuk’ begitu saja.”
Deg.
Fikri sedikit mengangkat wajah. Pak Joko melanjutkan, masih dengan nada yang sama, tenang tapi mengakar, “Dia datang dengan usaha yang sedang di bangun. Mungkin belum besar, belum seperti yang Bapak Ibu bayangkan. Tapi itu bukan berarti dia tidak punya arah.”
Tuan Arsyad menyipitkan mata sedikit, tapi tidak menyela.
“Dan kami,” sambung Pak Joko, “tidak membesarkan dia untuk datang ke rumah orang lain tanpa membawa tanggung jawab.”
Fikri menelan pelan. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya. Bukan karena situasi membaik… tapi karena ia tahu, ayahnya berdiri di sisinya tanpa harus berteriak.
Bu Amira tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya. Wajahnya masih tegas.
“Kalau begitu,” ucapnya akhirnya, “buktikan lewat hasil. Bukan cuma kata-kata.”
Pak Joko mengangguk kecil. “InsyaAllah.”
Belum sempat suasana benar-benar mereda, suara Alina terdengar dari sisi kanan mereka. Sejak tadi ia diam mendengarkan semuanya. Kini, tangannya terlipat di depan dada, menatap lurus Fikri.
“Kalau memang mau lanjut,” ucapnya bernada sinisnya, “tolong ya… jangan sampai nanti keluarga dari pihak sana bikin malu di acara.”
Hening.
Zizi langsung menoleh cepat. Dadanya seperti dipukul. Fikri tidak langsung bereaksi, tapi di dalam dirinya, tersulut cepat. Panasnya naik dari dada ke tenggorokan. Rahangnya mengeras. Tangannya yang tadi sudah berusaha tenang… kembali mengepal lebih kuat.
Ia mengangkat wajah perlahan. Tatapannya ke arah Alina, jelas tersinggung.
“Ka—” suara Zizi hampir keluar, tapi langsung terhenti saat tatapan Bu Amira mengarah padanya.
Fikri menarik napas dalam. Tapi perasaan terbakar itu enggan mereda. Belum sempat ia membuka suara, sebuah sentuhan ringan terasa di lengannya.
Fikri menoleh sedikit. Ayahnya menggeleng pelan dengan sorot mata teduh. Tepukan dua kali di kepalan tangannya cukup menjadi syarat agar menahan diri.
Dia menutup kembali mulutnya. Rahangnya masih kencang, tapi Fikri dipaksa menelan semua ucapan yang hampir keluar.
Pak Joko lalu menatap ke arah Alina. Kali ini tersenyum tipis, “Kami paham kekhawatiran itu,” ujarnya pelan. “Dan kami juga pasti menjaga nama baik keluarga kami.”
Alina mengangkat alis sedikit, lalu memalingkan wajah.
Ruangan kembali hening. Di anak tangga, Zizi menunduk. Dadanya penuh. Bangga, takut, haru… semuanya bercampur jadi satu. Ia melirik Fikri sebentar. Si laki-laki yang sedang berusaha.
Fikri menunduk. Tangannya perlahan terlepas dari genggaman ayahnya. Dadanya masih sesak, sadar, ini belum selesai.
Alina masih dengan senyum tipis yang belum hilang. Seolah yakin… semuanya akan berjalan sesuai standar mereka.
Sementara Tuan Arsyad diam. Menatap Fikri tanpa ekspresi. Otaknya sedang menilai sesuatu yang belum diputuskan. Dan Bu Amira… membuka ponselnya, mengetik dengan tenang.
Zizi berdiri di tempatnya. Hatinya gelisah tanpa alasan yang jelas. Sampai ponsel di tangan Bu Amira berbunyi pelan.
Satu pesan masuk. Ia membaca sekilas lalu berhenti dan gurat tatapannya berubah ke arah Fikri.
“Ada satu hal lagi,” ucapnya tiba-tiba.
Fikri mengangkat kepala.
“Tentang masa lalu kamu.”
Deg.
Zizi membeku. Fikri menahan napas. Sementara pak Joko melirik anaknya sebelum berkata, "Masa lalu soal apa? Siapa?"
Bu Amira masih diam, pandangannya bergantian ke calon besan dan menantunya. Dia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu bersedekap, menunggu penjelasan pria muda yang mendadak tertangkap gugup.
"Fikri?"
.
.