Dilamar Mokondo yang SALEH
Terhina
Zizi baru saja menaruh gelasnya saat suara itu datang dari samping, pelan tapi cukup untuk membuatnya langsung menoleh.
“Zizi?”
Sendok di tangannya berhenti. Dadanya ikut tertahan. “Mama…?”
Di pinggir jalan, tak jauh dari warung, mobil itu terparkir setengah. Nyonya Amira berdiri di sampingnya, satu tangan masih memegang tas. Dia berhenti sebab seperti melihat Zizi. Ngapain putrinya ada di daerah ini, pikirnya.
Langkah sang Mama mendekat tidak terburu-buru. Matanya menyapu meja kecil itu, dua gelas minum, motor di depan, lalu berhenti di Fikri yang ikut berdiri.
Zizi ikut berdiri cepat. Punggungnya otomatis lebih tegak, selalu begitu saat berhadapan dengan ibunya.
“Ngapain di sini?” tanya Mama.
“Ngg… lagi lihat kontrakan, Ma,” jawab Zizi, berusaha terdengar biasa, meski jari-jarinya mulai dingin.
Alis Amira terangkat, “Kontrakan?” ulangnya, lalu menoleh ke Fikri. “Sudah sejauh itu?”
Fikri menjawab tenang. “Lagi persiapan, Bu.”
Zizi melirik sekilas ke arahnya. Cara Fikri menyebut Mamanya… sopan, tapi juga tidak canggung. Entah kenapa, di tengah tegang seperti ini, ada bagian kecil di dadanya yang justru menghangat.
Mama menghela napas pelan. Tangannya menyilang di depan dada, matanya kembali ke Zizi. “Kamu juga?” tanyanya.
Zizi mengangguk kecil. “Iya, Ma.”
Hening sebentar. Suara kendaraan lewat, denting sendok dari warung, semua terdengar bagai backsound siang itu.
Zizi tahu Mamanya tidak kaget. Dia sedikit banyak ngerti tentang rencana yang pernah mereka bicarakan bulan lalu.
“Kalian ini,” ucap Amira pelan, “dulu ngomongnya nunda setahun. Sekarang sudah sampai tahap cari tempat tinggal.”
Zizi menelan pelan. Kalimat itu cukup untuk membuatnya sadar, langkah mereka memang sudah jauh.
Fikri menarik napas sebentar sebelum menjawab, “Saya berencana memajukan rencana semula, Bu.”
Zizi menoleh cepat, dadanya berdegup. Amira menatap Fikri lebih lama.
“Terus?” tanyanya singkat.
“Saya mau lamar Zizi dalam waktu dekat.”
Angin sore terasa lewat begitu saja di antara mereka. Zizi tidak langsung bereaksi, gugupnya perlahan naik. Kata-kata itu… sudah pernah ia dengar, tapi tidak seperti ini. Apalagi di depan Mama dan dalam situasi seterang ini.
Tatapan Amira berpindah ke Zizi. “Kamu siap?” tanyanya.
Zizi menatap Mamanya beberapa detik. Di dalam kepalanya, banyak hal berputar. Tentang Fikri yang sekarang sibuk ke sana kemari, dirinya yang tahu ini tidak akan mudah, dan juga risiko yang dari awal sudah ia pilih.
“Iya, Ma,” jawabnya akhirnya.
Mama mengangguk samar lalu ia menghela napas, pandangannya kembali ke dua gelas di meja, ke motor di depan, dan jalanan yang masih ramai. “Ngomong di sini nggak akan selesai,” ucapnya.
Zizi langsung tahu arah ucapan ibunya. “Maksud Mama?” tanyanya hati-hati, memastikan.
Amira sudah berbalik setengah badan ke arah mobilnya. “Ikut Mama.”
Zizi terdiam. “Sekarang?”
Mamanya menoleh sedikit. “Atau kamu mau bahas begini di warung?”
Zizi langsung menggeleng kecil. “Enggak…”
Fikri mengangguk. “Baik, Bu.”
Amira tidak menunggu lagi. Ia kembali ke mobilnya, masuk, lalu mesin menyala. Zizi masih berdiri di tempat. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut dimarahi… tapi karena ia tahu, ini bukan sekadar obrolan biasa di rumah nanti.
“Kak…” suaranya pelan.
Fikri menoleh.
“Kamu yakin?” tanya Zizi.
Fikri tidak menjawab panjang. Ia hanya mengangguk pelan. “Iya.”
Glek.
Mereka naik ke motor. Kali ini, tangannya pelan memegang jaket Fikri. Seolah tanpa sadar, ia mencari pegangan.
Motor melaju pelan, mengikuti mobil Mama Zizi di depan.
Lampu remnya sesekali menyala, memberi tanda agar mereka tetap di belakang. Jalan yang mereka lewati semakin familiar. Tikungan, deretan rumah, pohon di sudut jalan… semuanya adalah rute rumah Zizi.
Tapi hari itu, rasanya bukan sekadar menyambangi rumah.
Zizi memandangi punggung Fikri di depannya. Banyak hal yang belum pasti dan masih harus dibuktikan.
Motor berhenti di depan rumah. Mesin dimatikan.
Pintu rumah sudah terbuka sedikit, seperti sudah menunggu mereka. Zizi turun pelan. Kakinya menyentuh tanah halaman yang sudah sangat ia kenal… tapi jantungnya berdetak seperti akan perang. Ia menoleh ke Fikri.
Fikri menarik napas dalam, lalu menatapnya sebentar. “Siap?” tanyanya pelan.
Zizi mengangguk kecil meski dalam hatinya ricuh, apakah mereka benar-benar siap melangkah lebih jauh?
Amira sudah lebih dulu masuk. Tasnya diletakkan di meja ruang tamu. Dia sengaja berdiri tidak duduk, seolah ingin meluapkan kekesalan pada mereka.
Zizi melangkah masuk pelan. Fikri di belakangnya. Aroma rumah yang biasa terasa hangat… kali ini bak ruang sidang.
“Duduk,” ucap Mama singkat.
Mereka duduk berhadapan. Zizi di sisi sofa, Fikri sedikit di ujung, punggungnya menegak. Tangannya bertumpu di lutut, menahan sesuatu yang tidak terlihat tapi terasa.
Zizi meliriknya sekilas. Fikri sedang menahan kegelisahan dalam tegangnya.
Amira tidak langsung bicara. Ia akhirnya duduk perlahan di kursi tunggal, menyilangkan kaki, lalu menatap keduanya bergantian.
“Mama nggak akan muter-muter,” ucapnya masih melihat mereka bergantian.
Zizi langsung menegakkan duduknya.
“Kamu bilang mau lamar,” lanjutnya ke Fikri. “Konsepnya apa?”
Fikri menarik napas. “Sederhana, Bu.”
“Sederhana itu seperti apa?” potong Amira.
“Akad keluarga inti saja… sama orang-orang terdekat. Intimate.”
Zizi menunduk sedikit. Ia pernah membayangkan itu. Tenang, hangat tak heboh.
“Tamu dibatasi,” lanjut Fikri. “Biar lebih fokus ke akadnya.”
Amira diam, tatapannya tidak berubah, tapi gurat wajahnya mulai menegang. “Terus?” tanyanya lagi.
“Resepsi bisa menyusul, atau… disesuaikan,” jawab Fikri hati-hati.
Sunyi.
Zizi bisa merasakan perubahan suhu di ruangan itu. Mama menghela napas pelan lalu tersenyum tipis.
“Intimate?” ulangnya.
Zizi langsung mengangkat wajah.
Amira menatap Fikri lurus. “Kamu pikir ini acara kamu sendiri?”
Fikri diam.
“Ini bukan cuma soal kamu sama Zizi,” lanjutnya. “Ini keluarga kami. Nama baik dan relasi.”
Zizi menggenggam ujung bajunya lagi.
“Dari pihak kami saja,” lanjut Amira, nadanya mulai lebih tegas, “undangan bisa sampai seribu orang.”
Deg. Keduanya langsung menoleh, saling pandang.
“Seribu, Ma?” suara Zizi nyaris tidak terdengar.
Mama tidak menoleh ke arahnya. “Itu masih sedikit.”
“Buat keluargamu,” tuturnya ke Fikri. "Mama kasih dua ratus. Harus cukup dan hanya hadir saat akad."
Fikri menelan ludah pelan, “Baik,” ucapnya lirih. Jantungnya berdegup kencang.
Zizi menatap ibunya, duduknya mulai tidak nyaman.
“Akad,” lanjut Mama, “kita buat intimate, seperti yang kamu mau.”
Zizi sempat menghela napas… sedikit lega.
“Tapi resepsi,” sambung Mama, “tetap megah dan itu dari pihak kami.”
Lega itu langsung tertahan, apalagi saat sang Mama menatap Fikri lebih dalam.
“Keluargamu tidak perlu ikut campur. Datang, nikmati pestanya, pulang.” Kalimatnya tajam, tidak memberi ruang pada Fikri menyela.
Zizi menoleh cepat ke Fikri yang diam tidak membantah atau mengangguk.
Mama melanjutkan, kali ini nadanya berubah lebih sinis, “Kamu datang ke sini tadi,” ucapnya, “bawa apa?”
Fikri menatapnya.
“Rencana?” lanjut Mama. “Niat?” Jeda, Amira mulai gusar, dia menyentuh pelipisnya. “Badan doang, kan?”
Dhuar.
Zizi langsung menegang. “Ma—” suaranya keluar, tapi tertahan.
Mama mengangkat tangan sedikit. Menahan agar Zizi tak memotong ucapannya. Dadanya naik turun, berusaha tidak meledak di depan putrinya.
“Realitanya begitu, Fikri,” lanjutnya, tidak menoleh ke Zizi. “Kamu datang ke rumah ini… belum bawa apa-apa selain niat.”
Sunyi.
Fikri menunduk sebentar, Zizi melihat itu. Dadanya seperti ditarik.
“Kamu tahu apa?” lanjut Mama, suaranya makin dalam. “Masih bocah.”
Zizi langsung menoleh ke ibunya. “Ma, cukup—”
“Belum,” potong Amira. Matanya kini ke Zizi. “Kalau bukan karena Mama takut kamu kenapa-kenapa,” ucapnya, suaranya bergetar tipis, “…karena sudah terlalu dalam jatuh cinta ke dia—”
Zizi membeku.
“…Mama tidak akan kasih restu."
Zizi tidak bergerak. Kata-kata itu… seperti membuka sesuatu yang selama ini tidak pernah diucapkan langsung. Dia membeku bahkan nyaris tak berkedip.
Amira berdiri, berhenti di depan Fikri. “Sadari itu saja,” ucapnya pelan.
Fikri mengangkat wajah. Mama berbalik. Langkahnya cepat menuju pintu ruangan tengah.
Zizi berdiri refleks. “Ma—”
.
.