Dilamar Mokondo yang SALEH

Mokondo

Satu pertanyaan ayahnya langsung ke inti.

Fikri menarik napas dalam. Matanya sempat memejam sebentar… lalu kembali terbuka. 

“Karena aku nggak suka cara orang lihat dia, Yah.”

Bu Rahma terdiam. Fadlan mengernyit.

Fikri melanjutkan, “Seolah dia masih bisa ditarik mundur, kayak nggak keliatan ada aku.”

Jeda.

“Aku nggak mau di posisi itu lama-lama.”

Bu Rahma menunduk sedikit, gurat wajahnya berubah, “Tapi nikah bukan buat nutup omongan orang, Dek,” ucapnya pelan.

“Iya, Bu.”

“Terus?” tanya Pak Joko lagi.

Fikri menatap ayahnya. Lebih mantap. “Buat jagain yang sudah aku pilih.”

Fadlan diam. Bu Rahma ikut diam, jemarinya saling meremat, cemas. Sedangkan Pak Joko memperhatikan anaknya lama.

“Kalau kamu mulai sekarang…” ujarnya tenang, “…kamu siap risikonya?”

Fikri mengangguk. “Iya, Yah.”

“Waktu mainmu, santaimu bakal hilang.”

“Iya.”

“Dan nggak ada yang bisa kamu salahkan selain diri kamu sendiri.”

Fikri menarik napas. “Iya, Yah.”

Sunyi lagi. Lalu Pak Joko mengangguk kecil.

“Kalau begitu… jangan setengah-setengah.”

Deg.

Bu Rahma menoleh cepat. “Yah…?”

Fadlan ikut menatap tajam ayahnya. "Wah, Ayah berani taruhan nyawa buat dia?!" 

Pak Joko tetap tenang. “Dia sudah tahu risikonya.”

Fikri berdiri lebih tegak. “Aku siap.”

Ruang tengah itu mendadak terasa lebih sempit. Bukan karena ukurannya berubah… tapi karena semua suara mulai saling menekan Fikri.

Fikri masih berdiri tegak. Diamnya penuh keputusan dan tekad.

Pintu kamar terbuka pelan. Farah, istri Fadlan keluar, wajahnya masih menyisakan lelah. Ia tidak langsung duduk. Hanya bersandar sebentar di kusen, menangkap sisa percakapan yang belum selesai.

“Ada apa?” tanyanya pelan.

Fadlan menoleh cepat. “Dia mau nikah cepet.”

Tatapan perempuan itu langsung berpindah ke Fikri. Tidak sinis atau menghakimi. Tapi… tahu persis apa yang sedang dihadapi. Ia melangkah mendekat berdiri di samping Fadlan.

“Serius?” tanyanya, lembut.

Fikri mengangguk. “Iya, Mbak.”

Perempuan itu menarik napas pelan. Lalu menatap Fikri lebih dalam. “Kamu tahu capeknya di mana?” tanyanya tenang.

Fikri diam.

“Bukan cuma soal keuangan,” lanjutnya. “Kadang ada… kadang nggak, itu sih masih bisa diatur.”

Jeda.

“Yang bikin stres itu… waktu.”

Fadlan terkekeh pendek, “Nah.”

Istrinya melirik sekilas, lalu kembali ke Fikri. “Kamu pikir pulang kerja bisa langsung istirahat?” tanyanya. “Enggak. Ada yang nunggu kamu ngobrol. Ada yang ngarep ditemenin. Dan kalau kamu capek… kamu tetap harus ada, ngedengerin banyak cerita random.”

“Dan kalau kamu nggak ada di momen-momen kecil itu…” suaranya melembut, “…itu bakal jadi masalah.”

Fikri menelan pelan.

Fadlan menyandar ke kursi. “Gue aja, Fik,” ucapnya lebih sinis dari sebelumnya. “Udah kerja stabil, punya penghasilan jelas.” Ia menunjuk dirinya sendiri. “Masih berantem.”

Jeda.

“Kenapa?” lanjutnya, menatap Fikri tajam. “Karena waktu yang tersisa nggak pernah cukup.”

Istrinya tidak membantah.

“Kadang bukan karena nggak sayang, nyuekin,” tambahnya pelan. “Tapi karena capek, masih egois pengen langsung istirahat.”

Bu Rahma akhirnya ikut bicara, “Kamu tahu jadi istri itu apa, Dek?”

Fikri menoleh.

“Menahan banyak hal… tanpa selalu bisa cerita,” lanjutnya. “Menyesuaikan diri… bahkan saat dirinya sendiri belum siap menerima kondisinya.”

Matanya sedikit berkaca, tapi tetap tenang. “Dan kamu mau bawa Zizi ke situ… sekarang?”

Fikri diam.

Bu Rahma menunduk sebentar. Lalu menatap anaknya lagi. “Ibu nggak takut kamu capek,” ucapnya pelan. “Ibu takut… kamu belum cukup kuat untuk bikin dia nggak ikut lelah lalu menahan dirinya. Zizi terbiasa langsung dapat semua keinginannya, Fikriiiiiii.”

Sunyi.

Semua mata ada di Fikri sekarang. Tekanan itu tidak terucap… tapi terasa jelas. Fikri menarik napas dalam lalu mengangkat wajah. “Aku nggak bilang bakal mudah dan bilang aku siap semuanya.”

Fadlan mengernyit.

“Tapi kalau nunggu siap…” lanjut Fikri, “…aku bisa stuck.”

Jeda.

Matanya bergeser ke ibunya. “Aku nggak mau Zizi belajar sabar sendirian… cuma karena aku nunggu jadi sempurna.”

Bu Rahma terdiam. Fikri menatap kakaknya. “Aku tahu capek itu pasti ada.” Lalu ke kakak iparnya. “Waktu juga pasti kurang.”

“Tapi aku mau belajar di dalam itu,” ucapnya pelan.

Fadlan langsung berdiri tegak, kakinya bergeser kasar, suaranya memotong udara yang sudah tegang.

“Belajar?” ulangnya tajam. “Nikah itu bukan tempat belajar dari nol, Fik.”

Fikri menatap kakaknya. Dadanya mulai naik turun menahan emosi.

Fadlan melangkah mendekat. “Lo sadar nggak sih posisi lo?” suaranya makin tinggi, panggilannya berubah, “Di mata mereka… lo itu apa?”

Jeda.

“MoKonDo.”

Bu Rahma langsung menoleh. “Fadlan—”

“Enggak, Bu. Biar dia denger.” Tatapan Fadlan tidak lepas dari Fikri. “Modal konsep doang. Niat ada. Tapi pegangan apa?”

Fikri mengepalkan tangannya. Tapi suaranya tetap dijaga. “Aku nggak minta uangmu, Kak.”

Fadlan tertawa pendek. Menunjuk wajah Fikri, “Shit… blagu.”

Farah menghela napas pelan, lalu ikut bicara. Suaranya tidak setajam Fadlan… tapi justru lebih menusuk. “Ini bukan soal kamu minta atau nggak, Fik.” Ia menatap adik iparnya. “Ini soal nanti kamu kelihatan seperti apa di sana.”

Jeda.

“Kamu siap dilihat… sebagai benalu?”

Hening.

“Lo mau bawa dia ke mana?” sambung Fadlan cepat. “Ngontrak?” alisnya naik. “Terus kalau nggak ke-cover bayarnya?” Ia menggeleng, tertawa sinis. “Dibayarin mertua? Nggak malu lo?”

Fikri diam, tangannya mengepal menahan sesuatu yang sejak tadi naik ke dada.

“Dan jangan sok idealis,” lanjut Fadlan. “Realita tuh nggak peduli sama niat lo. Lo pikir keluarga dia bakal diam lihat anaknya turun level?”

“Cukup, Kak…” suara Bu Rahma mulai bergetar.

Tapi Fadlan belum berhenti. “Gue aja, Fik!” tunjuknya ke dirinya sendiri lagi. “Udah ada penghasilan, masih jungkir balik jaga rumah tangga!” Ia mendekat satu langkah lagi. “Lo apa? Baru mau mulai. Udah sok bawa orang?”

Fikri akhirnya angkat wajah. Matanya memerah, suaranya mulai berat. “Aku nggak bilang aku siap semuanya,” ucapnya pelan.

Fadlan menyeringai. “Ya jelas belum.”

“Tapi aku juga nggak akan nunggu sampai aku nyaman dulu baru berani tanggung jawab.”

Fikri melanjutkan, suaranya tetap rendah, “Aku mungkin belum mapan,” katanya jujur. “Tapi aku nggak akan sembunyi di balik itu buat nunda.” Ia menatap kakaknya lurus. “Dan aku nggak akan jadi beban di rumah orang lain.”

Fadlan mengernyit. “Omong doang semua orang juga bisa.”

Fikri menggeleng pelan. “Makanya aku mulai sekarang. Aku kerja, cari tambahan dan kurangi semua yang nggak penting.” 

Farah menatap Fikri, tidak langsung menyela. Fikri lanjut, matanya sedikit melunak saat menyebut nama itu, “Aku tahu Zizi nggak pernah hidup susah.

Bu Rahma menunduk.

“Tapi aku juga tahu… dia milih tetap di sini. Kalau dia berani turun… masa aku nggak berani naik?”

Fadlan terdiam. Ruangan itu kembali senyap. Pak Joko yang sejak tadi diam, melepas pandang dari satu anak ke anak lain. Lalu berhenti di Fikri.

“Tempat tinggal?” tanyanya singkat.

Fikri langsung menjawab, “Ngontrak dulu, Yah.”

“Biaya?”

“Aku hitung. Cukup.”

“Kalau kurang? Kan keluarga Zizi nggak mungkin izinkan ngontrak di rumah petak.”

Fikri menelan sebentar. “Aku tambah.”

“Dari?”

“Kerjaan lainnya.”

Pak Joko mengangguk kecil. Fadlan menghembuskan napas kasar. “Keras kepala…”

“Bukan keras kepala,” sahut Fikri pelan. Matanya menunduk sebentar… lalu naik lagi. “Cuma nggak mau mundur lagi.”

"Nyusahin orang tua!" 

"Fadlan!"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!