Dilamar Mokondo yang SALEH

Sindiran Keluarga

Zizi menunduk cepat. Jantungnya seperti ditarik, marah, malu, gugup, semua bercampur jadi satu.

Ibu Zizi tersenyum tipis, “Berat ya, Nak?” ucapnya ringan tapi nadanya menyentil. “Baru datang… sudah ditanya sejauh itu.”

Fikri mengangguk kecil. “Memang seharusnya begitu, Bu.”

Ibu Zizi sedikit mengangkat alis. “Tapi jawabannya belum ada, kan? Atau kamu datang cuma bawa niat… tanpa arah?”

Zizi refleks melirik Fikri. Tangannya makin dingin. Sementara Fikri tetap tenang. Ia menautkan jemarinya sebentar, lalu melepasnya pelan.

“Jawaban pastinya belum ada, Bu,” katanya jujur. “Tapi saya tidak datang tanpa tujuan.”

Ibu Zizi terkekeh pelan. “Semua orang juga bisa bilang begitu.”

Ayah Zizi bersandar sedikit. “Tujuan itu harus bisa diukur pasti,” katanya datar. “Bukan cuma direncanakan.”

Fikri mengangguk. “Betul, Pak.”

“Lalu?” tanya ayahnya.

Fikri menarik napas, lalu menatap lurus ke arah tuan Arsyad. “Saya datang… karena saya memang serius sama Zizi, Pak.”

Zizi menunduk. Sudut bibirnya samar bergerak naik, berusaha menahan senyum yang hampir terlihat.

Fikri melanjutkan, suaranya tetap tenang, “Saya tahu, saya belum sampai di titik yang Bapak harapkan.” Ia berhenti sebentar. “Tapi kalau saya tunggu sampai semuanya siap, bisa jadi saya tidak pernah benar-benar datang.”

Jeda beberapa detik.

“Saya tidak mau begitu, Pak,” lanjutnya. “Kalau dari awal saya sudah tahu arahnya ke sana… ya saya mulai dari sekarang.”

Ia sempat melirik Zizi, sekilas. Tapi cukup membuat Zizi menahan napas.

“Bukan nekat,” tambahnya pelan, “tapi supaya jelas langkahnya.”

Ruangan kembali hening, tapi kali ini berbeda. Ibu Zizi tidak langsung menyela. Tatapannya masih menilai Fikri, tapi tidak lagi sekeras tadi.

Ayah Zizi memperhatikan Fikri lebih lama.

Dari posisi duduknya yang tidak berubah sejak awal, cara menjawab yang tidak berputar, sesekali melihat ke arah Zizi… bukan untuk mencari bantuan, tapi seperti memastikan anaknya baik-baik saja.

Hal-hal kecil, yang membuat wanita merasa diperjuangkan. Ia mengangguk samar. “Baik,” ucapnya pelan.

Zizi sedikit mengangkat wajah.

“Kalau begitu kita luruskan dari sekarang.”

Deg.

“Kamu bilang serius,” lanjutnya datar. “Berarti kamu siap?" Ayah Zizi menautkan jari-jarinya di atas meja. Tatapannya lurus, tenang, tapi aura intimidasinya kental terasa.

“Saya tidak butuh janji panjang,” ucapnya datar. “Saya butuh sikap yang bisa kamu pegang.”

Zizi menunduk. Napasnya pelan, tapi terasa berat di dada.

Deg.

Ayahnya tidak langsung melihat Fikri. Ia justru menoleh ke Zizi.

“Kalau dia beneran serius,” katanya tenang, “kamu juga harus tahu posisimu berdiri di mana.”

Tuan Arsyad memberi isyarat pada putrinya apabila Fikri datang meminang, Zizi tidak bisa didekati pria mapan lainnya.

Secara tidak langsung, tuan Arsyad seolah mengatakan bahwa kamu harus menerima risiko dinikahi pria yang kemampuan financialnya di bawah keluarga mereka. Kebiasaan mewah itu bakal Zizi tinggalkan.

Zizi terdiam. Jari-jarinya saling mengunci di pangkuan. Belum sempat ia menjawab—suara Fikri menyela pelan.

“Zie.”

Zizi menoleh.

Tatapan Fikri tidak lagi sekaku tadi. Lebih hangat. Seakan menenangkan Zizi sebentar dari tekanan ruangan itu.

“Kalau aku minta waktu…” ucapnya tenang, “satu tahun…” Ia berhenti sejenak. “…kamu mau nunggu?”

Zizi menahan napas. Pertanyaan itu sederhana… tapi terasa lebih berani dari semua yang sudah dibicarakan.

Ia menunduk lagi. Bibirnya bergerak kecil. “Iya…” Hampir seperti bisikan.

Fikri mengangguk pelan. Ia sempat diam sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih ringan, “Atau…” matanya kembali ke Zizi, ada kelembutan di sana, “kapan maunya, Dek?"

Deg.

Dek. Panggilan itu pertama kalinya dia dengar dan entah mengapa terdengar mesra. Zizi makin menunduk. Ujung jemarinya saling menekan, menahan rasa yang tiba-tiba muncul.

“Manut Kakak…” jawabnya pelan dan cukup membuat sudut bibir Fikri bergerak ke atas, menyiratkan senyum tipis.

Ia kembali menghadap ayah Zizi. “Satu tahun, Pak," tegasnya.

Ayah Zizi memperhatikan bergantian. Dari Fikri… ke Zizi yang masih menunduk… lalu kembali lagi. Ada sesuatu yang berubah dengan sikap duduk putrinya, terlihat menegak percaya diri.

“Baik,” ucapnya akhirnya.

Zizi sedikit mengangkat wajah.

“Kalau begitu,” lanjutnya datar, “bawa keluargamu ke sini lusa.”

Zizi langsung menoleh. Jantungnya kembali berdegup kencang. Sementara Fikri tidak kaget berlebihan. Ia hanya menarik napas pelan… lalu mengangguk lagi.

“Baik, Pak."

*

Malam semakin turun ketika Fikri pamit. Zizi mengantarnya sampai teras. Lampu luar menyala temaram, menyisakan bayangan lembut di halaman berumput.

Beberapa detik mereka berdiri tanpa kata. Suasana yang tadi penuh tekanan… perlahan berubah jadi canggung yang berbeda. Lebih hangat.

Fikri menoleh ke Zizi. “Kaget?” tanyanya ringan.

Zizi tersenyum kecil, masih menunduk. “Banget.”

Fikri ikut tersenyum tipis lalu ia menghela napas pelan. “Maaf ya,” ucapnya. “Jadi cepat begini.”

Zizi menggeleng. “Aku juga yang mulai…”

Fikri menggeleng pelan. “Bukan soal siapa mulai.” Ia berhenti sebentar, tatapannya melembut. “Aku cuma… senang.”

Zizi mengangkat wajah sedikit.

“Karena ternyata… yang aku rasa, nggak sendirian.”

Deg.

Zizi langsung menunduk lagi. Kali ini benar-benar tidak bisa menyembunyikan senyum kecilnya.

Fikri melanjutkan, suaranya lebih pelan.

“Aku belum punya banyak hal buat dibanggakan, Zi.” Jujurnya, berusaha tidak terlihat rendah diri.

“Tapi aku nggak mau datang nanti dengan tangan kosong… dalam arti yang sebenarnya.”

Zizi diam. Mendengarkan.

“Aku akan usahakan jadi orang yang lebih pantas,” lanjutnya. “Pelan-pelan. Yang penting beneran berusaha.”

Fikri tersenyum tipis. “Bukan buat kelihatan layak di mata orang…” Matanya kembali ke Zizi. “…tapi supaya kalau aku jaga kamu nanti… aku memang mampu.”

Zizi menggenggam ujung bajunya.

Fikri menunduk sedikit, lalu berkata pelan, “Kita doakan sama-sama, ya.”

Zizi mengangguk.

Fikri menutup dengan suara yang sangat lirih, “Kalau ini baik… semoga dimudahkan. Kalau belum… semoga kita dibenerin dulu, sebelum dipertemukan lagi di waktu yang tepat.”

Tidak ada janji manis tapi justru itu yang membuat dada Zizi terasa penuh.

Fikri melangkah menuju motornya, Zizi berdiri disampingnya sambil meminta satpam membuka gerbang.

“Assalamu’alaikum, Dek.”

Zizi mengangkat wajah. “Wa’alaikumussalam…”

Lampu mobil menyapu halaman ketika gerbang kembali terbuka, berpapasan dengan Fikri yang akan pulang.

Mobil itu berhenti tepat di depan. Alina turun dengan langkah cepat. Jas dokternya masih melekat, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya lelah… tapi sorot matanya langsung tajam melihat sang adik yang akan masuk ke rumah.

“Jadi juga?” tanyanya ringan.

Zizi tidak langsung menjawab. Hanya bergumam kecil.

Alina mendekat satu langkah lagi. “Siap hidup pas-pasan?”

Deg.

Zizi menoleh. Kali ini benar-benar menatap kakaknya. Tapi hanya sebentar. Lalu ia berbalik, melangkah ke dalam.

Belum sempat ia sampai ke pintu, suara Alina terdengar lagi. “Kamu nggak mikir, Zi?”

Langkah Zizi berhenti.

Alina menyilangkan tangan. “Kalau nanti keluarga kita pergi ke mana-mana… kamu nggak ikut karena dia nggak mampu biayain…” Ia berhenti sejenak, memastikan setiap kata dicerna adiknya. “Terus Ayah yang harus backup kamu…”

Sunyi.

“Itu sama aja kamu menjatuhkan harga dirinya, Zi.”

Angin malam lewat pelan. Zizi tidak langsung bergerak. Perlahan, ia menoleh. Matanya tidak lagi ragu seperti tadi. “Aku ...."

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!