Dilamar Mokondo yang SALEH
Datang
“Yakin, Zie?”
“Iya.”
Fikri tersenyum tipis. “Bismillah.”
Ia tidak banyak bicara setelah itu. Langkahnya cepat keluar dari ruangan, karena tahu waktunya sempit… dan ada hal yang harus ia pastikan sebelum melangkah lebih jauh.
Hari ini, Fikri pulang lebih awal dari biasanya.
Langit masih cerah ketika ia masuk ke rumah sederhana yang sejak dulu jadi tempatnya pulang. Aroma masakan dari dapur menyambut, suara kipas angin berputar pelan di ruang tengah. Ayahnya sedang duduk di lantai, membuka mushaf.
Fikri berhenti di ambang pintu. “Assalamu'alaikum, Yah.”
Ayahnya mengangkat wajah. “Wa alaikumussalaam.”
Fikri mendekat, duduk di hadapan beliau. Untuk beberapa detik, ia tidak langsung bicara. Dadanya masih terasa bergemuruh.
“Ada yang mau aku sampaikan.”
Ayahnya menutup mushaf perlahan. Menatap anaknya seksama. Fikri kemudian bercerita. Singkat tentang keluarga yang mengundangnya malam ini. Ia menyampaikan apa adanya. Selesai bercerita, Fikri menunduk sebentar.
Sunyi.
Ayahnya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Fikri cukup lama, seperti menimbang kesiapan anaknya. Lalu ia menarik napas pelan.
“Dek,” ucapnya tenang.
Fikri mengangkat wajah.
“Datanglah sebagai dirimu sendiri.” Ayahnya melanjutkan, suaranya tetap lembut. “Kalau mereka menilai dari apa yang kamu punya… itu hak mereka.” Ia berhenti sebentar. “Tapi Allah menilai dari apa yang kamu jaga.”
Deg.
Fikri diam.
“Jangan datang untuk terlihat pantas,” lanjut ayahnya. “Datanglah karena kamu ingin bertanggung jawab. Kalau memang jalanmu ke sana dipermudah,” tambahnya, “itu bukan karena kamu lebih tinggi dari orang lain…”
Ia menatap Fikri dalam. “…tapi karena Allah melihat kamu siap memikulnya.”
Fikri menunduk, meresapi setiap kata.
Ayahnya tersenyum tipis. “Dan kalau nanti kamu ditolak,” ucapnya lagi, ringan tapi tegas, “itu bukan berarti kamu kurang.”
Fikri mengangkat wajah perlahan.
“Itu berarti Allah sedang menjaga kamu… dari sesuatu yang belum tentu bisa kamu jaga.”
Dada Fikri yang tadi bergemuruh… perlahan terasa lebih tenang. Bukan karena yakin akan diterima. Tapi karena ia tahu… ia tidak datang sendirian. Ada doa ayahnya menemani.
Fikri mengangguk pelan. “Iya, Yah.”
Ayahnya menepuk bahunya ringan. “Sudah. Bersiap saja. Shalat dulu.”
*
Langit gelap sempurna setelah Isya, Fikri kini sudah berdiri di depan teras rumah Zizi.
Rupanya ia sudah ditunggu sejak memasuki gerbang depan. Perlakuan manis satpam menjadi penandanya.
Tidak ada suara lain selain detak jantungnya sendiri yang terasa lebih keras dari biasanya. Ia menarik napas panjang sebelum melangkah menaiki anak tangga.
Pintu dibuka oleh Zizi, kedua mata mereka bertemu.
Deg.
Tidak ada senyum lebar atau basa-basi. Hanya tatapan yang sama-sama tahu… malam ini bukan malam biasa.
“Masuk, Kak.”
Fikri mengangguk. Langkahnya melewati ambang pintu terasa menegangkan.
Ayah Zizi sudah duduk tenang menunggu di ruang tamu, didampingi wanita cantik disebelahnya, yang Fikri yakini sebagai Mama Zizi.
“Silakan duduk,” ujar ayah Zizi.
Fikri duduk menegakkan punggungnya, tangannya bertaut di pangkuan. Ia tidak menunduk, hanya… bersikap siap.
Beberapa detik tidak ada yang bicara. Lalu ayah Zizi bersandar sedikit, nenatap Fikri lurus.
“Jadi,” katanya tenang.
Hening.
“Ini pertama kalinya kamu datang ke rumah kami…” Ia berhenti sebentar, tatapannya tidak berpindah. “… dengan niat yang berbeda?”
Deg.
Fikri menimbang pelan, memilah kalimat halus agar tidak terkesan menyembunyikan maksud.
Ia menarik napas pelan. “Iya, Pak.”
Ibu Zizi melirik suaminya sekilas, lalu kembali menatap Fikri lebih tajam. Ayah Zizi tidak langsung bereaksi. Ia hanya mengangguk kecil, seperti mencatat jawaban itu di kepalanya.
“Berarti kamu paham,” lanjutnya tenang, “kalau kedatanganmu malam ini… bukan sekadar memenuhi undangan.”
Fikri mengangguk. “Paham, Pak.”
“Bagus.” Ayah Zizi menautkan jari-jarinya, sedikit condong ke depan. “Kalau begitu, kita tidak perlu lama-lama.”
Deg.
Zizi yang duduk di samping, refleks menegang.
“Apa yang kamu inginkan dari anak saya?”
Fikri diam satu detik, ia tahu, ini bukan pertanyaan yang bisa dijawab ringan.
“Saya ingin mengenalnya dengan cara yang baik, Pak.” Jawaban itu keluar tenang, sorot matanya menegas kala melihat sang tuan rumah.
Ibu Zizi tersenyum tipis, meremehkan, “Mengenal itu luas, Nak.”
Fikri menoleh hormat. “Iya, Bu.”
“Semua orang juga bisa bilang ingin mengenal,” lanjutnya, nadanya lembut tapi mengandung tekanan. “Tapi tidak semua siap dengan konsekuensinya.”
Fikri tidak memotong. Ayah Zizi kembali mengambil alih. “Kamu kerja di mana?”
“Di BMT, Pak.”
Hening sepersekian detik.
“Sudah tetap?”
“Baru berjalan, Pak," jawabnya jujur.
Ibu Zizi bersandar sedikit. “Penghasilannya cukup untuk apa?” tanyanya tajam.
Zizi menoleh cepat. “Ma—"
“Biarkan dia jawab,” potong ayahnya tenang.
Deg.
Fikri mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Rahangnya sedikit mengencang, tapi suaranya tetap stabil, “Untuk saat ini… cukup untuk saya sendiri, Bu.”
Sunyi.
Ibu Zizi mengangguk kecil. “Berarti belum cukup untuk membangun rumah tangga.”
Ucapannya menohok langsung, Fikri menelan ludah meski masih bisa menguasai dirinya. Sementara Zizi menunduk. Jemarinya saling menggenggam.
Fikri tidak membantah atau membela diri. “Iya, Bu.”
Jawaban itu membuat ruangan semakin senyap. Ayah Zizi menatapnya lebih lama sekarang. Seolah menguji… sampai sejauh mana laki-laki di depannya ini akan bertahan tanpa menyelamatkan harga dirinya dengan kata-kata kosong.
“Lalu,” lanjutnya pelan, “apa yang membuatmu merasa pantas datang ke sini?”
Deg.
Zizi langsung mengangkat wajah. “Yah—”
“Zizi,” suara ayahnya tegas, tapi cukup untuk membuatnya diam.
Pertanyaan itu masih menggantung. Zizi dan ayahnya masih saling pandang. Fikri menarik napas sekali lagi. Lebih dalam.
“Saya tidak merasa pantas, Pak.”
Lagi-lagi ucapan Fikri membuat Ibu Zizi sedikit mengernyit. Ayah Zizi bergeming, meski alisnya tampak mengerut.
“Tapi saya merasa… bertanggung jawab untuk datang,” lanjut Fikri. “Karena Zizi sudah jujur,” tambahnya pelan. “Dan saya tidak ingin dia berdiri sendirian di keputusan itu.”
Zizi menahan napas.
Ayah Zizi menyandarkan punggungnya perlahan. Menatap Fikri tanpa berkedip beberapa detik. Sampai akhirnya ia mengangguk kecil.
“Baik.” Ia menoleh sedikit ke arah istrinya. Lalu kembali ke Fikri. “Kalau begitu, saya akan buat ini lebih jelas.”
Deg.
Zizi langsung menegang. Ayahnya melanjutkan, suaranya tetap tenang… tapi setiap katanya seperti garis yang tidak bisa dihapus.
“Saya tidak melarang kamu mengenal anak saya.”
Zizi mengangkat wajah.
“Tapi saya juga tidak akan melepasnya ke arah yang belum jelas.” Tatapan tegas tuan Arsyad kembali mengunci Fikri. “Jadi,” lanjutnya pelan, "datang lagi ke rumah ini…” Ia berhenti sebentar. “…bukan sebagai orang yang ‘ingin mengenal’.”
Zizi membeku.
“…tapi sebagai laki-laki—” Ia menatap Fikri lebih dalam. “…yang tahu kapan harus datang untuk meminangnya.”
Dhuar.
.
.
(Xixixi, persis macam abahku. Dia satu-satunya pria yang berani datang ke rumah, ketemu Abah pertama kali langsung ngobrol dan ujungnya ditodong "kapan bawa keluargamu ke sini?")
(Kata dia... "Keren Abah, beneran jagain kamu cuma buat yang mampu." Eeaaaaaa pede amat dia haha and then sat set gak lama diboyong. Allahumma baariik.)