Dilamar Mokondo yang SALEH

Dituntut

Zizi tidak langsung menjawab. Kalimat Alina mengambang di udara. Tajam dan tepat sasaran.

“Aku nggak pernah bilang dia harus datang,” suara Zizi akhirnya keluar, pelan tapi berusaha stabil.

Alina terkekeh kecil. “Bukan kamu yang bilang.” Ia mendorong tubuhnya dari kusen, melangkah mendekat beberapa meter. “Tapi kamu yang mulai semuanya, Zi.”

Zizi menatapnya. “Maksud Kakak?”

Alina mengendikkan bahu. “Kamu yang memilih untuk suka dia dan bilang dia punya kriteria. Sekarang Ayah cuma… menguji seberapa jauh kamu berani berdiri di pilihanmu sendiri.”

Zizi terdiam.

Alina melanjutkan, nadanya tetap santai tapi kata-katanya menyayat tipis. “Dan yang lebih lucu… laki-laki itu bahkan belum tahu dia lagi dibandingin sama Rasyid.”

Deg.

Zizi menggenggam tangannya lebih erat. Ingin membantah tapi itu fakta.

“Kasihan sih,” tambah Alina, kali ini tanpa senyum. “Dia lagi jalani hidup biasa aja… tapi ternyata sudah masuk gelanggang yang dia sendiri nggak sadar.”

“Aku nggak anggap ini pertandingan,” potong Zizi cepat.

Alina menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum tipis lagi. “Tapi dunia kita memang seperti itu, Zi.”

Sunyi sebentar.

“Dan biasanya,” lanjut Alina pelan, “yang nggak siap… akan kelihatan jelas dari langkah pertama.”

Zizi menelan ludah. Dadanya kembali terasa penuh. Bukan karena marah, tapi karena apa yang dikatakan Alina… adalah kenyataan yang ia takutkan.

Alina berbalik, berjalan santai menuju kamarnya. Tapi sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sebentar tanpa menoleh. “Oh iya,” katanya ringan.

Zizi menatap punggung kakaknya.

“Kalau kamu benar-benar mau jujur ke Fikri…” Alina melirik sedikit ke samping, suaranya turun lebih lembut, “pastikan kamu juga siap dengar jawabannya.”

Kakinya kembali melangkah. “Terkadang,” tambahnya pelan, “bukan dia yang mundur…”

Pintu kamarnya terbuka.

“…tapi kamu yang akhirnya sadar… kamu nggak bisa membawanya masuk.”

Klik. Pintu tertutup.

Ruang tengah kembali sunyi, Zizi berdiri cukup lama sebelum akhirnya berjalan ke kamarnya.

Tangannya refleks meraih ponsel di meja. Layar menyala.

Percakapan terakhir mereka masih tentang hal biasa. Wisuda. Proposal. Hal-hal yang terasa ringan… sebelum malam ini mengubah semuanya.

Jempol Zizi menggantung di atas layar. Mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Beberapa kali.

Ingin bertanya sederhana tapi terasa menegangkan, seperti akan memutuskan ikut jihad perang dunia ketiga.

Akhirnya ia berhenti. Layar kembali gelap. Zizi menarik napas panjang, lalu berbisik, seperti pengakuan pada dirinya sendiri.

“Kalau aku jujur… kamu bakal datang nggak, Kak Fikri?”

Sepi, hanya detak jam di dinding yang terdengar, juga hembusan napas yang lagi-lagi memenuhi ruang.

***

Pagi itu tidak ada yang istimewa di kampus.

Zizi duduk di ruang sekretariat dengan ponsel di tangan, tapi tidak benar-benar membaca apa pun di layar. Kepalanya dipenuhi kalimat-kalimat semalam yang masih berputar, saling bertabrakan. Dadanya kembali sesak.

Pintu terbuka.

Fikri masuk seperti biasa. Tas selempang di bahunya, langkah tenang, wajah yang… terlalu normal untuk hari yang rasanya sudah berubah segalanya bagi Zizi.

“Pagi,” sapa Fikri ringan.

Zizi mengangkat wajah. Untuk sesaat, semua yang ingin ia katakan menghilang begitu saja. “Pagi.”

Fikri duduk di kursinya, membuka laptop. 

Beberapa menit berlalu dalam diam yang aneh. Zizi tahu ia tidak bisa menunggu momen yang “pas”. 

“Aku mau ngomong,” ucapnya akhirnya.

Fikri menoleh.

Satu detik. Dua detik.

“Serius?” tanyanya, memperhatikan nada suara Zizi.

Zizi mengangguk. Tangannya saling menggenggam di bawah meja.

“Ayahku tahu tentang Kak Fikri.” Kalimat itu keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan.

Fikri tidak langsung bereaksi. Tapi matanya berubah. Sedikit lebih fokus. “Tahu… gimana?”

Zizi menelan ludah. “Aku bilang… aku suka seseorang.”

Sunyi.

Fikri tidak memotong. Tidak juga tersenyum seperti biasanya. Ia hanya menunggu. Dan justru itu yang membuat Zizi semakin gugup.

“Dan… Ayah minta Kakak datang ke rumah.”

Deg.

Fikri bersandar sedikit di kursinya. Tangannya terdiam di atas meja. Beberapa detik tidak ada suara.

“Dia tahu aku siapa?” tanya Fikri akhirnya, pelan.

Zizi menggeleng. “Cuma nama dan pernah ketemu sekali itu.”

Fikri menarik napas perlahan. Tatapannya jatuh sebentar ke meja, lalu kembali ke Zizi. “Dan kamu… setuju?”

Pertanyaan itu tidak terdengar menekannya. Tapi justru karena itu, Zizi tidak langsung menjawab.

“Aku…” suaranya mengecil, “aku nggak tahu harus gimana selain jujur.”

Fikri menatapnya lama, menimbang isi hati dan pikirannya. Berarti, Zizi juga menaruh suka padanya?

Perlahan, ia berdiri. Zizi ikut berdiri tanpa sadar.

“Zizi,” kata Fikri akhirnya. Nada suaranya lebih serius dari biasanya. “Kamu sadar kan… kalau aku datang ke rumah kamu… itu bukan sekadar datang?”

Zizi diam.

“Di keluarga kamu,” lanjut Fikri pelan, “itu berarti aku… sedang berdiri di posisi yang harus aku pertanggungjawabkan.”

Deg.

Zizi menunduk. “Aku tahu,” jawabnya pelan.

Fikri mengangguk kecil. Ia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti. Seolah sedang memutuskan sesuatu yang tidak bisa setengah-setengah. “Dan kamu juga tahu,” tambahnya, kali ini tanpa melihat Zizi, “aku nggak punya apa yang keluarga kamu anggap… ‘jelas’.”

Zizi mengangkat wajah. “Aku nggak peduli itu.”

Fikri tersenyum tipis. “Tapi mereka peduli.”

Sunyi hingga beberapa detik. Lalu Fikri menghembuskan napas panjang, seperti akhirnya sampai di satu titik keputusan. “Oke.”

Zizi membeku.

Fikri menoleh. Menatapnya lurus. “Aku datang.”

Deg.

“Bukan karena aku mau membuktikan apa-apa ke mereka,” lanjutnya tenang. “Tapi karena kamu sudah jujur… dan aku nggak mau kamu berdiri sendirian di situ.”

Jantung Zizi berdetak lebih cepat. Tangannya meraih ujung meja, bertumpu di sana.

“Tapi,” Fikri berhenti sebentar. “Kamu juga harus siap, Zi.”

Zizi balik memandangnya.

Fikri berkata pelan, jelas, tanpa ragu, “Kalau setelah aku datang… yang berubah pasti bukan mereka.” Ia menatap Zizi lebih dalam. “Tapi kamu.”

Dia menarik kursinya pelan, duduk kembali, lalu menautkan kedua tangannya di atas meja. Tatapannya turun sebentar.

“Kapan?” tanyanya singkat.

Deg.

Zizi menatapnya. “Maksudnya…?”

Fikri mengangkat wajah. Tatapannya lurus, tenang, tapi kali ini ada ketegasan disorot matanya. “Ayahmu minta aku datang kapan?” Ia berhenti sebentar. “Kabari beliau dulu.”

Jantung Zizi berdetak lebih cepat. Tangannya refleks meraih ponsel. Jemarinya sempat gemetar sebelum akhirnya menekan nomor ayahnya.

Satu kali dering. Dua kali.

“Ya, Zie?” Suara ayahnya terdengar jelas.

Zizi menelan ludah. “Yah…”

“Ada apa?”

Zizi melirik Fikri sekilas, lalu menekan tombol loudspeaker.

“Yang semalam… soal itu,” ucap Zizi pelan. “Dia… mau datang.”

Hening satu detik di seberang sana.

“Siapa?” tanya ayahnya, meski jelas tahu.

Zizi menarik napas. “Kak Fikri, Yah.”

Hening.

“Kapan dia bisa datang?”

Zizi tidak langsung menjawab. Matanya beralih ke Fikri.

Satu detik. Dua detik.

Fikri tidak menghindar. Ia menatap Zizi lurus, lalu sedikit mengangguk mantap.

“Kalau… malam ini, Yah?”

Suara ayahnya kembali terdengar, tetap tenang… tapi kali ini seperti keputusan yang sudah dikunci.

“Baik. Datang setelah Isya.”

Klik. Sambungan terputus.

Ruangan kembali senyap. Zizi masih memegang ponsel, tangannya terasa dingin.

Fikri berdiri perlahan. Ia merapikan kemejanya, lalu mengambil tasnya tanpa tergesa. Sebelum melangkah, ia berhenti sejenak, memandang Zizi.

“Kamu yakin, Zie?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!