Dibalik Seragam Sekolah
Luka Di Balik Meja Belajar
Malam itu, setelah sampai di rumah, Raka masih memikirkan kata-kata Rendi di parkiran sekolah. Ancaman itu tidak terdengar keras, tapi cukup untuk membuat dadanya sesak. Ia menatap meja belajarnya, meja kayu kecil di pojok kamar yang penuh coretan pensil dan tumpukan buku bekas. Lampu belajar menyala redup, memantulkan bayangan wajahnya di jendela.
Raka menarik napas panjang. Ia membuka buku fisika yang tadi sempat ia baca di perpustakaan.
Membaca membuatnya tenang, membuatnya lupa bahwa di sekolah, dunia tidak selalu ramah pada orang seperti dirinya. Namun, jauh di dalam hatinya, Raka tahu, sesuatu sedang berubah.
Sejak ia masuk sekolah elit itu, setiap langkahnya seolah menimbulkan riak di permukaan tenang yang tidak semua orang suka lihat.
Keesokan paginya, ia datang lebih awal ke sekolah.
Koridor masih sepi, hanya terdengar suara petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai. Ia suka suasana seperti ini sunyi, jujur, dan bebas dari tatapan sinis.
Saat memasuki kelas, ia menyimpan tasnya di kursi dan membuka buku catatan. Namun dahinya langsung berkerut.
Bolpennya yang semalam ia masukkan ke dalam tas juga hilang. Ia membongkar saku, memeriksa meja, tapi hasilnya nihil.
“Padahal aku baru beli kemarin…” gumamnya pelan, dia heran kemana perginya itu semua.
"Apa mungkin aku lupa naroh?"
Ia mencoba mengabaikannya, tapi saat pelajaran berlangsung, kejadian serupa terjadi lagi buku tugasnya yang seharusnya di meja, tiba-tiba tidak ada. Ia dengan sangat yakin sudah menaruhnya di sana.
Suara kecil di belakang terdengar, disusul tawa tertahan. “Eh, jangan bilang dia nyari tugasnya yang hilang lagi.”
“Wajar, namanya juga anak miskin. Barang segitu aja dibikin ribet, padahal tinggal beli lagi ajh,” celetukan dari teman-teman gengnya Rendi.
Raka menunduk, pura-pura tak dengar. Hatinya seperti diremas, tapi wajahnya tetap datar.
Ia sudah belajar menahan diri, karena jika ia melawan hanya akan membuat semuanya lebih buruk.
Beberapa bangku di belakangnya tampak bergerak pelan.
Rendi bersandar santai sambil memutar pensil di jari. Di sebelahnya, Fahsya dan Vino saling berbisik, menahan tawa.
Tak ada yang berani menegur. Semua tahu, di kelas ini, suara Rendi seperti perintah.
Clara yang duduk di sisi kanan kelas sempat menatap ke arah Raka. Ia memperhatikan gerak-geriknya sejak pagi.
Ada sesuatu yang tidak biasa, Raka terlihat lebih pendiam, matanya sayu, dan tangannya gelisah di atas meja.
Clara berpikir sejenak. Ia tahu Raka tidak akan mengadu. Tapi nalurinya berkata, ada yang harus ia perhatikan diam-diam.
Waktu berlalu. Pelajaran berganti. Hingga akhirnya, jam terakhir tiba, mata pelajaran Bahasa Indonesia bersama Bu Ratna.
Guru itu dikenal disiplin, tapi lembut. Rambutnya disanggul rapi dan suaranya tegas namun menenangkan. Hari itu, beliau memberikan tugas menulis karangan pendek, lalu mengumumkan sesuatu.
“Anak-anak, besok semua buku tugas dikumpulkan ke kantor guru. Clara, kamu tolong bantu kumpulkan ya. Seperti biasa.”
Clara mengangguk sopan. “Baik, Bu.”
Setelah kelas usai, siswa-siswa berhamburan keluar. Namun Raka tetap duduk di kursinya, membereskan buku pelan-pelan. Saat ia membuka laci, sesuatu membuatnya tertegun.
Di dalamnya, buku tugasnya yang hilang dua hari lalu, tapi bukan itu yang membuatnya kaget, melainkan tulisan di sampulnya. Coretan spidol hitam besar bertuliskan:
“ANAK BEASISWA HARUS TETAP DI BELAKANG.”
Raka mematung. Jantungnya berdetak keras. Ia menatap tulisan itu lama antara marah dan hancur, meski dia tahu ulah siapa ini dia tidak pernah melaporkan kepada guru, dia berharap kehadirannya bisa segera diterima baik oleh teman-temannya.
Clara yang kebetulan melintas di depan kelas berhenti. Ia melihat ekspresi Raka, lalu menoleh ke arah bukunya.
Ia tak mengatakan apa-apa, tapi matanya menangkap semuanya. Dalam diam, ia tahu siapa yang melakukannya ‘geng Rendi’
Namun, Clara memilih langkah hati-hati. Ia berpura-pura tak melihat, hanya berjalan ke meja guru dan mengumpulkan buku tugas teman-temannya satu per satu. Saat sampai di meja Raka, ia berhenti sebentar.
“Bukumu belum dikumpul, kan?” tanyanya lembut, matanya memperhatikan buku Raka yang penuh coretan.
Raka menutup buku yang sudah penuh coretan itu dengan cepat. “Iya, tunggu sebentar ya aku mau tulis ulang dulu, Clara.”
Clara menatapnya sejenak. “Kalau butuh bantuan, bilang aja.”
Raka hanya tersenyum tipis. “Terima kasih, tapi aku bisa.”
Clara mengangguk pelan, lalu membawa tumpukan buku ke kantor guru. Namun di dalam hatinya, sesuatu berkecamuk perasaan marah, kasihan dan ingin melindungi seseorang yang bahkan tak mau mengeluh.
Sore itu, saat semua siswa pulang, Clara kembali diam-diam ke kelas. Ia pura-pura tertinggal buku, padahal sengaja datang lagi untuk memastikan sesuatu.
Dan benar saja di bawah meja Raka, ada secarik kertas kecil yang tampak jatuh.
Tulisan tangan yang sama, dengan spidol hitam: “Sekolah ini bukan tempatmu.”
Clara menggenggam kertas itu erat. Matanya bergetar. Ia tahu Raka pasti menemukan banyak hal seperti ini tapi tetap diam. Ia tahu ia tak bisa diam lagi.
Keesokan harinya, Raka duduk di tempatnya lebih awal seperti biasa. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Begitu ia membuka meja, barang-barangnya sudah rapi. Bolpennya kembali, bukunya utuh tanpa coretan.
Ia mengernyit bingung. “Kok bisa…”
Saat itulah ia melihat secarik kertas kecil di atas bukunya. Tulisan tangan rapi, bukan spidol kasar seperti kemarin.
“Aku udah beresin. Fokus belajar aja. Jangan biarkan mereka menang. — C.”
Raka membaca huruf kecil di bawah tanda tangan itu — C.
Hanya satu huruf, tapi ia tahu pasti siapa yang menulisnya. Senyum tipis muncul di wajahnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sepenuhnya sendirian.
Hari itu terasa sedikit lebih ringan.
Ketika Rendi dan gengnya kembali melempar tatapan mengejek, Raka menatap balik dengan tenang.
Ia tak perlu bicara banyak cukup dengan keyakinan di matanya, bahwa ia tidak akan runtuh hanya karena kebencian orang lain.
Tidak lupa Raka juga mengucapkan terima kasih kepada Clara yang sudah membantu dirinya, dia percaya bahwa di kelas ini tidak semua orang membenci dirinya adanya Clara membuktikan itu semua. Cuma Clara yang berani melawan Rendi dan teman-temannya karena gadis itu pintar dan berbakat.
Dari jauh, Clara memperhatikan. Dan di dalam hati, ia berjanji jika Raka terus berdiri tegak, maka ia ingin jadi orang yang berdiri di sampingnya.
Karena beberapa luka memang tak terlihat di kulit, tapi di balik meja belajar, di antara buku dan diam ada seseorang sedang berjuang untuk tetap kuat.