Dibalik Secangkir Teh
Tumbuh Meski Rapuh
Dimas datang di hari pertama kami resmi menjadi mahasiswa. Dia mengulurkan tangan, menawarkan pertemanan selama dua tahun, lalu berujung pacaran. Bisa dibilang, Dimas orang ketiga setelah abah dan emak yang berhasil membuatku merasa nyaman.
Di dekat Dimas, aku tak perlu memakai topeng. Aku bisa menjadi diri sendiri dan bersikap apa adanya. Bisa mengungkapkan isi kepalaku tanpa khawatir dia akan tersinggung. Bisa tertawa ngakak tanpa beban. Yang paling penting, aku bisa menceritakan rahasia terdalam di hidupku. Tentang sikap keluarga yang tak pernah benar-benar menerimaku.
Keinginan untuk diakui, dianggap ada, diberikan pelukan oleh bapak dan ibu, membuatku memutuskan menerima pekerjaan di Kalimantan Timur. Meninggalkan Dimas, emak, dan abah yang saat itu sudah sering keluar masuk rumah sakit.
Rencana dan kebanggaan yang baru saja aku bangun, luluh lantak menyaksikan kematian abah secara langsung. Pondasi dalam diriku sudah mulai rapuh. Aku beruntung ketika Dimas selalu ada di sisiku. Berdiri dengan gagah menggandeng tanganku. Memberikan keyakinan kalau kami bisa menari dalam badai.
Aku mencoba terus bertahan, termasuk hidup di rantau sendirian. Sehari-hari berteman dengan kesepian. Semuanya sangat tidak mudah, tetapi aku sudah berjanji kepada abah kalau aku tidak akan pernah menyerah.
Untuk beberapa waktu, aku merasa semua sudah bisa aku kendalikan. Rupanya Tuhan masih ingin memberikan pelajaran lainnya kepadaku. Pandemi akibat Covid-19 membuatku diberhentikan dari pekerjaan. Aku pulang ke Lampung dengan sedikit sisa harapan. Lalu, harapan itu kembali terbunuh dengan kenyataan Dimas harus menikah dengan Yunita. Jika diibaratkan pohon, aku adalah pohon yang tumbang berikut akarnya. Tak ada lagi penyangga yang bisa menopang batang itu bisa tetap bediri. Begitulah kondisiku. Jangankan menahan angin, membuat tubuhku berdiri kokoh saja aku tak mampu.
Berhari-hari aku mengurung diri di kamar. Emak berpikir aku masih meratapi nasib karena diberhentikan dari pekerjaan. Aku memang sengaja tidak mengatakan kepada emak tentang hubunganku dengan Dimas yang porak-poranda.
Emak memaksaku untuk aktif di dapur Laras Rasa. Aku terima tawaran itu. Berlanjut sampai hari ini. Aku membesarkan Laras Rasa dengan membuka dua cabang sekaligus, menambah karyawan tanpa memandang kemampuan mereka. Puncaknya aku mengambil pinjaman dengan begitu berani dan tidak memikirkan resiko ke depannya.
Tak pernah terbersit dalam pikiranku, suatu hari aku akan melepas dan kehilangan toko Laras Rasa yang emak beli dengan memeras keringat serta air mata. Meski anak-anak emak termasuk ibuku diam, tapi aku tahu, di belakangku mereka menghujat. Api kebencian itu seperti sedang disiram bensin. Tinggal menunggu waktu hingga semuanya dibumihanguskan.
Berbulan-bulan aku berjuang menyelamatkan toko. Aku sudah mencoba minta tolong ke bapak dan ibu, uwa, om dan tante. Hasilnya nihil. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus melepas toko Laras Rasa. Aku hanya punya waktu sebulan untuk mengosongkan ruko tersebut. Diamnya mereka malah membuktikan kalau mereka tidak peduli dengan apa yang aku alami. Mereka hanya memastikan kalau rumah abah dan emak aman, tidak aku jual atau aku jadikan agunan ke bank. Jika mereka benar-benar peduli, minimal mereka akan marah kepadaku seperti yang pernah emak katakan, “Kalau orang masih cerewet marahi kita, itu tandanya dia masih sayang dan peduli sama kita.”
Kini, aku harus mampu menuntaskan semua masalah yang sedang menimpaku. Menghadapi dan menyelesaikannya tanpa berlindung di balik punggung siapa pun. Aku berencana mampir ke Bogor menemui bapak dan ibu. Bagaimana pun sikap mereka, keduanya tetap saja orang tua yang harus aku hormati dan aku sayangi. Namun, sebelum ke Bogor, aku berencana mengunjungi Ajeng. Dia masih utang penjelasan kenapa sampai membocorkan keberadaanku pada Dimas.
***
Ajeng mengedipkan matanya berulang. Sejak tadi dia tak berhenti minta maaf. Sudah hampir sepuluh menit aku berada di apartemennya. Dia masih sibuk hilir-mudik menempel kepadaku seperti lintah. Mulutnya terus saja mengatakan maaf, tak ubahnya dukun yang sedang komat-kamit merapal mantra.
Aku sebetulnya ingin tertawa. Ajeng pasti merasa sangat bersalah. Aku pulang dari Solo tidak mengirimkan kabar. Selain itu, aku juga tidak meminta dia untuk menjemputku di Gambir. Padahal, aku sengaja karena tidak ingin merepotkan dia. Aku bisa menggunakan taksi online kalau hanya dari Gambir ke apartemen Ajeng. Aku juga tidak mengatakan kedatanganku kali ini, karena aku tidak mau dia terus bertanya kenapa aku memutuskan pulang. Padahal, aku berencana liburan di Solo sekitar dua minggu.
“Tiiihhhhh...” Ajeng masih terus merengek. Sedangkan aku, malah sibuk sarapan, menyeduh kopi, mandi, lalu duduk santai di sofa.
“Apa?”
Aku menjawab karena sudah pusing mendengar rengekan Ajeng.
“Nah gitu dong jawab. Jangan diam aja. Kamu marah ya?”
“Menurut kamu?” aku balik bertanya.
“Marah sih. Hehehe. Tapi, aku terpaksa kasih tahu kamu ke Dimas. Aku diteror terus sama dia. Mantan kamu itu sehari bisa sepuluh kali nelepon aku. Pusing aku. Aku blokir nomornya, dia malah nongol di depan apartemenku. Gimana aku gak tambah stres. Kamu juga ngapain sih menghindar terus? Aku pikir, kalian bisa menyelesaikan masalah secara baik-baik.”
“Masalah kami harusnya sudah selesai tiga tahun lalu Jeng. Dimas aja yang gila. Mana kemarin dia bilang kalau dia mau cerai sama Yunita.”
“Kamu serius? Kok bisa?”
“Panjang ceritanya. Aku males. Nanti juga kamu bakalan tahu.”
“Jadi kamu udah enggak marah sama aku?”
Mata Ajeng kini malah berbinar.
“Siapa juga yang marah? Kalau aku marah, enggak mungkin aku ke sini. Kamu juga nih, ketularan lemot kayak Dimas.”
“Enak aja. Aku sama Dimas jelas beda. Eh, itu beneran Dimas mau cerai?”
“Mana aku tahu. Dia sih bilangnya gitu. Udah-lah, ngapain mikirin urusan orang. Enggak akan jadi duit. Masalahku masih banyak.”
“Bener kamu. Terus gimana masalah toko? Kamu jadi mau jual toko itu?”
“Jadi. Aku enggak tahu lagi mau cari uang ke mana untuk nutupin utang-utangku. Cuma toko itu yang memungkinkan.”
“Terus nanti gimana? Kamu tetap mau buka Laras Rasa di tempat lain atau gimana?”
“Aku tetap buka Laras Rasa. Tapi mungkin aku buka di rumah emak aja. Rumah emak kan kosong. Cuma aku aja yang tinggal di situ.”
“Uwa, tante, sama om kamu gimana? Setuju?”
“Sepertinya mereka setuju. Tapi, kayaknya mereka lebih ke gak peduli sih. Bukan gak setuju. Mereka bilang, rumah abah sama emak boleh aku tempatin, dengan catatan jangan sampai dijual. Mereka juga udah punya rumah masing-masing, enggak mungkin pindah ke rumah abah. Tanteku sih bilangnya, dia senang kalau aku tinggal di rumah abah. Ada yang ngurus rumah. Takut rusak kalau kosong. Bisa jadi dia nyuruh aku untuk ngurusin rumah itu supaya biaya listrik, dan lain-lainnya aku yang nanggung.”
“Urusan kamu jual toko gimana? Mereka udah tahu?”
“Udah.”
“Mereka marah? Mereka enggak ada niat bantu kamu? Keluarga kamu itu bukan keluarga gak mampu, Tih. Lebih dari mampu kalau cuma beresin utang-utang kamu.”
“Mereka memang mampu. Masalah utamanya, mereka gak mau. Termasuk bapak dan ibu. Lebih rela kehilangan ruko daripada harus bantu aku.”
“Terus, masalah kamu ketemu Dimas itu gimana akhirnya? Kamu bisa bicara baik-baik?”
“Ya ampun, ngapain sih kamu balik lagi nanya Dimas? Kan aku udah bilang, nanti juga kamu tahu. Aku mau ke Bogor nih. Kamu mau ikut gak?”
“Ikut dong. Tapi aku enggak nginep ya?”
“Aku juga enggak nginep. Rencananya nanti malam aku mau langsung pulang ke Lampung naik Damri dari Bogor.”
“Sialan. Terus aku balik ke Jakarta sendirian?” Ajeng melempar bantal ke mukaku.
“Ayolah. Anggap aja ini permintaan maaf kamu karena udah ngasih tahu Dimas kalau aku di Solo.”
***