Dibalik Secangkir Teh
Pamit 2
“Tentang patah hati, apa yang Mbak Ratih rasakan itu sepertinya sama saja dengan yang saya rasakan. Lucu ya Mbak, kita membicarakan masalah patah hati kita seolah itu masalah orang lain.”
“Padahal biasanya kalau cinta enggak kelar itu berujung dengan keributan ya Mas. Minimal hubungan menjadi tidak baik. Namanya jodoh, enggak ada yang tahu.”
"Mbak, pertemuan adalah sesuatu yang berjodoh. Saya memercayai hal tersebut sebagai salah satu rezeki yang saya dapat dari semesta dan Sang Pencipta. Seperti hari Senin minggu lalu, biasanya saya menjadikan hari Senin sebagai libur menyeduh Jendela Titilaras. Senin itu saya membuka Jendela Titilaras karena awalnya ada reservasi untuk Sesi Satu Jendela dengan tamu dari Kota Semarang.
Tapi, saya memutuskan untuk buka tipis seperti biasa, ternyata banyak di antara tamu yang datang tak sengaja singgah di Jendela Titilaras. Banyak sekali obrolan yang tercipta. Sungguh saya rindu dengan suasana Jendela Titilaras yang banyak sekali bertukar cerita menarik. Banyak juga di antara mereka lebih bisa mengucap syukur atas pertemuan demi pertemuan. Semoga apa yang saya dapat dan para tamu bisa menjadi sebuah dampak baik ke sekitar dalam kehidupan esok hari.”
“Saya termasuk satu dari sekian banyak orang yang mengucap syukur tersebut, Mas. Sekarang saya tahu jawaban di balik pertanyaan kenapa saya datang ke sini. Tapi Mas, dengan sistem buka tutup Titilaras yang seperti ini, apa Mas Aji enggak khawatir toh kalau nanti banyak tamu yang kecewa ketika sudah merencanakan mau singgah eh malah Titilaras tutup atau tidak pas jam bukanya?"
"Tidak pernah khawatir sama sekali, Mbak,” Aji menjawab tegas. “Apa yang sudah saya tanam dan sudah tumbuh selama ini, yaitu sistem buka tutup dan libur, senantiasa saya rawat semuanya. Karena sebuah sistem itu tidak akan berjalan sedemikian rupa kalau kita tidak tahu atau tidak paham apa yang menjadi kelebihan maupun kekurangan pada diri sendiri. Harus mengenal siapa diri kita ini.
Lalu mengapa kita harus khawatir? Saya yakin bahwa siapa pun yang akan berkunjung ke Jendela Titilaras sudah punya niat baik, pertemuan antara saya dengan para tamu itu tentang berjodoh atau tidak. Banyak kok tamu yang singgah secara tidak sengaja ke Jendela Titilaras malah bisa bertemu, jodohlah namanya.
Kadang sudah niat ke Titilaras terus sampai di depan jendela tiba-tiba saya sudah tutup karena bahan-bahan sudah habis, balik lagi itu semua tentang berjodoh. Saya tak khawatir kalau mereka kecewa, karena saya juga yakin pasti akan selalu ada gantinya suatu saat nanti. Mungkin yang belum bisa singgah suatu saat nanti bisa berjodoh untuk singgah kembali dan sepengalaman saya, kalau ada kejadian seperti ini selalu aja ada rezeki yang berlebih dari sebuah pertemuan. Yang saya garis bawahi bahwa konsep rezeki bukan hanya sekedar materi transaksional jual beli saja, tapi ada hal lain yang nilainya lebih dari itu.”
“Ah, saya pasti akan merindukan jendela ini.”
Benar, tiga jendela yang menemaniku nyaris sepekan ini begitu melekat dalam ingatan.
“Saya juga pasti merindukan Mbak Ratih.”
“Sudah mau Magrib, Mas. Saya benar-benar pamit. Saya pulang naik kereta jam delapan malam. Sekali lagi terima kasih. Kapan-kapan Mas Aji bisa main ke Lampung.”
“Pasti, Mbak. Saya juga berharap Mbak Ratih sudi mampir ke sini lagi. Saya akan menunggu Mbak Ratih dari balik jendela ini.”
Aku menyalami Mas Aji. Ada banyak kata dan rasa yang aku salurkan lewat sentuhan kami. Aku yakin, meski tidak aku katakan secara langsung, Mas Aji pasti bisa merasakannya.
Aji masih berdiri di balik jendela. Memandang punggung Ratih yang makin lama kian menjauh. Dia harus kembali meniti, meski kali ini mungkin sulit untuk bisa selaras.
***
Kereta berselimutkan malam yang makin pekat. Solo mulai tertinggal jauh. Aku membawa semua cerita yang terjadi di Solo selama sepekan dalam ransel emosiku. Termasuk, pertemuanku dengan Dimas yang sangat jauh dari bayanganku.
Aku memantapkan hati dan memilih pulang ke Lampung untuk menyelesaikan semua masalah. Selama ini, seumur hidupku, aku nyaris tidak pernah benar-benar menghadapi dan menyelesaikan masalah yang terjadi kepadaku. Dulu, selalu ada abah yang senantiasa memberikan pelukan hangatnya tiap kali aku mengeluh tentang sikap bapak dan ibu yang menurutku lebih sayang kepada kedua adikku. Ada emak yang selalu menenangkanku saat aku menangis karena tidak diajak main oleh para sepupuku.
Sikap uwa, om, dan tanteku juga tidak lebih baik dari yang lainnya. Aku ada tapi dianggap seperti tidak ada. Aku sendiri dalam keramaian. Tidak ada yang memahami perasaanku kecuali abah. Sejak remaja, aku selalu iri melihat teman-temanku dekat dengan ayah mereka. Aku sering mengintip jika ada teman yang diantar jemput ayahnya. Kapan aku bisa seperti itu? Setiap kenaikan kelas dan pembagian raport pun, yang datang menjadi waliku adalah abah.
Kalau aku bertanya kenapa bapak enggak pernah datang, ibu akan menjawab bapak sibuk kerja. Bertahun-tahun menjalani hidup bersama abah dan emak membuatku terbiasa dengan absennya sosok bapak dan ibu.
Aku tidak tahu apa makanan kesukaan bapak atau warna lipstik kesukaan ibu apalagi kebiasan mereka sehari-hari. Ketika kecil, aku masih sering merengek minta dipeluk sama ibu atau digendong bapak saat mereka pulang ke Lampung. Makin besar, aku memilih untuk diam menerima semua perlakuan mereka. Awalnya memang terpaksa, tetapi lama-lama aku menjadi terbiasa.
Aku sangat tertutup. Di sekolah pun aku hanya berteman dengan beberapa teman saja. Tidak ada yang benar-benar dekat. Sifat keras kepala dan pemberontakku mungkin menjadi salah satu alasan teman-teman menjauhiku. Tuhan memberikanku kecerdasan di atas rata-rata. Entah itu harus aku sebut anugerah atau musibah. Memiliki nilai yang cukup membanggakan membuatku makin tidak membutuhkan teman.
Aku sempat membenci mereka. Kedua adikku, para sepupuku, orang tuaku, uwa-ku, tidak ketinggalan om dan tanteku. Menginjak usia SMA, aku makin bisa menangkap tatapan tidak suka dari mereka. Dua tanteku malah terang-terangan memandangku dengan sinis, kadang bermusuhan. Aku ingin melawan, tetapi aku tak punya keberanian. Aku memilih menyimpan semuanya dalam diam. Salah satu pengalihanku adalah membantu emak membuat kue atau masak di dapur.
Menurutku, lidah tak akan pernah berbohong mengenai rasa. Itulah satu-satunya kesempatanku unjuk gigi. Semua keluarga sepakat mengatakan masakan dan kue buatanku enak. Tak ada bedanya dengan hasil olahan tangan emak. Sayangnya, aku tak pernah tertarik untuk menekuni dan meneruskan Laras Rasa. Apa jadinya kalau aku hanya berkutat di dapur? Sangat memalukan.
Perasaan diasingkan itu melahirkan tekad kuat dalam hatiku agar berhasil menjadi orang sukses. Dalam bayanganku, sukses itu berarti memiliki karier yang bagus dengan gaji fantastis. Aku lelah selalu dibandingkan dengan kedua adikku atau para sepupuku. Mereka bersekolah di sekolah-sekolah elite dengan biaya selangit. Sedangkan aku, harus puas masuk sekolah negeri. Nilai-nilaiku memang selalu membuat abah tersenyum bangga, tetapi tetap saja perasaan minder selalu hadir menghantui pikiranku.
***